H.U.R.T

H.U.R.T
Siapa Penyerang Itu?



Tindak kejahatan di pantai Coney sangatlah minim. Tapi bukan berarti tidak pernah terjadi tindak kriminal. Hanya saja Austin dan Darren lengah, tidak mempertimbangkan kemungkinan ini. Mereka tidak membawa senjata dan yang pasti mereka menghindar dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum atau pun dunia gelap yang selalu membawa cerita mengenaskan bagi mereka.


Willson ingin hidup aman dan damai. Tidak ada drama yang membuat banjir darah dan air mata. Kejadian yang menimpa Lexi dan Steven sudah cukup menjadi pelajaran. Mereka korban dari keserakahan dan ambisi. Banyak nyawa yang melayang sia-sia, banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarga. Semua itu tidak mereka inginkan. Namun, jika diam artinya mereka yang harus tumbang.


Pax juga memberi peringatan kepada Austin agar tidak ikut campur dengan DragonBlack. Pria itu setuju. Satu-satunya tingkah berandalan yang dilakukan pria itu saat ini adalah balap liar. Sejauh ini tidak ada masalah. Austin dan anggotanya memberi cukup banyak uang sebagai suap kepada polisi setempat dan sejauh ini aksi yang mereka lakukan tidak pernah menimbulkan kerusakan.


Hampir satu tahun berlalu sejak kejadian terakhir yang mengharuskan mereka mengangkat senjata melawan musuh. Sampai detik ini mereka tidak mengalami masalah konflik dengan siapa pun. Jadi, sangat wajar jika mereka tidak mempersiapkan senjata saat bepergian.


Lalu apa ini? Kenapa ada sniper? Apakah masih ada yang mengincar mereka? Memiliki dendam kepada Willson? Atau TheDevile masih ada, masih tidak menerima kekalahan mereka. Arthur yang penuh ambisi sudah lenyap. Willson sudah memastikan bahwa keturunan Arthur tidak terlibat dengan tindak kejahatan ayahnya. Arthur hanya memiliki satu putri yang sangat membenci pria itu dan gadis itu justru tidak menangis saat mendengar kematian sang ayah.


Abaikan tentang Arthur yang memang sudah tidak ada lagi hubungannya dengan kisah ini. Cerita pria itu sudah selesai. Kembali pada pertanyaan awal, siapa yang diincar oleh sniper tersebut?


Darren mungkin salah memperkirakan arah bidikan tersebut, tapi tetap saja kemungkinan itu ada.


Jika Austin memiliki masalah, gestur pria itu pasti menunjukkan kewaspadaan. Yang Darren perhatikan selama di pantai, adiknya itu begitu bebas, tidak ada hal yang membuatnya cemas dan waspada.


Lalu, Isabell? Kerajaan Spain dikenal dengan kerajaan yang tidak memiliki konflik berat dengan siapa pun yang mengharuskan anggota kerajaan diincar.


Darren menggeleng, ini bukan diincar. Tapi berniat melenyapkan. Dengan melenyapkan Isabell, apa yang mereka dapatkan? Sepertinya tidak ada keuntungan apa-apa yang mereka dapatkan mengingat Isabell adalah anak dari hasil pengkhianatan raja.


Tunggu dulu, ada kemungkinan Isabell lah yang sedang diincar. Diincar oleh anggota kerajaan. Isabell tidak diterima di sana. Permaisuri secara terang-terangan menunjukkan kebenciannya pada Isabell. Tapi, permaisuri tidak mungkin melakukan tindakan aksi nekad ini. Jika pun ia ingin melenyapkan Isabell, kenapa tidak melakukannya sejak dulu.


Lagi pula, jika permaisuri berani melakukan hal sekeji ini, tentu saja resikonya sangat tinggi. Permaisuri, wanita yang sangat penuh pertimbangan. Menjunjung tinggi kehormatan. Sangat tipis kemungkinan jika permaisuri atau anggota kerajaan lainnya mau melakukan tindak kejahatan yang bisa saja menghancurkan imej mereka. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Jika menyangkut hati, semuanya akan terasa adil.


Darren tidak bisa membayangkan jika timah panas itu akan menembus salah satu bagian tubuh Isabell. Saat menemukan tubuh Isabell dipasang boom di hari pernikahan Lexi, ia sudah mau hampir mati rasanya. Ck! Berlebihan, saat itu ia memang sedang terluka parah. Ia bisa saja mati karena kehabisan darah, bukan karena melihat nyawa Isabell terancam. Lagi pula jika boom di tubuh Isabell meledak waktu itu, sudah pasti mereka semua mati.


Astaga! Apa yang sedang ia pikirkan?! Berlarilah, selamatkan mereka!


Ada apa?"


Darren memiringkan kepala dan di sana ia menemukan jawaban lain. Bukan, bukan jawaban, tapi kemungkinan tersebut lebih masuk akal bahwa Jossie dan anak-anaknya lah yang sedang diincar. Bukankah tadi Jossie mengatakan jika kemungkinan mereka diawasi.


"Sniper!" Darren memaksa otaknya berhenti bekerja. Tapi siapa yang tega membunuh anak kecil? Apa yang didapatkan dengan membunuh dua anak kecil yang begitu manis?


"Hubungi polisi!"


Darren segera berlari sambil berteriak memanggil adiknya.


"Austin!!"


Austin dan Isabell berhenti, mereka berbalik. Kening mereka berempat mengerut melihat Darren yang berlari menuju ke arah mereka sambil berteriak, tiarap, tiarap!


"Apa yang dia katakan? Seingatku kita akan ke wahana? Bukan sedang bermain lomba lari."


"Kurasa di ingin ikut bergabung," Isabell menimpali ucapan Austin.


"TIARAP!!"


"Tiarap? Kenapa kita harus tiarap?" tanya Isabell dengan mengerutkan kening. Sementara Austin langsung memendarkan pandangan. Mencari alasan kenapa mereka diminta tiarap.


"Arah jam 3, seorang sniper!!"


Saat Austin menoleh, peluru sudah ditembakkan hingga menimbulkan bunyi. Sebuah peluru melesat ke arah mereka, disusul oleh peluru selanjutnya.


"Oh, sial! Isabell, tiarap!!" Austin memberi perintah sementara kedua tangannya memaksa kedua anak kecil yang bersama mereka untuk tiarap. Jorell dan Jely yang didorong dengan cukup kuat, kompak menangis histeris.


Sementara Isabell yang diminta tiarap hanya bergeming di posisi semula dengan wajah pucat dan panik. Kedua tangannya di letakkan di telinga.


"Isebell." Austin kembali berdiri dan menarik Isabell bertepatan dengan Darren yang melompat ke arah mereka berdua dan mendorongnya hingga Austin dan Isabell berguling, sementara Darren jatuh bersimpuh dengan tubuh melindungi kedua bocah yang masih menangis.


___


"Mr. Willson?"


Tiga petugas polisi setempat mendekati Austin yang berdiri cemas di depan ruangan rumah sakit. Ya, Darren mendapat satu tembakan di bahu kiri.


Bukan hanya dia yang terlihat cemas tetapi juga Isabell dan Jossie yang sedang memeluk kedua anaknya.


Wajah cantik wanita itu selain menunjukkan kecemasan tapi juga menyiratkan ketakutan. Hanya saja ia berusaha menyembunyikan ketakutan tersebut di hadapan anak-anaknya.


"Mr. Willson?"


"Mr. Willson, kami..."


"Kalian sudah menemukan pelakunya?" bertanya dengan menyela ucapan sang sherif.


"Kami belum...".


Wajah Austin berang seketika. Jika para polisi tersebut belum menemukan siapa sniper yang sedang mencari masalah dengan mereka lantas kenapa para polisi ini ada di rumah sakit, berdiri di hadapannya. Apakah mereka kira ini masalah sepele? Nyawa saudaranya hampir melayang dan otaknya lelah berpikir menebak-nebak siapa yang sedang mengincar mereka seperti yang dilakukan Darren beberapa saat lalu.


Sepanjang ia berpikir, ia tidak menemukan jawaban sama sekali. Ia merasa bersih dari hal-hal yang bisa membuat mereka dalam masalah.


"Jika kalian belum menemukan penjahatnya, lantas kenapa kalian masih bersantai di sini? Menjenguk saudaraku? Belum waktunya. Darren masih diperiksa. Dan jika kalian penasaran apakah dia masih hidup, tentu saja dia masih hidup. Pergilah dan lakukan tugas kalian dengan benar."


"Kami memiliki beberapa pertanyaan, Mr. Willson."


"Apakah pertanyaanmu itu lebih penting daripada menemukan penjahatnya?" Austin bertanya dengan ketus. Ia tidak khawatir Darren mati hanya karena satu tembakan. Yang paling ia khawatirkan dari dampak sebuah peluru adalah kecacatan. Semoga saja peluru sialan itu tidak merusak salah satu saraf saudaranya.


Austin menyadari bahwa ucapan sengitnya itu membuat sherif tersebut salah tingkah. Gabriel Scoot. Austin membaca name tag yang tertulis di dadaa kiri pria yang sudah tidak tidak dikatakan muda lagi.


Sherif Scoot berdehem, jakunnya yang menonjol naik turun di jakunnya yang jenjang dan keriput. Austin berpikir jika laki-laki itu terlihat seperti kura-kura dengan kepala yang kecil menyembul keluar dari balik kerah kemeja yang kebesaran.


Memikirkan hal tidak penting seperti itu penting untuk menjaga kewarasannya. Kalau ia memikirkan tentang kenyataan bahwa Darren terluka sementara dia ada di sana dan tidak berdaya, ia bisa gila, menghancurkan sesuatu atau mungkin membunuh seseorang.


Di pantai ia nyaris tidak mampu mempertahankan itu dan alasan mengapa ia masih waras hingga sampai ke rumah sakit adalah karena Darren masih dinyatakan hidup, belum tewas di tempat.


Mr. Scoot kembali berdehem, "Kau benar tentang arah tembakan itu berasal."


"Kau tidak usah meragukan hal itu." Austin mendengus.


Mr. Scoot mengangguk, "Ya, tembakan berasal dari sana, dari atap hotel."


"Lalu apa lagi yang kau lakukan di sini, Mr. Scoot? Kami sudah memberi kemudahan untukmu mencari jejak si penembak. Hal yang seharusnya kau lakukan selanjutnya adalah mempelajari jejak sepatu atau apa pun dan mungkin sidik jari. Apa hal semacam ini aku harus mengajarimu, sherif."


"Kau mengenal Bartoli Ortiz?"


"Aku akan membunuhmu jika pertanyaanmu tidak ada hubungannya dengan kasus ini." Austin benar-benar ingin meledakkan amarahnya kepada pria tua di hadapannya dan ia mungkin akan melakukannya jika tidak ada dua gadis dan dua anak kecil sedang memperhatikan mereka.


Mr. Scoot mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah peluru. "Milik Bartoli Ortiz. Kami temukan di sekitar pantai." Mr. Scoot menunjukkan peluru yang memiliki ukiran khusus di timah tersebut.


Austin bergeming. Hal semacam ini memang kerap terjadi. Keluarganya juga memiliki ukiran khusus di senjata atau peluru mereka. Ia juga menyadari bahwa memang ada dua peluru yang ditembakkan dan satu bersarang di tubuh Darren yang sedang menjalani operasi dan sialnya sampai sekarang, dokter belum keluar juga.


"Aku tidak mengenal nama itu," ucapnya setelah mencoba berpikir beberapa saat. Ayolah, ia sedang cemas memikirkan nasib Darren, sherif tersebut justru mengajaknya memainkan teka teki silang.


"Ini akan terdengar sangat memalukan bagi kami. Bartoli Ortiz adalah burunon kelas atas yang sudah diincar oleh FBI selama hampir 30 tahun lamanya. Kegagalan bagi FBI. Ia bersama ayahnya, Fernandez Ortiz merupakan penjahat yang secara terang-terangan meninggalkan jejak saat mereka melakukan aksi kejahatan. Kasus ini sengaja dirahasiakan dan juga tertutupi oleh kasus yang dialami keluargamu, tepatnya ayahmu beberapa tahun silam."


"Apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan, Sherif?" Austin mulai tidak sabar.


Kasus yang dialami ayahnya puluhan tahun silam adalah dengan kelompok mafia yang tidak lain merupakan ayah kandung saudaranya. Tidak ada hubungannya dengan Bartoli kecuali ayahnya yang secara tidak sengaja membuat pria itu berhasil selamat dari kejaran para pihak yang berwajib karena saat itu negara sedang tidak baik-baik saja, sehingga semua fokus mencari solusi penyelamatan. Harusnya Bartoli berterima kasih kepada mereka tetapi mengapa mereka justru diserang. Bagaimana pula konsepnya ini? Ia juga tidak peduli dengan kegagalan yang dialami aparat. Di matanya, para aparat selalu gagal menjalankan tugas mereka.


"Selama ini mereka tidak pernah muncul dan berulah. Ini kemunculan pertama mereka."


"Dan kemunculan mereka diawali dengan menyerang kami." Austin menyimpulkan.


"Itulah yang ingin kutanyakan, Mr. Willson."


"Hubungan kami?" Austin kembali menebak pertanyaan yang akan dilayangkan Mr. Scoot.


"Ya."


"Aku tidak tahu. Aku akan menanyakan hal tersebut setelah kau berhasil menemukan sniper tersebut. Bekerja keraslah." Austin menepuk pundak sang Sherif untuk memberi semangat.


Mr. Scoot kembali berdehem. Ternyata berita yang beredar di luar sana benar adanya. Willson bukan orang yang mudah diajak untuk bekerja sama.


"Aku akan datang kembali begitu saudaramu bisa dikunjungi."


"Datanglah dengan membawa berita baik, Sherif,"


Ucapan tersebut bukan sekedar basa basi. Makna yang terkandung di balik ucapan Austin adalah Jangan datang sebelum menemukan penembak tersebut. Dan Mr. Scoot tahu itu.