
Potongan kulit kepala yang ditemukan akan dites DNA untuk membuktikan apakah potongan kulit tersubut membuktikan bahwa Santos juga merupakan korban dari Beth. Beth dituduh membiarkan hewan peliharaan yang diberi nama Juliet kelaparan. CCTV juga memberatkan posisi Beth, di mana saat di klub terlihat Beth dan Santos sempat terlibat pertikaian.
Beberapa pengunjung diminta keterangan tentang hal itu dan semua tudingan tertuju pada Beth.
"Kau mabuk tadi malam?" yang terlihat di wajah Steve hanya keseriusan saat semua bukti memberatkan temannya.
"Aku tidak akan menyangkal hal itu. Tapi kau tahu aku, Dude. Aku tidak akan melupakan apa pun meski aku hampir mati hanya karena beberapa botol minuman."
Steve membenarkan hal itu. Meski sudah mabuk berat, belum pernah ia melihat Beth melupakan apa yang terjadi. Ini sedikit membingungkan. Dan bagaimana bisa Juliet begitu rakus. Ada yang tidak beres saat CCTV di rumahnya mendadak mati semua. Hanya saja semua bukti memang mengarah kepada rekannya. Beth terpaksa ditahan.
Beth yang tidak merasa melakukan suatu kesalahan terang saja memberontak. Ia menolak ditahan dan Austin membelanya hingga terjadi keributan diantara mereka. Makian dan umpatan keluar dari mulut keduanya.
Polisi yang tidak sabar meladeni mereka akhirnya menarik pelatuknya, menembakkannya ke atas. Keributan tersebut akhirnya berhenti.
"Aku sungguh tidak membunuhnya, Bajiingan! Jika ada yang ingin kalian tangkap, Juliet si binatang itu lah yang harus kalian amankan. Harimau sialan itu yang memakan mereka!"
"Kau bisa memberi keterangan di kantor, kau juga bisa diam dan kau berhak memanggil pengacara."
"Pergilah. Aku akan membebaskanmu dengan segera." Steve menenangkan Beth untuk menghentikan keributan lebih lanjut.
"Aku tidak bisa bermalam di sana, Steve! Kau harus mengeluarkanku. Menjaminku. Jossie, aku sungguh tidak menyentuhnya. Astaga, Austin sialan! Kenapa kau tidak datang tadi malam saat aku menghubungimu. Ini tidak akan terjadi padaku andai kau menemuiku!"
Steve dan Austin memilih diam. Tidak ada gunanya meladeni ucapan Beth yang sedang kalut. Steve jelas tahu bagaimana rasanya dituduh melakukan sesuatu yang tidak dilakukan. Ia tidak akan membiarkan Beth mengalami hal yang sudah ia rasakan.
"Kita harus mengeluarkannya."
"Hmm."
"Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu. Ayo kita pergi."
"Jossie masih diminta keterangan. Kau tidak penasaran dengan apa yang dia katakan."
"Apa peduliku?" Austin melirik ke arah Jossie. Gadis itu terlihat tenang, itu lah yang mungkin ada di pikiran para polisi. Tapi tidak bagi Austin dan Steve. Mereka bisa melihat ketegangan yang berusaha disembunyikan wanita itu. Beberapa kali Jossie mencengkram jemarinya.
"Aku tidak tahu jika Beth merupakan mantan perwira."
"Aku juga," Steve tidak akan menyelidiki informasi seseorang jika ia tidak merasa seseorang itu mencurigakan. Dari awal Roxi membawa Beth ke markas, tidak ada dari sikap pria itu yang membuatnya curiga.
"Serius?"
"Menurutmu kenapa wanita itu bercerai?"
"Wanita?"
"Jossie?"
Austin menukik alisnya, menatap Steve dengan tatapan aneh.
"Dia masih ada di sini. Kau bisa bertanya langsung padanya."
"Kupikir kau tahu."
"Bagaimana bisa aku tahu?" Austin semakin tampak kesal.
"Kau kan sudah bertemu dengannya."
"Dan kau mengira aku peduli dengan statusnya. Astaga! Aku tahu dia wanita cantik yang cukup menarik. Janda tercantik yang pernah kulihat, tapi aku tidak habis pikir jika kau juga tertarik padanya. Aku akan mengadukanmu kepada Lexi."
"Dia datang." Steve mengabaikan ancaman Austin. Jossie sedang berjalan mendekati mereka.
"Apa yang mereka tanyakan kepadamu?" Austin bertanya begitu Jossie berdiri diantara mereka.
"Bagaimana hubungan suamimu dengan Beth?"
"Santos bukan suamiku."
"Maksudku mantan suamimu."
"Aku tahu mereka berteman, hanya itu."
"Mereka pernah punya masalah?"
"Polisi sudah menanyakan hal itu dan aku juga sudah menjawabnya. Aku tidak ingin mengulangi jawabanku kepadamu. Kau bukan polisi."
"Aku turut berduka atas kematian mantan suamimu. Pasti ini sangat mengejutkan untukmu."
Steve mengucapkan rasa belasungkawanya, mengalihkan tatapan Jossie dari Austin.
"Terima kasih," suara wanita itu bergetar, menunjukkan kesedihannya.
____
"Kemana Austin dan Steve pergi? Mereka terlihat terburu-buru?"
Isabell dan Lexi kini duduk di taman.
"Aku juga tidak tahu. Tapi lupakan tentang mereka, apa yang ingin kau tanyakan?"
Isabell tampak meragu dengan apa yang hendak ia tanyakan. Tapi kepada siapa lagi ia bertanya kalau bukan kepada Lexi. Satu-satunya teman wanita yang bisa ia percaya. Ini menyangkut masalah wanita, jadi yang ia datangi memang harus wanita.
"Kau terlihat ragu? Apa sesuatu yang buruk terjadi padamu?"
Isabell menggeleng dengan cepat sebelum Lexi benar-benar merasa khawatir.
"Hm, apa pendapatmu tentang gay?"
Seperti saat Isabell terkejut mendengar perbincangan antara Darren dan Steve, begitu pula lah yang terjadi pada Lexi. Manik wanita itu membeliak dengan mulut menganga, seperti tidak menyangka pertanyaan seperti itu lah yang ingin ditanyakan Isabell.
Ya, memang bukan hal itu yang ingin Isabell tanyakan pada Lexi. Ia hanya ingin berbasa basi sebelum mengutarakan keinginannya dan sepertinya ia salah dalam memilih topik.
"Gay? Kau mengenal seseorang yang memiliki penyimpangan?"
Kali ini Isabell tersedak. Apa yang harus ia jawab. Sangat tidak mungkin ia mengatakan dengan jujur tentang apa yang ia dengar beberapa saat lalu. Melihat reaksi Lexi yang sangat kaget dan terkesan jijik, Isabell menduga jika wanita itu tidak menyadari bahwa di rumah ini ada yang mengalami penyimpangan.
Sayang, sesungguhnya Isabell lah yang salah sangka. Situasi yang benar-benar menggelikan.
"Ya, bisa dikatakan begitu. Hanya saja aku tidak terlalu dekat dan tidak terlalu mengenalnya. Hanya tahu saja. Apa menurutmu penyakit seperti itu bisa sembuh?"
"Entahlah. Ada yang mengatakan penyimpangan menjijikkan itu tidak akan pernah sembuh. Tapi bukankah selau ada keajaiban dalam hidup. Kita bisa saja menilai seseorang itu tidak akan pernah sembuh dan berubah, tapi semesta menginginkan hal sebaliknya. Selalu ada kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik. Aku penasaran siapa orangnya? Apa aku mengenalnya?" Lexi mulai penasaran. Ia tahu jika Isabell tidak memiliki banyak teman, mungkin saja ia mengenal orang tersebut.
"Lupakan tentang itu. Semoga suamimu terhindar dari orang-orang sesat seperti itu."
"Astaga! Aku akan membunuh Steve jika berani bermain api dengan pedang. Ya ampun, membayangkannya saja membuatku jijik. Sepertinya kita harus menghentikan pembahasan ini. Aku mendadak mual, jadi apa yang ingin kau tanyakan? Karena aku yakin kau mengajakku berbincang bukan untuk membahas hal menggelikan seperti tadi. Benar tidak?"
"Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan? Katakan saja, jika aku bisa, aku akan membantumu dengan senang hati."
"Apa pendapatmu tentangku, Lexi? Aku gadis yang menarik atau kurang menarik?"