H.U.R.T

H.U.R.T
Wanita Gila Yang Malang



Arthur tidak main-main dengan ucapannya. Saat Lexi menolak untuk makan, pria berdarah dingin itu menampar Sonya berulang kali hingga sudut bibir wanita itu robek meski Lexi sudah menjerit histeris untuk menghentikan aksi kejamnya itu. Arthur seakan tuli.


"Baiklah, baiklah, aku makan." Lexi buru-buru merebut baki yang terletak di atas meja. "Aku makan, aku makan, Arthur." Ucapnya di tengah kunyahannya. "Aku benar-benar makan, tolong hentikan," ia kembali berucap sambil sesegukan.


Kembali rasa bersalah menyerangnya. Ia terlalu menganggap sepele ancaman pria gila itu dengan tetap bersikap keras kepala. Lexi merasa iba dan berdosa pada Sonya. Wanita itu bahkan tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun. Sonya juga tidak menjerit saat mendapat perlakuan tidak adil dari suaminya.


Wanita itu hanya diam, menerima dengan pasrah apa pun yang dilakukan Arthur. Sonya bahkan tidak menangis. Lexi menggeleng, Sonya bukannya tidak menangis, tapi wanita itu tidak membiarkan air matanya sampai jatuh membasahi wajah. Manik Sonya jelas berkaca-kaca, tapi dia menghalau air mata itu dengan segera.


"Aku mohon hentikan," Lexi terbatuk-batuk karena tidak mengunyah dan menelan makanannya dengan benar.


Hal tersebut berhasil menarik perhatian Arthur. Pria itu menoleh dan berjalan terburu-buru mendekati Lexi setelah meraih botol mineral.


"Pelan-pelan saja. Tidak ada yang akan merebut makananmu." Nada suaranya lembut dan membujuk. Ia mengusap wajah Lexi, membersihkan mulutnya lalu membantu Lexi untuk minum.


Ingin rasanya Lexi mendorong pria itu, tapi ia yakin jika Arhtur akan kembali marah dan melakukan hal yang lebih kejam. Dengan patuh, Lexi menerima air yang disodorkan Arthur.


"Buka mulutmu," perintah Arthur.


Lexi melirik ke arah Sonya yang menatap mereka dengan perasaan tercabik-cabik. Mata wanita itu tidak bisa berbohong saat ia melihat suaminya memperlakukan wanita lain dengan cara yang bagitu manis dan lembut menurutnya. Tapi, percayalah, bagi Lexi ini menjijikkan.


Lexi membuka mulutnya, membiarkan Arthur menuangkan air minum ke dalam mulutnya. Pria itu mengusap bibirnya yang basah lalu menjjilat jemarinya tersebut dengan ekspresi puas. Lexi terang saja bergidik ngeri.


"Manis," Arthur berkata seraya tersenyum simpul.


"Bagaimana makanannya? Enak?"


Lexi mengangguk cepat, meski ia tidak tahu rasa makanan tersebut.


"Bagus, makanlah secara perlahan dan habiskan. Aku..." Kalimatnya terhenti saat ponselnya berdering. Ia mengumpat kesal saat melihat nama si penelepon. Olivia.


Arthur berdiri, ia mengusap kepala Lexi sebelum berbalik mendekati Sonya.


"Pastikan Lexi menghabiskan makanannya, jika tidak, kau tahu sendiri akibatnya. Kau tidak akan kubiarkan bertemu dengan putrimu." Ia berlalu setelah melayangkan ancaman tersebut.


"Ka-kau baik-baik saja?" Lexi sadar jika pertanyaannya itu sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa baik-baik saja setelah dipukul berulang kali. Terlihat memar kebiruan di wajah Sonya.


"Hm, maksudku itu pasti sakit sekali. Apakah dia biasa memperlakukanmu seperti itu?"


"Habiskan saja makananmu." Sonya duduk di sudut ruangan. Memberi jarak dengan sengaja agar Lexi tidak berbicara macam-macam.


Sonya membenamkan wajah di atas lutut, tubuhnya bergetar pertanda wanita itu sedang menangis.


"Aku minta maaf."


Perlahan Sonya mengangkat kepala, ia menatap Lexi dengan pandangan yang sulit diartikan. Kemudian wanita itu mengusap air matanya. Sonya tersenyum getir.


"Aku sangat menyedihkan, bukan? Aku begitu sangat memujanya."


Lexi terdiam. Sebelum mengetahui karakter asli seorang Arthur, Lexi pun pernah mengagumi mantan gurunya itu. Pembawaan yang begitu tenang dan sederhana menjadi daya pikat pria itu. Lexi berani bertaruh jika Sonya juga tepesona akan hal itu. Wanita itu tertipu oleh penampilan luarnya.


"Dulu, dia sangat penuh cinta hingga akhirnya dia berselingkuh di belakangku bersama mantan muridnya. Awalnya, kukira Olivia yang merasukinya."


Lexi tidak yakin jika pria seperti Arthur memiliki rasa cinta. Pria itu gila, tidak waras. Tapi bukan itu yang membuat Lexi terkejut, tapi pernyataan tentang perselingkuhan Arthur dan Olivia.


"Olivia? Olivia Phillyda?"


"Kau mengenalnya?"


Lexi menganggukkan kepala. Kejutan. Ia tidak menyangka jika Arthur dan Olivia memiliki hubungan. Betapa banyak rahasia yang tidak ia ketahui.


"Mereka berselingkuh sejak aku mengandung anaknya. Bukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi terang-terangan. Setelah melihat perlakuannya terhadapmu, aku yakin jika Olivia tidak lebih dari sekedar untuk bersenang-senang. Apa kelebihanmu? Kenapa dia memperlakukanmu dengan begitu hormat?"


"Dia menculikku."


Sonya tersenyum getir, "Aku iri padamu. Sejak kami menikah bahkan sejak aku mengenalnya, dia tidak pernah menatapku seperti caranya sedang menatapmu. Dia memujamu."


"Aku justru merasa jijik dengan caranya menatapku. Pria itu mengerikan."


Sonya melayangkan tatapan menghunus. Tidak menyukai pernyataan Lexi yang secara terang-terangan menghina suaminya.


"Tidakkah kau mendengar apa yang baru saja kukatakan? Aku mengatakan jika aku iri padamu dan kau justru menghina suamiku."


"Arggghh..." Lexi memekik sakit. Sonya menarik rambutnya ke belakang hingga kepalanya dipaksa mendongak.


"Kau tidak memiliki hak menghina suamiku, Jalaang!!"


Ah, kata itu lagi. Lexi membenci kata itu. Ia mendorong Sonya hingga wanita itu tersungkur.


"Aku bukan jaalang."


"Ya, kau memang wanita binal. Beraninya kau merayu suamiku lalu menghinanya dengan dengan mulut kotormu!"


Ternyata bukan hanya Arthur yang gila. Wanita itu pun ternyata tidak kalah gila. Sonya dibutakan oleh cinta terhadap Arthur.


"Arthur ingin kau menghabiskan makanan ini, bukan?" Sonya kembali menarik rambut Lexi, mengabaikan jeritan minta tolong dari Lexi.


"Buka mulutmu, wanita murahan. Habiskan makanan ini. Ini perintah dari Arthur." Sonya memaksa Lexi membuka mulut. Lexi memberontak hingga makanan berceceran di lantai. Sonya kemudian menarik kepala Lexi dan menekannya ke bawah hingga wajah Lexi mencium lantai.


"MAKAN ITU, SIALAN!!" Sonya meraung seperti orang gila. "Aku akan membunuhmu jika kau tidak menghabiskannya sampai bersih tidak bersisa." Sonya menduduki tubuh Lexi sambil tetap menekan kepala Lexi ke lantai.


"Le-lepaskan aku. Lepaskan aku, wanita gila!!"


"Gila? Kau menyebutku gila? Ya, aku sudah gila. Gila karena mendambakan pria yang sudah tidak menoleh ke arahku. Gila karena aku tidak bisa bertemu dengan putriku. Aku memang gila karena ternyata suamiku lebih memilih menoleh pada wanita binal sepertimu. Ini benar-benar membuatku gila dan kau lah penyebab kegilaan ini. Arggghhhh!!!" Wanita itu menghantamkan wajah Lexi ke lantai hingga Lexi menjerit kesakitan. Sonya seperti wanita kesurupan yang hilang akal.


Lexi berusaha meloloskan diri dari Sonya dengan berusaha bangkit dan berdiri. Dengan susah payah, ia berhasil. Sonya terjungkal ke belakang. Pun Lexi segera berlari.


Namun, Sonya berhasil menghentikannya dengan menarik kakinya hingga kembali terjatuh. Sonya membalik tubuh Lexi dengan brutal lalu melompat ke atas tubuh itu. Menampar wajah Lexi secara berulang kali.


"Jika Arthur tidak bisa menoleh kepadaku, maka dia juga tidak boleh menoleh kepada wanita lain. Kau harus mati! Argghhh!!!" Sonya mencekik leher Lexi hingga gadis itu kesulitan bernapas. Matanya membeliak, merah mengeluarkan kristal bening, lidahnya bahkan sudah keluar. Lexi sudah pasrah jika dirinya akan mati di tangan wanita itu. Rasanya benar-benar mengerikan, sakitnya minta ampun. Lexi memejamkan matanya, membayangkan wajah-wajah orang yang mencintainya dan dicintainya. Ia sudah pasrah jika dirinya akan mati dengan cara seperti ini.


"APA YANG KAU LAKUKAN, SONYA?!"


Mendengar suara menggelegar itu, Sonya langsung melepaskan tangannya dari leher Lexi.


Lexi langsung terbatuk-batuk. Ia segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Belum hilang ketakutannya, Arthur sudah menarik Sonya dan melemparnya hingga membentur dinding.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Lirih wanita itu dengan nada pilu dan tatapan penuh luka. "Di-dia menghinamu. A-aku hanya memberinya sedikit pelajaran."


Arthur menyeringai sinis. "Kau tidak berhak menyentuhnya dengan tangan kotormu, wanita bodoh!" Arthur menarik tangan Sonya lalu menginjaknya tanpa ampun. Wanita itu menjerit kesakitan. Arthur tidak peduli sama sekali.


"Dimana kau meletakkan otakmu? Beraninya kau menyentuhnya!!"


"A-Arthur hentikan..." Lexi berkata dengan susah payah. Lehernya benar-benar sakit.


Arthur menoleh, seketika wajahnya kembali pias saat melihat wajah Lexi yang berantakan dan babak belur.


Arthur melintasi ruangan. Membuka laci dan mengeluarkan tali. Pun ia menyeret satu bangku kayu lalu memberi perintah agar Sonya duduk di sana. Arthur mengikat tubuh istrinya tersebut.


"Ar-Arthur, apa yang akan kau lakukan? Kumohon lepaskan dia," Lexi memohon untuk keselamatan Sonya.


"Aku tidak salah, Sayang. Wanita jaalang itu benar-benar menghinamu."


Arthur terhenyak, terdiam untuk sesaat. Tatapannya nyalang, bagaikan singa yang siap untuk menghajar musuhnya.


"Apa katamu?" Ia bertanya dengan nada lambat dan penuh penekanan.


"Ja-lang? Kau mengatakan itu?"


"Arthur, aku..."


"ARGGGHHHH..."


Lexi dan Sonya menjerit histeris saat pria itu mencabut kuku Sonya hingga terlepas.


Lexi merangkak mendekati Arthur. Ia memeluk kaki pria itu memohon agar menghentikan aksi gilanya yang mengerikan itu. Tapi sepertinya Arthur tidak akan mendegar siapa pun. Pria itu mengeluarkan pistol dari balik jasnya dan memasukkan moncongnya ke dalam mulut Sonya dan meletuskan pelurunya.


"ARRGGHHH!!!" Lexi kembali histeris. Wajahnya penuh dengan darah. Ini lebih mengerikan daripada mimpi buruk yang ia alami selama ini. Sonya tewas seketika dengan mata menyalak ke arahnya.