H.U.R.T

H.U.R.T
Aku Mengawasimu



Jossie Moore, putri Julio Moore, anggota parlemen yang sangat terhormat. Lantas kenapa Jossie masih menyandang nama belakang ayahnya. Bukankah dia sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar?


Ya, benar. Jossie sudah menikah dengan seorang marinir angkatan darat. Seorang pejuang yang sangat rupawan. Ia menikahi pria itu karena keduanya saling mencintai. Namun, semuanya tidak berjalan mulus saat usia pernikahan mereka menginjak angka ke lima tahun. Suaminya berubah. Berubah dalam segala hal setelah pulang berperang dari salah satu negara.


Suaminya yang dulu sangat senang menghabiskan waktu dengan anak-anaknya mendadak tidak menyukai suara tangisan dan rengekan. Jossie harus berusaha menenangkan anak-anaknya jika suaminya sedang ada di rumah. Dan membuat anak-anak tidak menangis dan rewel adalah hal yang sangat sulit.


Memiliki sepasang anak kembar adalah anugerah yang sangat manis dan juga cobaan yang membutuhkan ketahanan mental yang kuat. Kedua anaknya selalu memperebutkan barang yang satu. Tingkah pola yang bagi Jossie terlihat normal dan bahkan menggemaskan menjadi hiburan tersendiri baginya di kala ia penat sehabis melakukan rutinitasnya. Hiburan yang baginya ternyata tidak bagi suaminya. Suaminya menganggap semuanya gangguan.


Suami yang dulu juga bertingkah sangat lembut dan penuh perhatian tidak Jossie temukan lagi di waktu yang sama dimana suaminya menganggap anak-anaknya sebagai ancaman.


Suaminya hanya akan bertingkah manis saat membutuhkan pelayanan Jossie di atas ranjang. Ini sangat melukai Jossie. Melukai hatinya. Dan adegan di ranjang bisa berakhir dengan keributan jika mendadak salah satu anaknya menangis dan mengganggu aktifitas mereka.


Jossie juga kerap mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Wajah mulusnya sering mendapat tamparan.


Jossie bekerja di salah satu penerbit ternama. Ia mencintai pekerjaan tapi ia lebih mencintai kedua anak-anaknya dan tentunya juga suaminya.


Keadaan suaminya yang berubah membuatnya harus mengambil keputusan. Bercerai? Bukan. Ia masih berusaha menahan diri untuk memberi kesempatan pada hubungan mereka. Ia yakin suaminya masih mencintainya. Suaminya pasti akan berubah seperti semula. Penyayang, lembut, dan penuh perhatian.


Jossie memutuskan untuk resign dari perusahaan guna lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarganya. Ia mengira usahanya untuk menjalin hubungan lebih harmonis bisa membuat suaminya berubah. Harapannya tersebut bukan tanpa alasan. Suaminya mengalami trauma pasca peperangan. Hal semacam ini memang kerap dialami para marinir. Dimana mereka harus melihat langsung korban berjatuhan, korban yang merupakan teman seperjuangan. Suaminya marinir yang hebat, merupakan ketua dalam tim.


Tentu saja goncangan yang dialaminya lebih berat. Suaminya mungkin membawa kemenangan bagi negara, tapi tidak bagi keluarga rekannya yang sudah gugur.


Jossie sangat prihatin akan hal itu. Ia selalu berusaha dan berupaya untuk menghibur suaminya. Meyakinkan suaminya untuk tidak menyalahkan diri. Ini pekerjaan yang mereka pilih, dan marinir serta keluarganya sudah harus siap dengan resiko apa pun. Tapi Jossie juga tidak akan sanggup membayangkan bahwa suatu hari ia akan menerima kabar bahwa suaminya telah gugur.


Perhatian dan usahanya itu ditolak oleh suaminya. Ia bahkan mendapat cibiran, hinaan dan ejekan saat memberitahu prihal tentang ia yang sudah mengundurkan diri dari pekerjaan. Usaha yang sia-sia ternyata.


Ternyata ia salah besar. Setelah ia mengabdikan diri kepada keluarga kecilnya sepenuhnya, Jossie bukan hanya mendapatkan kekerasan dalam bentuk fisik. Suaminya mulai bermain gila. Bergonta ganti pasangan.


Hati istri mana yang tidak hancur. Pengkhianatan adalah hal yang tidak bisa ia tolerir dalam suatu hubungan. Namun ada kalanya prinsip itu dikalahkan oleh komitmen. Ya, Jossie masih mencoba bersabar dengan tetap mempertahan bahtera rumah tangganya di tengah kehancuran hati dan mentalnya dengan berpedoman pada kata-kata bijak bahwa rasa kesabaran akan menuai hasil yang manisnya luar biasa. Komitmen yang ia ucap bersama suaminya di hadapan Tuhan juga merupakan alasan baginya bahwa perceraian bukanlah solusi. Ia menjalaninya di tengah goncangan batin sampai di mana Tuhan mampu membuatnya menyerah.


Di tahun ke enam, akhirnya ia menemukan titik bahwa ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya. Di mana saat itu ia dan suaminya bertengkar di hadapan anak-anaknya dan di sana juga ada seorang wanita yang ia bawa ke rumah mereka, tidur di ranjang mereka dan tiba-tiba ayahnya muncul. Suaminya juga bertengkar dengan ayahnya. Pada akhirnya, ayahnya membawanya dan juga anak-anaknya. Mengurus perceraian Jossie dan mengancam suaminya agar menandatangani surat perceraian tersebut.


Takut dengan ancaman ayahnya, suaminya pun akhirnya menandatangani surat perceraian tersebut dengan melayangkan ancaman bahwa ia akan kembali untuk mengambil kedua anaknya.


Enam bulan setelah perceraiannya dengan suaminya, ayahnya ditemukan meninggal di ruang kerjanya. Ditemukan olehnya dan kedua anaknya. Pukulan yang sangat berat untuknya, karena diduga ayahnya mati bunuh diri. Media memberitakan hal itu. Menjadi topik hangat selama satu bulan. Jossie sendiri tidak mampu menyangkal pemberitaan tersebut meski ia tidak yakin ayahnya mati bunuh diri. Jossie tidak menemukan alasan mengapa ayahnya memilih meninggalkannya dengan cara kejam seperti itu. Tapi dokter menyebutkan bahwa ayahnya memang menelan beberapa butir obat yang membuat Julio mengalami over dosis.


"Mom, apakah Uncle itu akan mati?"


"Tidak, Jely. Dokter mengatakan dia baik-baik saja." Jossie memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Kedua tangannya memeluk putra dan putrinya. Matanya selalu memindai dengan waspada. Ia khawatir jika ancaman masih mengintai.


Sungguh ia sangat berterima kasih kepada Darren karena melindungi kedua anaknya. Pertanyaan yang sama dengan yang menari-nari di benak Austin, siapa sebenarnya target dari sniper tersebut. Meski suaminya menganggap anak-anaknya merupakan gangguan, tapi ia tidak pernah menyaksikan suaminya berlaku kasar pada Jorell dan Jely, kemarahan selalu dilimpahkan kepadanya. Jadi sangat tidak mungkin suaminya berniat melenyapkan anak-anaknya. Jossie meyakini hal itu. Dan yang terpenting, ia tidak mengenal diapa Bartoli Ortiz. Ya, ia mencuri dengar perbincangan Austin dan Sherif daerah.


Semenjak bercerai dengan mantan suaminya, ia tidak pernah melupakan ancaman pria itu. Dua tahun sudah berlalu, ia tidak pernah bertemu dengan suaminya kecuali saat pemakaman ayahnya. Suaminya datang bersama seorang wanita. Dan terima kasih kepada Tuhan yang dengan mudah mencabut rasanya terhadap pria itu. Jossie menemukan dirinya tidak cemburu dan sakit hati lagi begitu melihat suaminya bersama dengan wanita. Rasa cinta dan kagum yang dulu membuatnya seperti mabuk kepayang, raib begitu saja.


"Kau tidak melihat bahwa Austin dan Isabell masuk ke dalam ruangan. Mereka ingin bertemu dengan Darren," Jorell menjelaskan.


Jossie mengangguk membenarkan ucapan putranya.


Pintu di depan mereka terbuka. Austin dan Isabell keluar dari sana. Wajah keduanya tidak menunjukkan ketegangan, Isabell mengucap syukur dalam hati, artinya kondisi Darren tidak terlalu mengkhawatirkan.


Ingin rasanya ia bertemu dengan pria itu dan mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung. Tapi ia merasa sungkan untuk meminta izin.


"Namamu Jossie?" Austin bertanya. Mereka memang belum berkenalan secara khusus.


"Ya."


"Sejak kapan kau mengenal Darren?" Selidik Austin.


"Sejak di pantai," Jossie bisa merasakan dengan jelas bahwa Austin sedang berusaha mengintimidasinya. Jossie memaklumi hal itu mengingat kedua anaknya merupakan kemungkinan dari target si penembak. Bagi Austin mereka adalah orang asing, objek kuat yang patut dicurigai.


"Di mana suamimu?" Tipikal Austin yang memang selalu frontal.


"Di luar kota." Berharap jika anak-anaknya tidak melayangkan protes tentang kebohongan kecil yang ia ciptakan. Jossie sudah memberi penjelasan kepada kedua anaknya bahwa orang tua mereka tidak bisa bersama layaknya orang tua pada umumnya. Jely dan Jorell anak-anak yang pintar. Mereka pun tidak bertanya banyak tentang hal itu. Hingga detik ini, baik Jely dan Jorell tidak pernah bertanya tentang ayah mereka kepada Jossie.


"Tepatnya?"


Jossie menatap Austin dengan sinis, ia rasa pertanyaan Austin terlalu pribadi dan lagi pula ia memang tidak tahu di mana suaminya. Andai ia tahu, ia akan berlari dan sembunyi. Tidak ingin menginjakkan kaki di tanah yang sama dengan pria yang sudah memberikannya dua harta berharga dalam bentuk Jely dan Jorell. Satu-satunya hal baik yang masih bisa diterima oleh Jossie dari suaminya.


"Apakah itu penting." Jossie menjawab dengan sengit.


"Aku tidak akan bertanya jika itu tidak penting," Austin menimpali tidak kalah sinis.


"Rhinebeck," menghindari ketegangan, Jossie menjawab asal dengan menyebut nama kota kecil di New York.


"Rhinebeck?" Austin menukik alisnya, tidak yakin dengan jawaban Jossie.


"Kau sudah menghubungi suamimu?"


"Ya, aku baru berbicara dengannya beberapa saat lalu,"


"Dia akan datang?"


"Ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan." Jossie semakin gelisah dengan kebohongan yang ia ciptakan. Ia berharap pria di hadapannya itu tidak mencurigai gelagatnya.


"Ayah macam apa suamimu itu," tandas Austin dengan sengit. "Brooklyn dan Rhinebeck tidak begitu jauh dan dia lebih memilih pekerjaannya daripada di sini bersama anak-anaknya yang baru mendapat serangan?" Austin berdehem saat menemukan Jorell menatapnya dengan tatapan menuduh khas anak kecil. Bocah laki-laki itu sepertinya menyadari sikap Austin yang sedang mengintimidasi ibunya.


"Austin," Isabell menegur Austin yang menurutnya sedikit keterlaluan. Tapi Austin tetaplah Austin, selalu mengeluarkan apa yang ia pikirkan dengan frontal.


"Apa aku membutuhkan pendapatmu tentang itu?"


"Aku juga tidak membutuhkan izinmu untuk bersuara."


Keduanya saling menatap dengan sengit. Isabell menjadi serba salah. Ia menatap Jossie dan anak-anaknya dengan prihatin. Jely dan Jorell anak yang begitu manis. Isabell menyukai mereka.


"Jorell, Jely, kalian haus? Bagaimana jika kalian menemaniku membeli beberapa minuman." Isabell berinisiatif. Ia tidak ingin anak-anak itu melihat ibu mereka tertekan dan ia juga tidak bisa menghentikan tindakan Austin. Pria itu tidak akan mendengarkan siapa pun.


Jorell dan Jely menatap ibu mereka untuk meminta izin. Jossie menganggukkan kepala dan berterima kasih kepada Isabell melalui sorot matanya. Ya, hanya wanita yang memahami perasaan wanita.


"Aku mengatakan semuanya baik-baik saja,'' ucap Jossie setelah anak-anaknya dan Isabell tidak terlihat lagi.


"Dan dia percaya?"


"Tidak ada alasan bagi suamiku untuk tidak percaya padaku, pada is-istrinya." Nadanya berubah saat menyebut kata istri. "Dan aku memang tidak berbohong. Semuanya baik-baik saja."


"Ya, hanya saudaraku yang tidak baik-baik saja. Siapa nama suamimu dan apa pekerjaannya?''


"Menurutku kau sudah keterlaluan!"


"Kau tinggal menjawab."


"Aku menolak."


"Kenapa? Karena kau berbohong?" Austin menyunggingkan bibir atasnya dengan gaya yang menurut Jossie mampu membuat siapa pun yang melihatnya naik darah, tidak terkecuali dirinya.


"Jika kau tidak percaya dengan jawabanku, kau tinggal menghentikan pertanyaanmu. Tindakanmu ini seolah-olah menuduh aku dan keluargakulah penyebab serangan ini."


"Ya, aku tidak menyangkal hal itu. Orang asing harus diwaspadai."


Jossie sudah tidak tahan lagi. Ia berdiri dari tempatnya, melangkah mendekati Austin. Pria itu ternyata sangat tinggi, Jossie menyesali tindakannya yang berdiri di hadapan Austin. Ia terlihat seperti timun emas yang berhadapan dengan raksasa jahat. Ia tampak kerdil di hadapan pria itu. Dan yang membuat Jossie semakin jengkel adalah posisi mereka, Austin menunduk menatapnya dengan sorot meremehkan. Pria itu menyadari betapa pendeknya dirinya.


"Kau pikir aku menginginkan hal ini terjadi? Aku tidak kenal dengan Bartoli yang kalian bicarakan. Jangan menuduh seolah aku dan anak-anakku adalah target. Bagaimana jika anggapan itu kita rubah. Target yang diincar adalah dirimu. Itu lebih masuk akal mengingat kehidupanmu yang penuh dengan skandal."


Austin kembali berdecak, "Kehidupan yang penuh skandal, heh? Kau memata-mataiku, kurcaci betina?"


Kurcaci betina? Terdengar sangat imut memang, tapi tidak di telinga orang yang memang memiliki tinggi badan minimalis.


"Kur- kurcaci? A-apa kau baru saja menyebutku kurcaci betina?"


"Aku akan terlihat bodoh jika aku menyebutmu kurcaci jantan," sahut Austin dengan enteng.


"Jadi kau memata-mataiku?"


"Kau memang pria bodoh. Memata-matai jelas berbeda dengan mencari informasi di internet. Berita tentang dirimu penuh dengan skandal. Tidak ada yang patut untuk dibanggakan!"


"Aku hidup bukan untuk membuat orang-orang sepertimu menatapku dengan bangga."


"Orang-orang sepertiku? Seperti apa maksudmu?!"


"Pembohong. Pembohong yang buruk. Masuklah. Darren ingin bertemu denganmu. Aku mengawasimu!" Austin mengarahkan jari tengah dan jari telunjuknya ke matanya lalu mengarahkannya kepada Jossie.