H.U.R.T

H.U.R.T
Akan Lebih Sulit



"Bodoh! Tolol! Dungu! Kau memang pantas mati! Cuiihhh!!" Seorang pria meludah ke atas tubuh pria yang tergeletak di lantai, terbujur kaku tidak memiliki napas lagi. Pria yang ditugaskan untuk membuat kekacauan di rumah Willson.


"Kau lah yang bodoh." Kekehan malas terdengar dari seberang meja. "Kau memelihara binatang pengerat yang menjijikkan."


Pria itu mengatupkan bibir rapat-rapat. Mengepalkan kedua tangan, mengumpat dalam hati atas kegagalan misi yang ditugaskan kepadanya.


"Bukan hanya kita yang mengincar Willson, tidakkah kau melihat bahwa ada serangan kepada gadis itu."


"Aku tidak buta dan aku tidak bodoh sepertimu."


Pria itu terdiam. Tidak ada gunanya menyangkal jika orang yang duduk tenang itu sedang dalam suasana hati yang buruk.


"Apa lagi yang kau tunggu!" Ujaran malas kembali terdengar. Si pria yang disebut bodoh, menggemeretakkan gigi. Perlahan ia melangkah mendekat, kemudian bersimpuh, lalu bersujud, mencium kaki si pemilik suara yang sepertinya enggan untuk berbasa basi.


Seringaian sinis terpatri saat si pria bodoh mencium kakinya. "Aku tidak ingin melihat sekumpulan curut di sini." Dipendarkannya pandangannya. Ditatapnya manik semuanya satu persatu. "Sangat menjijikkan. Enyahlah. Serang teman yang ada didekatmu. Pergilah ke neraka." Tawanya lepas menyaksikan kehebohan yang terjadi. 10 orang yang ada di sana saling menyerang. Bau amis seketika memenuhi ruangan tersebut. "Tugasmu adalah mencari tahu siapa yang sudah berani mengirim bangkai kemari." Berdiri, lalu meninggalkan si pria bodoh dengan sebelas mayat yang terkapar. "Bakar tempat ini." Perintahnya yang sepertinya merupakan pemimpin dari suatu kelompok gelap. Tidak menyangka jika ada kelompok lain yang secera terang-terangan mengibarkan bendera perang. Bagaimana bisa tikus peliharaannya dikirim ke markas mereka yang selama ini aman terkendali. Jelas Willson bukan pelakunya. Lantas siapa?!


🐁


Dengan mimik tegang menahan amarah, Steve keluar dari satu ruangan. Hari ini benar-benar buruk dan ia yakin hari berikutnya akan semakin buruk.


"Lukamu harus dijahit, Steve." Sam mengikutinya dari belakang. Pria itu benar-benar tidak mengerti jalan pikiran rekannya itu. Steve memintanya untuk menyerang seseorang, di detik terakhir Steve justru mengubah target. Keanehan selanjutnya, Steve memasang badan melindungi target. Benar-benar tidak ada yang mengerti dengan jalan pikiran pria itu.


"Ruang bawah tanah." Ucapnya dingin. Sam sontak menghentikan langkah. Steve bukan hanya sekadar marah. Ia sedang murka. Bukan pilihan yang baik berada di dekat pria itu. Perlahan ia berbalik, memilih untuk menjauh dari Steve.


Steve memasuki kamar. Menekan tombol yang ada di balik sebuah lukisan. Lantai berpijaknya tiba-tiba terbuka. Steve memasuki sebuah ruangan yang minim akan pencahayaan. Steve menyalakan lampu, seketika ruangan itu terang benderang. Sebuah seringaian sinis tergelincir dari sudut bibirnya melihat seseorang yang dirantai dengan kondisi mengenaskan. Rudolf, rekan satu kamarnya dulu. Roxi menghadiahkan pria itu kepadanya saat usianya menginjak angka 23 tahun. Tepatnya Rudolf dan Bison. Bison sudah tinggal nama. Steve mengulitinya secara bertahap, menjadikan kulit pria itu sebagai bahan pakaian yang didesainnya. Sebagian dijadikan bahan topeng untuk keperluan syuting. Tidak ada yang menyadari jika kulit yang ia gunakan memang berasal dari kulit manusia. Rudolf dan Bison sesungguhnya bukanlah hadiah yang ia inginkan. Dibandingkan kedua pria menjijikkan itu, ia lebih menginginkan Riston. Pria yang membentuknya menjadi seseorang yang hina. Pecandu dan budak sek's sesama jenis.


"Bagaimana kabarmu, Rudolf?" Basa basi yang dilontarkan dengan nada enggan. Berhadapan dengan manusia berperawakan binatang, Steve juga akan berubah layaknya binatang buas yang tidak punya perasaan. Rudolf dan Bison, kedua pria itu, selain memukul dan menghajarnya, kedua manusia itu juga kerap memaksa Steve memberikan kepuasan kepada mereka.


"Anjiing!" umpat Rudolf dengan lirih. Sebagian wajah sudah melepuh akibat dikuliti.


Mengabaikan umpatan yang dilayangkan kepadanya, Steve berjalan melewati Rudolf. Bau menyengat yang sangat busuk mengkontaminasi hidungnya, namun ia seolah tidak terpengaruh. Sampai di depan meja kayu, Steve mengeluarkan sebuah sarung tangan hitam juga beberapa benda tajam dalam ukuran kecil.


"Bajiingan!" Desis pria setengah baya itu. Sesungguhnya Rudolf lebih memilih mati menyusul Bison daripada harus dibunuh secara perlahan seperti ini.


Bison langsung dihabisi Steven setelah dua tahun menyiksa pria itu. Bison melontarkan kalimat kejam yang menjijikkan yang berhasil membuat Steve murka. Pria itu tiba-tiba mengamuk dengan ganas. Rudolf tidak akan melupakan kekejaman yang dilakukan Steve hari itu. Steve benar-benar terlihat seperti iblis. Dengan tenang dan tanpa kesulitan, Steve menarik lidah Biston, satu detik setelah Biston melontarkan kalimat menjijikkan. Tidakkah kau menikmati saat kau memuaskan kami, Brandalan! Hanya demi secuil narkotika, kau memohon. Aku bahkan masih ingat bagaimana rasanya saat lidahh dan mulutmu bermain-main.... Dan selesai. Steve berubah menjadi monster detik itu juga.


Jika Rudolf ingin mati dengan cara instan, ia hanya perlu melontarkan kalimat seperti Bison. Namun, ia tidak mempunyai keberanian saat mengingat bagaimana Bison menggelepar-gelepar di lantai dan Steve tanpa ampun tetap mengulitinya.


"Kau memiliki permintaan khusus?" Steve berdiri di hadapan Rudolf. Menelisik setiap inci tubuh pria itu. Kira-kira bagian tubuh yang mana yang akan dia kuliti.


"Bunuh aku, Sialan!!"


Steve mengangguk, "Tentu."


"Akkkhhh!!!" Rudolf menjerit histeris saat pisau milik Steve menancap di lengannya. Steve memutuskan untuk menguliti bagian tangan kiri pria tersebut.


"Berisik!" Ia mengambil selotip, menutup mulut Rudolf. Rudolf menggeleng-gelengkan kepala. Matanya merah mengeluarkan air mata. Rasa perih yang tidak tertahankan menjalar di setiap sarafnya. Luka wajah yang masih basah, dibalut selotip, bayangkan saja nikmatnya seperti apa. Belum lagi saat Steve menarik selotip tersebut setelah mengeksekusi kulit tangan pria itu. Mungkin bukan hanya Rudolf, siapa pun yang merasakan demikian akan lebih memilih mati.


"Ada rasa senang tersendiri saat menguluti seperti ini. Apakah kau juga merasakan hal yang sama saat memotong-motong bagian tubuhmu, Rudolf. Akh... Aku lupa mengatakan jika sebagian kulitmu ini juga dimasukkan ke dalam bahan makanan yang kau nikmati."


"Uueweekkk..." Rudolf muntah seketika. Selotip yang menutupi mulutnya membuat muntahannya berserakan di sekitar wajahnya. Jika saat memutilasi istrinya, ia bertemankan nafsu setan juga bisikan jin, tidak benar-benar sadar. Lain halnya dengan sekarang. Ini memuakkan juga mengerikan.


"Bagaimana rasanya? Enak tidak? Koki memasaknya dengan sepenuh hati juga dengan campuran bumbu spesial." Srak! Steve melepaskan selotip tersebut disusul dengan jeritan histeris dari Rudolf.


"Pergilah ke neraka, Bangsyat!"


Steve menukik alisnya, tidak tersulut sama sekali dengan setiap makian yang dilontarkan kepadanya.


"Tidak sebelum aku menyelesaikan semuanya." desisnya dengan wajah murung. Kapan semua ini akan berakhir, disaat rencananya sudah tidak seperti yang sudah ia atur. Semua lari dari perkiraannya. "Ini akan memakan waktu lebih banyak dan akan lebih sulit baginya."