
Steve, Beth dan Sam memasuki hotel Hilton. Tempat yang dikatakan Sam sebagai lokasi pertemuan kelompok Darkness. Tidak ada yang aneh dengan hotel itu, sekilas terlihat seperti hotel pada umumnya. Mewah, berkelas, dan nyaman. Pemandangan pantai menjadi nilai lebih untuk letaknya yang sangat strategis. Sangat kebetulan sekali pantai Virginia adalah tempat yang dipilih Lexi untuk berlibur. Lalu untuk apa Pax memberinya parpor?
"Kamarmu ada di lantai atas." Beth mengumumkan. Steve tidak menanggapi, matanya memantau, mencari-cari celah apa yang aneh dengan hotel ini. Sejauh ini ia tidak menemukan keanehan sama sekali. Ia juga melihat jika para pengunjung hotel sebagian besar merupakan turis.
"Apa mungkin ada ruangan rahasia?"
"Ada casino di lantai bawah," Sam menimpali. "Jam dua belas, tengah malam, casino akan dibuka untuk orang-orang tertentu."
Steve mengangguk paham. "Kita masih memiliki waktu tiga jam. Aku akan beristirahat." Steve mengambil kartu akses yang disodorkan Beth kepadanya. Alih-alih beristirahat, ia justru berdiri, menatap jauh hamparan laut di bawah gedung. Lampu-lampu kota terlihat seperti kunang-kunang yang bertebaran. Pemandangan yang sangat romantis jika dinikmati bersama sang kekasih. Cih! Kekasih gundul kau!
Untuk pertemuan nanti malam, ia tidak memiliki strategi tertentu yang ia susun untuk terjun ke casino. Berkat Sam, mereka sudah terdaftar untuk hadir nanti malam. Masing-masing peserta diberikan daftar siapa saja yang akan datang nanti malam. Darren dan Austin Willson juga ada di sana. Apakah tujuan mereka sama dengannya? Membuktikan keberadaan Darkness atau justru untuk bersenang-senang atau mungkin mereka adalah Darkness? Selain bersaudara Willson, Pangeran Harry, pria yang tergila-gila kepada Lexi juga hadir. Ini sedikit membingungkan, apa tujuan pria itu di sini? Bukankah Kerajaan Madrid dikenal sangat bersih. Tidak mungkin pangeran tersebut terjun ke dunia gelap yang rentan dengan kemudaratan.
Ada seratus orang yang terdaftar, termasuk Brian and the genk. Mr. Arthur Cony. Melihat daftar-daftar orang yang hadir, Steve curiga jika ini hanya akan berakhir sebagai ajang reuni para alumni Yalle High School.
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan angka 23.20. Waktunya bersiap.
"Baiklah, mari kita lihat apa yang ada di sana?" Steve berjalan memasuki toilet. Penting baginya menyegarkan seluruh tubuhnya sebelum terjun ke dalam lumpur.
___
Casino yang berada di belakang hotel Hilton ternyata sama besarnya dengan hotel itu sendiri. Hanya saja tidak ada penerangan lampu sama sekali dari luar. Sekilas terlihat seperti gedung kosong yang terabaikan. Namun, begitu ia masuk ke dalam gedung, ia temukan pemandangan yang sangat berbeda. Ruangan yang penuh dengan gemerlap lampu, musik yang hampir membuat gendang telinganya pecah. Seingatnya, ia melihat hanya ada seratus daftar tamu. Yang ia saksikan lautan manusia yang sedang menikmati hidup dengan cara setingkat lebih menyedihkan dari caranya menjalani hidup.
Steve baru saja hendak mengeluarkan ponsel untuk menanyakan keberadaan kedua rekannya. Namun, terhalang karena seseorang yang memanggil namanya.
"Mr. Ivarez Dixton?"
Steve tidak menyahut, hanya menunggu pria bertubuh algojo itu datang menghampirinya. Ia langsung tahu jika pria merupakan salah satu pekerja di sana.
"Anda ditunggu di lantai 15."
Oh, jadi aturannya sudah ditentukan. Dia tidak bisa naik ke lantai mana pun yang ia inginkan dan tidak bisa memilih lawan yang ia inginkan juga. Abaikan tentang lawan, ia tidak terlalu tertarik dengan perjudian.
Algojo tersebut menuntunnya masuk ke dalam lift.
"Lantai lima belas adalah lantai eksklusif. Diperuntukkan untuk tamu yang memiliki harta kekayaan berlimpah." Algojo itu menjelaskan dan Steve hanya diam, tidak menanggapi. Peduli apa dia dengan semua kekayaan yang didapatkan dengan cara kotor.
"Kuharap kau menikmati permainanmu, Mr. Ivarez." Mereka sudah sampai di lantai lima belas dalam hitungan detik. Pria bertubuh besar itu kemudian mengeluarkan kartu akses dari dalam kantongnya. Artinya, memang tidak bisa keluar masuk secara sembarangan dari lantai ke lantai.
Steve memindai lantai tersebut. Ada CCTV di sudut ruangan yang menghadap ke mereka. Sangat sulit untuk mengelabuinya jika begitu.
"Sepertinya aku meninggalkan ponselku." Ia hanya berharap bahwa ponselnya tidak berdering saat ini. Dan keamanan di sini tidak terlalu ketat. Ia tidak diperiksa sama sekali atau mungkin nanti?
"Aku harus mengambilnya." Steve masuk ke dalam lift diikuti pria itu. Steve kembali menemukan CCTV di pojok atas.
Kini mereka sampai di lantai dasar. Algojo itu berhenti, memilih menunggu di sana.
"Aku ingin ke toilet. Mercedes Benz- Ener-G-Force. Steve melemparkan kunci miliknya."
Ia berlalu sebelum algojo tersebut melayangkan protes.
Steve menoleh ke belakang dan tersenyum saat algojo itu menuju pintu keluar. Pun, Steve segera menyelinap keluar, mengikuti algojo tersebut. Saat algojo tersebut masuk ke dalam mobilnya, Steve menahan pintu, mengeluarkan sebuah pulpen dari balik jasnya.
"Aku tidak menemukan ponsel." Algojo itu keluar, berdiri di hadapan Steve.
"Yeah." Steve mengerang malas. "Ponselnya ada di sini." Steve mengambil ponselnya dan melemparnya kepada pria itu. Refleks pria itu menangkap benda pipih tersebut dan Steve segera melancarkan aksinya dengan menancapkan ujung pulpennya ke leher si algojo. Dalam sekejap, pria itu terkapar di tanah.
Steve segera mengangkat tubuh pria itu, memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya setelah mengambil kartu akses milik pria tersebut.
"Kau membunuhnya?"
Steve menutup bagasinya sebelum ia berbalik untuk berhadapan dengan si pemilik suara yang melihat aksinya.
"Seperti yang kau lihat," ujarnya dengan santai.
"Apa kesalahannya?"
"Pertanyaanmu membuatku mual," sarkasnya. "Beberapa orang terpaksa berada di dalam situasi yang rumit yang cenderung merugikan dirinya sendiri meski. Entah itu dijadikan alibi, kambing hitam atau demi untuk bertahan hidup."
"Lantas, dimana dari beberapa alasan itu yang membuatmu memutuskan untuk menghabisinya?" Darren kembali bertanya.
"Tidak keduanya," tandasnya ringkas. Kedua pria itu berjalan beriringan masuk ke dalam gedung tersebut. Algojo lain datang menyambut Darren. Mereka bertiga masuk ke dalam lift. Diantar ke lantai lima belas.
"Selamat menikmati permainan kalian, Mr. Willson, Mr. Ivarez," algojo itu menekan kartu akses setelah memastikan mereka aman dari senjata dan benda lainnya. Pintu terbuka. Dan kedua pria itu kompak berdecak melihat jika Brian sudah ada di sana. Dan Harry juga ada di sana.
"Terkadang takdir sangat lucu, orang yang ingin dihindari justru saling dipersatukan." Steve duduk di kursi yang disediakan untuknya.
Seratus daftar tamu, ternyata ada di dalam ruangan tersebut. Beth, Sam, terlihat sedang beraksi. Austin menjadi lawan mereka dan juga Mr. Cony. Dari wajah rekannya, bisa dipastikan jika Beth dan Sam sudah menghabiskan uangnya cukup banyak. Wajah sumringah Austin menandakan jika pria itu menang banyak.
"Tidakkah kau merasa tersanjung duduk diantara para pria terhormat."
"Aku tidak pernah merasa sejijik ini, Mr. Milles. Kicauanmu selalu tidak berfaedah," Steve menyunggingkan senyum sinis. Semantara bandar mulai mengocok kartu dan membagikannya. Permainan poker pun dimulai.
Tiga kali permainan, Steve kalah telak. Brian terlihat sangat puas karena berhasil mengalahkannya.
"Kau datang untuk menyedekahkan hartamu?" Sarkasnya kepada Darren yang cara bermainnya juga sangat buruk.
"Aku tidak ahli dalam hal ini."
"Kudengar Lexi ada di sini," Brian mengiterupsi. Itukah alasanmu ada di sini Mr. Geonandes?"
Harry terkekeh, "Ya, dia mengatakan akan mengunjungiku. Tapi dia malah terdampar di sini."
"Apakah kali ini kau akan melayangkan lamaran lagi untuknya?" Brian melirik kepada Steve lalu kepada Darren. Kedua pria itu terlihat tenang.
"Bukankah kau juga melakukan hal yang sama, Mr. Milles." Harry tersenyum bersahaja.
"Ditolak berulang kali, artinya tidak ada yang menarik dari kalian yang mampu membuat Lexi menoleh. Berhentilah mekakukan hal yang sia-sia." Steve membuka kartu king hati.
Brian membuka kartunya, tersenyum simpul melihat kombinasinya. Pun ia menaikkan taruhan. Tidak tanggung-tanggung, ia mempertaruhkan semua uangnya.
Darren dengan entengnya menerima taruhan tersebut, begitu juga dengan Harry.
"Bagaimana Ivarez, kau bisa mundur jika tidak memiliki uang yang cukup."
"Aku ikut," ucapnya tenang.
Brian menukik alisnya, tidak yakin dengan keputusan pria itu. King hati, 10 hati, itulah kartu yang dibuka oleh Steve.
"Four of a kind," Harry membuka kelima kartunya. Empat kartu queen dan dua keriting.
"Wow!" Brian bersiul takjub. "Bagaimana dengan milikmu, Willson."
Darren bernapas kasar, Brian dan Harry tergelak. Pria itu kalah yang hanya memiliki kartu straight.
"Well, aku memenangkannya kembali. Straight flush." Brian membuka kartunya kartu keriting dengan angka berurut. 10, 9, 8, 7, 6 dan 5. Brian mengulurkan kedua tangannya, berniat meraup semua koin yang ada di atas meja.
"Aku belum membuka kartuku, Milles." Steve menyeringai. Satu persatu Steve membuka kartunya. 10 hati, jack hati, queen hati, king hati dan As hati. "Royal flush!" Steve tertawa sumbar. "Singkirkan tangan kotormu dari uangku!"