H.U.R.T

H.U.R.T
enambelas



aku dan bunda saling terdiam di dalam mobil untuk sesaat, sebelum pada akhir nya aku memulai obrolan antara aku dan bunda.


" Bun, menurut bunda Alfin baik gak ??? "


" memang nya kenapa ??? "


" aku pengen tau ajah menurut pandangan bunda gimana "


bunda terdiam sesaat hingga, akhir nya bunda menghela nafas panjang sambil tersenyum.


" orang baik itu engga selama nya baik nak, kadang ada masa nya dia berubah, jadi berhati hati juga itu penting "


" maksud bunda ??? "


bunda mengusap rambutku dan kembali fokus dengan setir nya tanpa merespon apapun lagi dari ku.


aku yang masih mencerna kata kata dari bunda pun terdiam, berusaha mengerti apa yang di maksud bunda, tiba tiba saja perasaan ku mulai engga enak, dada ku terasa sedikit sesak dan susah untuk bernafas.


aku menatap wajah bunda, memperhatikan setiap garisan wajah yang mulai muncul.


bunda terlihat cape, meski terkadang senyum nya menutupi itu semua, ah mungkin karna kesibukan bunda dengan beberapa toko nya yang baru dia buka, pikir ku.


tapi semakin aku melihat bunda pikiran dan pertanyaan ku bermunculan, apa mungkin karna masalah bunda dengan ayah? atau tentang apa? ah aku benar benar ingin tau tanpa harus menebak nebak seperti ini.


" Bun "


" Iyah "


" apa bunda udah ketemu ayah ??? "


" hmmmmm "


" bagaimana kabar ayah ??? "


" emang nya ayah tidak pernah menghubungi kamu ??? "


aku menggelengkan kepala ku meskipun bunda tidak melihat ke arah ku.


belum bunda menjawab pertanyaanku tiba tiba saja aku menyadari satu hal, sebuah jalan yang bukan menuju rumah ku.


" loh Bun, kita mau kemana??? "


" kita makan siang dulu ya sayang"


" hmmm "


aku mengangguk dan terdiam tanpa bertanya apapun lagi pada bunda.


akhir nya aku dan bunda sampai di sebuah rumah makan khas Sunda yang lumayan cukup terkenal, bunda memarkir mobil nya tepat di bawah pohon besar depan rumah makan tersebut.


" kita makan berdua ajah Bun??? "


" Kaka mu nanti menyusul "


aku dan bunda turun dari mobil bersamaan, mataku mengelilingi sekitar, engga ada tanda tanda keberadaan ayah di sana.


terus terang batin ku berharap tidak terjadi apa apa antara ayah dan bunda.


tangan bunda menggandeng ku untuk mengajak ku berjalan bersama memasuki rumah makan yang sedikit ramai.


aku sedikit melirik bunda saat sudah memasuki rumah makan tersebut, terlihat senyum tipis di wajah bunda, senyum itu tertuju pada seorang pria yang duduk di salah satu kursi di dalam rumah makan tersebut.


tanpa mengatakan apapun bunda berjalan ke arah nya sambil terus menggandengku.


" maaf lama ya mas "


bunda langsung menyapa pria tersebut sambil memintaku untuk duduk.


" engga apa apa dek, lagi pula mas juga belum lama sampai "


" oh Iyah mas, ini Yuri anak ke dua ku "


aku sedikit membungkuk kan tubuhku sembari menduduki kursi di samping bunda.


" dia cantik, persis kaya kamu dek "


mendengar sebuah kata pujian untuk ku dari orang yang engga aku kenal rasa nya sedikit membuatku risih, tapi sebagai anak yang baik aku masih tau bagaimana caraku bersikap sopan.


" Yuri, ini om Redy, dia Kaka kelas bunda waktu bunda masih SMA, dia tinggal di Surabaya sekarang "


aku langsung menyambut tangan om Redy yang sudah berada tepat di depan wajahku saat bunda memperkenal kan nya padaku.


tiba tiba tangan bunda di tarik ka Yugi yang baru saja datang entah dari mana.


bunda tidak menolak sama sekali saat mengetahui kalau yang menarik tangan nya adalah ka Yugi, dengan santai bunda mengikuti ka Yugi keluar.


aku sedikit terkejut saat om Redy memanggil ku dan langsung membuatku teralihkan dari ka Yugi dan bunda.


" Iyah om kenapa???? "


" Yuri udah tau berita bunda??? "


seketika jantung ku berdetak lebih kencang lagi, wajahku terasa memerah kembali sekarang.


" berita??? berita apa om "


" jadi kamu belum tau ??? "


aku menggelengkan kepala ku sambil terus melihat ke arah om Redy, sebenar nya aku sedikit takut, takut kalau yang di maksud om Redy itu berita tentang bunda dan ayah.


" memang nya berita apa om ??? "


suara ku sedikit bergetar bertanya pada om Redy.


" inti nya apapun yang kamu lihat tentang bunda itu salah "


aku terdiam dan mulai sedikit menjadi gelisah, aku menoleh ke arah bunda dan ka Yugi di luar, mereka tidak seperti terlihat mengobrol tapi lebih seperti bertengkar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" bunda tau kan Yuri lagi ujian??? kenapa bunda harus ngasih tau sekarang sih, bawa om Redy segala "


" justru bunda engga mau kalau sampai Yuri baca berita tanpa dia tau yang sebenar nya maka nya bunda jelasin sekarang "


" aku udah bilang sama bunda, aku yang bakal ngurus Yuri "


" tapi nak "


" aku bisa Bun, aku bisa Bun ngalihin Yuri dari berita itu buat sementara waktu......ya minimal sampai dia selesai ujian "


bunda terdiam menatap ka Yugi sebelum akhir nya menundukan kepala nya.


bunda terlihat gelisah sekarang, mata nya mulai memerah menahan air mata, ya bagaimanapun bunda tetap merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi antara bunda dan ayah.


" aku mau bawa Yuri pulang "


bunda menarik tangan ka Yugi yang hampir saja meninggalkan bunda.


" tolong, biar kan bunda ikut andil untuk mengurus Yuri, bunda tau bunda juga salah, dan bunda juga harus bertanggung jawab atas masalah yang bunda sama ayah buat "


" bukan bunda yang salah Bun "


" Yugi........kamu juga tidak bisa hanya menyalahkan ayah mu saja "


" Bun !!!!! "


" Yugi ingat dia masih tetap ayah mu sampai kapan pun "


suara bunda baru saja meninggi dari sebelum nya, ya begitulah bunda, dia tidak ingin aku dan ka Yugi membenci ayah sedemikian rupa.


ka Yugi akhir nya terdiam menatap bunda, ka Yugi mengusap wajah nya dengan kasar, betapa ingin dia berteriak saat itu juga tapi tidak mungkin karna itu tempat umum.


akhir nya bunda dan ka Yugi kembali ke meja tempat kita duduk untuk makan bersama.


makanan sudah memenuhi meja saat bunda dan ka Yugi masih di luar, bunda duduk di sampingku dengan memberikan senyum yang seperti terpaksa.


" makan yang banyak ya sayang "


bunda menyodorkan piring ke arahku yang memperhatikan bunda dan ka Yugi bergantian.


" apa yang kalian bicarakan ??? "


" engga usah banyak nanya, makan ajah dulu "


ka Yugi menjawab ku dengan ketus dan muka yang sedikit terlihat kesal.


" kalau gitu apa maksud bunda mengajak aku dan ka Yugi di sini "


bunda menoleh ke arahku, dia tidak mengatakan apapun, bunda hanya mengambilkan beberapa lauk untuk aku makan.


aku mulai merasa kesal dengan situasi seperti ini, situasi yang setiap kali aku tanya tentang ini pasti hanya diam jawaban yang aku dapat.


aku meletak kan kembali sendok dan garpu yang sudah ku pegang dengan sedikit kencang, membuat bunda, ka Yugi dan om Redy langsung menoleh ke arah ku.


aku tak peduli dengan orang lain saat ini, yang aku perjuangkan kali ini hanya perasaanku yang harus selalu bertanya tanya setiap kali kita berkumpul seperti ini.


" Yuri......kamu dengar tadi kata Kaka mu ???? "


" Bun, aku udah gede, udah dewasa udah sewajar nya aku ikut tau masalah apa yang ada antara bunda dan ayah."