
Bartoli Ortiz adalah salah satu dari beberapa kriminalis dalam sejarah Amerika yang memiliki nyali secara terang-terangan berperang melawan pihak berwenang.
Bartoli tidak memiliki markas khusus. Mereka juga tidak memiliki masalah dengan para mafia. Mereka menghindari masalah dari para penjahat. Sesama penjahat harus saling damai. Itulah prinsipnya. Satu-satunya masalah Bartoli adalah dengan para aparat.
Kejahatan yang pernah dilakukan bukan hanya sekedar merampok bank besar secara terang-terangan, Bartoli tidak akan segan-segan membunuh siapa pun yang menghalanginya. Termasuk wanita paruh baya yang pernah manjadi korbannya. Bartoli menembak wanita itu tanpa ampun. Tidak ada rasa kasihan di hatinya seolah hatinya terbuat dari batu.
Bartoli juga merupakan penyelundup narkoba. Selalu berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Setiap aksi kejahatan yang ia lakukan, selalu dengan sengaja meninggalkan jejak. Entah itu sidik jari atau apa pun yang bisa langsung dikenali oleh pihak berwenang. Hanya saja, satu-satunya foto yang dikantongi aparat adalah wajahnya saat masih muda.
Bartoli dan ayahnya, Fernandez selalu bekerja sama melakukan aksi kejahatan. Lalu muncul isu bahwa keduanya tidak sejalan lagi dan pada akhirnya Bartoli membunuh ayahnya sendiri entah untuk alasan apa. Hanya Tuhan dan Bartoli yang tahu.
"Jadi kau tidak mengenal wajah pria itu?"
"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak mengenalnya secara spesifik." Steve menanggapi pertanyaan Austin yang tampak tidak puas dengan penjelasannya seputar Bartoli yang mendadak tenar di keluarga mereka.
"Informasimu tidak membantu sama sekali."
Steve berdehem, "Mau kuberitahu sesuatu?"
"Jika yang akan kau beritahu tidak ada hubungannya dengan Bartoli, tutup saja mulutmu," Austin berkata sengit.
Jika prinsip Bartoli tidak mau menyenggol penjahat lain, lantas kenapa Bartoli mengusik mereka. Ini yang masih menjadi tanda tanya besar dalam benak Austin.
"Bartoli memiliki seorang istri."
"Tidak ada yang salah dengan memiliki seorang istri. Penjahat juga manusia yang membutuhkan kehangatan ranjang," Austin menanggapi dengan malas.
Steve menatap Darren, menunggu reaksi pria itu atas apa yang dikatakannya dan yang diucapkan Austin.
"Aku setuju dengan Austin."
Steve pun berdecak mendengar jawaban saudara iparnya tersebut. "Kabarnya dia juga memiliki anak. Dulu, istrinya selalu ikut dalam setiap aksi yang mereka lakukan. Tapi seiring menghilangnya Fernandez, istrinya juga menghilang."
"Lalu bagaimana dengan anak mereka?" Darren bertanya, mulai penasaran.
"Nah, itu dia. Aku tidak tahu."
Jika Darren bisa menggerakkan tangannya, dengan suka rela ia akan melayangkan bogeman ke wajah iparnya itu. Kini ia merasakan kekesalan yang sama dengan yang dirasakan Austin.
"Jika kau mengetahui keberadaan anaknya, maka kau akan sampai pada Bartoli," Steve mengidikkan bahu tidak acuh.
"Austin, wakilkan aku menghajar si keparat ini," Darren benar-benar mulai kesal. Bagaimana mungkin mereka akan mengetahui anak Bartoli jika wajah si Bartoli saja mereka tidak tahu seperti apa.
Steve terkekeh tidak merasa jika ia mengatakan sesuatu yang salah. "Aku hanya memberikan solusi jika kalian penasaran siapa Bartoli. DNA Bartoli masih disimpan di kantor FBI."
"Bagaimana bisa DNA Bartoli ada di sana sementara ia tidak pernah berhasil ditangkap?"
"Bercak darahnya menempel di senjata yang tertinggal saat ia hendak melempar boom rakitannya yang ternyata di meledak sebelum sempat melemparnya."
"Apa pentingnya DNA Bartoli jika kita tidak memiliki gambaran siapa anaknya. Kau ingin kami melakukan tes DNA massal? Kau kira negara ini milikmu?"
Tawa Steve kembali lepas melihat kekesalan di wajah Austin. Ia benar-benar terhibur dengan reaksi kedua iparnya tersebut.
"Kenapa dia jadi banyak tertawa? Aku lebih suka saat dia menjadi beruang kutub," Darren menarik napas panjang.
"Lexi kita berhasil mencairkannya."
"Menurutmu, siapa yang menjadi target sniper itu, Dude?" Austin iseng-iseng bertanya. Ia sudah mempersiapkan mental jika jawaban yang diberikan Steve di luar prediksi.
"Kau."
Ternyata Austin idak benar-benar mempersiapkan mental. Pria itu langsung emosi dan menendang kaki Steve tepat di tulang keringnya.
"Untuk melenyapkan seorang Isabell yang tidak ahli bela diri dan dua anak kecil, tidak butuh seorang sniper," Steve memaparkan.
Benar. Kenapa mereka tidak memikirkan hal itu. Austin dan Darren saling menatap. Artinya dua peluru memang dimaksudkan untuk mengincar mereka berdua.
"Hanya saja yang menjadi pertanyaan, siapa diantara Isabell dan kedua anak kecil itu yang mereka inginkan?"
"Mari kita persempit masalah ini. Singkirkan tentang anak kecil yang tidak kita kenal sebelum kalian bertemu di pantai. Bagaimana jika yang mereka incar adalah Isabell?"
Steve dan Austin menatapnya dengan aneh. Darren balas menatap keduanya tanpa merasa panik. Ketenangannya selalu bisa diandalkan.
"Isabell gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Hari-harinya ia habiskan di Istana. Jika memang ada yang ingin menyingkirkannya. Satu-satunya yang patut dicurigai adalah permaisuri. Kemungkinan bahwa permaisuri berhubungan dengan burunon Amerika sedikit menjanggalkan."
"Aku setuju denganmu," ucap Steve. "Jika ingin melenyapkan Isabell, harusnya ia sudah melakukan sejak dulu. Tidak perlu menunggu hingga dewasa seperti ini." Inilah alasan kenapa Steve meminta Lexi membawa Isabell keluar. Ia akan membahas Isabell dengan iparnya.
"Jadi maksudmu, Isabell ada hubungannya dengan Bartoli?"
"Aku tidak mengatakan seperti itu. Tapi selalu ada kemungkinan."
"Apa maksudmu?" Darren kembali menunjukkan raut wajah tegang. Namun, secepatnya ia kembali mengendalikan dirinya. "Dia putri dari Philip Geonandes."
"Itulah yang kita ketahui."
"Ya, dan itulah alasan permaisuri tidak menyukainya." Austin kembali bersuara setelah beberapa saat hanya diam dan menyimak.
"Philip Geonandes, hanya mencintai tiga wanita di dalam hidupnya."
"Bagaimana bisa kau tahu. Kenapa dia mengetahui begitu banyak informasi?" Austin menggerutu kepada Darren. Darren tidak menimpali, saraf-sarafnya mulai tegang karena yang dibahas adalah Isabell.
"Kau tidak tahu jika Philip Geonandes adalah temanku saat nongki-nongki sambil menikmati secangkir kopi."
"Maksudmu, raja yang mengatakan langsung kepadamu?" tanya Austin.
"Ya."
"Jadi siapa tiga wanita itu?" Darren benar-benar diserang rasa cemas.
"Ibunya, permaisuri dan mantan kekasihnya."
"Mantan kekasihnya?"
"Ya. Aku lupa namanya. Maria, Amira, entah siapa namanya, aku akan bertanya jika kami bertemu. Philip Geonandes mencintai Maria dan..."
"Jadi namanya sungguh Maria?" Austin ingin semuanya detail dan rinci.
"Kita anggap saja Maria. Atau aku perlu menghubungi Philip sekarang?" Steve benar-benar kurang ajar. Ternyata bukan hanya ayah mereka yang pria itu panggil namanya tanpa embel-embel kesopanan. Seorang raja pun ia sebut namanya seakan Philip Geonandes memang konconya.
"Tidak perlu, lanjutkan ceritamu," ucap Darren.
"Maria adalah anak panti yang asal usul keluarganya tidak jelas. Wanita yang tidak akan diterima dalam kerajaan. Kisah mereka kandas karena status sosial. Philip dijodohkan dengan wanita yang sekarang menjadi permaisuri. Poin pentingnya, Philip juga sangat mencintai permaisuri seiring berjalannya waktu." Steve menekan kalimatnya diakhir.
Hening. Darren dan Austin sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka berusaha mencerna ucapan Steve.
"Mau kuberitahu satu rahasia lagi?" Steve menghentikan keheningan keduanya. Mereka menatap Steve dengan mimik serius.
"Philip Geonandes pernah memintaku secara khusus untuk menikahi Isabell."
"Bajiingan!!
"Keparaat!!
Reaksi berbeda terdengar dari mulut para Willson.
"Ayolah, aku memang semengagumkan itu." Austin berdiri dan meraup kerah Steve. Steven semakin tertawa.
"Santai, Dude. Ayolah, apakah kalian masih tidak mengerti poinnya?"
"Raja ingin Isabell berada di tangan pria yang bisa melindunginya. Kau tidak menerima perjodohan karena mencintai Lexi, lalu Phillip menawarkan perjodohan kepada Willson. Yang menurutnya juga mampu melindungi Isabel."
Steve menjentikkan jari, "Setidaknya kau lebih cerdik dibandingkan adikmu," ucap Steve pada Darren.
Ya, dulu Steve tidak menyangka jika lamaran Philip kepadanya mempunyai maksud tertentu. Tapi setelah mendengar insiden hari ini, otaknya berpikir ke sana. Phillip mempunyai alasan untuk itu.
"Isabell bukan putri kandung Phillip adalah kemungkinan lainnya," Steve menutup diskusi mereka bertepatan dengan pintu ruangan dibuka.