
"Aku suka saat kau sangat bermurah hati," Jemari Oleshia bermain di rahang Steve. Setelah menghabiskan kopinya, Steve memang meluncur ke rumah Oleshia dan sekarang mereka sedang berada di kamar pribadi wanita itu. Sejak menjadi model Steve, Oleshia memang tidak menerima tawaran lain. Steve mengambil kendali semua pekerjaan wanita itu. Ada harga yang harus dibayar Steve untuk itu. Memanjakan Oleshia dengan bergelimang harta.
"Tapi aku cemburu saat kau begitu peduli dengan gadis Willson itu. Dia mencuri desain milikmu."
"Aku hanya memanfaatkan keadaan." Menyelipkan sebatang rokok, membakarnya dengan pemantik bergambar dragon.
"Kau sengaja melakukannya untuk maksud tertentu?"
"Aku mempunyai dendam kepada ayahnya. Bukan hal yang mudah untuk menjatuhkan Willson."
"Tapi tetap saja aku cemburu. Seingatku, Olivia pernah mengatakan jika kau sangat mengagumi gadis itu."
Steve menghisap rokok dengan dalam. Kepalanya mendongak memamerkan jakunnya yang begitu aduhai saat membuang gumpalan asap dari mulutnya. Oleshia bahkan harus mengibaskan tangan untuk mengusir asap tersebut.
"Aku tidak tahu jika kau dan Olivia juga berbagi cerita tentang hal pribadi."
"Kami membicarakan banyak hal saat kami memiliki waktu senggang."
"Kupikir Olivia selalu menghabiskan waktu untuk belajar."
"Ya, kau benar. Dia sangat giat belajar agar bisa mempertahan beasiswanya. Dalam satu pekan, aku libur dua kali. Tidak harus bekerja di minimarket. Satu hari biasanya kami habiskan untuk bercerita setelah ia pulang sekolah."
Steve menyimak apa yang dikatakan Oleshia sambil sesekali menghisaap rokoknya.
"Kau hanya merusak kesehatanmu, Steve!" Merebut rokok yang hanya tinggal puntungnya saja.
"Jika sehari kau habiskan berbagi cerita dengan Olive, sehari lagi kau gunakan untuk siapa?"
"Hah?" Oleshia tampak bingung.
Steve meraih tengkuk gadis itu, menyatukan bibir mereka. Hanya kecupan kilat. Tidak lebih. "Kau mengatakan memiliki dua hari libur dalam sepekan. Jangan katakan bahwa satu hari sisa liburmu kau gunakan untuk memikirkanku. Kurasa kau belum tertarik padaku saat kita remaja."
Oleshia tertawa renyah, sangat enak didengar. "Astaga, kau menawan. Percayalah."
Steve tidak menanggapinya lagi. Keduanya terdiam untuk sesaat. Steve terlihat merenung, sementara Oleshia mengamati, menebak apa kira-kira yang sedang dipikirkan prianya itu sambil tetap menarikan jemari lentiknya di pipi mulus Steve yang mulai ditumbuhi cambang halus.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Apa kau melihat berita pagi ini?" Steve menarik tangan Oleshia dari wajahnya. Menggenggamnya dengan lembut. "Sepasang kekasih bertengkar, di sebuah klub ternama."
"Lalu?" Oleshia terlihat bingung. Ia bukan tipe wanita yang gemar menonton berita. Oleshia lebih suka membaca buku. Sesekali ia membaca masalah fashion untuk melihat perkembangan bidang yang ia geluti.
"Terjadi pembunuhan."
"Oh Tuhan," Oleshia memekik tidak percaya. "King Axe salah satu klub ternama yang keamanannya sangat dijaga. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi?"
Oleshia melompat dari atas pangkuan Steve. Kedua tangannya masih menutup mulutnya yang menganga. Sorot mata Oleshia terkesan menuduh.
"Steve..." Erangnya dengan tatapan sayu. Terlihat sangat prihatin terhadap Steve. Meski Steve menyembunyikan lukanya di balik ekspresi wajah datar yang tenang, Oleshia tau jika Steve belum sepenuhnya sembuh dengan apa yang sudah dilalui pria itu sebelum akhirnya mencapai kesuksesan seperti ini.
"Satu persatu akan pergi. Tanpa ada permohonan maaf dan pengakuan dosa." Steve kembali mengeluarkan sebatang rokok. "Menurutmu, apa mereka pantas mendapatkannya?"
"Mereka memang pantas mendapat balasan." Oleshia kembali duduk ke atas pangkuan Steve. "Kau sudah menderita. Sangat menderita. Biarkan para pria biadab itu mendapatkan ganjarannya."
Steve merenung, menatap lekat wajah cantik Oleshia.
"Ya. Semua harus mendapat ganjaran, tidak terkecuali." Pungkasnya kemudian.
___
"Aku tidak tahu, aku sungguh tidak tahu kenapa bisa seperti ini!" Lily menjambak rambutnya sendiri. Wanita itu terlihat sangat terpukul juga frustasi. Bibirnya masih saja gemetar pun dengan jemarinya.
"Kau bisa melukai dirimu, Lily. Kumohon, hentikan." Lexi datang mengunjunginya. Berkat bantuan Vincent yang merupakan sahabat Neal dan Brian yang bekerja sebagai polisi mengikuti jejak ayahnya, Lexi bisa berbicara dengan Lily di dalam ruangan khusus.
"Tolong bantu aku, Lexi. Keluarkan aku dari sini. Aku tidak ingin di sini." Lily mencengkram tangan Lexi dengan cukup kuat. Gadis itu sampai meringis menahan sakit. Lexi hanya diam membiarkan, Lily sedang panik dan takut.
"Percaya padaku, Lexi. Neal yang memintaku melakukannya. Dia bahkan menampar wajahku saat aku menolak dan berniat melarikan diri." Pengakuan berbeda kembali dilontarkan Lily. Saat di King Axe, Lily mengaku jika Neal hendak memperkosanya. Lily juga mengatakan jika sebelumnya Neal sudah memperkosa beberapa wanita. Saat Lily hendak menyebut salah satu nama, ibu pria itu datang menerjangnya hingga ia jatuh pingsan. Saat Lily sadar dan menemukan dirinya di penjara, wanita itu histeris.
"A-apa maksudmu?" Lexi membersihkan wajah Lily dari sisa-sisa make up wanita itu. Pun ia juga merapikan rambut Lily, melepas penjepit miliknya untuk mengikat rambut Lily. Kondisi temannya itu cukup membuat hatinya ikut terluka.
"Neal memintaku menghabisinya. Kami bertengkar." Lily mencoba menggali ingatannya. Semalam, ia memang sangat mabuk berat. Sulit untuk mengingat semuanya dengan jelas.
"Kenapa kau dan Neal bisa bertengkar."
Lily tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar. Wanita itu juga berdiri hingga membuat kursi yang ia duduki jatuh terbalik.
"Ini semua karenamu." Lily mundur menjauh dari Lexi. Menatap gadis itu dengan nyalang dan penuh amarah. "Ya, ini karena dirimu."
Lexi terang saja terkejut dengan penuturan sahabatnya itu. Kenapa ini menjadi salahnya? Ia juga ikut terpukul dan berduka dengan kematian Neal yang menurutnya sangat tidak wajar.
"Lily..."
"Tidak! Jangan menyebut namaku!!!" Bentak Lily dengan gusar. Tatapannya menghunus penuh kebencian. Ruangan itu kedap suara. Tidak akan ada yang tau apa yang terjadi di sana.
"Lily,.." Lexi mencoba mendekatinya. Mengulurkan tangan untuk memeluk wanita. Itulah yang diajarkan keluarganya. Pelukan bisa menenangkan kegundahan, kecemasan dan ketakutan.
"Jangan mendekat! Ini semua ulahmu, Lexi. Kenapa kau mencuri desain itu. Kenapa kau membuat baju dengan ukuran yang begitu sempit. Kau mengatakan akan membantuku untuk menjadi model. Ternyata cara memalukan ini lah yang kau sebut dengan pertolongan?! Kau sengaja melakukannya? Neal menyebutku pelacuur karena bagian tubuhku yang terekspos. Aku marah, dan kami bertengkar! Sekarang kau puas? Kekasihku meninggal dan aku terkurung di sini. Kau benar-benar sumber petaka! Aku benci padamu, Lexi. Aku benci padamu! Arrgggghhh!!" Lily kembali menarik rambutnya, ia terduduk, meraung dengan gusar. Pun Lexi tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia takut Lily semakin mengamuk jika ia mendekat. Lexi terkulai lemah. Shock atas tuduhan Lily yang menurutnya juga benar adanya. Air matanya bercucuran dengan deras. Lexi hanya memandangi Lily tidak berdaya. Menerima semua makian yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Kini, ia kembali melihat tatapan penuh kebencian dilayangkan kepadanya. Hal yang membuatnya takut.