H.U.R.T

H.U.R.T
Terima Kasih



"Harry?"


"Hmm?"


"Kau sungguh mencintaiku?"


Pertanyaan itu meluncur dari mulut Lexi setelah mereka keluar dari bioskop. Keduanya baru saja menonton film romance yang dipilih Lexi secara random. Film yang menceritakan tentang sepasang suami istri yang mengalami kecelakaan. Sejak kejadian itu, sang istri yang mengalami trauma otak kehilangan memori tentang kisah cintanya begitu juga pernikahannya. Namun si suami tidak menyerah dan selalu berada di sampingnya. Sepertinya Lexi terbawa suasana setelah menonton film tersebut. Hatinya tersentuh melihat perjuangan si suami meski istrinya kerap menganggap dirinya aneh dan menganggu.


Harry yang mengerti dengan apa yang dirasakan Lexi segera menggenggam tangan gadis itu, membawanya ke mulutnya, ia kecup dengan hangat punggung tangan Lexi sebelum ia dekap di dalam dadaanya.


"Haruskah aku menjawab pertanyaanmu, Lexi?"


Lexi tidak lantas menjawab. Bertanya-tanya kepada dirinya apakah ia memang benar-benar membutuhkan jawaban sedangkan dia sadar bahwa dirinya sendiri belum bisa memberikan sepenuhnya apa yang ia pertanyakan kepada Harry. Bukankah ini terdengar sangat egois dan sejak kapan sikap sedikit tercela itu melekat pada dirinya.


Lexi meyakinkan dirinya bahwa bukan saatnya mempertanyakan hal tersebut disaat esok hari ia akan mencoba gaun pengantinnya.


Lexi mendongak, menemukan tatapan hangat memuja dari iris manik indah Harry. Tatapan hangat itu belum berubah sama sekali sejak ia mengenal pria itu. Bukankah cara Harry menatapnya merupakan alasan baginya untuk memberi kesempatan kepada mereka berdua. Kepada dirinya dan Harry.


Lexi tersenyum malu, "Aku egois, ya?"


Harry melepaskan genggamannya, berubahnya menjadi rangkulan posesif. Lexi membalas pelukan pria itu dengan melingkarkan tangan di pinggang Harry. Ia harus mulai terbiasa dengan sentuhan Harry, dan memang ia harus terbiasa. HARUS! Tidak ada yang tahu betapa jantungnya menggila menerima kontak fisik dari seorang pria. Menggila bukan karena hasrat, tapi karena sesuatu yang berusaha ia sangkal. Ia harus menyembunyikan hal itu. Bukankah ia juga ingin sembuh. Melawan ketakutan, itulah istilah yang ia gunakan. Hm, di mana ia pernah mendengar kalimat itu? Ah, ia mengingatnya. Amor. Gadis beranjak remaja itulah yang selalu mengirim kata-kata penyemangat padanya. Sudah lama ia tidak bertemu gadis itu.


"Kau tidak egois. Itu hal yang normal dan wajar yang dilakukan oleh seorang wanita. Tapi aku sedikit tersinggung kau mempertanyakan hal itu disaat pernikahan kita tinggal menghitung hari," Harry memasang ekspresi pura-pura terluka. Dan seperti yang pria itu harapkan, wajah Lexi berubah panik, menyesal dan merasa bersalah.


Harry tergelak, disentilnya hidung gadis itu. "Aku hanya bergurau soal aku merasa tersinggung. Kau sungguh ingin mendengar jawabanku?"


Mata mereka beradu untuk sesaat. Lexi hanya diam, memberi keputusan kepada Harry apakah pria itu mau menjawab atau tidak.


"Aku mencintaimu. Perasaanku masih sama seperti dulu hingga hari ini."


Lexi mencari-cari kebohongan di sana. Entah ia tidak bisa berprasangka buruk atau bagaimana, yang jelas ia tidak menemukan kebohongan di manik pria itu. Harry terlihat tulus. Atau itulah yang ia coba yakini.


"Apakah jawabanku kurang memuaskan?" Wajah Harry berubah murung.


"Hah?"


"Kau terlihat tidak puas dengan jawabanku, Princess. Kau melamun?"


"Oh, tidak. Aku hanya merasa jika diriku terlalu egois." Lexi menipiskan bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Jika aku menanyakan hal itu, bukankah harusnya aku memberikan hal yang serupa."


"Wanita lebih cenderung menyukai jika dirinya lebih dicintai."


"Aku lebih suka dicintai dan mencintai. Ini terdengar lebih adil. Ya, walau aku tidak menyangkal ada kebanggaan tersendiri jika cinta pria lebih besar kepada wanitanya. Seperti yang kita tonton tadi. Ia tidak keberatan terlihat aneh demi mendapatkan perhatian istri yang bahkan tidak mengingatnya. Ia tidak keberatan dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan, walaupun sebenarnya kondisinya tidak seperti itu. Dan pria itu tahu kondisi sebenarnya, untuk itulah dia tetap memilih berjuang agar istrinya kembali jatuh cinta kepadanya meski ia tidak tahu hasilnya akan seperti apa. Dan memang endingnya tidak cukup baik menurutku. Meski mereka bersama, pada akhirnya hanya si pria yang memiliki cinta dan kenangan. Sungguh, aku tidak ingin berakhir seperti itu."


Harry tersenyum hangat, "Suaminya yakin dan percaya jika istrinya adalah takdirnya. Untuk itulah dia bertahan. Tidak terlalu menyedihkan menurutku. Ia tetap hidup bersama orang yang ia cintai."


"Akan sangat melelehkan baginya."


Ya, pada akhirnya kami akan sampai pada pertanyaan ini, batin Lexi.


"Aku khawatir dengan usiaku dan kau adalah visual yang sempurna untuk memberikan keturunan yang mengagumkan dan menggemaskan," jawabnya setengah berkelakar setelah mereka duduk di salah satu meja di dekat dinding kaca.


Harry tertawa, "Wah, apakah aku harus bahagia atau kembali merasa tersinggung, Lexi. Ini terdengar seperti kau sedang mengundi pria yang akan kau nikahi dan kebetulan aku adalah pemenangnya."


"Ya, semacam itu," Lexi tidak berusaha menampik sama sekali dan Harry kembali dibuat tertawa.


"Baiklah, aku akan berusaha untuk memberikan yang kau inginkan. Aku sudah tidak sabar untuk mengabulkan keinginanmu itu."


Lexi hanya tersenyum kaku. Pikirannya langsung melayang-layang. Sanggupkah ia melayani Harry tanpa mempermalukan dirinya sendiri dengan tiba-tiba histeris karena panik. Apakah sebaiknya ia mendatangi dokter sebelum mereka pergi berbulan madu. Membayangkannya saja sudah membuat perutnya melilit.


"Hei,"


Sapaan dan sentuhan lembut di tangannya membuat ia berjengit.


"Ka-kau mengatakan sesuatu?"


"Aku sedang bertanya apa kau baik-baik saja? Wajahmu mendadak pucat dan keningmu berkeringat."


Tersirat jelas kekhawatiran di sana, sedikit mampu membuat hati Lexi menghangat.


"Aku baik-baik saja." Lexi mengangguk mantap. Ia tahu Harry tidak mempercayai ucapannya tersebut, pria itu mengunci pergerakan matanya, menuntut dalam diam agar Lexi menceritakan yang sebenarnya.


Harry mendesaah, ia tahu bahwa Lexi tidak akan membuka mulut.


"Kau takut?" Pria itu mengikuti nalurinya. Lexi mendadak pucat setelah ia meladeni gurauan Lexi tentang anak.


Lexi menggeleng lemah, Harry tahu tebakannya benar.


Perlahan Harry melepaskan tangannya dari tangan Lexi.


"Maafkan aku yang tidak peka dengan kondisimu. Aku menyadarinya tapi mencoba mengabaikan dengan meyakinkan diriku bahwa kau baik-baik saja. Kau merasa cemas setiap kali aku menyentuhmu."


Lexi terkesiap, Harry menyadarinya. Ah! Ini menambah daftar rasa bersalahnya pada pria itu. Baru saja Lexi hendak memberi penjelasan, pramusaji datang membawa pesanan mereka. Lexi harus menunggu beberapa saat. Sepanjang menunggu pramusaji tersebut menyelesaikan tugasnya, Harry tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari Lexi. Tatapan bersalah.


"Selamat menikmati." Akhirnya pramusaji itu pergi dan Lexi merasa lega. Ia tidak ingin Harry membatalkan pernikahan meraka hanya gara-gara perkara ini. Ia akan mencoba mengatasi masalahnya dan akan menjadi istri yang baik untuk Harry.


"Harry..."


"Aku akan siap menunggumu, Lexi. Tidak perlu terburu-buru. Kita akan melakukannya begitu kau siap. Anak bisa menunggu."


Tanpa sadar Lexi menghembuskan napas lega. Harry tidak membatalkan pernikahan dan Harry juga tidak bertanya kenapa karena pria itu pasti tahu alasannya. Lexi cukup berterima kasih kepada Harry atas sikap bijak pria itu. Lexi dan Harry sama-sama tidak ingin merusak suasana dengan mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan Austin.


Lexi mengulurkan tangan, menyentuh pria itu. "Terima kasih," ucapnya dengan tulus.