H.U.R.T

H.U.R.T
Ajang Fashion 2



Dengan amarah yang bercokol di hatinya, Brian meninggalkan ruang ganti setelah Steve pergi lebih dahulu. Baginya, Steve terasa tidak asing. Ia sudah merasakan aura negatif dari pria itu sejak melihatnya di rumah Lexi tempo hari. Pernyataan Steve yang melayangkan ancaman padanya memberi reaksi yang tidak ia sukai. Entah kenapa, ia menganggap jika ancaman itu bukan sekedar angin lalu. Tapi jika memang benar demikian, bukankah artinya pria itu punya masalah dengannya. Ya, memang, tidak salah lagi. Hanya saja, ia tidak ingat juga tidak mengenali Steve. Si culun anak petani yang mendapat ketidakadilan darinya dan yang lain.


"Siapa dia?" Brian bermonolog, terus berjalan tanpa memperhatikan langkahnya. Memaksa otaknya untuk menggali memorinya. Hasilnya, nihil. Steve tidak ada di dalam daftar kenalan atau pun musuhnya yang mungkin ingin menjatuhkannya dalam pencelonan kali ini.


Brak!!


"Shiit!!!


"Sial!!"


Makian serempak keluar dari mulut yang berbeda. Brian mengangkat kepala, Darren lah objek yang bertabrakan dengannya. Pria itu menatapnya dengan garang. Benar-benar muak melihat wajahnya. Brian mendecis angkuh.


"Kau seperti melihat bangkai,"


"Kau pintar menilai kalau begitu." Jawab Darren terkesan tidak acuh. Tapi Brian tahu jika Darren memang menganggapnya bangkai.


Brian tergelak, bukan tawa yang mengandung humor, melainkan tawa yang menyembunyikan kekesalannya.


"Ayolah, Dude, berhenti membuat Lexi bertanya-tanya atas sikapmu. Kita seperti sedang bermusuhan. Bukankah kita teman?"


"Jika aku mau, ingin rasanya aku membunuhmu detik ini juga, Keparat!" Manik Darren menyala merah. Selain kemarahan ada juga luka yang tersirat. Luka yang hanya dirinya sendiri yang tau.


Lagi dan lagi Brian tertawa mendengar ancaman yang sudah berulang kali dilayangkan Darren kepadanya. "Nyatanya aku masih hidup. Menyentuhku, akan membuatmu dalam masalah. Malam itu, aku melihat kau menciumnya."


Rahang Darren mengetat keras. Sekujur tubuhnya gemetar menahan godaan untuk membenturkan kepala ke wajah si bangsyat Brian.


"Terima nasibmu, Kawan. Kartu As-mu ada padaku. Alasan yang sama kenapa ayahmu repot-repot mengirim si cupu ke penjara yang berujung dengan kematiannya. Apa yang akan dikatakan Lexi kepadamu dan juga ayahmu jika tahu akan hal itu?"


"Tutup mulutmu, Sialan!" Darren mendorong tubuh Brian hingga pojok. Meletakkan lengannya di leher pria itu hingga wajah Brian merah menahan sakit.


"Permisi," suara lembut seseorang menarik perhatian keduanya. Dengan enggan Darren melepaskan cengkramannya.


"Aku tersesat. Tidak tahu di mana ruang ganti."


Darren berbalik, seketika wajahnya memucat putih. Sosok di hadapannya adalah Oleshia.


"Maaf, apa aku mengganggu?" Oleshia menatap mereka satu persatu. Darren menoleh ke belakang, melihat wajah Brian tidak kalah pucatnya. Wajah Oleshia tidak ubahnya Olivia. Yang menjadi pembeda adalah kaca mata berbingkai yang biasa digunakan oleh Olivia. Kali ini, Oleshia juga muncul tanpa make up. Kedua rambutnya dikepang dua, sedikit berantakan namun terlihat sangat manis. Darren dan Brian benar-benar termangu, kaget juga panik. Kenapa ada Olivia? Tidak mungkin gadis itu bangkit dari kubur.


"Olivia...?" Brian bergumam.


"Olivia?" Shia membeo. "Oleshia. Aku Oleshia. Salah satu model yang akan tampil di ajang ini. Bisakah salah satu diantara kalian mengantarku ke ruang ganti?"


Brian maju, mendorong Darren yang masih mematung. "Mari, aku akan mengantarmu, Nona." Brian menuntunya. Keduanya pun terlibat pembicaraan.


"Kau terlihat mirip, sangat mirip dengan salah satu temanku."


"Maksudmu Olivia?"


"Ya," Brian terus memandangi wajah Oleshia dengan lekat dan seksama. Ia harus memastikan apakah ada hubungan keduanya. Sangat tidak mungkin jika Olivia bangkit dari kubur disaat gadis itu mereka saksikan mati dan dikubur.


"Dia adalah saudariku. Ah, bukankah kau Brian Milles, calon walikota? Astaga, aku hampir tidak mengenalimu. Kau ternyata lebih mengagumkan jika dilihat secara langsung."


Brian tersenyum simpul. "Maaf, Nona, apa maksud dari perkataanmu tentang Olivia adalah saudarimu? Kau dan dia kembar? Aku tidak menemukan perbedaan sama sekali."


Brian tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Olivia memiliki saudara. Lalu kenapa baru sekarang wanita itu muncul? Ia harus mencari tahu hal ini.


"Aku turut berduka atas kematian saudarimu."


Oleshia menghentikan langkah, keduanya saling menatap satu sama lain. "Terima kasih. Itu sudah berlalu. Tapi, aku tidak menyangka kau masih mengingat saudariku. Seingatku, dia tidak memiliki teman sama sekali."


"Dia gadis yang pintar, semua tentu mengenalnya." Brian mengalihkan tatapan seraya melanjutkan langkah. "Ruang ganti ada di sana."


"Terima kasih." Oleshia mengangguk sopan. Pun gadis itu melangkah. Baru dua langkah, panggilan Brian menghentikannya.


"Nona Oleshia."


Oleshia berbalik seraya menerbitkan senyum manis, menunggu Brian mengucapkan apa yang ingin pria itu katakan.


"Olivia tidak pernah mengatakan jika dirinya memiliki saudari kembar."


"Apakah kalian pernah bertanya?" Oleshia masih dengan senyumannya yang manis. "Aku juga tidak menemukan alasan kenapa Oliv harus mengumumkannya, Mr. Milles. Kenapa kau begitu sangat penasaran?"


Menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba menyerang, Brian melangkah mendekat, "Kau juga tidak pernah terlihat, bahkan saat pemakaman."


"Ibuku melarangku, adikku yang sedang histeris perlu kutemani. Aku juga tidak melihat kau atau pun yang lain datang mengucapkan belasungkawa ke gubuk kami. Hanya beberapa orang pemerintahan yang datang memberikan uang dalam jumlah besar. Aku tidak menyangka pemerintahan sangat bermurah hati menunjukkan kedukaan mereka atas kematian Oliv. Maaf, Mr. Milles, di pertemuan pertama kita, pembahasan ini sedikit berat dan menganggu. Sampai jumpa." Oleshia melanjutkan perjalanannya, sementara Brian menghubungi seseorang untuk menyelidiki Oleshia.


__


"Aku gugup." Lily berkomentar saat Lexi sibuk membantunya memakai baju.


"Kau pasti bisa, Lily. Ini desain andalanku. Aku persembahkan untukmu."


"Ini terlalu indah. Harusnya kau memberikannya kepada model profesional."


Lexi menggeleng, "Kau lah yang lebih cocok mengenakannya. Bukankah kau ingin menjadi model. Ini peluang untukmu. Untuk kita."


"Jika aku jadi model, aku tidak bekerja sebagai asistenmu lagi."


"Tidak masalah. Model adalah impianmu. Aku mendukungmu."


"Oh, Lexi. Aku sangat beruntung memiliki teman sepertimu." Lily merentangkan kedua tangan dengan manik berkaca-kaca. Jika tidak ada Lexi, mungkin hidupnya dan keluarganya sudah menjadi gelandangan di jalanan.


"Ini berkat usahamu juga, Lily." Lexi membalas pelukan sahabatnya itu.


"Permisi.." Seseorang berseru di tengah ruangan. "Lexi Stevani Willson, bingkisan untukmu."


"Ya, terima kasih. Kau bisa meletakkannya di sana."


"Wow, kau mendapatkan banyak cinta." Lily sengaja menggoda.


"Mommy, Daddy, Ayah, Ibu dan keluarga besarku. Mereka selalu berlebihan. Mari kita lihat, bingkisan apa kali ini." Lexi sedikit mengerutkan keningnya melihat box kecil yang baru saja diletakkan di atas mejanya.


Penasaran, ia pun segera membuka kotak tersebut. Selembar kertas.


Desainmu menjijikkan. Keluarga besarmu menjadi sponsor di ajang ini. Alasan kenapa kau bisa berpartisipasi. Ini hanya akan membuatmu malu, Nona. Mimpi burukmu sudah di depan mata. Nikmatilah.