
"Kenapa bodoh sekali, membiarkan benda terbang itu melukai dahimu."
Amarah Lexi teralihkan setelah Steve menyanggupi semua apa yang gadis itu inginkan. Kini Lexi berubah menjadi kekasih yang sangat penuh perhatian, mengobati luka di kening Steve.
Katakanlah Steve bodoh di usinya yang sudah menginjak angka 30 tersebut, hanya karena perhatian juga sentuhan kecil di dahinya, jantungnya meletup-letup tidak terkendali. Jika memungkinkan, ia ingin melompat jingkrak-jingkrak dan mengabadikan momen ini. Ini kali pertama Lexi menyentuhnya tanpa diminta. Gadis itu melukannya atas dorongan nalurinya sendiri.
Jarak wajah keduanya sangat dekat, bibir Lexi sesekali bergerak mengerucut meniup lukanya. Sungguh! Tiupan napas gadis itu layaknya Steve menemukan oase di gurun pasir, seolah-olah dahaganya terbayar lunas.
Saat Lexi menurunkan tatapannya, Steve spontan tersenyum lebar. Jika Lexi penuh perhatian begini, ia tidak keberatan untuk mendapatkan banyak luka di keningnya. Dasar pria gila!
"Kenapa kau tersenyum, aku sedang bertanya."
"Hah? Bertanya? Aku tidak mendengarkannya. Apa yang ingin kau tanyakan? Aku akan menjawabnya meski aku tidak tahu jawabannya."
Tidak salah memang istilah yang mengatakan cinta memang bodoh. Steve membuktikan hal itu saat ini.
"Aku bertanya kenapa kau membiarkan dirimu terluka. Harusnya kau bisa menghindar!"
"Itu lemparan cinta darimu. Bagaimana aku harus menghindar."
"Konyol!"
Lexi dengan sengaja menekan luka tersebut dengan kuat. Bukannya meringis atau melenguh, Steve justru terkekeh.
"Selain luka di keningmu, apa ada luka lain."
"Ada."
"Dimana?"
Steve menarik tangan Lexi, meletakkan telapak tangan gadis itu di dadaanya.
"Di sini akan terluka, akan sangat sakit jika kau terluka."
"Kau sedang membual," Lexi menarik tangannya dengan segera. Matanya mendelik, sangat berbanding terbalik dengan tatapan teduh memuja milik Steve.
Steve tersenyum tipis, "Memang terdengar seperti membual. Kau bertemu dokter tadi siang?"
"Aku tidak menyukai dokter."
"Jangan sakit kalau begitu."
"Aku tidak sakit! Apa kau juga menganggapku gila?!"
Dan ini lah efek samping yang dialami oleh Lexi atas tekanan yang ia pendam selama ini. Perasaan lebih sensitif dan mudah tersinggung. Ke depannya, Steve akan dibuat kewalahan. Tapi, apa pun aka pria itu lalui demi Lexi. Ia juga berperan besar dalam kondisi Lexi yang tidak stabil.
"Tidak ada yang menganggapmu gila. Justru akulah yang gila karena terlalu mencintaimu. Apa yang dikatakan dokter padamu?"
"Seperti biasa, dia bertanya tentang perasaanku, tentang apa yang kurasakan."
"Apa yang kau rasakan?"
"Marah, takut, kecewa, malu, sedih."
"Apa yang membuatmu marah?" Steve menyingkirkan helaian anak rambut dari kening gadis itu. Ia ingin menikmati wajah Lexi tanpa ada yang menghalangi, tidak sehelai rambut sekalipun.
"Kenapa aku harus terlahir."
"Karena aku terlahir."
Jawaban konyol Steve langsung mendapat sorot mata membunuh dari Lexi. Steve bergeming, ia tidak sedang bergurau. Jawaban yang terdengar asal-asalan itu, justru adalah jawaban yang bersumber dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Selama terpenjara, selama mengasingkan diri bertahun-tahun lamanya, banyak hal, banyak kejadian yang membuatnya ingin menyerah dan berhenti. Namun, mengingat kenangannya yang sedikit bersama Lexi, hasrat dan semangatnya kembali tumbuh dan berkobar. Hingga ia sampai pada kesimpulan, Lexi adalah alasan dia mampu bertahan.
"Tuhan menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan. Seperti kau dan aku. Kita pasangan, right?"
"Jadi mulai sekarang, bisakah kau mengubah pertanyaanmu. Untuk apa aku lahir? Jawabannya adalah untuk menerima cinta dari orang-orang yang mencintaimu."
"Tidak ada yang mencintaiku?"
"Wah, aku terluka jika kau berkata seperti ini. Baiklah, mari kita abaikan perasaanku. Apa kau tahu jika di luar sana, tepat di depan pintu kamar, ada saudaramu Darren yang sedang menenangkan ibumu. Sejak kemarin, Mrs. Willson ada di sana. Menunggumu, melebarkan telinga jika sewaktu-waktu kau membutuhkan sesuatu. Dia terlihat sangat kacau, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Dalam dua hari dia nampak mulai tua, aku khawatir jika Pax Willson mulai melirik wanita lain dan...."
Plak!
Satu pukulan mendarat di lengan Steve.
"Tidak akan ada yang bisa membuat Daddy berpaling dari Mommy. Mom yang terbaik."
Steve mengangguk. "Ya, aku setuju dengan itu. Mrs. Alena yang terbaik. Ia mengabaikan nasehat dokter untuk istirahat, tidak mengacuhkan perhatian suaminya dan menulikan telinga saat Darren membujuknya untuk makan, mandi dan tidur. Dia hanya menunggumu di sana. Wah, cintanya memang sebesar itu. Apa kau setuju denganku?"
Lexi menggigit bibirnya. Rasa bersalah mulai merasukinya. Hati gadis itu perih membayangkan ibunya di luar sana. Ia bisa membayangkannya. Astaga, apa yang ia katakan, meragukan cinta yang dicurahkan kepadanya? Betapa tidak tahu malunya dia meragukan hal itu.
"Sepertinya kau tidak setuju denganku." Steve tahu jika ucapannya sudah berhasil mempengaruhi Lexi. Iris mata indah itu kini menyiratkan rasa bersalah yang begitu mendalam.
"Mom memang lebih mencintaiku dibandingkan semuanya!" Lexi tidak sadar jika suaranya mulai meninggi.
"Astaga, kau mengagetkanku dan aku iri kepadamu juga kepadanya."
Lexi memicingkan mata, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Steve.
"Aku iri padamu karena banyak mendapatkan cinta yang begitu banyak dan aku aku juga kepada Mrs. Willson, cintanya berbalas. Jadi katakan kepadaku, Lexi, kapan kira-kira kau akan membalas rasaku?"
"Jadi rasamu padaku mengharapkan pamrih?"
Steve tergelak sembari mengangguk, "Untuk hal ini aku serakah."
"Kau tidak tulus kalau begitu."
"Masalah itu biarkan aku dan Tuhan yang tahu. Apakah kau masih marah? Masih mempertanyakan kenapa kau lahir ke dunia yang fana ini?"
Lexi menggelengkan kepala, "Hatiku sedikit lebih baik."
"Bagus. Semuanya akan membaik secara bertahap. Dan omong-omong apa yang membuatmu takut?"
"Dibenci dan ditinggalkan."
"Kurasa itu hanya sia-sia. Aku begitu memujamu, kau tidak akan menemukan secuil kebencian di mataku dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."
"Lagi?"
"Ya, lagi."
"Terkadang aku tidak mengerti kita sedang membicarakan apa.
"Itu karena kau belum mengerti sepenuhnya," tukasnya dengan nada berat. Huft! Mengingat hal itu beban di pundaknya semakin terasa berat.
"Jangan takut. Ada aku. Selalu."
"Aku ingin sekali mempercayai ucapanmu, hanya saja kau memulai hubungan ini dengan cara yang sangat buruk. Sulit untukku percaya, tapi aku akan belajar. Kau sepertinya memang sangat tergila-gila kepadaku."
"Perasaanku padamu sudah tidak tertolong."
"Donjuan sejati memang sangat ahli memainkan kata. Kau perayu yang ulung dan sialnya aku selalu menyukai rayuanmu."
"Esok hari, bukan hanya rayuanku yang akan kau sukai. Tapi juga keseluruhan yang ada pada diriku."
"Percaya diri sekali kau!"
"Itu memang aku."