H.U.R.T

H.U.R.T
Nikahi Aku, Pria Brutalku!



"Lexi..." Suara Steve memelas, memohon agar gadis itu sudi membuka pintu kamarnya. Lexi benar-benar merajuk setelah pernyataan Steve yang sesungguhnya tidak memiliki maksud lain.


Jika ia tahu Lexi akan tersinggung dan merajuk, Steve tidak akan pernah melontarkan pernyataan tentang status Lexi yang sudah menikah dengan Harry. Sumpah demi apa pun, ia tidak peduli apakah Lexi janda atau tidak. Hanya saja ia tidak memungkiri bahwa ia bahagia jika wanita kesayangannya itu masih tersegel. Pria tetap lah pria. Kebrengsekan bersahabat dekat dengan para pria.


"Lexi, aku sungguh minta maaf," ucapnya untuk kesekian kalinya. Di belakangnya ada beberapa penonton yang sepertinya sangat menikmati situasi ini. Keberadaan mereka tidak membantu sama sekali.


"Kulihat kau dan dia berpelukan sebelum akhirnya kami masuk ke dalam rumah. Apa yang kau katakan padanya sehingga dia memilih untuk mengurung diri. Sepertinya ini pertanda kau dan Lexi tidak berjodoh."


Steve mengembuskan napas kasar sebelum ia memutar tubuh untuk menatap wajah orang yang baru saja melontarkan kalimat yang membuat suasana hatinya semakin buruk. Siapa lagi kalau bukan Pax Willson.


"Sepertinya kau memang tidak menginginkanku berjodoh dengannya."


Pax mengidikkan bahu. "Perkara jodoh hanya Tuhan yang tahu."


"Jika kau bisa melontarkan kata bijak seperti itu, harusnya kau tidak melontarkan pernyataan seperti tadi. Kenapa kebijakan selalu datang terlambat."


"Kau kesal kepada dirimu sendiri, kenapa kau melampiaskannya kepadaku."


"Kau memacingku, laki-laki tua."


Pax mendengus dengan sikap tidak sopan Steve yang sepertinya tidak akan pernah melunak kepadanya. Tidak ada manis-manisnya pria pria itu meski posisinya, Steve sedang berada di kediaman Willson dan yang dibujuk adalah putrinya. Apakah tidak ada niatan di hati Steve untuk menarik simpati calon mertuanya agar memenangkan hati mereka. Sepertinya tidak, Pax tahu itu.


"Dia menyebutku laki-laki tua," Pax mengadu kepada kedua putranya yang juga ikut bergabung di sana.


"Dia tidak salah." Austin menimpali dengan malas. Di matanya, Steve dan Ayahnya sama-sama keras kepala. Sama-sama memiliki ego yang tinggi. "Kau memang laki-laki tua, Dad." Austin menegaskan.


Pax melayangkan tatapan sinis kepada Austin yang justru memojokkannya, pun ia menatap Darren, seolah meminta pembelaan.


"Usia 50 tahun ke atas memang sudah memasuki kategori tua, Dad." Darren berkomentar.


"Anak muda zaman sekarang tidak pintar menyenangkan hati orang tua," Pax segera meninggalkan mereka. Ia butuh istrinya untuk menenangkan dirinya.


"Kenapa Lexi bisa merajuk?" Kali ini Zenia lah yang bertanya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Zenia, Steve justru menoleh menatap Harry. Mendadak ia merasa kesal kepada pria itu.


"Aku sedang bertanya padamu!" Zenia menepuk lengannya dan Harry langsung menarik tangan gadis itu agar menjauh dari Steve.


Steve dan Austin kompak berdecak malas melihat keposesifan si pangeran itu. Hanya Darren yang tidak bereaksi. Menurutnya, tidak ada yang salah. Harry hanya menunjukkan perasaannya.


"Jika kau dan Harry akan menikah, segera urus surat pengunduran dirimu. Dengan begitu Leon bisa mencari penggantimu, kecuali Harry memang mengizinkanmu untuk tetap bekerja denganku."


"Tidak! Odelle tidak akan bekerja denganmu. Kau bisa mencari penggantinya."


Steve mengangguk, "Kontrak kerjanya seharusnya berakhir 2 tahun lagi. Jika Zenia yang kau sebut sebagai Odelle memilih mengundurkan diri, artinya dia harus membayar penalti. Aku yakin kau tidak keberatan untuk membayar dendanya, Harry. Aku akan meminta Leon mengirim rinciannya."


Zenia kembali memukul lengannya, dan Harry pun menariknya lagi.


"Haruskah kau perhitungan seperti ini, Steve?" Zenia bertanya ketus.


"Bisnis tetaplah bisnis," ini hanya bentuk kekesalan Steve pada Harry yang ia anggap pemicu pertengkaran antara dirinya dan Lexi.


"Dasar mata duitan," Austin menimpali.


Steve mengangkat kedua bahunya, tidak peduli dengan pernyataan murahan tersebut.


Lagi dan lagi Darren hanya diam, tidan bereaksi, karena menurutnya apa yang dikatakan Steve benar adanya. Bisnis tetaplah bisnis. Ada syarat dan ketentuan dalam dunia kerja. Ada prinsip dan komitmen. Steve tidak memecat Zenia, tidak keberatan jika Zenia tetap bekerja meski dengan status sudah menikah. Jadi, sudah seharusnya yang membatalkan kontrak membayar penalti.


"Kau benar-benar menjengkelkan!"


"Kau lupa jika menjengkelkan adalah nama tengahku."


"Sejak kau bersama Harry."


"Hei, ini juga bagian dari renca..." Kalimat Zenia menggantung di udara. "Ehmm, aku sedang hamil. Jangan membuatku marah."


Refleks, Steve menurunkan tatapanya ke perut Zenia.


"Kemana matamu melihat, Dude?!" Harry menarik Zenia ke balik punggungnya.


Harry mengira pertemuannya dengan Zenia adalah takdir yang sangat manis. Faktanya, Steve lah yang dengan sengaja mengirim Zenia ke Istana. Zenia tidak menolak karena dia memang sudah mengagumi sosok Harry yang tampan sejak lama. Prediksi Steve tidak meleset sama sekali bahwa Harry akan jatuh cinta pada Zenia.


Harry pria lembut yang sangat manis karena selama ini hidup sesuai aturan Istana. Harry membutuhkan sosok yang bisa membangkitkan rasa penasarannya dan Zenia adalah orang yang tepat.


"Selamat." Steve menepuk pundak Harry. "Kau hebat, perkasa." Steve memberikan satu jempolnya. "Apakah surat-surat perceraianmu dan Lexi sudah diurus?"


"Aku sudah membatalkan pernikahan. Surat-surat itu akan segera sampai."


"Begitu pun dengan surat penalti yang akan kau bayar."


"Lakukan sesukamu!" Harry menanggapinya dengan malas.


"Ini bukan sesukaku, Dude. Ini sesuai perjanjian."


"Ya. Ya. Aku menunggunya." Harry mengibaskan tangannya. Melawan Steve tidak akan ada menangnya.


Pintu kamar dibuka, membuat semua mata menoleh. Lexi keluar dengan wajah ditekuk.


"Apa yang kalian bicarakan? Bisnis? Kau lebih peduli dengan bisnismu dibanding dengan membujukku?" pertanyaan itu jelas tertuju pada Steve. Pria itu mati gaya seketika.


"Tentu saja aku akan membujukmu. Omong-omong Harry mengatakan bahwa dia sudah mengurus surat-surat perceraian kalian. Artinya kita akan menikah setelah itu."


Mendengar kata menikah, wajah Lexi bersemu seketika. Ia melipat bibirnya ke dalam, menahan senyumannya.


Steve yang melihat hal itu segera memanfaatkan kesempatan. Ia mendekat dan merangkul pundak Lexi, membimbingnya keluar dari ambang pintu.


"Bagaimana jika kita membahas kemana kita akan berbulan madu?"


"Kita harus menikah dulu sebelum memikirkan bulan madu," ucap Lexi malu-malu meong seraya menundukkan kepala.


Aiihh,,, Steve dibuat gemas sendiri. Andai tidak ada Darren dan Austin, ia sudah menarik Lexi kembali masuk ke dalam kamar.


Astaga! Setan sedang merayuku. Setan ifrit, pergilah kau!


Hanya karena terstosteronnya bermasalah, setan pun mendapat fitnah darinya.


"Oh, tentu saja. Seperti apa resepsi yang kau inginkan?" Steve terus menuntun Lexi berjalan, menjauh dari para saudaranya. Mereka harus pergi dari rumah ini. Ia hanya ingin berduaan dengan Lexi. Melakukan banyak hal. Setelah membaca hingga tertidur, memasak dan dipeluk juga bertengkar, masih ada banyak fantasi yang harus mereka realisasikan. Dan Steve tidak sabar untuk melakukan semua itu.


"Sepertinya aku tidak menginginkan resepsi apa pun, Steven. Aku hanya ingin bersanding bersamamu. Menua bersama. Menikmati keajaiban yang diberikan Tuhan. Mengingat setiap momen yang kita lakukan dan menceritakannya kembali disaat kita berada di atas ranjang bersiap untuk tidur."


"Dan aku akan menemukan diriku semakin mencintaimu karena banyaknya momen indah yang kau berikan. Tapi, Lexi sayang, aturan di atas ranjang bukan hanya itu. Bukan hanya berbagi cerita lalu tidur. Ada hal manis yang akan menyempurnakan semua itu."


"Tutup mulutmu, Steven."


"Bercinta dengan liar!"


"Tutup mulutmu, Steven Percy."


"Kita akan berkeringat."


"Kabar baiknya, aku menantikan hal itu Steven Percy. Oh Tuhan, nikahi aku dengan segera, pria brutalku!!"