H.U.R.T

H.U.R.T
sepuluh



" ya elah ka, aku kan cuma nyanyi di mobil bukan di konser "


" bisa ngg kamu diem ajah "


" ka Yugi tuh kenapa sih, marah marah Mulu sama aku ??? udah bunda ngg pulang tadi malem, ayah juga ngg pulang kaki keseleo di marahin pula, sial banget sih jadi aku "


ka Yugi tetap fokus menatap jalan tak menghiraukan aku yang mengoceh panjang kali lebar itu, selain dingin dan cuek ka Yugi juga memang tidak gampang terpengaruh oleh sekitar seperti sekarang ini.


aku menekuk wajahku selama perjalanan menuju rumah, aku juga tak menoleh lagi ke arah ka Yugi yang jelas jelas memang tak peduli dengan sikapku.


mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah, mba ayu terlihat di balik pintu gerbang yang mulai terbuka, setelah mobil terparkir aku membuka pintu mobil dan mencoba untuk berjalan sendiri, tapi sayang nya kaki ku terlalu sakit untuk menapak.


" maka nya diem, tungguin Kaka ge dong lagi "


ka Yugi yang memperhatikan ku dan dengan cepat turun dari mobil dan berjalan ke arahku lalu menggendongku.


" mba tolong tas Yuri di ambil sekalian tutup pintu mobil nya "


" Iyah den "


aku hanya pasrah saat ka Yugi menggendongku mengantarkan ku ke kamar.


" bisa ngg sih klo dimana mana tuh hati hati "


" hmmmm "


" seengga bikin Kaka tenang kalau ngg liat kamu "


" harus nya ayah kan yang bilang kaya gitu sama aku, bukan Kaka "


ka Yugi tidak lagi mengatakan apapun, dia menurunkanku perlahan di atas kasur, dengan lembut membuat kakiku senyaman mungkin.


tak lama mba ayu masuk kamarku dan langsung merapihkan tas ku di atas meja.


" mba, tolong cariin tukang urut buat ngobatin kaki Yuri "


mba ayu hanya mengangguk dan langsung keluar kamar untuk menelpon tukang urut kenalan nya.


" ka Yugi tau kan knp ayah ngg pulang??? kenapa cuma aku yang ngg di kasih tau "


" kenapa bisa kaya gini ??? "


ka Yugi menunjuk kaki ku yang sakit dengan mata nya seakan berusaha mengalihkan pertanyaanku.


" pertanyaan ku belum di jawab ka "


ka Yugi menarik nafas panjang, dia menatapku dan duduk di sebelah ku, tangan nya mengusap lembut kepalaku tanpa berkata apapun, aku tau mungkin berat untuk ka Yugi memberitau aku, tapi aku pikir aku juga bagian dari keluarga ini, rasa nya ngg adil kalau hanya ka Yugi yang menanggung sendirian akibat dari kehancuran rumah tangga bunda dan ayah.


ka Yugi memeluk ku erat, seperti nya dia ingin sekali menangis tapi air mata nya tetap tertahan tak mau keluar.


" ka........."


ucapku lirih dan membalas pelukan ka Yugi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hari ini bunda memenuhi panggilan pengadilan untuk sidang pertama kali nya, bunda sudah menunggu hampir setengah jam dan kehadiran ayah tak kunjung terlihat.


hingga persidangan selsai ayah tak juga muncul di pengadilan, bunda berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pengadilan,


tiba tiba seseorang menepuk pundak bunda membuat bunda sedikit terkejut, bunda berbalik ke arah tepukan itu berasal, ternyata tanteu Riska yang baru saja menepuk bunda.


" kamu ???? kenapa ada di sini ??? "


" bukan nya ini tempat umum ya, jadi siapa ajah boleh datang ke sini "


" kamu benar, kalau gitu aku duluan "


" tunggu !!! "


" apa lagi de ??? semua yang kamu inginkan udah mba turuti, termasuk menceraikan mas Tian "


" makasih mba sayang, tapi masalah nya kenapa mas Tian belum juga menikahi ku "


" itu urusan mu de bulan urusan ku lagi "


bunda dengan paksa menutup pintu mobil dan segera pergi meninggalkan tanteu Riska yang masih berdiri melihat mobil bunda meninggalkan nya begitu saja.


" iiiisht. ..... kata nya udah mau cerai tapi masih kaya mempertahan kan !!!! "


tanteu Riska mengomel sendiri sambil memasang wajah kesal. tanteu Riska mengambil melihat ponsel nya dan menekan no yang ada di kontak nya.


" hallo.....mas km di mana??? "


" Iyah RIS, aku masih di kantor "


" aku pengen ketemu "


" ya udah kamu tunggu di rumah mas ajah ya "


" ok, aku tunggu ya mas "


telpon pun di tutup, tanteu Riska sedikit tersenyum dan bergegas menuju mobil nya untuk pergi ke rumah ayah.


tanteu Riska tampak nya memang terbiasa keluar masuk rumah ayah yang di Jakarta, buktinya art di rumah itu pun sudah hapal betul pada tanteu Riska, jadi tanpa menjelaskan apapun lagi tanteu Riska bisa leluasa keluar masuk rumah ayah.


sesampai nya di rumah tanteu Riska langsung menuju kamar ayah dan membuka pakaiannya satu persatu, tubuh nya kini hanya tertutup selembar handuk putih, tanteu Riska menggulung rambut panjang nya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


beberapa saat kemudian ayah tiba di rumah, tanpa bertanya pada siapapun ayah tau kalau tanteu Riska sudah berada di rumah nya, ayah dengan santai berjalan menuju kamar nya dan melepas jas yang dia gunakan.


ayah membaringkan tubuh nya di atas kasur dan menghela nafas panjang, beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, kepala ayah sedikit terangkat untuk memastikan siapa yang baru saja keluar dari kamar mandi, tanteu Riska yang hanya menutupi tubuh nya dengan sehelai handuk langsung tersenyum kepada ayah yang juga membalas dengan senyuman, tanteu riska menuju pintu kamar yang sedikit terbuka dan langsung mengunci nya dari dalam.


tanteu Riska mendekat ke arah ayah, menaiki tempat tidur dengan keadaan tubuh yang hanya terbalut handuk, dengan tanpa segan atau ragu tanteu Riska mencium bibir ayah yang masih tersenyum pada tanteu Riska.


tangan ayah mulai menarik tubuh tanteu Riska agar lebih mendekat pada tubuh ayah, kali ini dada tanteu Riska tepat menyentuh dada ayah, kedua nya tampak menikmati satu sama lain sambil meneruskan kecupan demi kecupan di bibir mereka.


tanteu Riska kemudian menghentikan kecupan nya dan sedikit mengangkat tubuh nya.


" mas Tian sebenar nya sayang ngg sih sama Riska ??? "


" kenapa tiba tiba bertanya seperti itu ??? "


" tadi aku ke pengadilan, tapi hanya mba indah yang ada di sana untuk sidang "


" terus ???? "


" kan aku jadi takut, takut kalau mas Tian sebenar nya tuh ngg mau cerai dari mba indah "


" kenapa kamu takut, sedangkan mas ajah sekarang ada di depan kamu "


" tapi mas "


" kamu tenang ajah ya RIS, mas tau apa yang harus mas lakuin "


tanteu Riska tersenyum pada ayah, senyuman yang di berikan tanteu Riska membuat tangan ayah perlahan menarik handuk yang menutupi tubuh tanteu Riska, sehingga sedikit demi sedikit tubuh tanteu Riska benar benar bertelanjang bulat.


begitupun dengan tanteu Riska, perlahan satu demi satu pakaian ayah di buka, kemudian kedua nya saling menyentuh dan mengusap bagian bagian tubuh mereka satu sama lain.


tangan ayah mulai meraba bagian intim tanteu Riska hingga membuat tanteu Riska memejamkan mata nya dan mendesah.


kedua nya saling terlena dalam situasi itu hingga terjadi lah apa yang memang sudah sering mereka lakukan selama ini.