H.U.R.T

H.U.R.T
Kebohongan Yang Terungkap



"Lalu kenapa kau di sini?"


"Lantas, aku harus kemana?"


"Kembali pada wanitamu."


"Itulah yang sedang kulakukan. Hanya saja aku tidak berani menunjukkan diriku sepenuhnya."


"Kenapa? Karena kau penjahat?"


"Karena dia sedang terluka."


Lexi terdiam, dari awal ia mencerna setiap kata, setiap kalimat yang keluar dari mulut Steve, ia merasa jika Steve sedang membicarakan kisahnya. Ini bukan suatu kebetulan, tidak mungkin ada kisah yang persis sama, kecuali subjeknya merupakan orang yang terlibat dalam kisah yang serupa.


Steven Dixton Ivarez. Steven Percy. Apakah orang yang sama?


Lexi tersentak saat pertanyaan itu muncul di benaknya. Jantung Lexi berpacu dengan cepat. Dadaanya mendadak sesak. Apa ini? Ia benar-benar dibuat terkejut. Sungguh sangat tersentak.


Memorinya terlempar saat pertama kali ia bertemu dengan Steven Dixton Ivarez. Bagaimana pria itu menyebut namanya saat itu, memanggilnya dengan sebutan tuan putri meski tidak sering. Juice buah persik.


Tapi bagaimana bisa? Bukankah Steven sudah mati? Kecuali kematian pria itu juga merupakan suatu kamuflase.


Membayangkan hal itu, darah Lexi berdesir hebat. Permainan apa ini? Ini tidak lucu. Ini mengerikan. Dan lagi, ia berada dalam posisi yang tidak tahu apa-apa.


Ingin rasanya Lexi menjerit histeris. Dari awal getaran yang diberikan oleh pria di hadapannya saat ini sudah sangat jelas. Banyak pria hebat yang mencoba mendekatinya, nyatanya Lexi tidak memberi kesempatan. Di hari pertama bertemu dengan Steve, hatinya bergetar hebat, tubuhnya bereaksi luar biasa. Sama seperti saat ia jatuh cinta kepada Steven. Ternyata rasa yang ia rasakan bukan tanpa alasan. Yang di hadapannya adalah sosok yang sama dengan yang ia sematkan namanya di dalam hatinya.


Bagaimana bisa ia begitu bodoh hingga tidak menyadari hal ini. Berulang kali hatinya berteriak bahwa Steven-nya terlalu mirip dengan Ivarez, tapi sebanyak ia mengakui hal itu sebanyak itu juga ia menyangkal dengan alasan bahwa Steven-nya sudah tiada.


Tapi kisah ini, kisah ini persis sama dengan yang ia alami. Ia tidak menemukan jawaban yang pas selain bahwa yang di hadapannya adalah Steven Percy.


Lexi merekam, mengingat setiap perbincangan mereka. Hal-hal yang terkadang sulit ia mengerti.


Kau hanya belum mengetahui semuanya.


Ucapannya Steven beberapa saat lalu menjadi tamparan. Ini lah kebenarannya. Sosok yang ia tangisi selama ini ternyata masih hidup dan dalam keadaan sehat. Lexi tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau marah dengan keadaan ini.


Tapi tunggu dulu, apakah hanya ia sendiri yang tidak tahu kebenaran ini?


Sekarang apa yang harus ia lakukan? Menunggu Steve mengatakan sejujurnya dengan secara gamblang. Kenapa pria itu hanya memberikan teka teki berupa kepingan yang tidak utuh. Mau sampai kapan Steve bermain dan apa tujuannya? Lantas, apakah arti dari kata aku mencintaimu yang diutarakan pria itu beberapa saat lalu.


Lex tersentak, tubuhnya tiba-tiba menggigil. Jika Steve masih hidup, besar kemungkinan Olivia juga masih hidup. Apakah Oleshia adalah Olivia. Cara wanita itu menyebutnya murahan sama persis seperti dulu.


"Lexi..."


Steve yang melihat Lexi tiba-tiba menggigil, mengulurkan tangan, berniat untuk menyentuhnya. Namun, Lexi secara tidak terduga menepis tangan Steve dengan kasar.


"Oh, ma-maaf..." Lexi tergagap. Ia benar-benar seperti orang dungu.


"Apa yang harus kulakukan?" Ia bertanya dengan tatapan pilu.


"Apa yang harus kau lakukan?" Steve membeo.


"Dipendam sesak di dada, dikeluarkan merusak suasana. Mengikuti alur, aku merasa menjadi manusia paling bodoh. Ya, sepertinya aku tidak punya pilihan selain diam, menerima kenyataan," Ia tersenyum getir.


Steven terdiam mencerna ucapan penuh makna gadisnya itu. Apakah ia sudah terlalu banyak memberi kode tentang siapa dirinya. Apakah Lexi sudah menangkap makna tersirat dari apa yang ia katakan. Mendadak Steve menyesali kecerobohannya begitu melihat tatapan tidak berdaya gadis itu.


"Lexi..."


"Aku mengantuk, selamat malam, Steven."


Deg!


Steve termangu. Bukan Ivarez. Jika saat Lexi hendak dilecehkan, mungkin itu adalah reaksi spontan gadis itu memanggilnya.


Kalimatnya terhenti begitu mendengar gedoran di luar kamar.


"Aku akan membukanya." Steve bergegas. Bukan waktu yang tepat untuk menerima tamu. Tapi mendengar gedoran di pintu, sepertinya situasinya sangat mendesak.


Steve membuka pintu dan terkejut melihat Olivia yang menerjang masuk.


"Aku hamil!"


Daphne dan suaminya yang mengikuti Olivia, dibuat terkejut.


"Aku sedang hamil dan kau sedang bermesraan dengan wanita murahan itu?! Aku mengandung anakmu!" Olivia melemparkan sebuah tes kehamilan.


"Lelucon macam apa ini?!" Steve mengabaikan tes kehamilan dilempar kepadanya. Ia menatap wanita itu dengan wajah berang.


"Jangan mengarang cerita konyol yang menggelikan."


"Cerita konyol yang menggelikan? Aku belajar darimu, Steve." Olivia mengulurkan tangan mengelus wajah Steve yang ditepis pria itu dengan kasar.


"Aku belajar darimu, Sayang." Ia melintasi ruangan, berdiri di hadapan Lexi yang menatap mereka dengan tatapan datar, tidak berekspresi sama sekali. "Seperti kau yang mengarang cerita seakan-akan sedang jatuh cinta kepada seorang Lexi Stevani Willson hanya demi untuk membalaskan dendam kepada ayahnya, Pax Willson."


"Tutup mulutmu!" Steve menarik tangan Olivia dan berniat menyeretnya keluar.


Tapi wanita itu menolak, menghempaskan tangan Steve dengan kuat.


"Aku akan diam dan mengikuti maumu andai aku tidak hamil. Bukankah itu yang kulakukan selama ini, mendukung semua tindakanmu."


"Omong kosong!!"


"Omong kosong?? Olivia tertawa sinis. "Lexi... Lexi... Kenapa kau bodoh sekali. Begitu mudah diperdaya. Maafkan aku karena harus mematahkan hatimu, tapi kenyataan tetap lah kenyataan. Aku terpaksa mengatakannya karena aku sedang mengandung. Mengandung penerus Percy, bukan begitu Ibu, Ayah?"


Steve memejamkan matanya. Semuanya sudah jelas. Tirai kebohongan itu sudah tersingkap. Semuanya sudah jelas. Ah! Semuanya berantakan. Lexi akan salah faham, menduga jika orang tuanya terlibat dalam persekongkolan ini. Waktu yang sangat tepat untuk meluluhlantahkan hati seorang Lexi yang sedang rapuh.


Lexi menoleh ke arah Daphne dan Givano. Wanita yang ia panggil dengan sebutan Ibu itu menatapnya dengan mimik bersalah. Sementara Givano hanya menundukkan kepala.


Lexi menelan ludahnya yang mendadak pahit. Sekuat tenaga ia memasang wajahnya tetap tenang.


"Lexi..." Steve berusaha mendekat tapi ucapan Olivia membuat langkahnya terhenti.


"Pria yang kau anggap mati, ternyata masih hidup dan kami menertawakan tindakan bodohmu yang selalu datang mengunjungi makam orang lain. Kau sangat menggelikan, Lexi. Ya, dia adalah Steven Percy. Pria yang kau gilai sejak dulu. Sayang, kau tidak ditakdirkan untuk bersamanya. Dia milikku! Hanya milikku!"


"Tutup mulutmu, brengsek!!"


Steve kehilangan kontrol. Ia mendorong Olivia hingga membentur dinding, melingkarkan tangannya di leher wanita.


"Kau benar-benar sudah keterlaluan,-" kalimat Steve menggantung di udara mendengar Lexi yang buka suara


"Selamat."


Steve menoleh dan menemukan Lexi sudah berdiri di belakangnya. Tidak ada raut terkejut sama sekali ia temukan di wajah Lexi dan hal itu yang justru membuat Steve sangat gamang


"Selamat untuk kalian berdua. Selamat untuk kehamilanmu, Olivia."


Olivia dan Steven dibuat terkejut. Wajah Steve pucat seketika. Jika Lexi sudah menyadari keberadaan Olivia, artinya Lexi juga sudah tahu siapa dirinya.


"Aku benar bukan? Kau adalah Olivia. Karena tidak mungkin suadaraku jatuh cinta pada wanita sepertimu."


"Apa maksudmu?!" Olivia benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan Lexi. Alasan lain yang membuatnya marah kepada Willson adalah video yang ia lihat saat Darren mencium saudarinya. Ia menduga jika Darren juga ikut melecehkan saudarinya.


Alih-alih menjawab pertanyaan Olivia, Lexi justru menatap Steve dengan lekat, sangat lekat, dan amat lekat.


"Orang yang kubutuhkan saat ini, ternyata mengajariku bahwa kita tidak boleh terlalu membutuhkan orang," Pun ia berlalu tanpa menoleh ke arah Daphne dan suaminya. Tidak ada kata permisi. Ia hanya melarikan kakinya sekuat yang ia mampu. Ini terlalu mengerikan.