H.U.R.T

H.U.R.T
Siapa Bartoli?



"Maaf, perlu waktu lama, tapi pembedahan untuk mengambil peluru agak sedikit sulit karena kami tidak ingin merusak lebih banyak jaringan atau saraf di sekitarnya. Mr. Willson ada di ruang pemulihan belum terhindar dari bahaya sepenuhnya. Tetapi untuk orang tertembak di antara tulang belakang dan tulang belikat, kondisinya cukup bagus."


"Ya, saudaraku sangat hebat dan kuat. Satu peluru tidak akan membuatnya tumbang."


Penjelasan dokter tersebut masih belum membuat Austin tenang, begitu pun dengan Isabell dan Jossie.


Austin yang terlalu khawatir dengan kondisi saudaranya tidak menyadari jika Isabell dari tadi mengalami sesak napas dan keringat bercucuran di keningnya. Isabell berusaha menenangkan dirinya sendiri. Situasi sedang genting dan ia tidak ingin merepotkan siapa pun guna menghiburnya.


Kejadian tadi mengejutkan semuanya. Entah itu Austin, Darren, Jossie dan kedua anaknya. Tapi bagi Isabell sendiri, suara ledakan, letusan tembakan memberikan dampak mengerikan baginya. Alasan mengapa ia tidak menyukai film action adalah karena tidak sanggup mendengar senjata yang saling membidik. Ia tidak tahu alasan mengapa ia takut pada suara tembakan.


Apakah ini ada hubungannya dengan ketakutannya mendengar suara petir dan guntur? Selama ini, itulah yang ia yakini. Isabell memiliki kenangan buruk saat hujan deras dan petir menggelegar bersahutan di luar.


Hari itu, Isabell membuat kesalahan yang membuat ibu tirinya marah. Saat itu, Ayahnya sedang pergi melakukan perjalanan dinas bersama dua saudaranya. Permaisuri akhirnya merasa bebas untuk meluapkan kemarahannya.


Isabell diseret keluar dari kamar. Semua pelayan dan para penghuni istana menyaksikan hal itu, tapi tidak ada yang berani menegur. Memangnya siapa yang berani menasehati seorang permaisuri?


Isabell menangis tanpa suara, pasrah diseret oleh wanita yang ia sebut ibu. Kaki mungilnya mengalami kesulitan untuk menyamai langkah permaisuri meski ia sudah berlari. Tetap saja ia tidak bisa menyamakan langkah ibu tirinya itu sehingga ia sering terjatuh. Saat itu usianya masih 10 tahun. Ya, ia mendapat perlakuan kasar dari ibunya sejak kecil.


Jadi, luka di lututnya tidak akan pernah membuat sang permaisuri merasa bersalah atau iba padanya. Setiap ia terjatuh, permaisuri justru melayangkan tatapan tajam padanya, Isabell akan berdiri dengan buru-buru.


Isabell tidak tahu kemana ia akan dibawa, ia sadar bahwa bukan taman bermain yang menjadi tujuan mereka, ia sudah menebak jika mereka akan ke tempat yang tidak menyenangkan. Tapi di mana?


Isabell kecil tidak berani bertanya, tidak pernah protes saat mendapat amukan sang ibu tiri. Isabell hanya pasrah, memangnya apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil?


Permaisuri berhenti di depan sebuah pintu gerbang. Melayangkan tatapan tajam saat tangannya melepaskan tangan kecil Isabell yang sudah berwarna kemerahan karena digenggam terlalu kuat.


Isabell menundukkan kepala, menyembunyikan tangisannya. Ia tahu arti tatapan itu. Jangan kemana-mana, tetap di situ sementara aku membuka pintu. Ya, tepatnya itu lah memang arti isyarat tatapan bengis yang dilayangkan kepadanya.


Isabell tidak tahu ruangan apa itu. Ia belum pernah melihat ruangan tersebut sebelumnya. Saat menuju kemari, mereka harus melewati pintu belakang menuju ke kandang kuda dan akhirnya sampai lah mereka di sini.


Isabell sudah menduga bahwa ia akan dibawa ke ruang hukuman. Biasanya, ia akan dihukum di kamar, tepatnya toilet kamar. Kali ini berbeda. Mereka berdiri di ruangan yang menurutnya baru.


Terdengar bunyi yang menggema saat kunci di tarik. Pintu dibuka, Isabell masih tidak tahu ruangan apa itu. Yang lihat hanya kegelapan dan debu beterbangan menyapa.


Ibu tirinya kembali menariknya, menyeretnya masuk ke dalam. Ia berjalan terseok-seok karena selain menyamakan langkah permaisuri, ia tidak bisa melihat dengan benar. Hanya lampu senter kecil yang tidak seberapa terang yang digunakan permaisuri untuk menerangi jalan yang mereka lalui.


Ia bahkan hampir tersungkur saat mereka menuruni anak tangga andai permaisuri tidak menahan tubuhnya.


Sampai lah mereka di depan sebuah pintu lain. Permaisuri kembali melepaskan tangannya dan kali ini ia tidak mendapatkan tatapan peringatan karena sepertinya permaisuri tahu jika Isabell tidak akan mungkin kabur mengingat semuanya sangat gelap. Isabell memang tidak akan berani melakukan hal itu.


"Masuk!" permaisuri akhirnya bersuara untuk memberi perintah.


Tanpa bertanya Isabell melangkah perlahan. Inilah hukumannya. Isabell mendongak, menatap permaisuri dengan wajah memohon dan berharap permaisuri mengasihinya. Ia sudah terbiasa dihukum di toilet tetapi ruangan ini terasa asing sehingga membuatnya sedikit takut.


Seperti biasa, permaisuri tidak akan terketuk hatinya melihat wajah lugu nan polos itu mengiba.


"Kau akan dijemput besok." Permaisuri mendorong tubuh mungil itu hingga terduduk di lantai.


Ruangan itu tidak terlalu kecil tapi tidak cukup besar jika dibandingkan dengan kamarnya. Di sana juga ada sebuah ranjang berukuran kecil. Ruangan itu tidak terlalu gelap meski tidak ada lampu. Cahaya bulan dan bintang cukup menyinari ruangan tersebut melalui jendela kaca yang tirainya dibiarkan terbuka. Isabell langsung mengetahui jika halaman yang terlihat di luar sana adalah kebun istana.


Isabell perlahan bangkit, mulutnya komat kamit menggumamkan lagu dan doa secara bergantian. Ia takut, sangat takut. Daun-daun yang bergoyang membuatnya memikirkan hal yang tidak-tidak. Suara jangkrik membuat suasana semakin horor. Ia tidak ingin melihat dan mendengar itu semua. Tangannya sudah berhasil mencapai tirai, bersiap untuk menutup jendela ketika tiba-tiba petir memancarkan kilatannya disusul suara bergemuruh yang saling bersahutan.


Isabell sampai terjungkal ke belakang karena kaget. Tirai tidak sempat ia tutup. Panik dan histeris, ia merangkak ke sudut ruangan lalu duduk dengan kedua kaki ditekuk. Isabell kecil menyembunyikan wajah di atas lutut sambil menutup kedua telinga. Tubuhnya bergetar hebat mendengar suara gemuruh petir tersebut. Isabell tidak tahu sampai kapan ia menangis ketakutan karena saat ia bangun, ia sudah ada di kamarnya dalam kondisi demam.


"Setelah bengkaknya reda, kelumpuhan yang saat ini dialami Mr. Willson di bagian bahu dan lengannya akan sembuh dan dia akan pulih sepenuhnya."


Isabell tersentak dari lamunannya, dengan cepat ia kembali mengusap keringatnya di kening.


Dokter memberi penjelasan lebih detail tentang gambaran kondisi Darren serta pemulihan yang dilakukan.


Isabell melihat kecemasan di wajah Darren berangsur menghilang. Isabell tahu bahwa rasa leganya tidak bisa menandingi kelegaan yang dirasakan Austin. Tapi tetap saja ia merasakan kelegaan luar biasa.


Andai ia tidak bergeming dan mematung, mungkin Darren tidak akan mendapat serangan itu. Ya, Isabell menyalahkan diri atas kejadian ini. Ia tidak berani membayangkan bahwa ada orang lain yang tewas karena dirinya. Oh Tuhan, ia tidak akan bisa menanggung rasa bersalah sepanjang sisa hidupnya.


Kelegaan yang mereka rasakan setelah mendengar kabar baik itu dirayakan dengan saling berpelukan. Austin menarik Isabell ke dalam pelukannya.


"Darren baik-baik saja. Dia pria tangguh. Pria kaku sepertinya tidak mati dengan mudah." Isabell bisa membaca tipuan Austin dengan jelas. Tahu bahwa Austin sedang mengatasi emosinya dengan cara yang nyaman untuk dirinya.


Mereka berdua diantar ke bilik bertirai tempat Darren berbaring. Jossie menunggu di luar karena anak-anak belum diperkenankan masuk.


Isabell melihat tubuh Darren tersambung dengan mesin-mesin dan dililit slang-slang. Yang mengejutkan mereka, mata Darren terbuka.


"Apakah ada yang terluka?" Darren bertanya kepada Austin. Saat melihat Isabell menarik tirai, matanya langsung menyapu seluruh tubuh gadis itu. Lega karena Isbell tidak terluka sedikit pun.


"Kau pahlawannya, bagaimana bisa ada yang terluka," Austin tidak bermaksud bergurau. Ia mengatakan apa yang ia rasakan. "Kabar baiknya kau masih hidup."


"Yeah, mungkin akan mengalami kelumpuhan,"


"Tidak. Kau akan sehat dan pulih," Isabell berseru dengan intonasi yang terlalu bersemangat, membuat kedua pria itu kompak menoleh ke arahnya.


Darren dan Isabell saling menatap, lalu kemudian Darren mengalihkan tatapannya kepada adiknya.


Austin mengangguk, "Ya, kau tidak akan kehilangan fungsi tanganmu. Kau akan hidup dan mampu melakukan pemanasan dengan menggunakan tanganmu saat sedang bercinta."


Astaga! Apa yang dikatakan Austin. Pria itu memang tidak tahu tempat untuk berkelakar dengan kalimat-kalimat rawan bocil.


Darren melirik ke arah Isabell, gadis itu hanya bergeming.


"Aku senang kau masih hidup, Dude."


"Aku senang tidak ada yang terluka."


"Apa pelakunya sudah ditangkap?"


"Jangan pikirkan itu sekarang, kau harus istirahat agar cepat pulih," Isabell menegur yang hanya mendapat lirikan sekilas dari Darren.


"Masih diburu?" Darren kembali bertanya.


Austin tidak menjawab dan Darren menyimpulkan tebakannya benar. "Sialan!"


"Apakah polisi tidak menemukan apa-apa? Jejak kaki, jejak ban mobil, jejak sidik jari?"


"Bisa saja itu tembakan nyasar," Austin setuju dengan Isabell bahwa sebaiknya Darren tidak usah memikirkan hal itu dulu.


"Tembakannya memang meleset dan kurang mahir, tapi kau jelas tahu bahwa salah satu diantara kalian lah yang menjadi sasaran."


Austin tidak bisa menyangkal hal itu. Darren benar. Bidikan seorang sniper bisa saja meleset, tapi tidak akan sampai membuat peluru menyasar ke objek lain yang tidak berada di titik target. Melesetnya bidikan sniper hanya beberapa senti dari target dan jelas-jelas dua peluru ditembakkan di titik di mana mereka berada.


"Katakan padaku apa yang disampaikan polisi padamu."


"Tidak banyak. Mereka sangat lamban. Payah sekali."


"Seperti apa informasi yang tidak banyak itu." Darren memaksa matanya terbuka di tengah kantuk yang mulai menyerang.


Austin menarik napas panjang. Saudaranya ini memang sedikit keras kepala. Darren tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Bartoli Ortiz." Akhirnya Austin menyampaikan apa yang dikatakan polisi kepadanya.


"Bartoli Ortiz?"


"Ya, peluru yang menyerang itu milik Bartoli Ortiz."


"Siapa itu?"


"Itulah yang kutanyakan pada Mr. Scoot."


"Dan siapa Mr. Scoot?"


"Sheriff daerah."


"Lanjutkan."


"Mr. Scoot menunjukkan padaku peluru yang mereka temukan di sekitar lokasi. Apakah peluru yang dikeluarkan dari tubuhmu sama dengan peluru yang ditemukan di lokasi akan mereka pastikan nanti dan kurasa itu sama saja."


"Dia tidak menjelaskan siapa Bartoli Ortiz."


"Buronan selama 30 tahun."


"Wah..." hanya itu yang keluar dari mulut Darren. Apa kehebatan Bartoli sehingga berhasil menghindar dari kejaran pihak yang berwajib.


"Ya. Waahh, sangat wahh?!" Austin menarik kursi dan memberikannya pada Isabell yang bergeming bagaikan patung. Diam dan mendengarkan pembahasan dua bersaudara Willson.


"Bartoli merupakan penjahat yang selalu dengan sengaja meninggalkan jejak untuk mempermainkan aparat."


"Mr. Scoot mengatakan demikian?"


"Ya dan aku mencari tahu."


"Dari?"


"Steven. Bartoli Ortiz dan ayahnya, Fernandez Ortiz, beberapa kali melakukan perampokan di bank-bank besar dan dengan sengaja menunjukkan wajah mereka ke kamera CCTV. Mereka menikmati saat mereka diincar dan diburu. Lalu mereka akan menertawakan para aparat yang tidak berhasil menangkap mereka. Bartoli juga merupakan bandar besar dan diduga merupakan ketua dari teroriss domestik yang sangat membenci pemerintahan. Ia begitu diagungkan dan dianggap sebagai pahlawan oleh anggotanya. Dia juga dikenal sangat kejam. Dia membunuh Fernandez Ortiz, ayahnya sendiri ketika sudah tidak memberi manfaat lagi padanya. Pria tua malang itu mati di tangan Bartoli. Pertanyaanku, siapa yang menjadi sasarannya? Aku tidak kenal dengan Bartoli hingga aku mendengar namanya dari Mr.Scoot. Tersisa Isabell dan kedua anak-anak manis itu."


"Ke-kenapa ada yang ingin menyerangku?" Isabell terang saja merasa takut. Selama ini ia tidak memiliki musuh dan tidak pernah membuat kesalahan fatal yang membuat seseorang sampai ingin membunuhnya.


"Di mana Jossie?"


"Diluar," sahut Austin.


"Keluarlah, aku ingin bertemu dengan Jossie."