
Akhir pekan, pantai sangat ramai pengunjung. Bukan hanya warga setempat tetapi juga para turis.
Darren memindai sekitar, mencari lokasi yang bagus untuk bersantai. Bermain air tidak ada di dalam daftarnya. Sebuah kamera menggantung di lehernya. Ia hanya akan mengambil beberapa foto. Pantai Coney Island didekorasi dengan dermaga kayu yang luar biasa yang dilengkapi dengan bangku, sudut pandang, dan lentera. Ini memberikan pemandangan megah.
Berbeda dengan Austin, pria itu sangat menyukai air. Ia dan Isabell sudah merencanakan banyak hal. Seperti bersepeda, jogging, naik komedi putar, berenang, berjemur dan bahkan berencana untuk memancing. Coney Island memang menyediakan semua fasilitas tersebut, jadi tidak heran jika banyak anak-anak yang berlarian ke sana kemari.
"Apa yang kita lakukan pertama kali?" Austin bertanya seraya meletakkan tas milik Isabell di atas kain yang sudah digelar oleh Darren. Pria itu sendiri sudah sibuk dengan kameranya, mengambil beberapa spot foto.
"Bagaimana jika kita berenang?" tanya pria itu kemudian.
"Baiklah," Isabell setuju saja. Apa pun yang dikatakan Austin tidak akan ada penolakannya.
"Kau ingin ikut bergabung dengan kami atau kau ingin di sini bersantai?"
Mengetahui pertanyaan itu ditujukan kepadanya, Darren segera menghentikan aktifitasnya. Ia menoleh kepada saudaranya yang sudah menaggalkan pakaian atasannya hingga memamerkan otot-otot yang sempurna.
Darren kemudian menoleh ke arah Isabell, begitu juga dengan Austin.
"Kau bisa mengganti pakaianmu di ruang ganti," Austin menunjuk ruang ganti yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Tidak perlu, aku di sini saja," ucap Isabell seraya membuka satu persatu kancing dres yang gadis itu kenakan. Isabell memang memakai dress panjang dengan kancing hidup sampai ke bawah.
Tiga anak kancing sudah dibuka. Austin dan Darren kompak beranjak dari tempat mereka untuk melindungi Isabell.
"Apa yang kau lakukan? Dengan menanggalkan pakaianmu di sini, kau akan menjadi pusat perhatian." Darren bertanya tanpa menatap Isabell. Ia justru sibuk memindai ke belakang, ke samping untuk memastikan apakah ada orang yang melihat. Kiri, kanan, depan, belakang, di mana-mana ada orang. Apa yang ada di dalam pikiran Isabell.
"Apa aku terlihat seperti gadis yang ingin mendapat perhatian?"
Meski Darren berkata dengan intonasi tenang dan wajah datar, Isabell tetap saja tersinggung dengan tuduhan pria itu. Ya, perkataan Darren ia anggap sebagai tudingan yang merendahkan.
"Kenapa wanita ini selalu salah sangka dengan semua kata yang keluar dari mulutku?" Darren bertanya kepada saudaranya tapi tatapannya tertuju pada Isabell yang juga sedang menatapnya dengan mata melotot.
Austin tergelak, "Sepertinya Isabell masih kesal kepadamu karena perkara mobil tadi malam."
"Cih! Situasi yang sedikit membagongkan." Darren mendengus malas. Yang dicemari adalah mobilnya, lantas kenapa Isabell yang merasa kesal.
"Apa kau sudah mengenakan bikinimu di dalam?" Austin pria sejati, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Jika predatornya secara otomatis aktif, ia sempat melirik ke kancing yang terbuka, melihat bahwa Isabell mengenakan sesuatu di balik dressnya yang berukuran jumbo.
Isabell mengangguk, Austin memang selalu penuh pengertian. "Aku tidak berniat memamerkan tubuh untuk menarik perhatian. Dan aku juga tidak bisa membatasi mulut seseorang untuk tidak memandangku dengan negatif."
"Astaga! Siapa yang memandangmu dengan negatif?" Darren langsung menanggapi. Ia tahu jika Isabell sedang menyindirnya.
"Kau menudingku!"
"Di mana dari ucapanku yang terdengar seperti sedang menudingmu?"
"Kenapa kau bertanya kepadaku?"
"Lalu kepada siapa aku harus bertanya disaat subjek yang salah sangka kepadaku adalah dirimu."
"Tanyakan saja pada angin yang berhembus dan laut yang membentang luas," ia menggerutu seraya meloloskan dressnya dari tubuhnya.
Kini dress itu teronggok di bawah kakinya dan Willson bersaudara kompak melarikan mata mereka ke bawah. Tentu saja bukan dress yang menjadi pusat perhatian mereka melainkan kaki yang ternyata cukup jenjang, ramping dan mulus berwarna eksotis.
Mata mereka semakin menjelajah hingga ke atas. Tepatnya hingga pertengahan paha. Keduanya sama-sama mengeraang dalam hati. Dasar durjana!! Astaga! Baru kaki Isabell yang terlihat kedua bersaudara itu sudah mengeluarkan liur!
Menyadari naluri kejantanan mereka yang sangat kurang ajar, baik Austin maupun Darren sama-sama berdehem dan menegakkan tubuh. Mereka juga memalingkan wajah, Darren ke kiri dan Austin ke kanan. Malu sendiri dengan sikap mereka yang kelewat normal.
"Tidak ada bikini?" Austin adalah orang pertama yang mampu mengendalikan dirinya. Kini ia kembali memusatkan perhatiannya kepada Isabell. Gadis itu ternyata mengenakan t-shirt big size berwarna putih yang menutupi sampai setengah paha. Apa yang dikenakan Isabel di balik kaos tersebut untuk menutupi bokongnya masih misteri. Tapi Austin menebak jika gadis itu mengenakan hot pant.
"Aku tidak menemukan bikini yang cocok," bohong Isabell. Alasan yang sebenarnya adalah ia tidak percaya diri mengenakan bikini yang mempertontonkan tubuhnya.
"Pilihan yang bagus," pungkas Austin sambil tersenyum simpul. "Ayo, kita berenang." Mereka meninggalkan Darren yang sudah duduk di bangku pantai merutuki tindakannya yang tidak bermoral.
Untuk melupakan tindakan memalukan yang ia lakukan, Darren kembali beraksi dengan kameranya. Menggambar beberapa foto secara sembarang. Tidak jauh darinya dua anak kecil yang sedang bermain pasir menarik perhatiannya. Pun ia mengambil foto tersebut. Gadis kecil itu terlihat mirip dengan seseorang.
"Permisi," seseorang dengan nada ketus menegurnya. Darren memiringkan kepala, sedikit mendongak untuk melihat objek yang menegurnya. Seorang wanita cantik menatapnya dengan wajah tidak ramah. Apa lagi kesalahannya, kenapa wanita-wanita cantik selalu tidak bersahabat dengannya.
"Ya?" Darren menurunkan kameranya. Ia tidak beranjak sama sekali dari tempat duduknya. Wanita itu tidak bersikap ramah kepadanya, jadi ia juga tidak ingin repot-repot untuk beramah tamah.
Wanita itu menurunkan tatapan ke kameranya. Apa yang salah dengan kameranya? Wanita itu jelas tidak mungkin ingin meminjamnya.
"What?"
"Foto anak-anakku," sahut wanita itu tidak sabar.
"Anak-anak?" Darren masih tidak mengerti.
"Kau mencuri foto anak-anakku!" cetus wanita itu dengan sengit dan tatapan sinis.
"Mencuri?"
Ampun, akhir-akhir ini Darren merasa jika kesialan senantiasa menghampirinya. Ucapannya selalu menjadi boomerang untuknya karena Isabell yang selalu salah mengartikan. Dan sekarang, seorang wanita tiba-tiba menghampirinya dan menuduhnya mencuri, heh?
"Berikan kameramu! Aku harus memastikannya sendiri," wanita itu mengulurkan tangan untuk mengambil kamera miliknya. Terang saja Darren menolak. Seperti yang dikatakan Austin, Darren tidak suka jika barang-barangnya disentuh. Ia berdiri, mengelak dan melindungi kameranya.
"Dengarkan aku, Tuan, kau bisa saja kutuntut karena sudah mencuri foto anak-anakku. Masalah ini akan selesai jika kau menghapus foto Jely dan Jorell."
"Jely dan Jorell?"
"Ya, anak-anakku! Aku melihat kau membidik mereka. Apa kau mata-matanya? Apakah dia mengawasi kami?" wanita itu menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang. Terlihat sangat cemas dan takut. Kesinisan yang tampak di wajahnya beberapa saat lalu sirna entah kemana.
"Mata-mata? Dia siapa?" astaga, Darren benar-benar menyesali keputusannya ikut ke pantai. Selain mencuri, kini ia dituding sebagai mata-mata.
"Dia bersembunyi di mana? Dia pasti mengirimmu 'kan? Kumohon jangan lakukan itu."
"Pertama, aku tidak mencuri foto anak-anakmu. Jika yang kau maksud adalah dua anak kecil di sana, oke, aku akan menghapusnya. Jadi berhenti menyebutku pencuri!" Darren mengotak atik kameranya dan dengan segera menghapus foto dua anak kecil yang sedang bermain pasir.
"Kau lihat, foto anak-anakmu sudah tidak ada lagi."
"Biarkan aku memeriksanya," pinta wanita itu, tidak percaya dengan yang diucapkan Darren.
Tidak ingin berdebat lebih lanjut, Darren menyerahkan kameranya.
"Kedua," ucap Darren. Wanita itu tidak menoleh, terlihat sibuk dengan kamera miliknya. "Aku bukan mata-mata."
Wanita itu akhirnya menoleh seraya mengembalikan kameranya.
"Maafkan aku," ucap wanita itu dengan kikuk.
"Pertanyaanku, apa kau seorang penjahat?"
"Hah?"
"Hanya seorang penjahat yang diawasi, Nyonya."
"Apakah gadis itu juga seorang penjahat?" tanya wanita itu.
"Gadis?"
"Kurasa gadis itu memang penjahat."
Darren masih tidak mengerti hingga wanita itu mengarahkan dagunya dan Darren mengikutinya.
"Gadis yang hampir memenuhi kameramu. Kau mengawasinya." Wanita itu menunjuk ke arah Austin dan Isabell yang bermain sambil tertawa bahagia.
Skakmat!
.
.
.
Jossie Moore
Jely Dan Jorell