H.U.R.T

H.U.R.T
Sembilan



" kamu sama Revan udah kenal lama???? "


tanyaku mencoba mencairkan situasi yang seperti terasa menegang.


" hmmmm.....dia teman aku pas smp "


" oooh pantesan kalian akrab "


" kita Deket banget dulu, kemana mana pasti berdua "


" terus sekarang ????? "


Alfin menoleh ke arah ku dan mendekatkan wajah nya dengan wajah ku.


" kamu mau nya gimana ???? "


" ko balik nanya ???? "


" soal nya sekarang aku mau nya kemana mana sama kamu "


" iiih apaan sih malah gombal "


Alfin tersenyum, menyimpan es batu di meja dan duduk di sebelah ku, dia menatapku lagi, tangan nya meraih tangan ku dan menggenggam nya.


" bisa ngg kamu yakinin aku kalau kamu hanya cinta sama aku "


" ko ngomong nya gitu ??? "


" aku ngg mau nanti kecewa "


" emang nya kenapa ???? "


" ya karna aku pacar kamu dan di kecewakan pacar itu ngg enak "


" hahaha.....sejak kapan kamu jadi kaya gini ??? "


" sejak Revan natap kamu tadi "


seketika aku berhenti tertawa, rupa nya Alfin melihat nya dan memang baru kali ini Alfin bersikap kaya gini.


" apa yang bisa bikin kamu yakin ??? "


Alfin tidak lagi menjawab pertanyaan ku, dia hanya tersenyum dan terus menatapku sambil terus menggenggam tangan ku.


Alfin mengecup keningku dengan lembut, sungguh perlakuan nya hari ini membuat aku merasa wanita yang paling di cintai.


" aku harus ke kelas, mau aku panggilkan tari buat nungguin kamu di sini ???? "


" ngg usah, lagi pula tari ngg bakalan mau ketinggalan pelajaran "


" kamu gpp di. sini sendirian "


" aku gpp, lagi pula aku bisa tidur kalau sendirian "


Alfin mengusap rambutku sebelum pergi meninggalkan aku di ruang uks, aku menghela nafas panjang lalu membaringkan tubuh ku di atas tempat tidur ruang UKS, sengaja aku menghadap jendela yang mulai terkena cipratan air hujan.


sedikit demi sedikit akhir nya jendela pun terlihat buram di penuhi cipratan air hujan yang mulai lebat.


mata ku akhir nya terpejam perlahan sambil di iringi suara hujan dari luar, dua jam berlalu bel terdengar panjang dan membangunkan ku, aku meregangkan kaki dan tanganku perlahan sambil membuka kedua mataku.


" sudah bangun???? "


suara dari balik gordeng yang menutupi tempat tidur yang ku tiduri membuat aku segera mengangkat tubuhku untuk duduk.


Revan menyibakan gordeng sambil tersenyum ke arah ku, di belakang nya terlihat tari menenteng tas ku yang dia bawa di kelas.


" kamu pulang bareng aku ajah ya "


ucap Revan lembut, tapi seketika pikiran ku teringat pada sikap Alfin tadi, aku sedikit bergeser saat Revan menghampiriku untuk memeriksa kaki ku yang menjadi bengkak dan berwarna biru.


" ngg usah Van aku pulang bareng Kaka ku ko "


" tapi kaki mu ngg bisa di pake jalan dulu Ri "


" aku ngg enak sama orang orang kalau harus di gendong lagi "


aku melirik tari yang sekarang duduk di tempat tidur kosong sebuah ku. tari sepertinya mengerti dengan isyaratku, tari mendekat ke arahku dan mencoba membantuku untuk turun dari tempat tidur.


" kalau kaya gitu kaki mu bakal tambah sakit "


dengan cepat Revan menahanku turun dan berdiri tepat di depanku bersiap untuk menggendong ku lagi.


" telpon dari ka Yugi, kaya nya dia udah ada di depan "


aku mengangkat telpon ka Yugi dan Revan pun sedikit menjauh agar aku lebih leluasa bicara dengan ka Yugi.


" hallo ka !!! "


" buruan keluar "


" kaki ku sakit ka, bisa jemput aku di UKS ngg ka "


Tut Tut Tut.....


telpon terputus begitu ajah, dan aku ngg punya pilihan selain menuruti Revan sekarang.


" mau aku telponin Alfin ???? "


lagi lagi seperti nya tari bisa mengerti apa yang ada di pikiran ku, tari juga tau betul aku ngg pernah mau melibatkan Alfin dalam hal apapun.


aku mengangguk dengan cepat, sebelum Revan kembali menggendongku dan Alfin melihat itu.


" hallo Fin "


" ya tar kenapa ??? "


" kamu di mana ???? "


" aku di ruang kepala sekolah, lagi ngomongin masalah beasiswa, ada apa ???? "


tari berbisik memberi tauku tentang Alfin yang sedang di ruang kepala sekolah membicarakan beasiswa nya, dengan cepat aku meminta tari untuk tidak mengganggu Alfin dan mematikan telpon nya.


Alfin memang sudah lama menginginkan beasiswa itu, alasan nya agar dia bisa berkuliah dan menjadi orang sukses.


aku yang tau betul bagaimana keras nya Alfin berusaha untuk beasiswa tersebut tidak mau mengganggu nya bahkan untuk hal seperti ini.


" oh gpp Fin, aku pikir kamu di UKS, ya udh aku tutup ya "


" ok "


tari menutup telpon nya dan melirik ke arah ku, terlihat Revan tersenyum kepadaku dan tari, seperti nya kali ini Revan mengerti alasanku menolak tawaran nya.


" aku dan Alfin juga teman dekat, jadi aku tau diri untuk menjaga jarak dengan mu, aku hanya terbiasa jagain kamu jadi...... "


tiba tiba suara pintu ruang UKS terbuka, pak Andi dan ka Yugi terlihat di balik pintu berjalan menghampiriku.


aku sedikit lega, setidak nya aku tidak perlu merasa ngg enak hati untuk menolak niat baik Revan dan lebih menjaga perasaan Alfin juga.


pak Andi mempersilahkan ka Yugi untuk mendekat ke arahku, tanpa berbicara apapun ka Yugi langsung mendekat, berdiri di depan ku dan membalik kan tubuh nya agar aku bisa naik ke punggung nya.


aku langsung melingkarkan kedua tangan ku di pundak ka Yugi, tanpa menyapa siapapun ka Yugi berjalan keluar ruang UKS di ikuti tari dan Revan yang berjalan perlahan di belakang.


ka Yugi menurunkan ku di dalam mobil perlahan dan baru menghampiri tari dan Revan.


" makasih ya "


ka Yugi menepuk pundak Revan perlahan yang di balas dengan anggukan oleh Revan, lalu ka Yugi menoleh pada tari yang mulai menyodorkan tasku dan bersiap pamit.


" kamu aku antar ke toko, naik !!!! "


setelah mengatakan itu ka Yugi pergi menuju pintu mobil sebelah, itu membuat tari ngg punya pilihan dan akhir nya menuruti ka Yugi untuk pulang bersama.


ka Yugi memang terlihat dingin, tapi dia itu penyayang, bahkan dia juga selalu peka dengan orang orang sekitar nya, hanya saja ka Yugi ngg bisa buat mengutarakan nya lewat kata kata.


sampai di toko tari berpamitan padaku dan ka Yugi, tatapan ka Yugi tetap sama pada tari, dingin dan terlihat ngg peduli, tapi aku tau kalau sebenar nya ka Yugi sangat menyukai tari.


" ka Yugi ko ngg ngucapin slmt tinggal sama tari "


" buat apa ?? "


" biar tari semangat kerja nya "


dengan ekspresi datar ka Yugi menjalankan kembali mobil nya melanjutkan perjalanan pulang kita.


aku mulai menyalakan MP3 kesukaan ku karna suasana mulai hening, baru juga musik intro terdengar ka Yugi dengan cepat mematikan nya.


" kenapa sih ka ??? "


" aku ngg suka kamu jadi penyanyi "


aku memang sangat suka dengan musik sejak kecil, aku bahkan meminta ka Yugi untuk membuatkan ku lagu, sayang nya ka Yugi melarangku untuk menjadi seorang penyanyi dengan alasan dunia hiburan terlalu keras kata nya.