
tiga bulan berlalu, kaki ku sudah lama sembuh dan aku menjalankan aktifitas seperti biasa, mulai dari kesekolah, ke toko untuk membantu tari bekerja sekaligus menghilangkan kejenuhan ku dan kembali ke rumah bersama tari, ya tari mulai tinggal di rumahku lagi semenjak tiga bulan lalu saat bunda dan ayah mulai jarang pulang ke rumah, ke dua nya sibuk dengan urusan mereka masing masing.
entah itu urusan perceraian mereka, pekerjaan dan urusan asmara mereka masing masing.
ka Yugi juga mulai jarang pulang ke rumah, bahkan memang hampir tidak pernah, itu karna dia sudah memiliki rumah sendiri dan juga kesibukan nya yang mulai banyak memproduksi lagu untuk artis artis pendatang baru.
Alfin dan aku juga akhir akhir ini jarang menghabiskan waktu bersama, itu karna Alfin sibuk dengan cita cita nya untuk mendapat beasiswa agar dia bisa melanjutkan kuliah ke luar negri, itu sedikit membuat aku kesal, tapi aku mencoba menerima demi mendukung apa yang Alfin cita cita kan selama ini.
aku cukup kesepian belakangan ini, orang orang yang aku anggap orang terpenting di hidup aku justru sama sekali tak mempedulikan bagaimana aku hidup, mereka hanya datang untuk mempertahankan aku agar tetap hidup dengan cara memberiku uang. begitu lah kehidupan ku setelah tiga bulan terakhir ini.
pagi ini hari Minggu, aku baru saja terbangun dari tidur ku semalam, aku mengucek kedua mataku agar mata ku sedikit lebih jernih untuk melihat.
terlihat tari yang sudah bersiap untuk pergi ke toko pagi ini, ya setiap hari Minggu tari memang berangkat lebih pagi karna untuk menggantikan karyawan lain yang mendapat giliran libur.
" kamu udah mau berangkat tar "
aku bertanya pada tari dengan suara sedikit lebih keras, tari menoleh ke arah ku yang masih berada di depan kamar ku, lebih tepat nya di samping anak tangga yang memang tepat berada di depan kamar ku.
tari menganggukkan kepala nya sambil tersenyum, setelah itu dia hanya melambaikan tangan nya lalu pergi.
suasana rumah sangat hening, bahkan tak terdengar suara nafas orang lain kecuali nafasku.
mba ayu juga tidak berada di rumah hari ini, dia pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran persediaan selama satu Minggu ke depan.
aku perlahan menuruni anak tangga satu persatu, aku ambil segelas air dingin dan langsung meneguk nya. rasa nya sangat segar membasahi kerongkongan ku yang mengering semalaman.
baru saja aku terduduk di sofa depan tv, suara pintu terbuka dan terlihat mba ayu berjalan menuju dapur dengan belanjaan di tangan kanan dan kiri nya.
" neng Yuri udah bangun "
" hmmmmm "
" tadi ibu ke sini, tapi cuma sebentar "
" mau apa bunda ke sini?? "
mba ayu menyodorkan sebuah amplop putih berisi uang kepadaku, aku tau ini jatah mingguan ku dari bunda. tanpa melihat mba ayu, aku mengambil amplop yang di berikan mba ayu dan langsung menyimpan nya lagi di atas meja.
aku mengambil ponselku, terlihat pemberitahuan panggilan tak terjawab dari ayah dan Alfin.
dengan santai aku menekan no ayah untuk menelpon nya balik.
" halo yah "
" kamu baru bangun ya ??? "
" Iyah "
" nanti tolong cek, tadi ayah transfer uang jajan kamu "
" kenapa ayah engga kasih langsung ke aku "
" ayah lagi sibuk nak "
" ........ "
aku tak lagi menjawab kata kata ayah dan langsung mematikan telpon nya.
kemudian aku menekan no Alfin untuk menelpon nya.
" hallo Fin "
" kamu di mana???? "
" di rumah, kamu mau ke rumah ??? "
" ok, bentar lagi aku ke rumah ya, aku baru selsai beli buku "
" ok "
bibirku tersenyum senang saat tau Alfin akan datang ke rumahku, setidak nya dia akan mengobati rasa kangen aku sekaligus menghilangkan kesepian yang aku rasakan.
aku bergegas naik ke kamarku untuk mandi dan bersiap menyambut Alfin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
ka Yugi dan ka bara berada di studio rekaman, kedua nya sedang sibuk rekaman untuk single baru artis yang sedang naik daun saat ini.
" ok......beres "
ka Yugi meregangkan badan nya di atas kursi, sambil tersenyum ka bara menepuk pundak ka Yugi perlahan sebagai ungkapan terimakasih sekaligus merasa bangga pada ka Yugi.
" ok bro......kerja bagus "
" jam berapa ini ??? "
" jam 10.......lebih cepat dari dugaan kita ya "
" luar biasa "
ka Yugi dan ka bara juga menyalami seorang artis yang baru saja keluar dari ruang rekaman dan mengucapkan terimakasih.
" waaah akhir nya, makasih bang "
ka Yugi hanya mengangguk menanggapi ucapan artis tersebut.
" langsung cabut ya bang, ada jadwal lain nih "
" ok ok.....makasih ya "
mereka saling memeluk satu sama lain sebelum artis itu menghilang di balik pintu.
ka Yugi dan ka bara duduk berdua di sofa dan baru menyantap makanan yang sejak tadi sudah ada di atas meja.
" gimana kabar orang tua mu ?? "
ka Yugi memulai obrolan mereka berdua yang beberapa waktu sebelum nya mereka berdua saling berdiam.
" baik ko.....mereka baik baik ajah, ternyata punya ayah tiri itu engga seburuk yang dulu aku pikirkan "
" tapi, adik mu gimana ????? "
ka bara tersenyum lebar dan merangkul ka Yugi yang masih fokus dengan makanan nya.
" semua nya akan membaik dengan sendiri nya, tinggal kita jalani ajah "
" aku ngg yakin "
" ngg yakin??? apa ?? "
ka bara mengerutkan kening nya, dan menatap ka Yugi yang masih asyik dengan makanan nya.
" lupakan "
kali ini ka Yugi menyenderkan tubuh nya di sofa sambil terus mengunyah makanan yang ada di dalam mulut nya.
ka bara hanya menepuk pundak ka Yugi perlahan tanpa bertanya lebih jauh lagi, meski sebenar nya dia benar benar tidak mengerti dengan yang baru saja di ucapkan ka Yugi.
" abis ini kamu mau kemana gi ??? "
" aku masih di sini, ada yang harus aku kerjakan "
" hmmmm .... kalau gitu aku cabut duluan ya "
" mau kemana???? "
" aku ada meeting siang nanti "
" oh ok "
ka bara akhir nya meninggalkan ka Yugi yang masih menyenderkan tubuh nya di sofa.
kali ini ka Yugi mengambil ponsel nya dan membuka beberapa berita terbaru.
dengan cepat ka Yugi melempar ponsel nya ke atas meja setelah membaca artikel yang bertuliskan berita tentang bunda dan ayah.
wajah ka Yugi kali ini berubah menjadi sedikit terlihat emosi, dengan kasar dia mengusap wajah nya dan mengacak acak rambut hitam nya.
" sial !!! kenapa harus muncul sekarang sih tuh berita "
dada nya terasa sesak, wajah nya mulai memerah bahkan kedua tangan nya mulai mengepal, menahan marah yang mulai terlihat sangat jelas.