
"Kau butuh pelicin sepertinya. Wajahmu terlihat sangat kusut."
Steve hanya berdecak menanggapi ledekan Roxi kepadanya. Saat ini, keduanya sedang berbincang melalui panggilan vidio. Roxi masih menetap di Spanyol, meski sudah menikah, tidak lantas membuat dirinya vakum dari dunia gelap. Hanya saja, pria itu lebih sering mengawasi dan memantau. Sementara, Steve sendiri memilih mengundurkan diri setelah merasa bekalnya cukup. Ia tidak ingin menambah daftar musuhnya yang kelak justru menyerangnya di kemudian hari. Walau tidak ia pungkiri, ia merindukan kebringasannya saat beraksi di lapangan. Meski memilih mundur dari duni gelap, Steve tetap memiliki tempat tersendiri di BD pimpinan Roxi. Steve juga tidak bisa menolak jika Roxi membutuhkan bantuan dan campur tangannya. Ck! Itu sama saja Steve! Kau tidak benar-benar mengundurkan diri dari dunia hitam!
"Kau belum menemukan kelemahannya?"
Pertanyaan Roxi membuat wajah Steve semakin suram. Seperti pengguran jelek yang memimpikan seorang putri raja menjadi pendamping. Sulit untuk menemukan jalan atau cara untuk mencapai keinginan tersebut, sangat tidak mungkin.
"Tidak." Singkat, padat dan jelas.
"Kudengar Riston mulai menunjukkan diri ke permukaan."
"Ya, sepertinya ia bekerja untuk Brian atau mungkin Mr.President."
"Kau harusnya masuk ke dalam kelompok mereka."
"Mengorbankan diri ke sarang penyamun?"
Roxi terkekeh mendengar sarkasme yang dilontantarkan Steve. "Fokuslah. Fokuskan pada satu titik. Jangan biarkan yang lain mengambil alih pikiranmu, Dude."
"Memberi nasehat memang sesuatu yang sangat mudah," Ucapan Steve kembali membuat Roxi tergelak. Steve bukan pria yang bisa menerima nasehat. Ia hanya akan menjalankan apa yang menurutnya benar. Bahkan saat di lapangan, Roxi sering dibuat emosi karena Steve selalu mengubah rencana di situasi genting. Untungnya, rencana tersebut selalu berhasil.
"Kenapa kau tidak menikahi Oleshia. Mungkin dengan begitu bisa membuat pikiranmu lebih tenang dan terarah."
Steve terdiam untuk sesaat sebelum menanggapi saran Roxi. Pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya. "Saranmu akan kupertimbangkan."
Roxi mengangguk, "Cukup terkejut dengan jawaban Steve. Ia kira Steve tidak tertarik dengan pernikahan. "Seperti biasa, uang kirimanmu sudah disampaikan kepada ibumu dan Steve, sampai hari ini Ibumu tidak menggunakan uang itu sama sekali. Kau belum mengunjungi mereka?"
"Aku takut merusak semuanya."
"Takut?" Roxi mengejeknya. "Steven Dixton Ivarez, aku tidak tahu jika kau memiliki rasa takut."
"Aku rindu ingin mematahkan hidungmu, Roxi. Bagaimana jika kau memunuhi undanganku datang kemari?"
Tawa Roxi pun lepas seketika, "Aku akan datang. Pasti. Hanya tinggal menunggu waktu. Sampai hari itu tiba, pastikan kau sudah menyelesaikan semuanya."
Panggilan pun terputus. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Steve. Tanpa basa basi sama sekali.
Jemarinya memainkan ponsel. Memperhatikan titik merah di ponselnya. Alat yang ia masukkan ke dalam tubuh Lexi berfungsi sempurna. Pikirannya terusik, mengingat setiap kata yang terlontar dari mulut Lexi. Bagaimana bisa sebuah perasaan tidak berubah sama sekali bahkan setelah pria itu mati sepengetahuannya.
"Apakah dia tidak bermaksud menikah? Atau ingin menjadi wanita suci, mengabdi kepada Tuhan?" Ia bergumam lirih. Steve menggeleng, mengenyahkan pikiran tersebut. Pikiran tentang Lexi yang akan menjadi wanita suci selama hidup gadis itu.
Ponselnya berdering nyaring. Steve enggan untuk menjawab. Jika Beth yang sedang menghubunginya, pria itu selalu menyampaikan berita yang kurang menarik menurutnya.
"Ada apa?" Setelah panggilan kedua, akhirnya ia menjawab.
"Sam memasuki kantor polisi."
"Ya."
"Hmm."
"Baiklah. Aku tutup panggilannya. Jika kau penasaran, Vincent Trey bertugas malam ini. Mungkin dia akan bermalam di kantor."
"Baiklah." Steve menutup panggilan telepon. Tangannya menggapai notes kecil di atas meja. Membuka halamannya, menatap satu persatu daftar nama tersebut. Steve memberikan tanda ceklis pada nama Vincent lalu ia menuliskan nama Lily Oswald di sebelah nama pria itu.
____
Jam 03. 00. Dini hari. Kantor polis, New York.
Terdengar ketukan sepatu menyapu lantai. Vincent yang sedang mengerjakan sesuatu merasa terganggu. Ia tidak suka hal ini. Sebuah decakan kesal meluncur dari mulutnya. Tidak sembarang orang bisa memasuki ruangannya. Kemana para petugas lainnya? Kenapa bisa membiarkan orang lain masuk.
"Aku ingin mengunjungi Lily Oswald."
Suara itu berhasil menarik perhatiannya. Permintaan itu sangat tidak masuk akal. Tengah malam? Ck! Apakah sudah tidak ada hari esok untuk berkunjung. Tekanan dari keluarga Neal yang ingin membalas perbuatan Lily, sudah cukup membuatnya sakit kepala karena dari sisi lain, Darren Willson, meminta secara khusus kepadanya agar Lily Oswald dijaga keselamatannya. Darren tidak pernah berbicara kepadanya sejak mereka meninggalkan Yale High School. Sekalinya berbicara, pria itu justru melayangkan ancaman.
"Kembali lah besok." Ucapnya setengah menggeram. Perlahan ia mengangkat kepala. Manik mereka saling bertemu. Vincent Tersentak dengan sosok yang ternyata sudah berdiri di hadapannya. Dengan jarak yang begitu tipis.
"Sekarang. Ini sangat mendesak."
Vincent berdiri dari kursi. "Aku akan mengantarmu."
Keduanya berjalan bersisian, menuju ruang tahanan wanita yang memang ditempatkan khusus.
Melihat kedatangan Vincent, Lily berlari menghampiri. "Vincent, keluarkan aku dari sini. Kumohon." Ada secercah harapan saat Vincent membuka jeruji tersebut.
"Silakan masuk." Vincent mempersilakan masuk. Lily menoleh, baru menyadari kehadiran orang lain.
"Ka-kau? Kau juga ada di King Axe pada malam itu, kau..."
"Tutup mulutmu, Nona." Sebuah senyuman iblis tergelincir dari mulutnya. "Bisakah kau meninggalkan kami, Mr. Trey." Pinta orang tersebut. Vincent mengangguk, pun ia mengunci Lily bersama orang tersebut.
"Hubungi Lexi." Mengeluarkan ponsel, memberikannya kepada Lily. "Jika ingin bebas, lakukan perintahku, Lily. Panggilan vidio. Kau akan bebas setelah ini. Tidak terkurung, tidak terpenjara. Bukankah semua ini terjadi karena Lexi Willson si tuan putri."
Dijanjikan kebebasan, Lily pun menerima ponsel tersebut. Menekan angka demi angka. Panggilan pun tersambung. Tidak butuh waktu lama, panggilan terhubung.
"Argghhhhhh..." Lily menjerit histeris. Terlihat jika kepalanya sedang di benamkan ke dalam toilet. Lily juga melakukan hal menjijikkan. Buang air kecil, yang kemudian air seninya ia teguk seperti orang kesetanan. Sebatang rokok yang menyala melukai wajahnya. Lily semakin menjerit histeris saat puntung rokok itu mendarat di sudut matanya. Membakar bulu matanya. "Perih. Ini perih. Seseorang tolong hentikan. Lexi....Lexi.... Kau lihat ini. Kau harus menderita. Kau harus menderita. Kau akan merasakan hal yang sama. Argghhh!! Kepala Lily mendongak ke atas. Rambut panjangnya di tarik dengan kuat. Bugh! Kepala itu dibenturkan ke dinding. Ia melaung histeris. Menahan rasa sakit yang tidak tertahankan. "Lexi.... Kau harus mati! Pergilah ke neraka!!!" Panggilan diputuskan.
"Euuhh...." Sebuah lenguhan membuat Darren tersentak. Ia segera memblokir nomor yang menghubungi Lexi. Untung saja bukan Lexi yang menjawab panggilan tersebut. Bisa-bisa mental adiknya kembali terguncang.
"Darren? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku tidak bisa tidur jika kau belum memaafkanku." Darren meletakkan ponsel Lexi tanpa disadari gadis itu.
"Tidak sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dengan kematian Olivia."