H.U.R.T

H.U.R.T
Luapkan Saja



Hai Me😊.... yang ingin namanya disematkan di karya ini. Semoga senang dengan part ini.


Happy reading🥂🥂


.


.


"Brengsek! Bodoh!"


Olivia memaki dengan wajah berang. Semua yang ada di sana hanya bisa menundukkan kepala.


"Sudah kukatakan, awasi Steven bagaimana pun caranya!"


Rencananya gagal disaat ia hampir mandapatkan apa yang ia inginkan. Kehancuran Lexi di tangan saudaranya sendiri. Apalagi yang lebih menyakitkan bagi Willson melihat kehancauran anak-anaknya dalam sekali tepuk. Sayang, harapannya itu berantakan hanya karena keteledoran anak buahnya.


"Bagaimana bisa dia muncul di Virginia saat kalian melaporkan dia ada di rumahku! Dasar tolol!!"


Napasnya menderu karena amarah yang meluap-luap. Mereka mengira jika Steve masih ada di kamarnya yang ternyata sudah berganti orang. Brian dan Dean!


Rencana yang ia anggap akan berjalan mulus berhasil digagalkan oleh Steve. Baiklah, sepertinya Steve bersungguh-sungguh ingin mengibarkan bendera perang dengannya. Ia akan meladeninya, mengabaikan rasa cinta yang masih ia simpan untuk pria itu. Ia kira Steve sama sepertinya, membenci orang-orang yang ia benci. Nyatanya, Steve hanya mengikuti alur yang ia mainkan. Ia dikelabui.


"Lihat aku!" Ia memberi perintah. "LIHAT AKU!!" Raungnya sembari meraup salah satu kerah pria yang dekat dengan jangkauannya. Maniknya mengunci iris mata pria yang menatapnya dengan penuh ketakutan.


"Habisi-mereka-semua."


Olivia kemudian memerintahkan hal yang serupa kepada pria lainnya. "Seranglah rekanmu hingga mampuss tidak bernyawa!"


Dalam sekejap terjadi perang dan saling menembak diantara mereka. Olivia menyeringai sinis. Menatap kekacauan di hadapannya dengan mimik puas.


Sama seperti yang dilakukannya kepada Steve dan Austin, Olivia ahli dalam menghipnotis, mengambil alih pikiran seseorang.


Bagaimana bisa Lexi mengalami kecelakaan? Semua itu dari pengaruhnya. Membisikkan mantra pada Lexi agar menyeberang tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan. Sementara di ujung jalan, orang suruhan Arthur sudah menunggu, bersiap untuk melakukan adegan yang sudah direncanakan.


Kenapa Isla bisa membunuh dirinya sendiri, OLivia lah yang memintanya. Hal serupa terjadi pada Lily dan Vincent. Ia mengambil kendali semuanya hanya melalui tatapan mata dan mantra yang ampuh mensugesti orang yang ia inginkan. Kekacauan yang terjadi di kantor polisi, terjadinya kematian massal. Semuanya karena ulahnya.


Dari mana ia mendapatkan kemampuan ini? Sesungguhnya butuh dua tahun baginya untuk menyadari kekuatan yang ia miliki.


Pada malam prom night, ia larut dalam buku bacaan yang diberikan Mr. Arthur Cony. Ia merasakan sesuatu yang aneh saat ia mengeja kata demi kata yang ada di sana. Olivia mendengar bisikan goib yang ia tepis dengan segera. Rasa penasarannya yang kuat mengalahkan rasa takutnya. Lembar demi lembar ia membaca tulisan yang ada di sana.


Buku yang diberikan Arthur Cony merupakan mantra romawi kuno yang bisa memberikan sugesti pada orang yang ia inginkan. Konon katanya, buku tersebut adalah milik Merry Christina. P. P yang berarti Phyllida. Buyut dari ayahnya sendiri.


Dulu, Merry merupakan pendiri dari penganut sekte freemansory. Sama seperti Olivia, Merry juga ahli dalam mensugesti orang lain. Bagaimana Merry mendapatkan kehancuran atas ambisinya menaklukkan dunia sungguh Olivia tidak ingin tahu. Ia sendiri tidak mempunyai ambisi untuk mengendalikan dunia. Ia hanya ingin memberi balasan pada orang-orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. Kepada orang-orang yang telah membunuh Oleshia. Tidak cukupkah para bajiingan itu telah memperkosanya, kenapa Oleshia harus mengalami hal serupa dan bahkan dibunuh. Untuk itulah dia di sini, untuk membalas semuanya.


"Arggghhh!!"


Mengingat kekejian yang dialaminya juga Oleshia selalu mampu membuatnya panik dan marah.


Arthur yang senantiasa ada di sisinya segera mendekat dan membawa Olivia ke dalam pelukannya.


"Tenangkan dirimu. Ayo, kita pergi."


Arthur menuntun Olivia keluar dari markas mereka setelah memberi perintah kepada Riston untuk membereskan semua mayat-mayat tersebut.


___


"Kau di sini?"


Steve melihat Darren yang setia menunggu di depan pintu kamar bersama ibunya.


"Mungkin saja Lexi membutuhkan sesuatu," kata pria itu dengan hembusan napas setengah frustasi. Seperti yang dikatakan dokter, Ibunya juga perlu istirahat.


Darren sudah mencoba berulang kali mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban Lexi dari dalam kamar.


"Austin baik-baik saja."


Mendengar penuturan Steve, Alena mengangkat kepala. Kekecewaan tersirat jelas di sana. Ya, keputusan Austin sudah benar. Pria itu hanya akan semakin terpukul jika melihat tatapan Alena hari ini.


"Austin hanya terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Dia pria tampan yang tidak bisa memalingkan wajah dari wanita cantik. Kurasa semua pria seperti itu."


Darren mendengus. Ingin rasanya ia melayangkan tinju ke wajah pria itu.


"Bukan berarti dia harus menyerang putriku dengan cara menjijikkan seperti itu." Sahut Alena ketus dengan nada lemah. Sungguh hatinya sangat sakit saat mengatakan hal tersebut. Ia memikirkan kondisi Lexi dan ia bertanya-tanya kenapa putranya bisa melakukan hal itu?


"Apakah kau meragukan didikanmu?"


Alena tersentak, ia sudah cukup merasa gagal sebagai orang tua. Pertanyaan Steve justru hanya membuatnya semakin terlihat buruk.


"Ada beberapa hal yang tidak bisa dikendalikan meski kita cukup merasa hebat. Austin hanya berniat untuk bersenang-senang. Dia hanya salah memilih mangsa dan aku justru memanfaatkannya. Jika kau ingin marah, marahlah kepadaku, Mrs.Willson." Steve merogoh sakunya dan memberikan benda kecil kepada Alena. "Austin hanya di bawah pengaruh hipnotis."


Ya, akhirnya mereka menemukan kelemahan Olivia. Bagaimana bisa wanita itu membantai semuanya dengan mudah dan bersih. Terdengar tidak masuk akal sebenarnya. Tapi itulah kenyataannya. Steve juga sudah mencari tahu tentang buku tersebut. Dan benar saja, buku itu lah sumber masalahnya.


Terdengar suara Olivia yang memberikan sugesti pada Austin. Mengajak untuk melakukan pemberontakan dengan cara bersenang-senang dengan Lexi.


Terkadang, untuk menemukan senjata lawan, ada hal yang harus dikorbankan. Di sini, Austin lah yang menjadi umpan meski tanpa disengaja. Pria itu memang terlalu menganggap semuanya terlalu sepele. Semoga saja dengan kejadian ini, Austin bisa berpikir lebih dewasa.


"Istirahatlah. Aku akan membawa Lexi pulang ke rumahmu. Aku berjanji."


Steve kembali merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci.


"Lexi akan baik-baik saja. Percaya padaku." Ucapnya sembari mendorong pintu yang langsung disambut dengan lemparan bantal di wajahnya.


"Pergi! Jangan mendekat! Jangan kemari!"


Darren mengusap wajahnya dengan kasar mendengar kehisterisan adik kesayangannya itu. Sementara ibunya hanya bisa menangis. Namun, di balik rasa frustasi yang menyerangnya, hasrat ingin mencekik leher Steve sungguhlah sangat besar.


Percaya padaku, heh?!


Prang!


Prung!


Prang!


Terjadi keributan di dalam kamar. Lampu meja melayang dan berhasil mendarat di kepala Steve. Pria itu tidak menyerah, ia tetap maju mendekat meski benda-benda tersebut melukainya.


"Luapkan saja. Luapkan semuanya. Aku cukup kuat untuk menampung semua kemarahan juga kekecewaanmu."