H.U.R.T

H.U.R.T
Pagar Gigi



Harry tidak bisa menunda kepulangannya hari ini. Pekerjaan dan janji temunya menunggu. Tidak bisa diwakilkan sama sekali. Atas permintaan Pax secara khusus, Lexi untuk sementara tinggal bersama mereka karena Alena masih sangat merindukannya.


Harry mengerti, di Istana, ia juga tidak akan bisa menemani Lexi dan pernikahan mereka belum digelar di sana dan tentang pernikahan yang sudah terjadi di sini, belum diumumkan secara resmi. Banyak hal yang harus disiapkan jika ingin menggelar pernikahan di Istana.


Tapi sebelum ia membahas hal itu dengan Lexi, ia harus melaksanakan tugas kenegaraannya yang sudah menumpuk terlebih dahulu sebagai bentuk tanggungjawabnya. Tidak mungkin juga baginya membawa Lexi ikut bersamanya. Lexi baru kembali, istrinya itu tentu membutuhkan perhatian dan istirahat yang cukup. Banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada Lexi, tapi ia harus menundanya untuk sementara waktu. Lexi kembali dalam keadaan sehat, itulah yang paling penting saat ini.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan segera. Aku juga minta maaf harus meninggalkanmu untuk sementara waktu."


Lexi tersenyum, mengerti dengan apa yang dikatakan Harry. "Justru aku yang berterima kasih karena kau sudah memberi izin kepadaku untuk berada di sini sementara waktu."


"Isabel juga ada di sini. Aku berjanji akan menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat," pungkasnya lagi.


Lexi menganggukkan kepala. "Aku akan menunggu. Banyak hal yang harus kita bicarakan."


"Kau benar."


Lexi dan Isabel pun mengantar kepergian Harry sampai mobil pria itu menghilang.


"Aku senang kau di sini," Lexi dan Isabel kembali masuk ke dalam rumah.


Di ruang utama, keluarganya masih menunggu. Pax yang masih terus melakukan interogasi kepada Austin akhirnya diam setelah Lexi dan Isabel duduk ikut bergabung dengan mereka.


"Hai, Bebel," Austin mengerutkan kening, terheran-heran melihat kehadiran gadis itu. Astaga, kemana saja perhatiannya sejak tadi. Apakah Isabel makhluk transparan hingga ia tidak menyadari kehadiran gadis itu.


Isabel tidak tersungging dan sakit hati sama sekali. Jantungnya justru melompat-lompat kegirangan begitu Austin menyadari kehadirannya dan juga menyapanya.


"Ha-hai," dengan canggung gadis itu juga melambaikan tangan. Hanya sepersekian detik, kemudian ia menarik tangan dan meremessnya kuat-kuat di atas pangkuannya. Ia juga menundukkan kepala, entah apa yang ia sembunyikan karena Austin hanya menyapa dengan wajar.


Mungkin hanya Austin satu-satunya makhluk yang ada di sana yang tidak menyadari jika gadis itu sedang grogi. Tapi mengingat Austin adalah pecinta wanita, sangat tidak mungkin jika ia tidak menyadari hal itu. Mungkin pria itu hanya tidak ingin repot-repot memusingkan hal tersebut. Toh, Austin merasa jika ia tidak melakukan sesuatu yang menjurus ke rayuan atau godaan. Austin bersikap menjadi pria terhormat di depan Isabel.


"Sejak kapan kau di sini?"


Austin sengaja mengajak Isabel berbicara untuk menghindari Pax yang memberi isyarat agar mereka pergi ke ruang kerja Ayahnya. Austin mengabaikan kode tersebut.


Bukannya ia tidak mengerti maksud ayahnya tentang masa depan saudarinya, Lexi, tapi tetap saja tindakan Steve adalah sesuatu yang salah menurutnya apa pun alasan pria itu menyembunyikan Lexi. Ia juga mendukung Lexi dan Steve, tapi bukan berarti mereka harus mengesampingkan perasaan Harry. Austin yakin jika Steve bukan pria yang akan diam saja tanpa berjuang sampai akhir dan ia tahu jika pria itu belum menganggap semua ini berakhir.


Perjuangan bukan hanya tentang pria, tapi juga wanita. Di mata Austin, Steve sudah berjuang sangat maksimal. Ia memberi empat jempol pada mantan ipar tidak jadinya itu. Menurutnya, ada baiknya Steve mengatur kembali hidupnya. Memperjuangkan yang tidak mau diperjuangkan adalah tindakan yang sia-sia.


Jika Lexi merasakan hal yang serupa dengan yang Steve rasakan, menurut Austin akan lebih adil jika sudah waktunya Lexi lah yang berjuang untuk pria itu. Dan jika Lexi tidak merasakan hal yang serupa, biarkan Lexi membuat semuanya jelas. Entah Steve ataupun Lexi, semua berhak bahagia dan berhak memilih jalan hidup.


"Sejak dua hari yang lalu."


CK! Bagi Austin itu adalah pertanyaan basa basi. Tapi bagi Isabel, pertanyaan tersebut merupakan sebuah bentuk perhatian yang sangat manis.


Dia memikirkan kenyamananku, Isabel berbisik dalam kalbunya.


"Nyaman, sangat nyaman." Isabel tersenyum lebar, memamerkan pagar gigi berwarna warni yang membentang di barisan gigi gadis itu.


Kening Austin berkerut, "Pagar gigimu lucu sekali."


"Pagar?" Isebal bertanya dengan bingung.


"Maksudnya kawat gigi," Darren yang sejak tadi fokus pada layar ponsel, menimpali tanpa mengalihkan tatapannya dari benda pipih yang ada di dalam genggamannya. Sementara Lexi yang juga mendengar kata pagar dari Austin, dengan kesal melempar bantal sofa pada saudaranya itu.


"Benda itu terlihat seperti pagar," Austin membela diri saat mendapat pelototan tajam dari kedua orang tuanya. "Dan menurutku pagarnya sangat lucu. Ada warna warninya. Aku penasaran apakah ada warna pelangi. Mungkin akan tambah lucu."


Lagi, Isabel memaknai ucapan Austin sebagai pujian. Yang gadis itu tangkap dari deretan kalimat yang dikatakan Austin hanyalah kata lucu. Bagi Isabel, sesuatu yang lucu adalah sesuatu yang menarik yang memberi hiburan dan kebahagian pada orang disekitarnya. Lucu, baginya adalah kata lain dari menggemaskan.


"Aku belum pernah melihatnya, aku akan menanyakan hal itu saat mengunjungi dokter gigi-ku, Aus."


Austin menganggukkan kepala kemudian berdiri, "Aku sangat lelah. Aku akan berendam selama satu jam dan mungkin akan istirahat. Sampai jumpa saat makan malam." Ia melewati Lexi dan mengacak rambutnya.


Bisa-bisanya Isabel mengharapkan hal yang serupa. Gadis itu juga ingin seseorang mengusap kepalanya seperti itu. Belum pernah ada yang melakukannya selain Harry dan itu juga sangat jarang karena mereka hanya bisa bertemu sesekali. Dan jika Ibu Harry melihatnya, Isabel akan menjadi objek kemarahan dari wanita itu.


Isabel harus menelan kekecewaan karena Austin melewatinya begitu saja.


"Kurasa kita juga harus siap-siap, Isabel. Kau sudah menghubungi Odelle?''


Isabel mengangguk, "Dia mengatakan akan sampai di sana tepat waktu. Aku akan ke kamar untuk bersiap-siap," pun Isabel berpamitan kepada Pax dan Alena untuk undur diri. Saat ia hendak berpamitan kepada Darren, ia melihat pria itu sedang fokus, jadi ia mengurungkan niat dan langsung berlalu tanpa menyapa pria itu.


"Mom, apa kau ingin ikut bersama kami, ke salon. Aku perlu merapikan sedikit rambutku." Lexi bertanya kepada Alena seraya beranjak dari tempatnya dan memaksa duduk diantara kedua orang tuanya.


"Kau mengatakan sangat merindukan masakan Mom. Mommy akan memasak semua makanan kesukaanmu. Lain kali kita akan pergi bersama."


"Katakan kepada kami, Sayang, kenapa kau membutuhkan begitu banyak waktu untuk kembali pulang?" Pax benar-benar tidak kuat menahan rasa penasarannya. Austin bukan pria yang bisa diajak kompromi. Akhirnya Pax memutuskan untuk bertanya langsung kepada subjeknya.


"Aku sempat melupakan semuanya, Dad. Keluarga Nolan menjagaku dengan baik. Dan sekarang aku di sini dalam keadaan baik."


"Keluarga Nolan? Bukan... Ehmm, aku harus bertemu dengan mereka untuk menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya."


Astaga! Ada apa denganku? Kenapa Steven Percy seolah menghantuiku!