
Harry terus melarikan kakinya mencari keberadaan Lexi. Di lantai satu dia tidak menemukan apa-apa. Pun ia segera naik ke lantai dua. Ada empat kamar. Dua kamar pertama yang ia buka ternyata kosong. Ia yakin jika Lexi ada di salah satu kamar yang ada di sini. Kamar ke tiga yang ia buka juga kosong. Harapannya hanya di kamar terakhir.
Harry berhenti sejenak di depan pintu. Mengatur napas sebelum membuka pintu. Pria itu juga bergumam melafalkan doa sepenuh hati semoga istrinya baik-baik saja.
Harry mendorong pintu dan ternyata dikunci. Berbeda dengan tiga pintu kamar sebelumnya. Harry semakin yakin jika Lexi benar ada di dalamnya.
Harry menggedor, "Lexi...."
Mendengar suara Harry, Lexi menoleh cepat. Ia berdiri dengan susah payah, berjalan tertatih menuju pintu.
"Kau mau kemana?" Pertanyaan Alea menghentikan langkahnya.
"Aku harus pergi, suamiku datang menjemputku."
Gadis itu menjalankan kursi rodanya, "Olive mengatakan kau tidak boleh pergi. Kita tidak boleh pergi."
"Ini bukan tempatku. Aku harus pergi."
"Kau terluka. Apa Olive yang melakukannya?"
Lexi menggeleng, darah di bajunya bukan karena ia terluka. Noda itu ia dapatkan dari cipratan darah Sonya yang dibunuh Arthur dengan keji.
"Syukurlah, Olive bukan wanita yang jahat. Dia kakak yang baik. Aku menyayanginya dan dia menyayangiku."
Lexi menganggukkan kepala, ia senang jika di hati Olivia masih ada kasih sayang yang tulus.
"Olivia bukan wanita yang buruk. Dia bukan wanita jahat. Aku menyayanginya," Alea mengulangi kata-katanya.
"Ya. Dia kakak yang baik, tapi aku harus segera pergi." Lexi melanjutkan langkahnya yang ternyata diikuti oleh Alea.
"Lexi, kau di dalam? Kau bisa mendengarku?"
"Harry. Aku di sini, aku ada di dalam."
"Oh Tuhan, aku senang mendengarnya. Pintunya dikunci. Aku akan berusaha membuka pintunya. Apa kau baik-baik saja?"
Lexi menganggukkan kepala dengan manik yang mulai mengembun. Menyadari jika Harry tidak melihat anggukan kepalanya, pun ia bersuara dengan nada tercekat.
"Aku baik-baik saja."
"Kau menangis? Kau takut?"
Lexi kembali mengangguk.
Bugh!!
Terdengar pukulan yang cukup keras disusul umpatan kasar yang keluar dari mulut Harry.
"Harry? Apa yang terjadi?" Lexi mulai menangis. "Harry, jawab aku? Kau baik-baik saja?"
"Dia tidak akan baik-baik saja, Lexi sayang. Aku akan menghabisi suami seharimu ini."
Arthur lah yang menyahut dari balik pintu. Lexi meluruh ke lantai, ketakutan yang seakan tidak ada habisnya kembali menyerang. Apa yang akan terjadi pada Harry? Lexi sudah melihat kekejaman pria itu. Jangan sampai Harry menjadi korban kekejaman Arthur selanjutnya.
"Wah, ayo kita lihat siapa yang sedang berusaha menyelamatkan istrinya. Harry Geonandes, Ck! Kau salah pergaulan, Buddy. Harusnya menetaplah di negaramu, duduk di singgasanamu." Arthur menginjak luka tembak di perut Harry dengan seringaian puas saat darah segar keluar dengan deras.
Harry berusaha menahan kaki Arthur, tapi pria kejam itu justru semakin memperkuat tekanannya pada luka Harry yang jahitannya sudah terbuka. Wajah Harry pucat menahan rasa sakit luar biasa. Peluh mulai membanjiri dahinya.
Dengan sisa-sisa kekuatannya ia menyingkirkan kaki Arthur dari perutnya.
"Argghh!!" Berhasil, Arthur tersungkur ke lantai. Harry segera berdiri, meraup leher pria itu dan melayangkan tinju, menghajar wajah pria itu.
Arthur tidak mau kalah, pria yang sudah terlatih itu melakukan serangan balik dengan melayangkan tinju di rahang Harry.
Harry bukan tandingannya tapi kegigihan pria itu membuatnya sedikit kewalahan. Waktu terus berjalan dan ia harus segera membawa Lexi dari sana.
Duaar!
Ledakan besar itu membuat mereka terkejut. Arthur melepaskan Harry dan berlari menuju jendela untuk memeriksa apa yang terjadi. Tidak ada apa-apa selain kericuhan antara warga dan para agen.
Arthur menembak engsel pintu, dalam sekejap pintu terbuka. Ia tersenyum saat menemukan wajah Lexi yang menatapnya dengan penuh kebencian.
"Lexi sayang." Tangannya terulur. Dan sebelum tangannya berhasil menyentuh wajah Lexi, Harry mendorongnya hingga terjatuh.
"Lexi," Harry membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Bawa aku dari sini. Aku takut, Harry."
"Ya, kita akan segera pergi." Keduanya keluar dari kamar.
"Kau pikir kemana kau akan membawa milikku, keparat?" Arthur mendorong Harry ke dinding. Pria itu kembali mengeluarkan senjata, menodongkannya di pelipis Harry. Mungkin kepala Harry akan meledak jika Steve tidak datang tepat waktu.
Steve menarik leher Arthur, menyeret pria itu menjauh dari Harry. Keduanya terlibat perkelahian. Saling melayangkan tinju ke wajah masing-masing. Steve berhasil membuat Arthur tersungkur ke lantai. Steve mencengkram leher Arthur, mengangkat tubuh pria itu lalu membantingnya. Arthur kesakitan. Steve menatap pria itu penuh amarah juga gejolak emosi. Dengan penuh dendam Steve meraup kerah baju Arthur, memaksa pria itu bangun.
"Steve, awas!!" Harry melompat mendorong Stsve saat sebuah peluru ditembakkan ke arahnya. Donny lah yang melakukannya, rekan Arthur.
Steve yang sudah mulai lelah melangkah lebar merebut senapan Donny dan memukulkan ujungnya ke dada pria itu hingga terjengkang. Steve ingin bermain cepat sebelum Doukins menambah masalahnya. Semoga Austin bisa mengatasi si agen sialan itu.
Saat ia hendak menarik pelatuk, Donny mengeluarkan pisau dan melukai kaki Steven. Donny berdiri dan kembali memberikan sayatan di tangan Steve. Donny kembali melayangkan serangan dan kali ini Steve berhasil berkelit. Ia merebut pisau tersebut dan berhasil menusuk perut bagian kiri pria itu.
Arthur memanfaatkan kesempatan dengan menarik paksa Lexi bersamanya. Harry yang sudah mulai lemas karena kehabisan darah tidak bisa menandingi kekuatan Arthur. Satu bogeman pria itu berhasil membuat Harry tumbang.
Jeritan Lexi menarik perhatian Steve. Ia berbalik dan melihat Arthur menahan Lexi sementara kaki pria keparat itu kembali menginjak luka di perut Harry.
Dengan rahang mengeras, ia mendekati Arthur. Namun, Donny kembali menyerangnya dengan lilitan ikat pinggang yang menjerat leher Steve hingga Steve mengalami kesulitan bernapas. Wajahnya sampai merah manahan sakit luar biasa.
Melihat kekalahan Steve, Arthur tertawa puas. Meninggalkan Harry yang tidak berdaya, Arthur mendekati Steve bertepatan dengan Donny menarik pisau dari perutnya dan menusuk punggung Steve.
Duaar!!
Ledakan kembali membuat mereka semua terkejut. Terdengar jeritan dari kamar. Steve mengenal suara itu. Asap tebal tiba-tiba memenuhi ruangan. Lexi menggigit tangan Arthur dan berlari masuk ke dalam kamar untuk menyelamatkan Alea.
Harry berusaha berdiri dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
Steve menendang pusaka milik Arthur, pria itu menjerit sampai-sampai membungkuk. Tendangan Steve tidak bisa diremehkan. Kemudian Steve mengulurkan kedua tangan ke belakang, meraih kepala Donny yang hilang fokus karena mendengar ledakan dan teriakan histeris. Donny mengira ledakan itu berasal dari nuklir yang mereka aktifkan. Steve berhasil membanting Donny. Selanjutnya, Steve mengambil senjata yang tergeletak di lantai, menembak Donny tanpa ampun. Pria itu tewas. Steve menatap Arthur, menahan diri agar tidak membunuh si bedebah itu. Akhirnya ia menembak salah satu kaki Arthur agar tidak bisa lari. Pria itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Belum saatnya Arthur mati.
"Kita harus pergi dari sini. Rumah ini kebakaran," Lexi membujuk Alea agar ikut bersamanya. Ia berusaha mendorong kursi roda tetapi Alea justru berpegangan pada meja, menolak untuk diajak pergi.
"Olivia menyuruhku menunggunya. Dia akan datang."
"Lexi, kita harus pergi..." Harry terbatuk-batuk. Api mulai menyebar masuk ke dalam kamar dan membakar tirai gorden.
Lexi dan Alea pun merasakan hal yang sama. Mereka mulai kehabisan oksigen karena asap yang semakin mengepul.
"Lexi, rumah ini akan terbakar. Sebaiknya kita pergi," Harry meraih tangan istrinya, merangkul pundak Lexi dengan posesif.
"Bagaimana dengannya, Harry. Kita tidak mungkin meninggalkannya."
"Kita akan meminta seseorang menyelamatkannya. Ayo, Lexi."
Lexi menggeleng, "Kita harus keluar bersamanya, Harry. Kita semua harus selamat."
"Bawa Lexi keluar. Selamatkan diri kalian." Steve sudah ada di sana. Bergabung dengan mereka.
"Alea tidak mau pergi. Alea harus ikut bersama kita. Tolong selamatkan Alea."
"Pergilah bersama Harry, Lexi." Ucapnya tanpa menoleh kepada gadis itu. Dia tidak akan sanggup melihat pria lain menggenggam tangan gadis pujaannya itu.
"Aku akan menyelamatkan Alea."
"Tapi..."
"Jangan membantah, tuan putri. Tolong dengarkan aku dan jangan membuat bebanku semakin bertambah banyak!" ucapnya dengan sinis. Napasnya mulai sesak, tubuhnya letih dan matanya mulai mengantuk. Apakah ia akan mati di sini? Pertanyaan itu tiba-tiba terlintas di pikirannya.
"Pergilah! Jangan merepotkanku lagi dengan sikap manja yang menjengkellan itu!"
Lexi tersentak, terguncang atas perkataan sinis yang dilontarkan Steve kepadanya.
"Apa kau tuli, Lexi! Bergeraklah! Angkat kakimu. Apa kau ingin kita semua mati konyol hanya karena sikapmu yang keras kepala. Pergilah bersama Harry!"
Harry segera menarik Lexi keluar dari sana. Meninggalkan Steve dan Alea.
Ledakan kembali terdengar.
"Harry...." Lexi menghentikan langkahnya, menoleh kembali ke belakang.
"Kita harus pergi Lexi. Segera. Steve pasti bisa mengatasinya. Percaya padanya."
Brugh!
Atap rumah mulai roboh. Harry berulang kali melindungi tubuh Lexi dari reruntuhan, meninggalkan luka bakar di punggung dan lengan Harry.
Lexi menangis melihat itu. Steve benar, ia hanya beban yang membuat semuanya repot. Olivia juga benar, ia hanya membawa petaka pada orang-orang di sekitarnya.
"Maafkan aku," ucapnya dengan lirihan tertekan.
"Ssttt,,, ini bukan salahmu. Kita sudah selamat."