
Steve meninggalkan New York, dan memutuskan untuk tinggal di Savannah. Menyendiri. Sementara orang orang tuanya juga sudah menetap di Spain.
New York benar-benar memberi beragam kenangan baginya. Entah itu bahagia atau duka dan tidak ada satu pun dari kenangan itu yang bisa ia lupakan. Semuanya menyatu dalam setiap sarafnya. Menyelimuti setiap aliran nadinya, mengikutinya bagaikan bayangan. Dan sialnya bayangan itu tidak akan menghilang meski di tengah kegelapan. Bayangan itu justru semakin nyata saat semuanya terlihat gelap.
Steve sudah bebas, namanya sudah bersih tapi ia masih belum berani memejamkan mata, belum sanggup melihat pantulan dirinya di cermin.
Memaafkan. Apakah ia sudah memaafkan ketidakadilan yang ia dapatkan? Ya, ia membalut luka yang ia dapatkan dengan cara memaafkan meski ia tidak menerima kata maaf dari para bedebah itu. Jika Steve tidak memaafkan para bedebah itu, ia mungkin akan seperti Olivia yang lebih memilih mengadili semuanya dengan tangannya sendiri.
Cara itu pernah terpikir dan bukan hal yang sulit untuk membantai Brian dan konconya. Tapi, Lexi menjadi alasan baginya untuk terlihat seperti manusia. Ia tidak ingin melempar musuhnya dengan menggunakan lumpur yang belum tentu memberikan efek jera pada para musuhnya tapi lumpur tersebut sudah pasti mengotori tangannya.
Akhirnya, ia memutuskan semuanya kembali kepada hukum. Biarkan hukum yang menjalankan perannya dengan benar kali ini.
Namun, meski semuanya sudah berjalan dengan semestinya, meski sudah memaafkan, luka yang digoreskan tetap saja meninggalkan bekas, bukan?
Sepertinya ia butuh lebih banyak waktu untuk menyamarkan bekas luka tersebut. Baiklah, ia akan bersabar lebih lama lagi untuk bisa lebih berani melawan traumanya. Kali ini, ia mempercayakan semuanya kepada semesta yang memiliki segudang skenario.
Tidak ada lagi yang harus ia perjuangkan, ia hanya akan menunggu, menjalani, menikmati, dan bertemankan rentetan kenangan mengerikan.
Steve singgah di rumahnya hanya untuk mengambil beberapa barang. Dari Savannah ia naik feri menuju rumah pantainya di St. Nelda's Island. Ia butuh ketenangan, keheningan dan kedamaian yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Steve memandangi air laut, bayangan saat mobil Lexi terjun ke aliran sungai membuatnya tersentak mundur. Hari itu, adalah hari paling menakutkan dalam sejarah hidupnya. Selama hidup, Steve selalu mempersiapkan diri untuk menerima segala konsekuensi apa pun dalam hidupnya. Tapi ia tidak pernah mempersiapkan diri untuk melihat Lexi pergi meninggalkannya untuk selamanya menuju alam yang berbeda.
Tanpa memikirkan luka yang ia alami, tanpa memikirkan keselamatannya, ia terjun ikut bersama Lexi ke aliran sungai yang begitu dingin hingga mampu membekukan darah dalam tubuhnya.
Mati bersama adalah pilihannya. Manusia selalu punya rencana dan pilihan, namun semesta punya kenyataan.
Steve ditemukan lima hari kemudian dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sementara Lexi tidak ditemukan meski sudah dilakukan pencarian selama hampir empat puluh hari. Dan di hari ke lima puluh, pencarian dihentikan dan dia dinyatakan meninggal dunia.
Willson berduka, Harry sangat kacau, Steve tidak bisa berkomentar. Ia terlalu lelah. Tubuhnya juga babak belur dan butuh perawatan. Hampir satu bulan Steve dirawat di rumah sakit hingga benar-benar pulih. Dan setelah ia dinyatakan pulih, persidangan tentang kasus 13 tahun lalu dibuka kembali.
Dan ini sudah berlalu empat bulan sejak kejadian itu. Steve menjauh dari tepian kapal, mencari kesibukan yang bisa mengalihkannya dari kejadian empat bulan lalu. Ia melihat jam tangannya, sebentar lagi kapal akan menepi.
Akhirnya feri mendarat. Steve segera turun, menginjakkan kakinya di pasir putih. Pasir terasa hangat di bawah kakinya. Angin berembus lumayan kencang untuk melawan panas matahari. Ia memejamkan mata, menghirup udara bergaram. Di pulau laut ini, ia akan menghabiskan waktu sepanjang musim panas dan bertekad akan melupakan kenangan-kenangan mengerikan dan berharap bisa menciptakan kenangan yang membahagiakan. Semoga saja.
Steve memikul tasnya di pundak, menyeret travelbagnya, melewati tiga rumah hingga akhirnya sampai di rumah pantai miliknya. Rumah dengan ukuran paling besar diantara rumah lainnya.
"Steve, kau sudah datang?"
Seorang gadis remaja yang sedang bermain di tepi pantai dengan saudarinya melambaikan tangan ke arahnya. Mereka adalah keluarga Nolan yang merupakan salah satu tetangganya. Pasangan Rose Nolan dan Peter Nolan. Memiliki putri-putri yang sangat cantik. Peter Nolan bekerja sebagai nahkoda. Sedangkan Rose bekerja serabutan. Kadang berjualan kadang tidak. Untuk saat ini, Rose bekerja sebagai tukang bersih-bersih di rumah Steve.
"Kau memotong rambutmu?" gadis remaja itu berlari menghampirinya. "Kau terlihat berbeda hanya karena kita tidak bertemu selama beberapa minggu. Apa yang kau bawa dari kota?" Gadis cantik itu melirik tas miliknya.
"Aku hanya bertanya apakah Steve membawa sesuatu yang menarik dari kota."
"Kau terlihat lebih hidup." Puji gadis itu mengabaikan celotehan adiknya.
"Ya begitulah," sahutnya ringkas.
"Steve, kau membawa sesuatu?" Amor masih tidak menyerah.
"Hanya beberapa batang cokelat yang bisa kau temukan di toserba milik Mrs. Dowson," akhirnya Steve menjawab pertanyaan Amor.
"Tidak ada yang lain?" Amor tampak kecewa. Ia menginginkan sesuatu yang tidak bisa ditemukan di satu-satunya toserba yang ada di wilayah pantai itu.
Steve hanya mengidikkan bahunya.
"Astaga, Amor, biarkan Steve istirahat."
"Hm, baiklah," akhirnya Amor mengalah. "Jika kau tidak ada kegiatan, datanglah bergabung dengan kami, Steve. Kami sedang berjemur untuk mendapatkan kulit eksotis yang mengagumkan. Kita akan membuat istana pasir jika kau ikut bergabung."
"Aku akan memikirkannya nanti. Saat ini aku butuh kopi. Jika kau mau cokelatnya, kau bisa mengambilnya nanti."
Steve sampai di teras rumahnya dan saat ia hendak membuka pintu, pintu di buka dari dalam membuatnya refleks melontarkan umpatan kotor.
Seorang wanita bergamis panjang berdiri di ambang pintu tidak kalah terkejutnya dengan dirinya.
Dengan satu lirikan cepat, Steve memindai penampilan gadis itu. Gamis putih tulang basah yang melekat di tubuhnya, memperlihatkan bikini yang ia kenakan di balik dress panjang tersebut. Entah apa konsep pakaian wanita itu. Lantai kayu basah akibat tetesan yang berasal dari gadis tersebut.
"Oh, kau sudah datang? Kami kehabisan tabir surya. Amor dan Zetta ingin berjemur dan..."
"Dan kau mencuri milikku," Steve menyela dengan ketus.
Wanita itu menggeleng kuat, "Kau tidak ada, jadi aku memutuskan akan memintanya kepadamu setelah kau datang. Kami hanya akan memakai secukupnya saja."
"Tetap saja kau mencuri. Dan apa yang kau lakukan dengan lantaiku, gadis Arabia?!"
"Zenia, cepatlah kemari dan oleskan tabir suryanya." Zetta berteriak memanggil gadis bergaun panjang itu.
"Adik-adikku memanggilku. Aku akan mengeringkan lantaimu nanti. Omong-omong, apa yang kau lakukan dengan wajahmu? Di mana cambang-cambang itu? Kau terlihat menggelikan dengan penampilanmu yang sekarang." Zenia pun berlari menghampiri adik-adiknya.