
Hai... Hai... Hallo semua.. Annyeong, yeorobun! Satu tahun tidak menyapa kalian semua😂. Sungguh rindu ini tidak terungkapkan dengan kata-kata.
Btw, happy anniversary yang ke-15 buat Mimin manis nan baik hati, Sulis/ Erna. Harapannya, semoga menjadi pasangan yang saling melengkapi sampai Jannah. Aamiin.
.
.
.
Darren seperti cacing kepanasan, berguling ke sana kemari di atas ranjang. Tidak menemukan posisi yang pas untuk tidur. Semua posisi terasa salah. Darren menyadari betul sebenarnya bukan ranjangnya yang bermasalah. Ranjang itu masih sama seperti hari-hari sebelumnya, nyaman dan empuk. Masalahnya ada pada pikirannya yang enggan mengenyahkan wajah baru Isabell. Wajah yang mempertontonkan kecantikan gadis itu pada dunia. Membayangkan akan banyak pria yang menoleh kepada Isabel membuatnya marah. Bisakah ia menyaksikan hal itu dan hanya diam disaat Austin yang merupakan adiknya sendiri, calon suami Isabell bisa membangkitkan amarahnya.
Ini gila, benar-benar gila. Darren menyadari hal itu. Dari awal, sebenarnya ia tahu mencintai itu kerap disandingkan dengan kegilaan. Ia mengetahui kegilaan yang menimpa kisah percintaan ayah dan ibunya yang dibumbui kisah tragis. Ia juga menyaksikan kegilaan Lexi dalam mencintai Steven. Semuanya berakhir bahagia, itu karena mereka memang sudah saling mencintai dari awal. Lantas, bagaimana dengan kisahnya? Ia diserang kegilaan yang tidak bisa ia atasi dan ia tahu kisahnya tidak akan berujung dengan Isabell karena Darren tahu dengan jelas bahwa Isabell mencintai Austin.
Darren menendang selimut yang menutupi tubuhnya. Ia benar-benar kepanasan, terbakar oleh amarah juga rasa cemburu.
Beranjak dari tempat tidur, ia mondar mandir tidak jelas di sepanjang ruangan tersebut. Sesekali ia menyugar rambutnya dengan kasar menggunakan tangannya yang terluka tanpa sadar, begitu rasa sakit menyerang, umpatan kasar pun terlontar dengan mulus dari mulutnya. Akhir-akhir ini, ia memiliki banyak keahlian. Mencinta dan mengagumi dalam diam, mengumpat dengan kasar, membayangkan Isabell sepanjang waktu.
"Ck! Aku merindukan rutinitasku yang hanya diisi dengan pekerjaan!"
Darren menarik napas dengan panjang, dilakukan secara berulang kali. Biasanya tindakan itu akan berhasil. Ia akan menemukan ketenangan dan akal sehatnya akan bekerja semestinya. Sialnya, malam ini tidak berguna sama sekali. Ia justru merasakan sesak di dada dan hasrat menggebu ingin menemui Isabell dan bertanya ada apa dengan gadis itu? Mengapa Isabell berdandan sempurna seperti itu?
"Sial!" Kembali sebuah umpatan keluar dari mulutnya saat bayangan wajah cantik Isabell yang sedang tersenyum melintas di dalam pikirannya. Bayangan itu begitu nyata. Seolah sedang menggodanya. Darren merasa jijik kepada dirinya atas kegilaannya ini. Siapa yang tidak gila jika hanya membayangkan wajah yang sedang tersenyum bisa membangunkan nafsu liar yang tidak diharapkan. Darren mati-matian berusaha menenangkan dirinya. Logika dan reaksi tubuhnya tidak pernah sejalan jika menyangkut Isabell.
Darren kembali duduk di tepi ranjang. Melebarkan kedua kaki dan menumpukan kedua sikunya di sana, memandangi lantai dengan pandangan kosong.
"Oh Tuhan," ia terlonjak dan praktis berdiri saat kegilaannya kembali berulah. Dalam pengkhayalannya, lantai keramik itu menampilkan wajah Isabell.
"Aku akan meminta pertanggungjawaban gadis itu!" dengan langkah lebar, Darren keluar dari kamarnya.
Ia memindai sekitar, memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya masuk ke kamar Isabell. Benar-benar tindakan yang sangat tercela, pikirnya dalam hati. Ia bertingkah layaknya seorang pencuri juga penikung. Penikung saudara sendiri. Ck! Sayang, Darren tidak tahu cara menikung paling ampuh adalah jalur langit di sepertiga malam😂.
Alih-alih menuju ke kamar Isabell, Darren justru melangkahkan kaki menuju kamar Lexi dan Steve. Ia harus memastikan pria itu sudah masuk ke dalam kamar. Dengan bodohnya, ia menempelkan telinga di daun pintu untuk lebih memastikan bahwa iparnya benar sudah ada di dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
Suara dari balik punggungnya terang saja membuatnya terlonjak kaget. Refleks Darren menegakkan tubuh, kemudian berbalik. Ayahnya menatapnya dengan sebelah alis yang menukik, menandakan kebingungan pria tua tersebut.
"Naluriku mengatakan bahwa kau bukan pria tercela yang sengaja menguping aktifitas adikmu di dalam sana. Biasanya naluriku tidak pernah salah, Son." Ayahnya mengusap tengkuknya sebelum melanjutkan ucapannya dengan ragu dan berat hati. "Kali ini sepertinya naluriku salah."
"Dad," Darren mengeraang malu.
"Tadinya aku ingin mengunjungimu, melihat keadaanmu. Sepertinya kau akan pulih dengan segera. Daddy juga tidak menyukai Steve yang sombong dan besar kepala. Tapi tidak pernah terpikir untukku mengawasinya seperti yang kau lakukan saat ini. Dan omong-omong, Dude, Steve sudah mengubah ruangan itu menjadi kedap suara. Dan sepertinya, setiap ruangan memang harus diubah."
Darren menggigit lidahnya agar makian yang sudah ada di tenggorokannya tidak terlontar keluar. Sindiran halus ayahnya cukup menohok.
"Aku tidak bermaksud untuk menguping, Dad."
"Ya, kau pasti mempunyai alasan." Ayahnya menepuk pundaknya sembari berlalu dari sana.
Darren berdecak, memandangi punggung ayahnya yang semakin menjauh menuruni anak tangga.
"Ini semua gara-gara gadis itu," ia bergumam seraya membawa kakinya ke kamar Isabell. Tidak ada keraguan saat ia mengangkat tangan untuk mengetuk pintu kamar Isabell.
Tidak berapa lama pintu dibuka. Isabell mengenakan gaun malam berwarna putih dengan ukuran besar. Rambut coklatnya yang panjang dibiarkan tergerai. Wajahnya juga sudah bersih dari riasan make up. Terlihat jika gadis itu sudah bersiap-siap hendak tidur.
"Aku haus."
Kernyitan di kening Isabell semakin dalam. Darren hampir menertawakan kekonyolannya. Jika ia haus harusnya ia pergi ke dapur, mengapa juga harus ke kamar Isabell.
"Haus? Air di kamarmu tidak ada?"
"Jika ada, aku tidak akan kemari."
"Aku akan mengambilnya," Isabell berbalik, berjalan menuju nakas dimana air minumnya ia letakkan.
Tanpa dipersilakan, Darren mengikuti Isabell melintasi ruangan.
"Aku bertanya-tanya dari mana kau mempelajari seni berdandan."
Isabell berjengit kaget. Refleks, ia berbalik. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat gelas berisi air dalam genggamannya tumpah.
Darren mengambil alih gelas dari tangan Isabell, meletakkan gelas tersebut kembali ke atas nakas. Kemudian ia menarik tangan Isabell, mengeringkan tangan gadis itu ke bajunya tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Isabell.
"Di mana kaca matamu?"
"A-aku menyimpannya di laci."
"Kenapa kau menanggalkannya?"
"Aku menggantinya dengan softlens."
"Kau juga melepaskan kawat gigimu."
"Ya. Gigiku tidak membutuhkannya lagi."
"Benarkah?" Darren menukik alisnya, menatap mulut Isabell dengan intens.
Isabell mengangguk cepat dan tidak berani mengangkat kepala lagi.
"Bolehkah aku melihatnya. Kenapa gigimu tidak membutuhkannya lagi?"
"Hah?" Isabell mengangkat kepala, terkejut dengan permintaan Darren.
Darren yang juga baru menyadari jika permintaannya memang sangat konyol, tersedak seketika. Isabell benar-benar membuat hidupnya kacau.
"Lupakan!! Kau benar-benar pembuat masalah." suaranya berubah dingin tanpa bisa ia hentikan. "Apakah dengan berdandan seperti ini Austin akan lebih memperhatikanmu?"
"Austin mengatakan jika dia memang menyukai penampilan baruku," akunya dengan polos. "Dia sangat perhatian kepadaku."
"Ya, hanya karena dia mengajakmu berkencan?"
"Ya, kami memang akan berkencan besok malam."
Darren menggeram mendengar jawaban polos nan apa adanya itu. Memang tidak ada yang salah dengan jawaban Isabell, tapi tidakkah gadis itu menyadari jika Darren sedang cemburu?
"Batalkan kencanmu dengan Austin."