
"Akan kupanggilkan Beth untuk datang memeriksa Ms. Willson." Johan, si pria setengah baya bersuara dari balik punggung Steve yang sedang menggendong Lexi, membawa gadis itu ke kamar.
"Aku tidak ingin diganggu. Dia hanya tertekan. Istirahatlah."
"Bagaimana dengan sopir yang menunggu di luar?"
"Hal seperti itu tidak harus kau tanyakan kepadaku, Johan."
"Baiklah. Selamat menikmati waktumu, Steve."
Steve tidak menyahut ucapan pelayannya itu. Ia terus berjalan, melewati kamar yang biasa ia tempati di lantai dua. Sekarang, mereka berada di lantai tiga, Steve memasuki kamar mewah yang didominasi warna hitam abu-abu. Pun, ia menekan tombol yang mengantar mereka ke dalam ruangan lain. Ruangan yang jauh dari kata mewah. Kamar sederhana yang didominasi warna putih.
Secara perlahan dan penuh hati-hati, ia meletakkan Lexi di atas ranjang. Tirai jendela ia singkap, sinar bulan menerangi ruangan tersebut. Suara jangkrik terdengar bersahutan. Steve, meninggalkan kamar, menuju pantry untuk mengambil makanan. Beberapa potong muffin dan irisan buah serta segelas susu. Meletakkannya di atas nampan, membawanya ke kamar.
Sampai di kamar, Steve tidak lantas membangunkan Lexi. Nampan tersebut ia letakkan di atas nakas. Saatnya bekerja. Pun ia mengambil posisi di atas ranjang, bersebelahan dengan Lexi. Paha mereka bahkan saling bersentuhan. Ukuran ranjangnya memang tidak sebesar dan seluas di kamar yang biasa ia gunakan.
Steve membuka layar macbooknya. Hal pertama yang ia lihat adalah Tom yang berhasil diamankan anak buahnya. Ia yakin sebentar lagi Pax, Darren atau bahkan Austin akan datang mencari Lexi. Dan kemungkinan, rumahnya akan diacak-acak sedemikian rupa. Steve tersenyum membayangkan kepanikan di wajah para Willson tersebut. Ia dan Lexi akan aman di sana. Rumahnya, ia desain sendiri. Tidak akan ada yang tahu selain dirinya dan orang kepercayaannya yang bertanggung jawab atas pembangunannya.
Setengah jam, ia bertaruh, Willson akan menyerang rumahnya. Tidak ingin membuang-buang waktu menunggu selama setengah jam, Steve melanjutkan aktivitasnya. Di layar terlihat sang Presiden dan Brian sedang berdebat. Mr. Presiden memaki putranya karena kebodohannya mempermalukan Lexi. Darren ternyata bergerak cepat. Pria itu melayangkan ancaman akan membeberkan skandal Mr. Presiden dengan beberapa wanita muda jika Brian tidak melayangkan permintaan maaf secara terbuka. Mr. Presiden terlihat memerintah Brian agar melakukannya dengan segera jika tidak skandal mereka akan mempengaruhi kampanye mereka. Steve tertawa sinis. Ayah dan anak sama saja. Predator kelamin! Cemoohnya dalam hati.
Sebuah email masuk, Steve segera membukanya. Sebuah vidio. Sekumpulan pria yang sepertinya sedang mengadakan rapat. Ia mengenali beberapa wajah yang ada di sana. Termasuk Riston. Sepertinya pria itu bekerja untuk salah satu pria yang ada di sana.
Kening Steve mengerut dalam, Mr. Presiden masuk tidak berapa lama kemudian.
"Ah, aktivitas itu terjadi di istana putih rupanya." Gumamnya dengan nada geli. Sayang sekali, ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sepertinya ada ruang rahasia juga yang luput dari pengawasannya.
"Aku merindukanmu. Kenapa kau lama sekali datang?"
Steve menoleh, Lexi sedang mengigau. Kening gadis itu mengerut dalam. Steve menyingkirkan macbook dari genggamannya. Diperhatikannya wajah gadis itu dengan seksama. Wajah sayu yang penuh dengan tekanan. Sebulir air mata keluar dari sudut matanya, Steve mengusapnya secara perlahan.
"Aku anak ayah dan ibuku, 'kan?"
"Ya." Steve menjawab pertanyaan gadis itu. Sebuah senyuman terukir di wajah Lexi. Kerutan di dahinya juga sudah menghilang. Lexi tiba-tiba memiringkan tubuh, memeluk pinggang Steve dan membelit kaki pria itu. "Tidurlah, Tuan putri. Kejutan akan menunggumu esok pagi. Apakah aku sudah mengatakan jika aku senang bertemu denganmu?"
Lexi semakin merapatkan tubuh mereka, Steve bergeming, tidak mendorong atau pun memanfaatkan keadaan meski hasratnya sudah terusik. Yang ia lakukan adalah memandangi wajah gadis itu hingga bulan berganti tugas dengan matahari. Sebelum Lexi bangun, Steve segera beranjak dari tempat tidur. Ada hal penting yang harus ia lakukan terhadap gadis itu. Steve membuka laci, mengambil benda yang terlihat seperti jarum suntik. Sebuah alat kecil berukuran sebiji beras, ia suntikkan ke dalam tubuh Lexi. Ini akan mempermudah pekerjaannya.
Lexi mengerang merasakan gigitan semut di lengannya. Tidurnya terusik, dan aroma citrus yang menyegarkan memanjakan hidungnya. Perlahan ia membuka mata. Mata hari langsung menyilaukan pandangannya. Selain mentari, pohon citrus juga menyambut paginya. Pagi yang berbeda.
"Sejak kapan ada citrus di halaman kamarku?"
"Kamarku, bukan kamarmu, Ms. Willson."
Lexi berjengkit kaget. Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Steve berdiri di ambang pintu, mengenakan celana piyama sutra dengan t-shirt putih polos, membawa sebuah nampan..
"Kenapa kau ada di sini?!" Lexi memindai ruangan. Ruangan asing yang membuat mimik wajahnya berubah waspada. "Maksudku, kenapa aku ada di sini?" Ia segera meralat pertanyaannya. Pakaiannya masih lengkap, ia bisa merasakan kehangatannya di tubuhnya meski ia tidak memeriksanya.
"Dan ini jelas bukan ruang tamu!"
"Ya, ini kamarku."
"Kenapa kau lancang sekali membawaku masuk ke dalam kamarmu. Apakah kau tidak punya sopan santun?!"
"Ini adalah bentuk kesopananku, Ms.Willson. Tapi jika kau lebih suka tidur di ruang utama disaksikan oleh para pekerjaku, sepertinya aku memang sudah melakukan kesalahan. Harusnya kubiarkan kau di sana agar orangku bisa menikmati wajahmu yang cantik," Steve melangkah masuk, meletakkan nampan di atas meja. "Tapi, aku bukan orang yang suka berbagi." Ucap Steve setengah berbisik, tepat di depan wajah Lexi, membuat gadis itu bisa merasakan aroma mint yang keluar dari napas pria itu. Perutnya mulas seketika disusul bunyi berkeroncong, entah karena ia merasa lapar atau tergoda mendengar pujian Steve yang mengandung sindiran tersebut. Pria itu baru saja mengatakan ia cantik. Lalu apa masalahnya? Kenapa ia harus bersemu?
Lexi memalingkan wajah, menatap ke arah nakas. Perutnya kembali berulah. Ternyata ia memang sedang lapar.
"Ke-kenapa ada dua nampan?"
Steve menjauhkan wajahnya, Lexi spontan mengembuskan napas lega. Pria itu berdiri di tepi ranjang.
"Kupikir kau akan bangun tengah malam. Makanlah, kurasa kau pingsan karena kelaparan."
"Pi-pingsan?"
"Itulah alasan kenapa kau bermalam di sini, Ms. Willson."
"Ber-bermalam? Ponselku, di mana ponselku. Daddy, Mom, Darren dan Austin pasti mencariku. Mereka pasti sangat khawatir."
"Ya, aku baru saja melayangkan tuntutan ganti rugi kepada mereka." Steve duduk di tepi ranjang, Lexi refleks menjauhkan dirinya, menolak untuk bersentuhan.
Alis Steve menukik ke atas melihat reaksi gadis itu, "Sepanjang malam kau memelukku, Nona."
Manik Lexi membeliak, "Itu tidak mungkin!"
"Ya, itu kenyataannya. Sekarang, makanlah."
Lexi menggeleng, menolak untuk makan meski cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta. "Kenapa kau melayangkan ganti rugi kepada keluargaku? Jika ini masalah desainmu yang tidak sengaja kucuri, itu masalah kita."
"Ya, kau benar. Saudaramu menghancurkan propertiku."
"Darren pasti tahu jika kau menyandraku di sini."
"Astaga, tuduhan macam apa ini?"
"Aku ingin pulang." Lexi melompat turun, melangkah lebar menuju pintu.
"Tidak sebelum kau makan. Lagi pula kita perlu membahas masalah desain itu. Bukankah tujuanmu datang tadi malam untuk membicarakan hal itu?"