H.U.R.T

H.U.R.T
Sampai Jumpa



"Ibu... Oh Tuhan, aku meridukanmu." Lexi menghambur ke dalam pelukan Daphne yang disambut wanita itu dengan tidak kalah antusias.


"Ibu juga merasakan hal sama. Ibu senang melihatmu," Daphne mengurai pelukan mereka untuk memberi kecupan di pipi Lexi.


"Bagaimana kabarmu?" Diusapnya rambut Lexi dengan lembut, sungguh kedatangan Lexi suatu kejutan setelah gadis itu mengabaikan panggilannya berulang kali. Ia faham jika Lexi memang butuh waktu untuk bisa mengerti dengan semua kondisi ini. Terbersit rasa bersalah terhadap Lexi meski dia juga baru mengetahui tentang kebenaran putranya baru-baru ini.


"Luar biasa. Sama sepertimu. Kau pasti juga sangat bahagia, bukan? Putra kesayanganmu masih hidup. Bukankah ini seperti mimpi bagimu, Ibu? Mimpi indah yang menjadi nyata?"


Daphne tidak menyangkal hal itu. Ibu mana yang tidak bahagia dengan kenyataan luar biasa itu. Anak yang sudah dianggap tiada ternyata masih hidup.


"Ya, Ibu sangat bahagia. Ayahmu sampai mendonasikan semua pendapatan kebun anggur untuk bulan ini."


"Ayah pasti tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaannya saat ini. Hm, kukira aku juga bisa bertemu Ayah hari ini. Jadi Ayah sedang pergi, Ibu?"


Lexi melihat ada beberapa koper yang sedang tergelatak di ruang utama juga beberapa barang yang sudah dikemas. Ia ingin bertanya, tapi ia mengurungkan niatnya itu dengan segera. Untuk apa dia bertanya? Kelak mereka tidak akan saling berhubungan lagi. Semuanya tinggal kenangan. Ia menduga jika Steve akan membawa kedua orang tuanya untuk tinggal bersamanya. Ya, itu memang sudah selayaknya.


"Ya, ada beberapa hal yang hendak dia urus. Berhubung kau sedang ada di sini, bagaimana jika kita ke dapur dan memasak makanan kesukaanmu?"


"Maaf, Ibu, aku tidak bisa berlama-lama. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan," ucapnya penuh sesal. Lexi merasa tidak enak hati saat melihat mimik kecewa yang terlihat di wajah Daphne.


"Kau sedang buru-buru?" Dengan segera wanita itu menghilangkan raut kecewanya dengan sebuah senyuman hangat.


Lexi mengangguk sungkan, ia meremass tas tangannya, sebuah undangan pernikahan ada di sana. Lexi menduga jika sepertinya Daphne belum mengetahui perihal pernikahannya dengan Harry yang akan berlangsung dalam hitungan hari.


"Aku ingin bertemu dengan putramu, Ibu? Di mana dia?"


Steve yang dari tadi memperhatikan keduanya segera melanjutkan langkahnya, mendekati kedua wanita yang begitu berarti dalam hidupnya.


"Aku di sini."


Lexi menoleh dengan cepat. "Hai."


"Hai,"


Hening. Keduanya bergeming di posisi masing-masing sampai tidak ada diantara mereka yang menyadari bahwa Daphne sudah tidak ada di sana.


"Kau datang mengantar undangan resmi dan khusus?" Steve bersuara, walau ia lebih suka mereka diam dan saling memandang. Sesuatu yang tidak mungkin, dan Steve sadar akan hal itu. Untuk itulah dia bersuara karena ia memang sudah bisa menebak tujuan kedatangan Lexi. Sangat tidak mungkin jika Lexi datang untuk mengajaknya berkencan sebagai perpisahan yang sangat manis plus menyakitkan. Dan lebih tidak mungkin lagi jika Lexi datang untuk mengumumkan pembatalan pernikahannya.


Astaga, jika itu terjadi, Steve mungkin akan salto selama tujuh hari tujuh malam.


Lexi menganggukkan kepala, pupuslah harapan konyolnya itu.


"Datang sendiri?"


"Pengawal."


"Hmm," Steve bergumam


"Ya,"


"Buru-buru?" Tanya pria itu kemudian.


Lexi melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Aku ada janji bertemu dengan Harry sekitar dua jam lagi."


"Fitting?"


"Ya."


Steve mengangguk faham. "Apa kau keberatan jika aku aku meminta waktumu selama 60 menit? Hanya satu jam."


Lexi menggelengkan kepala.


"Mau di sini atau di taman?"


"Taman."


"Ya. Aku juga sudah menebak jika kau akan memilih taman. Ayo." Steve mempersilakan Lexi untuk melangkah di depan. Gadis itu jelas tahu jalan menuju taman. Steve tidak perlu membimbingnya.


"Kudengar, kau yang mengusulkan taman ini dibuat. Aku tidak menyangka jika kau sangat pintar menanam bunga dan yang lainnya."


Keduanya duduk di kursi dimana meja kecil menjadi pembatas diantara keduanya. Jarak tipis itu terlihat begitu luas bagi Steve.


Steve membawa dua minuman kemasan yang ia ambil asal dari lemari pendingin. Pria itu membuka minuman milik Lexi dan mendorongnya ke arah gadis itu.


"Terima kasih," ucap Lexi. Gadis itu terlihat sangat tegang juga sungkan.


"Kebetulan saja tanah di sini juga sangat subur. Ayah rajin menyiramnya dan Ibu juga memupuknya."


Steve tergelak, "Jadi taman ini hasil dari kekompakan sebuah tim?"


"Bisa dikatakan seperti itu."


"Aku senang kau tidak mengubah panggilanmu terhadap Ayah dan Ibuku."


"Mereka sudah seperti orang tua kedua bagiku."


"Mereka tidak tahu soal pernikahanmu."


"Dan kau memang tidak ingin mereka tahu."


Steve tertawa canggung. Tebakan Lexi tepat sasaran. Meski menyembunyikan pernikahan Lexi adalah hal yang tidak mungkin karena media akan menyiarkannya secara besar-besaran. Tapi saat acara itu berlangsung, ia sudah mengatur jadwal keberangkatan ayah dan ibunya. Di mana mereka akan tinggal selamanya. Saat pesta itu terjadi, ayah dan ibunya sudah berada di dalam pesawat atau mungkin sudah mendarat di belahan dunia lain.


Kata lain akan sedih melihatku. Cukup Beth dan Roxi yang membuat suasana hatiku kacau karena situasi ini. Jangan sampai Mom dan Dad melayangkan tatapan iba kepadaku.


"Kau akan datang?" Lexi mengeluarkan sebuah kartu yang merupakan tiket menuju nereka kehidupan bagi Steve.


Steve menerima undangan tersebut. Menatapnya dengan seksama seolah ia sedang membaca kata demi kata yang tertulis di sana. Bukan itu yang ia lakukan. Tidak satupun dari kata yang ada di sana, ia baca. Ia hanya menghitung sebanyak dua puluh, mengalihkan kegusarannya yang bisa saja meledak sewaktu-waktu.


"Kau ingin aku datang?" Steve mengembalikan tatapanya kepada Lexi.


Lexi sedikit terperanjat mendengar jawaban Steve yang juga merupakan sebuah pertanyaan.


"Sejujurnya aku tidak ingin kau datang."


"Kalau begitu, aku tidak akan datang."


"Tapi aku juga membutuhkanmu ada di sana untuk mendoakanku."


"Jika begitu maka aku akan datang."


Lexi mendelik, "Kau ingin datang atau tidak?"


Steve tergelak, tidak memberi jawaban sama sekali.


"Steven,"


"Ya, Lexi."


"Kau baik-baik saja?"


"Aku sedang patah hati bagaimana bisa baik-baik saja."


Kembali hening. Hanya terdengar hembusan angin yang tidak mampu menyejukkan hati Steve sama sekali.


"Steven,"


"Ya, Lexi."


"Aku turut prihatin dengan apa yang kau dan Olivia alami."


"Itu sudah berlalu." Steven menghembuskan napas dengan panjang. Meski sudah berlalu lama, tapi sakitnya masih terasa dan dampaknya masih terus menghantui. Tapi, ia tidak akan berbagi kesedihan itu dengan Lexi, tidak sekarang.


"Apakah aku sudah mengucapkan selamat kepadamu atas kehamilan Olivia."


"Itu tidak perlu, dia tidak sedang mengandung bayiku."


"Dia berbohong."


"Begitulah kira-kira."


"Oh." Lexi sedikit terkejut, mau berapa banyak lagi kebohongan yang dipertontonkan kepadanya.


"Aku bertemu dengannya kemarin,"


Steve langsung menegakkan tubuhnya. "Dimana? Apa dia melakukan sesuatu yang buruk kepadamu? Dia mengatakan sesuatu?"


Lexi kesal mendapati dirinya yang terenyuh atas kekhawatiran yang ditunjukkan Steve secara jelas.


"Tidak, dia tidak melakukan apa-apa. Tapi akulah yang berkata sedikit kejam kepadanya."


Steve mengerutkan keningnya, ia tidak yakin dan percaya bahwa seorang Lexi bisa bersikap kejam.


"Apa yang kau katakan?" Ia bertanya penuh penasaran.


"Aku mengatakan jika dia tidak diundang ke pestaku dan aku juga mengatakan jika kau bukan orang kesukaanku lagi. Dia terlihat menyedihkan karena tidak mendapat perhatianmu."


"Kau mengatakan seperti itu?" Steve masih tidak percaya.


"Ya, persisnya seperti itu. Sampai-sampai hidungnya kembang kempis karena menahan marah. Dan setelahnya aku merasa buruk tapi juga lega."


Steve tergelak, "Astaga, kau melakukan sesuatu yang hebat dan berani. Harusnya aku ada di sana untuk menyaksikan hal itu. Bagaimana wajah seorang Lexi terlihat saat melontarkan sindiran sinis."


"Ck! Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan."


Ponselnya berdering, panggilan dari Harry.


"Belum satu jam," Steve melirik jamnya. "Kurang dua puluh menit. Tapi ada yang lebih mendesak, aku bisa apa." Pun ia berdiri, mempersilakan Lexi menjawab panggilan.


Panggilan hanya berlangsung selama 30 detik, Steve menghitungnya. Dan sekarang lah saatnya perpisahan diantara mereka.


"Aku harus pergi."


"Ya."


"Sampai jumpa, Steven."


"Sampai jumpa." Lega saat Lexi tidak mengucapkan selamat tinggal.


"Lexi," ia memanggil Lexi saat gadis itu sudah berjalan sebanyak tiga langkah.


"Ya?"


"Lain kali jika bertemu dengan Olivia, menghindarlah sejauh mungkin. Jangan pernah menatap matanya sama sekali. Dan bolehkan aku mendapat pelukan sekali saja sebelum nama Geonandes tersemat di belakang namamu?"