H.U.R.T

H.U.R.T
Berkencan



Oleshia melihat mobil Steve keluar dari pekarangan rumah. Pekerjaan apa yang begitu mendesak hingga Steve pergi meninggalkannya di pagi buta seperti ini. Terkadang ia tidak mengerti jalan pikiran Steve. Dan sepertinya memang tidak ada yang bisa dimengerti dari pria itu. Hal itu memicu kekesalan di hatinya.


Oleshia berbalik, ia juga tidak bisa memejamkan mata lagi setelah apa yang ia saksikan. Siaran itu sangat mengusiknya. Bayangan tentang bagaimana para pria itu melecehkan saudarinya membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Ia marah, sangat marah. Tapi, di tengah kemarahan yang ia rasakan, Oleshia juga merasa takut. Ia butuh pengalihan untuk menghilangkan ketakutannya tersebut. Sesuatu yang menguji adrenalin.


Oleshia tahu kemana ia harus pergi. Pun ia menanggalkan pakaiannya, menggantinya dengan pakaian casual.


Sekarang, ia sedang melintas di jalanan kota. Melaju dengan kencang, beradu dengan angin. Mobilnya meliuk-liuk gesit membelah jalan. Tidak butuh waktu lama, ia sampai pada tujuannya. Sebuah arena balap. Seperti dugaannya, tempat itu masih ramai.


Kedatangannya langsung menarik perhatian semuanya. Termasuk Austin yang selalu menghabiskan waktu di sana.


Austin melompat turun dari atas mobil, berjalan santai menghampiri mobil Oleshia.


Tok.tok.


Mengetuk jendela mobil. Perlahan kaca mobil turun, Austin menukik alisnya sebelum seringaian nakal terukir di wajahnya.


"Akhirnya kau datang." Dibukanya pintu mobil tersebut, Oleshia pun segera turun. Tatapanya tidak lepas dari wanita itu sama sekali. Oleshia, wanita yang mengalahkannya dalam balapan beberapa minggu lalu sebelum ajang fashion digelar.


"Kau menungguku?"


"Tidak benar-benar menunggu." Dengan satu kali lirikan cepat, Austin menilai penampilan Oleshia. Kemudian ia bersiul nakal. "Sepertinya yang kau butuhkan adalah angin segar."


"Dan sepertinya aku tidak akan mendapatkan lawan yang seimbang di sini." Oleshia bergumam malas. Matanya terfokus pada sekumpulan orang yang sedang menikmati minuman mereka juga rokok yang diyakini oleh Oleshia bukan sembarang rokok.


"Aku akan berpura-pura tidak mendengar apa yang kau katakan baru saja." Austin mengeluarkan sebatang rokok dari balik jaketnya, membakarnya dengan sebuah pemantik yang menarik perhatian Oleshia. "Ternyata kau seorang model." Austin mengembuskan asap rokok ke wajah wanita itu.


"Kau terkejut? Aku juga tidak menyangka jika kau juga sangat lumayan saat berjalan di atas panggung. Luwes dan mulus."


"Terpukau?"


"Mungkin bagi wanita bodoh."


"Dan kau bukan wanita bodoh?" Austin melirik sekilas, sebelum menyandarkan tubuh di mobil Oleshia. Kepalanya mendongak menatap langit luas yang tampak kelam.


"Kupikir kehidupan Willson begitu penuh aturan." Oleshia ikut menyandarkan tubuh ke mobil. Melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Austin, mendongak menatap langit.


"Apakah aku terlihat seperti anak pembangkang?"


"Ya, begitulah."


"Lantas, apa yang kau lakukan di sini?" Austin membuang rokoknya yang masih tersisa setengah, menginjak puntung tersebut dengan sepatunya. "Ingin bersenang-senang?" Dengan gerakan cepat, Austin mengukung tubuh Oleshia. Manik keduanya beradu. Hembusan napas saling bersahutan, menyapu kulit wajah masing-masing.


"Apa yang kau miliki?" Oleshia bertanya ringan.


"Semuanya."


"Tidak menarik."


"Apa yang kau inginkan?" Jemari Austin menjamah kulit wajah Oleshia. "Bagaimana dengan bersenang-senang di atas ranjang?"


Oleshia terkekeh, "Aku memiliki kekasih yang begitu hebat dalam hal seperti itu." Ia mendorong tubuh Austin menjauh.


"Dan sepertinya kekasihmu hanya hebat dalam hal itu." Austin tersenyum puas melihat air wajah Oleshia yang berubah masam. "Tidak dengan perhatian," bisik Austin lirih. "Aku ahli dalam hal itu."


"Rayu saja wanita bodoh di luar sana!"


"Ah, ya, aku lupa kau bukan wanita bodoh." Austin mengerling nakal. Dibukanya pintu mobil Oleshia, lalu didorongnya tubuh wanita itu masuk. "Aku akan menemanimu bermain. Jika kau menang, aku akan menjadi tawananmu," ia menunduk, memberikan satu kecupan di pipi Oleshia. "Jika aku menang, berkencan lah satu hari denganku. Taruhan yang sangat tidak adil, bukan? Tapi inilah tantangannya, Oleshia."


____


"Bagaimana bisa kalian tidak tahu kemana temanku dipindahkan?!" Lexi menatap geram para petugas yang menyatakan bahwa Lily Oswald sudah tidak ada di sana. Ia mencoba menghubungi Vincent, nomor pria itu tidak bisa dihubungi.


"Aku ingin bertemu dengan Vincent Trey."


"Mr. Trey sedang dalam masalah. Dia tidak bisa dihubungi atau pun ditemui."


"Astaga! Apa yang terjadi sebenarnya di sini?" Lexi memijat pangkal hidungnya. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk memasak buat Lily. Makanan kesukaan sahabatnya itu.


"Sebaiknya Anda pulang, Nona."


"Lily bahkan belum menjalani sidang pertamanya. Kenapa kalian memindahkannya begitu saja."


"Kami kurang tahu, Nona."


"Kau datang untuk mengunjungi temanmu?"


Suara yang mulai familiar di telinganya membuat Lexi menghentikan langkah. Berbalik dan menemukan Steven ada di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


Steve berjalan mendekatinya, "Mulai penasaran denganku?" Melirik kantongan yang dibawa oleh Lexi.


"Penasaran dan heran memang beda tipis. Kau selalu ada di tempat di mana aku berada."


"Artinya aku seperti bayangan bagimu?"


"Ya. Muncul di waktu tertentu dan hilang di waktu tertentu." Lexi melanjutkan langkahnya diikuti oleh Steven. Pria itu menyesuaikan langkahnya dengan langkah kaki Lexi yang pendek dan lamban. "Apa yang kau lakukan di sini? Kau belum menjawabnya."


"Ada hal yang harus kuurus."


"Apa itu?"


"Sebaiknya kau tak usah tahu."


Lexi mengerutkan keningnya mendengar jawaban pria itu. "Kenapa?"


"Karena kau akan takut."


Jawaban Steven semakin aneh menurutnya.


"Aku merasa, berbicara denganmu tidak ada gunanya."


"Apa yang kau bawa?" Mengabaika sindiran Lexi kepadanya, Steve mengambil alih kantongan dari tangan Lexi.


"Makanan kesukaan Lily. Tapi dia sudah dipindahkan." Gadis itu menarik napas panjang. "Aku memasaknya sendiri. Terlalu bersemangat dan terburu-buru hingga aku tidak sengaja mengiris jariku." Lexi spontan memamerkan jarinya yang diplester.


"Kau pintar memasak?"


"Tidak. Aku sengaja belajar agar Lily terkesan."


"Jangan melakukan hal yang sia-sia."


"Apanya yang sia-sia? Aku berhasil! Hanya saja mereka memindahkan Lily entah kemana? Apakah dia baik-baik saja atau tidak, aku pun tidak tahu. Di sedang marah kepadaku dan aku belum sempat meminta maaf."


"Apa yang akan kau lakukan dengan makanan ini?"


Lexi mendelik kesal. Ia sedang meluapkan apa kegundahannya dan pria di hadapannya itu hanya peduli tentang makanan.


"Aku akan membawanya pulang." Lexi berniat merebut makanannya kembali dari tangan Steve, tapi gerakan pria itu lebih cepat darinya.


"Aku belum sarapan."


"Bukan urusanku."


"Aku lapar."


"Itu masalahmu."


"Temani aku."


"Aku tidak punya waktu senggang."


"Sayang sekali aku tidak mendengar penolakan." Steven mendorong tubuh Lexi masuk ke dalam mobil.


"Kau menculikku, Ivarez! Ini pemaksaan."


"Penculik atau pemaksa?


"Penculik yang pemaksa!"


"Dan sepertinya kau sangat suka diculik secara paksa. Kenakan sabuk pengamanmu. Atau aku yang akan mengenakannya." Steve meletakkan makanan buatan Lexi di atas pangkuannya. Pemandangan yang sedikit janggal menurut Lexi.


"Kita mau kemana?"


"Berkencan."