
Akhirnya hari itu tiba. Hari di mana Lexi akan mengikrarkan janji sehidup semati dengan Harry, pria pilihannya. Kediaman Willson terlihat sangat sibuk. Mansion megah itu semakin mengagumkan setelah didekor bak istana raja yang ada di dalam cerita dongeng dan kabar baiknya, Lexi memang seorang putri dalam kehidupan nyata. Putri yang dimanja dan dicintai sepenuh hati oleh keluarganya dan kini gelar putri dalam arti sesungguhnya akan tersemat pada dirinya setelah Harry dan dirinya mengucap janji suci.
Cuaca begitu indah dan mendukung, seakan semesta memang sangat merestui pernikahan ini.
Gerbang mansion dibuka dengan lebar, mempersilakan para tamu undangan masuk untuk menjadi saksi hari bahagia ini. Pengawasan dilakukan dengan ketat. Setiap tamu harus melewati tiga jalur pemeriksaan.
Lexi sedang didandani di kamarnya, begitu juga dengan ibunya, Alena.
Sejak dua jam yang lalu Alena tidak berhenti menitikkan air mata, membuat wanita yang mendandaninya sedikit kerepotan. Tapi siapa yang berani protes? Mereka sudah dibayar mahal.
"Mom, berhenti menangis," Lexi membujuk untuk kesekian kalinya. Mereka duduk berdampingan dengan tangan yang saling menggenggam.
"Air matanya tidak mau berhenti," Alena mendongak, menghalau agar kristal bening itu tidak meluruh lagi ke wajahnya.
"Aku hanya menikah, bukan untuk pergi selamanya."
Alena mengangguk membenarkan ucapan putrinya itu. Harusnya ia memang bahagia, bukan? Harry pria yang baik. Semua mengakuinya. Alena sendiri bertanya-tanya apa arti dari tangisannya ini? Kenapa rasanya berat sekali merelakan Lexi. Hatinya berdenyut sakit seolah Lexi akan dirampas darinya untuk selama-lamanya.
Ya, memang benar jika seorang ibu akan merasa bersedih saat mengantar putrinya ke altar pernikahan. Tapi kesedihan itu biasanya bercampur dengan haru juga lega karena sudah menemukan pasangan yang diinginkan. Alena tidak merasakan seperti itu. Ia percaya pada Harry, tapi ketakutan itu begitu nyata ia rasakan.
"Kau akan menghubungi Mommy setiap hari?"
"Tentu saja. Aku akan menghubungi Mommy setidaknya tiga kali dalam sehari. Berhentilah menangis. Ini hari bahagiaku."
"Kau sungguh bahagia?"
"Mom, bahagia itu kita yang menciptakan. Bukankah itu yang selalu kau dan Daddy katakan. Aku sedang berusaha menciptakan kebahagiaanku bersama Harry."
"Mom dan Daddy akan merasa gagal jika kau tidak bahagia."
"Dan aku tidak akan membuat kalian merasakan hal itu. Kau dan Daddy adalah orang tua terhebat. Aku tidak tahu apa jadinya diriku tanpamu dan Daddy. Mungkin aku tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, Mom, tapi aku sungguh merasa bersyukur berada di tengah-tengah keluarga ini, menjadi bagian dari Willson. Dari banyaknya anugerah yang diberikan Tuhan kepadaku, kau adalah salah satu anugerah terindah itu, Mom. Aku masih ingat bagaimana pertemuan pertama kita. Kau sedang menangkap ikan disaat ibu dari anak-anak yang lain memasak dan bergosip. Aku juga masih ingat saat kau membuat bekal untuk pertama kalinya untukku. Saat mengingat itu sekarang, hatiku masih berdebar hangat, aku masih bisa merasakannya." Lexi menjeda ucapannya untuk membawa tangan ibunya ke jantungnya yang memang sedang menderu-deru tidak karuan. Suaranya tercekat, menahan emosi yang berkecamuk mengingat masa-masa itu.
"Aku takut membayangkan jika Daddy akan tertarik dengan wanita lain. Aku khawatir Daddy akan mengabaikanku. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, aku langsung jatuh cinta padamu saat pertama kali melihatmu di perkemahan itu, Mom. Hingga hari ini, rasa cintaku kepadamu tidak berkurang sedikit pun. Tidak ada yang bisa menghancurkan rasa cintaku terhadap keluarga ini. Aku beruntung menjadi bagian dari keluarga ini. Kau lebih mencintaiku dibanding kedua putramu. Kau lebih perhatian kepadaku dan kau lebih sering menghabiskan malam bersamaku hanya untuk membacakan dongeng yang tidak pernah dilakukan oleh ibuku. Jadi, tolonglah, Mom tolong berhenti menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis."
Keduanya sudah saling berpelukan. Lexi tidak menahan tangisannya lagi. Pun ia meluapkan semuanya.
"Mommy sangat mencintaimu, Sayang. Tolong berjanji lah kau akan bahagia."
Lexi menganggukkan kepala, "Aku akan bahagia, Mom."
"Oh, Mom, kau memang ibu terhebat."
"Kau putriku yang luar biasa." Alena mengurai pelukan mereka lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh permukaan wajah Lexi.
"Apa yang terjadi di sini?"
Suara Pax menarik perhatian mereka. Kedua wanita itu menoleh ke arah pintu. Pax berdiri di ambang pintu, terlihat sangat menawan dengan setelan tuxedo yang dikenakan.
"Suamimu masih terlihat mengagumkan di usianya yang sudah matang, Mom."
"Itulah yang membuat Mom tergila-gila."
"Ouh, aku iri dengan hasrat kalian yang begitu menggebu-gebu setiap hari."
"Istri dan putriku sedang bergosip tentang diriku." Pax menatap haru pada sosok Lexi yang dibalut gaun pengantin. Lexi terlihat sangat indah, mengagumkan.
"Luar biasa. Kau sangat luar biasa," Pax mengulurkan tangan merangkum pipi putrinya untuk mendaratkan satu kecupan di kening Lexi. Kecupan itu berlangsung cukup lama. Baik Pax atau pun Lexi sama-sama memejamkan mata.
Perlahan Pax melepaskan kecupannya, mendongak ke atas untuk menghalau air mata yang sudah menggenang.
"Kau pengantin terindah yang pernah kulihat setelah Mommy-mu, my dear." Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia ingin Lexi menikah agar kelak ada yang menjaganya. Tapi begitu hari ini tiba, masih sulit baginya untuk percaya bahwa dirinya akan menuntun putrinya dan menyerahkan putrinya ke tangan pria lain.
"Dad..." Lexi langsung menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan ayahnya. Tangisannya kembali pecah.
"Kau mungkin tidak pernah tahu betapa Daddy sangat bahagia dengan kehadiranmu ke dunia ini. Daddy adalah orang pertama yang memelukmu. Menggendong tubuh mungilmu yang masih merah dengan kedua tangan ini. Daddy sangat bersyukur atas kehadiranmu dan bangga bahwa kau hidup dengan benar dan luar biasa. Kau adalah belahan jiwaku, sangat terluka jika kau terluka. Tapi sepertinya Daddy lah yang justru memberikan luka yang begitu mendalam di hatimu. Bisakah kau memaafkan Daddy-mu yang buruk ini, Sayang?"
"Dad..." Lexi menggelengkan kepala. "Kau tidak salah. Aku tahu seperti apa usahamu mementingkan kebahagianku di atas segalanya. Betapa buruknya aku jika menyalahkanmu. Tidak ada yang salah. Jangan pernah meminta maaf, Dad." Lexi menggenggam kedua tangan ayahnya lalu memberikan kecupan di kedua telapak tangan ayahnya.
"Tangan inilah yang selalu mengusap punggungku dikala tidak bisa tidur. Mengusap rambutku ketika terjaga. Memberikan pijatan ajaib saat aku sakit. Kau tidak tidur hanya karena aku mengalami flu yang tidak terlalu parah. Selain mengurusku, kau juga harus mengurus ibu Luna, melindungiku dari kemarahannya. Kau banyak berkorban untukku dan bagaimana bisa kau meminta maaf kepadaku, Dad?"
"Katakan jika ini bukan pelarian karena kekecewaan yang kau rasakan terlalu mendalam. Kita bisa membatalkannya, Sayang."
"Tidak, Dad. Aku menyukai Harry, dan Harry mencintaiku. Aku dan Harry akan hidup bahagia seperti kau dan Mommy."
"Lexi sayang..."
"Percaya padaku. Aku bersungguh-sungguh dengan pilihanku."