
"Bagaimana kondisinya?"
Steve sedang berbicara di telepon. Sesekali ia menoleh kamar mandi. Zenia sudah masuk sejak lima menit yang lalu tapi Steve belum mendengar bunyi keran dinyalakan.
"Harry?"
"Hmmm."
"Kacau. Dia lebih sering menghabiskan waktu di bar. Dia masih terpukul. Kudengar kau pergi berlibur."
Ya, Steve sedang berbincang dengan Isabel. Akhir-akhir ini keduanya sering berkomunikasi.
"Ya."
"Kemana?"
"Ke suatu tempat."
"Dimana?"
"Di suatu tempat yang indah," Steve kembali menoleh ke arah pintu toilet. Ia menggaruk hidungnya. Masih belum terdengar keran yang menyala.
"Apakah ada wanita?"
"Hmm."
"Ck! Kau ini. Kapan kau akan berkunjung kemari?"
"Lain kali. Kudengar ada pelayan baru di istana."
"Aku tidak tahu. Di sini banyak pelayan agar kau tahu, Steve."
"Hmm. Kupikir kau sudah bertemu dengannya," Steve bergumam.
"Bertemu siapa?"
"Sudah lah. Lupakan Austin dan mulailah bergaul dengan pria lain."
Terdengar decakan kesal dari seberang telepon. "Aku sudah melupakannya. Aku memang bukan seleranya. Gadis berkaca mata tebal juga dengan gigi berpagar. Ya, ya, Steve, aku tahu aku bukan seleranya. Terima kasih atas saranmu tentang bergaul dengan pria lain."
"Sama-sama," sahutnya dengan santai dan kembali ia mendengar decakan gadis polos itu.
"Mrs. Willson mengundangku ke rumahnya," suara Isabel terdengar ragu, juga terselip kesedihan. "Aku bingung ingin menanggapinya. Sepertinya dia sangat merindukan Lexi. Menurutmu, apa yang harus kulakukan, Steve?"
"Temui mereka dan menginaplah beberapa hari."
"Tapi, Austin..."
"Kau bisa mengabaikannya."
"Kau tahu itu hal yang sulit bagiku. Aku sudah langsung pingsan berdiri begitu melihat sosoknya."
"Kau sangat parah," ucap Steve prihatin.
Ia tahu sebesar apa kekaguman Isabel pada Austin. Tapi Steve juga tahu bahwa Austin tidak akan pernah melirik ke arah gadis itu. Bukan karena Austin tidak menyukai profil Isabel yang sedikit tidak enak dilihat. Ya, walau tidak dipungkiri jika selera Austin adalah wanita-wanita seksoy yang lebih menantang.
Isabel, tipikal gadis yang harus diawasi 24 jam, dilindungi setiap saat. Dan hal seperti itu bukan sesuatu yang menantang bagi Austin. Jiwa petualang yang liar bersemayam di dalam diri pria itu dan Isabel tidak akan mampu mengimbanginya.
"Ya, aku sangat payah. Mr. Willson sama kacaunya dengan Harry. Terkadang mereka berdua pergi ke sungai, mengunjungi desa yang memiliki aliran yang sama dengan sungai tersebut. Bertamu dari rumah ke rumah. Mereka masih saja melakukan pencarian. Apa menurutmu masih ada harapan, Steve?"
Steve baru saja hendak menyahut, namun kalimatnya kembali tertelan ke tenggorokan saat mendengar bunyi benda yang jatuh dari kamar mandi.
"Isabel, aku akan menghubungimu nanti."
Tanpa menunggu jawaban dari Isabel, Steve memutuskan panggilan dan langsung melempar ponselnya ke meja. Ia berlari menuju kamar mandi, mendorong pintu toilet tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Apa yang-, Oh... Maaf... Ba-bagaimana,- Kenapa..." Steve gelapan dan tidak tahu harus melakukan apa.
Zenia terkapar di lantai seperti lumba-lumba sekarat dengan posisi wajah tertutupi gaun panjangnya. Sementara dari leher hingga ke kaki, tubuhnya terekspos. Hanya ditutupi bikini hitam.
"Steven Percy..."
"Y-ya, aku di sini. Hm, maksudku aku akan keluar."
"Tu-tunggu." Zenia menghentikannya. "I-ini sedikit memalukan. Maafkan aku. Ta-tapi bisakah kau membantuku? Aku lupa membuka kancing bajuku. Bajunya tidak lolos melewati kepalaku dan rambutku membuat semuanya semakin buruk. Melilit di anak kancingnya dan aku terpeleset."
Steve menggigit pipi dalamnya, menahan tawanya agar tidak pecah. Perlahan ia mendekati Zenia yang terlentang di lantai.
Glek!
Buru-buru ia mengalihkan tatapannya dari tubuh yang terekspos itu. Steve berjongkok di di dekat kepala Zenia.
"Kurasa kau harus duduk agar aku bisa melihat masalahnya."
"Oh, ya, kau benar." Zenia duduk dengan segera. Duduk bersila, memunggungi Steve.
Steve mulai melepaskan lilitan rambut panjang bergelombang itu dari anak kancing si pembuat masalah.
Deg... Deg...
"Ka-kau bisa menariknya. Langsung menariknya." Menahan sedikit sakit di kepala tidak masalah daripada tersiksa dalam situasi memalukan ini. Posisi mereka yang dekat, membuat Zenia kembali mencium aroma yang sangat menenangkan dan menggoda. Bukan hanya jantungnya yang menggila. Bulunya menjerit jingkrak jingkrak dan darahnya juga berdesir hebat.
"Kau akan kesakitan dan rambutmu akan rusak."
Tapi ini membunuhku! Zenia menjerit dalam batinnya.
"Ku-kudengar kau pergi ke kota. Apa yang kau lakukan di sana?" Zenia membuka topik pembicaraan. Keheningan hanya akan memperjelas degupan jantungnya. Jangan sampai Steve mendengarnya.
"Aku tinggal di kota."
"Oh."
Pembicaraan kembali buntu.
"A-apa pekerjaanmu?"
"Tidak jelas."
"Hah?"
"Aku memiliki beberapa perusahaan, tapi bukan aku yang bertanggungjawab. Aku juga memiliki klub dan bukan aku juga yang menanganinya. Kami juga memiliki kebun anggur."
"Kami?"
"Ayah ibuku."
"Oh, kau masih memiliki orang tua?"
"Mereka tinggal di Spain. Baru-baru ini. Sebelumnya mereka tinggal di New York."
"Lalu apa yang kau lakukan di sini?"
"Adakah larangan bahwa aku tidak boleh datang ke sini? Ini rumahku dan pantai ini bukan milikmu."
Zenia tersentak, ia refleks hendak menoleh ke belakang. Tapi gerakannya itu justru membuat rambutnya tertarik. Ia meringis menahan sakit.
"Jangan bergerak dulu."
"Bukan seperti itu maksudku. Kenapa kau sangat ketus kepadaku," Zenia menggerutu
Steve menukik alisnya. Sedikit terkejut dengan pertanyaan tidak terduga itu.
"Ketus?"
"Kau sangat ramah pada kedua adikku. Apa kau masih kesal kepadaku karena kejadian bubuk cabe itu?"
"Kau terganggu jika aku bersikap ketus?"
"Ya. Kau membenciku?"
"Steve... Kau di mana? Aku datang."
Terdengar suara Zetta.
"Selesai. Rambutmu terbebas. Mandilah." Steve segera berdiri, melangkah lebar keluar dari dalam toilet.
"Di mana Zenia?" Zetta bertanya saat melihat Steve keluar dari dalam toilet.
"Di toilet."
"Kau baru saja keluar dari sana. Apa yang kau lakukan dengannya di sana?" Zetta memicingkan mata, menatap penuh curiga. Steve hanya mengacak rambut Zetta sebagai respon atas pertanyaan gadis itu.
"Steve! Aku baru mencucinya!"
"Mau juice?" Steve menawarkan. Pria itu mengambil beberapa buah persik dari dalam kulkas.
"Aku tidak suka buah persik." Zetta menolak. "Dan kenapa hanya ada buah persik?"
"Agar kau tidak mencurinya," jawab Steve lempeng.
"Astaga, pelit sekali Anda." Zetta mendelik kesal. "Mom memintaku untuk mengganti alas tidurmu, apa aku boleh masuk ke kamarmu?"
"Sejak kapan kau jadi sopan begini?" Steve melengkungkan alisnya.
"Sejak empat bulan lalu," sahut gadis itu sekenanya.
Steve hanya tersenyum.
"Cih, kau tersenyum. Jadi apa yang kau lakukan di dalam toilet? Kau mengintip Zenia?"
"Dia hanya membantuku melepaskan rambutku yang melilit di kancing bajuku." Zenia muncul dan bergabung dengan mereka. "Oh, juice buah persik, boleh aku memintanya?"
Steve bergeming, menatap Zenia yang sedang memandangi juice di tangannya dengan penuh minat.
"Dia menyukai juice buah persik?" Zetta bersuara.
"Suruh dia membuatnya sendiri," Steve berlalu membawa juice miliknya, meninggalkan kedua gadis itu di dapurnya.