H.U.R.T

H.U.R.T
Perkara Nyamuk



Isabell masuk ke dalam ruangan. Darren ternyata sudah tertidur. Pun ia duduk secara perlahan di kursi. Memandangi wajah pria itu dengan seksama. Darren terlihat pulas. Tidak terdengar dengkuran sama sekali. Hembusan napasnya juga sangat teratur. Beberapa helai rambut menutup kening pria itu. Rambut setengah gondrong itu terlihat berantakan. Darren terlihat lebih manusia menurut Isabell saat berbaring tidak berdaya dengan rambut berantakan seperti ini.


Isabell harus menahan godaan untuk tidak mengangkat tangan menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kening pria itu.


Tatapan Isabell turun ke kelopak mata yang begitu lentik dan cukup lebat. Tanpa ia sadari, matanya mulai menjelajah di wajah Darren. Dari kelopak turun ke hidung yang begitu mancung lalu ke bibir Darren yang membuatnya hampir tersedak. Ia berusaha manahan batuknya agar tidak keluar sampai wajahnya merah. Buru-buru ia berdiri dan masuk ke dalam toilet. Di sana ia terbatuk-batuk hingga membungkuk.


Setelah batuknya reda, Isabell segera membasuh wajah, menatap pantulan dirinya di cermin. Tatapan tertuju pada bibirnya. Seketika rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya.


"Ampuni aku, Tuhan, ampuni aku, Tuhan." Isabell mengatupkan kedua tangannya, merasa berdosa karena pemikirannya yang mesum. Bagaimana bisa adegan penyelamatan yang diberikan Darren kepadanya ia anggap sebagai ciuman pertama.


"Bibirku ternoda. Haruskah aku juga menuntutnya seperti dia memarahiku saat menodai mobil mahalnya." Isabell mengusap bibir dengan jemarinya.


"Astaga! Sempat-sempatnya aku memikirkan tuntutan pada pria yang sedang terbaring tidak berdaya." Isabell menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran bodohnya.


Ia kembali duduk di tempatnya semula, kembali memandangi wajah Darren, melewati bagian bibir.


Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan sini? Tidak ada objek yang bisa dipandang. Ia berseru dalam hati, memberi pembenaran atas tindakan yang ia lakukan.


"Sepertinya rambut itu sedikit mengganggu, aku menyingkirkannya," Isabell berdiri, mengulurkan tangan untuk menyingkirkan helaian anak rambut yang menutupi kening Darren.


Isabell melakukannya dengan perlahan dan penuh hati-hati. Saat jemarinya menyentuh helaian rambut tersebut, Isabell tersentak kaget, seakan sedang disengat oleh aliran listrik.


"Ouh, apa itu?" Gumamnya dengan pelan berbanding terbalik dengan jantungnya yang berteriak dengan berani.


Penasaran dengan sengatan yang ia rasakan, Isabell kembali mengulurkan tangan untuk menyentuh kembali rambut pria itu.


"Tidak mungkin dan sangat tidak mungkin slang-slang di tubuhnya mengantar aliran listrik ke rambutnya."


Isabell mengulurkan jari telunjuknya dengan ragu, ia tidak tersentak lagi tapi darahnya yang berdesir hebat.


"Apa rambutnya mengandung magnet?"


"Apa yang kau lakukan?"


"Arghhhh!" Isabell berteriak kaget dan tangannya langsung mendarat di pipi Darren.


Mendengar teriakan juga sesuatu yang mendarat di tangannya membuat Darren terbangun dari tidurnya.


"Austin, se-sejak kapan kau di sana?" Isabell bertanya dengan gugup.


"Baru saja. Apa yang kau lakukan?"


"Nya-nyamuk. Aku melihat nyamuk. Aku berniat untuk mengusirnya. Di-dia sedang tidur. Aku tidak ingin nya-nyamuk nakal itu mencuri darahnya. Di-dia sudah kehabisan banyak darah. Ja-jadi aku ingin melindunginya dari nyamuk jahat itu," Rasanya Isabell ingin menangis karena merasa malu seperti pencuri yang tertangkap basah.


"Terima kasih atas pertolonganmu untuk melindungiku. Kau murah hati sekali."


Dan kali ini, Isabell rasanya ingin mati saja mendengar suara lain yang berbeda dari suara Austin.


Tuhan, tenggelamkan aku dalam perut bumiMu.


Perlahan ia menggerakkan kepalanya dan kembali menjerit saat menemukan tangannya mendarat di wajah Darren.


"Berhenti menjerit dan angkat tanganmu dari wajahku. Nyamuknya sudah pergi."


"O-ouh, kenapa tanganku ada di sana?" Isabell buru-buru menarik tangannya dari wajah yang ia perhatikan sejak tadi.


Ini karma. Ini karma. Tuhan sedang menegurku. Ini memalukan.


"Untuk melindungiku dari nyamuk," cetus Darren dengan lempeng.


"Ka-kau benar. A-ku tidak berbohong. Memang ada nyamuk di sana. Aku melihatnya." Isabell menatap Austin, memohon pertolongan pria itu.


Austin berjalan mendekati mereka. "Nyamuk di di sini memang suka mencuri darah."


Ck! Pertolongan macam apa ini. Pernyataan Austin justru terdengar seperti sedang memojokkannya. Ia semakin dibuat malu.


"Kau tidak usah khawatir, jika Darren kehabisan darah. Golongan darahku O."


"Hah?" Isabell mendadak bodoh.


"Aku akan menjadi pendonor untuknya jika kehabisan darah. Jadi kau tidak perlu mengawasi nyamuk lagi. Biarkan nyamuk-nyamuk itu menghisap darahnya."


"Ya, itu lebih baik," Darren menimpali. Ia kira ia bermimpi jika Isabell sedang mengunjunginya di nirwana dan membelai kepalanya dengan lembut. Ternyata kenyataan tidak semanis impian. Karena begitu ia terbangun, tangan gadis itu justru sedang ada di wajahnya akibat memburu nyamuk.


Pertanyaannya, apakah memang ada nyamuk di sana?


"Aku sudah menghubungi Mom dan Dad, mereka langsung kemari."


"Jossie dan anak-anaknya?"


"Mereka sudah pulang."


"Kau menekannya?"


"Dia mengadu?"


"Aku hanya menebak."


"Dia orang asing."


"Dia hanya seorang ibu."


"Wah, apakah ini Darren Willson?"


"Apa aku terlihat seperti Steven Percy?"


"Tentu saja tidak! Kau lebih mengagumkan dan aku lebih memikat dibandingkan kalian berdua," kelakar Austin seraya mengerling.


"Tidak biasanya kau peduli dengan orang yang baru kau jumpai dalam hitungan jam. Apa ada yang terlewatkan olehku?" Austin merangkul pundak Isabell.


Tatapan Darren beralih ke sana. Sejak kapan hubungan mereka menaik level. Mulai ada sentuhan fisik. Biasanya Austin selalu menjaga jarak dengan wanita yang tidak menarik di matanya. Ini jelas bukan alasan Austin enggan menyentuh Isabell. Alasan kedua Austin enggan menyentuh wanita adalah karena rasa hormat. Nah, sejak kapan Austin menanggalkan rasa hormatnya terhadap Isabell.


Laut dan insiden ternyata lebih membuat hubungan mereka lebih dekat dan intim. Darren bergumam dalam benaknya.


"Kau tidak melewatkan apa pun," Darren berdehem untuk mengkondisikan hatinya


"Kau peduli padanya?"


"Aku peduli pada siapa pun saat aku berada di tempat yang sama saat kejadian seperti ini terjadi."


"Lalu apa yang kau bahas dengannya?"


"Hanya bertanya tentang keadaannya dan anak-anaknya."


"Aku kan sudah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Kenapa kau masih perlu memastikan?"


"Pantas saja Jossie jengkel padamu, kau memang menyebalkan."


Austin tertawa, "Hanya orang-orang yang menyembunyikan sesuatu yang menganggapku menjengkelkan, Dude."


"Apa Mr. Scoot sudah menghubungimu?"


"Aku menyarankan agar dia tidak merecoki kita sebelum mendapat kabar baik." Austin mengidikkan bahu dengan santai. "Tidurlah di sofa, kau pasti sangat mengantuk." Austin mengusap lengan Isabell dan Darren kembali melirik ke sana.


"Aku membawa selimut dan bantal." Austin menunjuk ke arah sofa. "Baringkan tubuhmu dengan nyaman di sana."


Isabell mengangguk dan segera beringsut. "Bangunkan aku jika Aunty dan Uncle sudah datang."


"Well?"


"Apa yang menarik dari wanita itu?" Austin menoleh pada Isabell yang sudah berbaring dengan menyamping, memunggungi mereka.


"Tidak ada."


"Lalu kenapa kau mengajaknya berbincang secara pribadi?"


Darren terdiam. Ia juga bingung sebenarnya. Akan terdengar konyol jika ia menjawab hanya mengikuti instingnya dengan alasan bahwa Jely sedikit mengusiknya. Tapi itulah faktanya. Jely terlihat tidak asing, hanya saja ia belum menemukan jawabannya. Ia sudah memeras otaknya untuk memikirkan dimana ia pernah melihat Jely.


"Aku menyelidikinya."


"Aku sudah melakukannya."


"Lalu apa yang kau dapatkan?"


"Tidak banyak. Dia wanita yang keras kepala."


Keduanya tertawa pertanda mereka sependapat. Isabell yang mendengarkan kedua pria itu membahas wanita lain membuat hatinya diserang rasa cemburu.


"Dan cantik," Darren menambahi.


Tawa Austin lepas seketika. Darren pria yang jarang memuji wanita. "Dan dia diberkahi dengan dua anak kecil yang menggemaskan."


Telinga Isabell semakin panas. Bagaimana ia bisa tidur jika mendengar dua pria sedang bergosip tentang wanita lain yang memiliki dua anak yang sangat manis.


"Siapa suaminya?"


"Mana kutahu," sahut Darren.


"Kau tidak bertanya?"


"Untuk apa aku bertanya?"


"Oh Tuhan, saudaraku," suara melengking itu menghentikan aktifitas gosip yang mereka lakukan. Lexi berlari kecil melintasi ruangan.


"Melangkahlah dengan benar, Lexi. Perhatikan jalanmu. Saudaramu tidak akan kemana-mana saat ia hanya bisa berbaring." Steven yang selalu posesif menegur istrinya. Dan bagaikan rubah cantik yang sangat penurut, Lexi langsung melangkah dengan anggun dan penuh hati-hati.


Austin dan Darren berdecak malas. Antara iri dan jengkel.


"Apa yang terjadi denganmu? Di mana yang terluka?" Lexi meraba-raba tubuh saudaranya. Yang membuat kesal, mimiknya tidak menunjukkan kecemasan sama sekali.


"Kau baru saja menekan lukanya, Lexi." Austin menertawakan dengan geli. Tidak prihatin dengan wajah Darren yang meringis menahan sakit.


"Oh maaf, kenapa kau lemah sekali? Steven saat melindungiku tidak membutuhkan selang-selang saat mendapat luka tembak di tubuhnya."


Astaga! Tidak adakah rasa simpati saudarinya itu sedikit saja. Percayalah, saat ini Darren tidak membutuhkan perbandingan sama sekali.


"Suamimu dirawat selama satu bulan di rumah sakit dan hampir mati," Austin lah yang mewakilinya untuk menjawab pernyataan Lexi.


"Hah? Satu bulan? Aku kenapa tidak tahu?"


"Kau saat itu sedang cosplay menjadi Zenia." Austin kembali menyahut.


Lexi berbalik, menatap suaminya dengan manik menyipit.


"Kau pernah dirawat di rumah sakit selama satu bulan?" Lexi mendekati suaminya, memegang kedua tangan Steven. Cih! Bisakah kedua sejoli itu berhenti bersikap manis satu sama lain.


"Itu sudah berlalu. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak membahas masa lalu."


"Kau sekarat dan aku tidak tahu."


"Aku sekarang hidup sehat."


"Dan perkasa," Celetuk Austin.


Steven mengidikkan bahu dengan gaya angkuh. "It's me."


"Kau salah jika memujinya, Kawan." Darren berkata dengan nada malas.


"Oh, Steven. Kau pasti sangat menderita saat itu."


"Tidak semenderita saat kau merajuk dan mengurung diri di kamar."


Lexi memukul lengannya, "Aku sedang serius."


"Dan aku tidak pernah seserius ini dalam memberikan jawaban. Aku lebih menderita saat kau memintaku tidur di luar. Jangan lakukan itu lagi."


Lexi mengangguk dengan patuh, "Maafkan aku."


"Ya, tidak apa-apa. Besok kau ulangi lagi kesalahanmu dan minta maaflah. Itu keahlianmu."


Lexi terkikik geli, "Dan kau akan memaafkanku dan mengatakan aku terlihat menggemaskan saat sedang merajuk."


"Ya, aku akan menemukan diriku semakin mencintaimu."


Memang begitulah wanita, merajuk sedikit, langsung mengeluarkan jurus andalan. Tidur di luar, jangan menyentuhku, dan setelah amarahnya mereda, langsung meminta maaf dengan manis.


"Bukan hanya punggung dan tanganku yang sakit sekarang, mataku juga sakit. Bisakah kau menyuruh mereka pulang."


Lexi menoleh cepat, menatap Darren dengan tajam. "Kau tidak senang melihat aku bahagia?"


"Aku lebih menderita jika melihatmu menderita."


"Kudengar kau mendapatkan luka itu karena menyelamatkan dua anak kecil. Kau tidak berniat menjadi pebinor, 'kan? Austin mengatakan jika ibu dari kedua anak kecil itu sangat cantik."


Darren menatap saudaranya. "Kau menyampaikannya sampai sedetail itu?"


"Dad memintanya dengan rinci."


"Tidak sampai pada ibu yang cantik."


"Aku menceritakan semua yang ada di lapangan."


"Oh yeah?"


"Ya."


"Jadi, siapa yang bermasalah dengan Bartoli?" Steven menengahi perdebatan itu.


"Kau mengenal Bartoli?"


"Tidak secara spesifik. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tapi namanya cukup dikenal."


"Apa kau membeli narkoba tanpa membayar?" Tuding Steve pada Austin.


"Apa aku terlihat semiskin itu?"


"Aku hanya bertanya. Sayang, temani Isabell keluar." Steve membelai rambut istrinya, meminta dengan lembut agar Lexi menunggu di luar. Ada hal yang harus ia bahas bersama iparnya.


"Isabell sedang tidur."


"Dia hanya pura-pura tertidur."


"Hah?" Tiga bersaudara Willson itu kompak bergumam heran.


"Isabell, aku tahu kau pura-pura tidur," seru Steve.


Isabell benar-benar malu, merasa malu hari ini karena perkara nyamuk dan sekarang Steve membuatnya semakin malu. Kenapa Steven Percy sangat jeli sekali!!!