H.U.R.T

H.U.R.T
Ajang Fashion 3



"Sepertinya bobotku bertambah, baju ini terasa sempit."


Lexi tidak mendengar ocehan Lily, matanya sibuk membaca satu persatu kata yang tertulis di secarik kertas yang ada di dalam bingkisan tersebut. Sebuah ancaman.


"Surat cinta?"


Pertanyaan Lily menyadarkan Lexi dari ketegangan sesaat yang ia rasakan. Kelemahan yang tidak pernah berubah sama sekali. Langsung terpengaruh begitu mendapat ancaman. Lexi menerbitkan senyum yang justru terlihat aneh karena kedua bibirnya sudah gemetar. Malu? Benarkah ia akan dipermalukan?


"Ada apa?" Darren yang baru memasuki ruangan langsung menyadari ketakutan yang terpancar di wajah adiknya.


Lexi menggeleng, "Aku hanya gugup. Aku takut kau dan Austin membuat kesalaha."


"Hanya sekedar berjalan di atas panggung, bukan hal yang sulit bagiku juga Austin." Mengamati wajah Lexi dengan seksama. Darren yakin bahwa kegugupan yang dialami adiknya itu bukan tentang hal itu. Lalu apa?


"Oke semua, sudah waktunya." Seruan seseorang membuat perhatian mereka teralihkan. Darren, Austin, Lily dan model lainnya akan beraksi. Begitu pun dengan model desainer lainnya.


Lexi memantau dari balik layar. Waswas dengan ancaman yang ia dapatkan. Namun, setelah lima belas menit berlalu, semuanya masih terlihat tenang, aman dan terkendali. Tidak ada tanda-tanda akan ada kehebohan. Hal itu tidak lantas membuat Lexi tenang. Matanya tidak hanya berpusat pada para modelnya. Austin melakukannya dengan baik, begitu pun Darren. Brian juga demikian. Semua model prianya melakukannya dengan sangat baik. Decakan kagum jelas terlihat di mata para undangan. Entah itu karena desain Lexi atau karena ketampanan modelnya. Apa pun alasannya, Lexi tidak ingin ambil pusing. Baginya, ketiga pria itu tidak membuat masalah sudah cukup.


Matanya memindai para tamu undangan. Tidak ada hal yang mencurigakan. Ayahnya melambaikan tangan bersamaan dengan ibunya yang melemparkan ciuman jauh. Ini melegakan. Ayah dan ibunya ada di sana. Apa lagi yang akan ia takutkan. Tapi tetap saja ia terusik dengan kalimat sponsor yang menjadi alasan kenapa hasil desainnya ada di sini.


Para penonton tiba-tiba memekik kaget secara bersamaan. Lexi merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Memusatkan perhatian ke panggung, ia pun dibuat terkejut. Maniknya membola sempurna.


"Apa-apaan ini?"


"Kenapa ada desain yang sama?"


Ya, baju milik Lily sama persis dengan desain yang dikenakan salah satu model Steve.


Sorot lampu kamera langsung membanjiri Lily dan model Steven. Lexi mencari-cari sosok pria itu dan menemukan Steve duduk dengan ekspresi datar memperhatikan dua model yang juga terlihat sama-sama terkejut.


Lexi harus meminta penjelasan kepada Steve. Kenapa desainnya bisa diplagiat pria itu! Ia harus menuntut Steve! Dengan penuh amarah ia melangkah cepat. Sebelum ia berhasil sampai di depan pria itu, teriakan Lily berhasil menghentikan langkahnya.


Lexi menoleh cepat. Maniknya kembali membulat sempurna. Jahitannya lepas, mempertontonkan tubuh bagian atas Lily.


"Astaga," Lexi berlari ke panggung. Berteriak meminta kepada krunya agar mematikan lampu dan mengambil kain penutup.


Untunglah Darren bertindak sigap. Melepaskan jasnya untuk melindungi Lily.


"Lily, kau tidak apa-apa?" Lexi mencakup kedua pipi sahabatnya yang terlihat pucat. Menatapnya prihatin. Kenapa bajunya bisa sama, kenapa jahitannya bisa lepas? Inikah mimpi buruk yang dimaksud pengancam itu?


Lexi menggelengkan kepala. Mencoba mengenyahkan rasa takutnya. Bukan saatnya memikirkan dirinya, Lily sedang terguncang. Lexi menduga jika Lily merasa malu atas bagian tubunnya yang terekspos. Tapi, Darren tahu masalahnya bukan hanya sekedar rasa malu. Model yang mengenakan desain yang sama dengan yang dikenakan Lily tidak lain adalah Oleshia. Lexi terlalu fokus pada Lily sehingga tidak menyadari kehadiran Oleshia dan Darren tidak ingin Lexi melihat wajah wanita itu. Menyembuhkan Lexi dari mimpi buruknya butuh usaha yang keras. Keluarganya terpukul, dan Lexi bahkan sempat menganggap dirinya gila. Darren tidak ingin kehadiran Oleshia membawa pengaruh buruk bagi Lexi.


"Lexi, ayo kita pergi." Darren menarik tangannya dengan sedikit kuat.


Lexi mengangguk, ia menuntun Lily untuk ikut dengannya.


"Apakah kau adalah desainernya?" Oleshia bertanya.


Pertanyaan itu sontak menghentikan langkah Lexi. Ya, ia tidak boleh pergi sekarang. Ia harus menjelaskan ini. Menunjukkan bukti bahwa desain itu adalah milikinya bukan hasil curian.


"Tidak. Aku harus menyelesaikanya sekarang."


"Tidak, Lexi. Tidak sekarang!"


"Pria itu mencuri desainku, Darren. Aku harus menuntutnya!" Lexi menghempaskan tangan Darren dari pundaknya. Saat ia berbalik, wajahnya membentur dadaa yang begitu bidang dan kokoh. Lexi mendongak, amarahnya seketika berkobar. Steve berdiri menjulang tinggi di hadapannya.


"Kau sengaja melakukannya?!" tuding gadis itu dengan sangat gusar. "Kau mencuri desainku?!"


"Kau tidak bisa menuduhku begitu saja. Bagaimana jika pertanyaan yang sama kulayangkan kepadamu. Kau lah yang mencuri desainku, Ms. Willson?" mimik pria itu datar tidak terbaca. Tatapannya dingin dan tajam.


"Aku bukan pencuri!"


"Kembalilah." ujarnya dengan suara berat.


"Tidak, sebelum kau memberikan penjelasan!"


"Nanti."


"Sekarang!"


"Lexi, sebaiknya kita pergi. Dengarkan aku!" Sengitan tajam kembali terdengar dari balik punggungnya. "Temanmu akan jatuh pingsan jika kita tidak segera pergi."


Lexi menoleh, benar saja, Lily terlihat semakin pucat. "Aku akan menuntutmu, Dixton Ivarez!"


Steve mengangguk, "Saranku, jangan lakukan itu jika kau tidak ingin menanggung malu."


Hidung Lexi kembang kempis menahan amarah. Apakah secarik kertas itu berasal dari pria di hadapannya itu.


"Lexi." Panggilan Darren mulai tidak sabar. Dengan berat hati, Lexi akhirnya berbalik setelah melayangkan tatapan menghunus ke arah Steven.


"Lexi Stevani Willson, bukankah ini tindakan yang sangat memalukan."


Apa lagi sekarang? Darren mengumpat lirih. Mau tidak mau mereka menghentikan langkah. Lily sudah diambil alih oleh salah satu staf.


Terlihat Brian berdiri di atas panggung dengan angkuh. Sangat memuakkan.


"Sepertinya aku terlalu mengagumi sehingga membuatku merasa malu. Kau bertindak bagaikan wanita suci yang jual mahal. Ternyata kau tidak ubahnya seperti kelinci liar yang menggelikan. Apa ini, Lexi? Mencuri karya? Hari ini aku sadar, sebenarnya tidak ada yang bisa dibanggakan darimu selain parasmu yang sedikit cantik." Brian tertawa mengejek membuat darah Darren membara.


"Apa yang dikatakan si brengsekk itu." Darren hendak beranjak, memberi pelajaran kepada Brian. Namun, Lexi menahan lengannya, menghentikan langkahnya.


"Biarkan saja. Aku ingin mendengar apa yang akan dia sampaikan. Seperti apa aku di matanya."


"Jika bukan dilahirkan di keluarga Willson, sesungguhnya kau tidak ada apa-apanya, Lexi. Ahhh, aku lupa, kau hanya anak pungut bukan?" Kehebohan kembali terjadi. Selama ini tidak ada yang tahu jika Lexi adalah seorang anak angkat dalam keluarga Willson.


"Lalu, apa yang kau sombongkan?"


Darren benar-benar sudah tidak tahan lagi. Mengabaikan teguran Lexi, ia melangkah cepat ke panggung. Melayangkan tinju ke rahang pria itu. Dalam sekejap, Brian langsung terkapar. Ternyata, Brian sedang dalam pengaruh alkohol. Tapi, apa motif Brian mempermalukan Lexi seperti itu?