
"Kau jadi menginap?" Tanya Lexi kepada Harry. Mereka sedang berjalan di atas pasir putih menuju rumah.
Harry menyampirkan handuk di pundak Lexi. Tubuh keduanya memang masih dalam keadaan basah. Daphne sendiri sudah pulang dua jam yang lalu. Wanita itu mengatakan akan menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Tentu saja. Kapan lagi punya kesempatan berduaan denganmu tanpa pengawasan siapa pun," ucap Harry sambil tersenyum nakal. Menanggapi hal itu, Lexi hanya memutar bola matanya. Harry semakin tergelak.
"Aku bersumpah, Isabel tidak pernah melakukan hal itu." Lexi ikut tertawa. "Bagaimana kabarnya?"
"Dia menyayangkan kenapa kau membatalkan rencanamu untuk datang berlibur ke sana. Isabel sudah menyusun jadwal demi untuk menemanimu."
"Oh," Lexi mengerang penuh sesal.
Madrid adalah tujuan utamanya untuk berlibur. Sebelumnya, ia juga sudah menjanjikan hal itu kepada Mr dan Mrs. Percy bahwa ia akan membawa keduanya melihat kerajaan itu secara langsung. Janji yang ia lontarkan sepuluh tahun yang lalu saat ia sedang berada di Madrid. Tapi begitu kembali dari pemakaman Steve, ia berubah pikiran. Janjinya belum bisa ia tepati kepada suami istri Percy.
"Dia gadis yang sangat manis. Sayang sekali, Austin si bodoh itu menolaknya."
"Lalu, bagaimana denganmu, Princess? Apakah kau sudah bisa memberikan kesempatan kepadaku?"
Pertanyaan yang sangat Lexi hindari tapi akan selalu pria itu tanyakan di setiap ada kesempatan.
Lexi menghentikan langkah, begitu pun dengan Harry. Keduanya berdiri berhadapan, menatap satu sama lain. Pria itu tersenyum hangat kepadanya sembari merapatkan handuk di pundak Lexi.
"Jangan tertekan. Aku hanya bertanya," Harry berkelakar. Itulah Harry, selalu membuat semuanya terlihat seperti lelucon disaat Lexi terlihat tegang. Pria itu tidak ingin membebani Lexi sama sekali.
Meski Harry sangat ingin mempersunting Lexi sebagai istrinya, bukan berarti dia harus memaksakan kehendaknya tersebut. Lexi hanya belum berani mengambil keputusan, gadis itu juga belum menolaknya. Kesempatan jelas masih ada. Harry hanya perlu berusaha lebih sabar. Bukankah dengan sabar selalu akan berbuah manis? Harry mempercayai hal itu.
"Kau pria yang sangat baik."
"Ya, aku tahu. Untuk itu aku akan berjuang lebih keras lagi dan menunggu lebih lama sampai kau siap! Menunggu adalah keahlianku." Harry mengerling jenaka, tapi ia serius dengan ucapannya. Ia sudah jatuh cinta pada Lexi saat pertama melihatnya di istana mereka. Sejak itu, ia tidak bisa melihat wanita lain. Di matanya hanya ada Lexi dan Lexi. Sama seperti Lexi yang menolak setiap lamaran yang datang kepadanya, Harry juga melakukan hal yang sama. Menolak lamaran dari kerajaan lain. Ibunya bahkan sering mengatur jadwal kencan buta untuknya. Astaga, sejak kapan seorang pangeran mengikuti trend itu. Demi menyenangkan hati ibunya, sesekali ia memenuhi kencan buta tersebut dan semuanya tidak ada yang berjalan mulus.
"Kau tetaplah di tempatmu. Lihat perjuanganku."
Sejujurnya, Lexi merasa tidak enak hati. Harry adalah pria yang sangat baik dan tulus. Keluarga pria itu juga sangat menyayanginya. Lexi bahkan tidak meragukan kebahagiaannya jika bersanding dengan pria seperti Harry. Hanya saja, tidak adil rasanya jika hanya pria itu yang berjuang dan berusaha untuk membuatnya bahagia sementara Lexi sadar bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Harry. Hati, perasaannya. Andai sedikit saja hatinya berdebar saat bersama Harry, Lexi akan dengan cepat menerima perasaan pria itu. Ia akan memupuk getaran di hatinya menjadi semaki menggebu. Tapi nyatanya, tidak ada getaran sama sekali. Bukankah hubungan yang dipaksakan akan berakhir sangat menyedihkan? Lexi tidak menginginkan hal itu terjadi.
Harry pria yang sangat rupawan, tinggi, menawan juga kaya. Semua yang diinginkan wanita ada pada Harry. Tapi, kembali pada kalimat klasik, cinta tidak bisa dipaksakan.
"Harry..."
"Tidak ada protes. Ayo kita pulang. Kau sudah kedinginan." Pria itu menggenggam tangannya dan Lexi seolah melihat Darren yang melakukannya. Katakan, apa mungkin ia bisa jatuh cinta pada pria yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri?
___
"Kami pulang! Ibu, Harry ada di sini. Apakah Ayah sudah pulang..." kalimatnya menggantung begitu melihat ibunya menangis di pelukan ayahnya. Apa yang terjadi? Pikir gadis itu.
Giovani mengurai pelukannya. Ia menoleh kepada Lexi juga Harry, menatap tangan keduanya yang saling bertaut. Ia menarik napas berat, seolah dirinya tidak ubahnya globe yang memikul dunia di bahunya.
Lexi mendekati pasangan suami istri tersebut. Ia tidak pernah melihat Mrs. Percy menangis selain sedang merindukan Steve.
"Ibu merindukannya?" Lexi mengusap punggung Mrs. Percy dengan lembut. Wanita setengah baya itu semakin menangis. "Apakah kita sebaiknya pulang. Kau mungkin sangat merindukannya. Kita akan mengunjunginya begitu sampai di rumah."
Semua kata-kata yang keluar dari mulut Lexi justru semakin membuat Daphne meraung.
"Ibu," Lexi mulai tertular. Ia menarik Daphne ke dalam pelukannya. "Jangan menangis seperti ini. Kau membuatku bersedih. Kurasa memang sebaiknya kita pulang." Tangisannya mulai meluruh.
Daphne menggeleng, "Ibu baik-baik saja. Kenapa kau menangis?"
"Karena kau menangis."
"Bodoh." Ibunya mengusap air matanya. "Ibu baik-baik saja. Percayalah."
Wanita itu berbohong. Ya, lagi pula apa yang bisa dikatakan Daphne. Ia sendiri masih sulit percaya dengan apa yang dikatakan suaminya kepadanya prihal bahwa putra mereka masih hidup dan dalam keadaan sehat tidak kurang satu apa pun. Ia belum bertemu dengan Steve yang dikatakan suaminya masih hidup. Bagaimana bisa? Sungguh otaknya tidak mampu memikirkannya. Jika dirinya saja cukup terguncang dengan kabar ini, lantas bagaimana reaksi Lexi yang begitu sangat rajin mengunjungi makam putra mereka?
"Aku tidak melihat kau baik-baik saja. Apa yang terjadi, katakan padaku?"
"Tidak ada apa-apa. Aku dan ayahmu hanya sedikit bertengkar. Dia tidak mendapatkan ikan sama sekali."
Lexi bukan anak kecil yang bisa mempercayai kebohongan yang dilontarkan Daphne begitu saja. Tapi ia memilih untuk mempercayai kebohongan tersebut karena tahu ibunya tidak ingin berbagi cerita.
"Astaga, setidaknya kau bisa membeli ikan untuk kita, Ayah. Tapi omong-omong kenapa Ayah sudah pulang?"
"Memancing sendirian ternyata tidak menarik. Ah, Pangeran Harry, kenapa kau berdiri di sana, kemarilah."
Kedua pria itu saling berjabat tangan.
"Duduklah, aku akan membuatkan kopi untukmu. Dan Lexi, sebaiknya kau ke kamar. Ganti pakaianmu dengan yang lebih hangat. Atau mungkin kau ingin mandi air hangat? Ibumu akan membantumu menyiapkan air hangat. Daphne, bawa Lexi ke kamarnya."
Kedua wanita itu pun beranjak meninggalkan Ayahnya bersama Harry.
"Ibu akan menyediakan air hangat untukmu?"
"Tidak, Ibu. Kau juga basah karena memelukku. Sebaiknya kau ganti pakaianmu. Aku bisa mengurus keperluanku."
"Baiklah kalau begitu," Daphne masuk ke dalam kamar. Begitu pun Lexi.
"Bagaimana kencanmu hari ini?"
Lexi berjengkit kaget. Sebelum ia sempat berteriak, Steve sudah menarik tangan Lexi agar berbalik lalu mendorong tubuh gadis itu hingga menempel ke duan pintu. Steve juga menutup mulutnya dengan tangan sebelum Lexi sempat berteriak, menghimpit tubuh Lexi dengan tubuhnya yang kekar.
"Kau memiliki kekasih, tapi berkencan dengan pria lain. Apakah sangat menyenangkan membuatku cemburu?"