
mba ayu yang masih terjaga sengaja duduk di bangku teras sendirian, dengan perasaan yang engga karuan mba ayu terus menatap gerbang sambil sesekali melihat kanan dan kiri.
ponsel mba ayu kembali berdering, panggilan yang kesekian kali nya dari bunda yang membuat perasaan mba ayu semakin engga karuan.
" Iyah Bu........ "
" gimna mba?? Yuri udah ada di rumah??? "
suara bunda dari sebrang telpon engga kalah khawatir nya dengan mba ayu yang menunggu ku sejak tadi, lebih tepat nya sejak aku dan ka Yugi pergi dari acara pertemuan bunda dengan om Redy.
bunda menceritakan semua kejadian tadi siang pada mba ayu, jadi jelas mba ayu merasa khawatir karna aku belum juga terlihat berada di rumah, terlebih besok masih ada ujian di sekolah.
" belum Bu, ini saya juga masih di luar nunggu neng Yuri "
" ya udah mba nanti kabarin saya jangan lupa ya "
" Iyah Bu "
panggilan bunda kembali berakhir, ponsel yang sudah mati itu tetap di pegang mba ayu yang masih merasa engga tenang.
tari yang tau kalau ibu nya masih menungguku di luarpun berinisiatif menghampiri mba ayu.
" Bu..... "
" loh belum tidur nak ??? "
tari duduk di kursi sebelah mba ayu.
" tari baru selsai belajar Bu "
" ya udah tidur sana, ini udah malem "
" ibu engga tidur ??? "
" ibu nunggu neng Yuri dulu "
" kaya nya Yuri udah tau masalah bunda sama ayah nya ya Bu "
"ssssst ...... kamu engga usah ikut ikutan, kamu fokus ajah belajar dan sekolah "
tari tersenyum pada mba ayu yang mulai mengerutkan kening nya.
" boleh engga tari temenin ibu di sini ?? "
" engga, kamu masuk ajah tidur istirahat sana "
tari kemudian berdiri dan mulai memeluk mba ayu yang terlihat serius.
" tari sayang banget sama ibu "
mba ayu menepuk nepuk tangan tari yang masih melingkar di bahu nya, sambil tersenyum kecil mba ayu mengusap lembut rambut tari.
akhir nya tari kembali masuk ke dalam rumah menuju kamar nya untuk beristirahat.
engga lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang, mba ayu segera terbangun dari duduk nya dan berlari menuju gerbang.
belum sempat mba ayu membuka nya, gerbang sudah terlebih dulu terbuka, mba ayu melihat ka Yugi yang membuka gerbang yang membuat mba ayu buru buru menghampiri ka Yugi.
" neng Yuri ada den ??? "
" ada mba, dia tidur di mobil "
" syukur Alhamdulillah "
" kenapa mba?? "
" ibu telpon mba dari tadi, ibu khawatir sama neng Yuri "
" oh "
ka Yugi kembali ke dalam mobil setelah selsai bicara dengan mba ayu, ka Yugi membuka sabuk pengaman dan langsung menengok ke arah tempat duduk belakang tempatku tertidur.
belum sempat ka Yugi meraih tangan ku, tangan ka bara lebih cepat menepis tangan ka Yugi.
" terus maksud kamu aku harus gendong dia ke kamar nya gitu ??? "
" aku yang mau gendong "
dengan cepat ka bara turun dan menuju pintu belakang, membuka nya dan perlahan mengangkat ku dengan lembur.
" so kuat kamu bar, kamar dia di atas "
ka bara engga peduli dengan ucapan ka Yugi yang meledek nya, ka bara tetap menggendongku.
langkah demi langkah ka bara ternyata membuat aku terbangun, sadar kalau bukan ka Yugi yang menggendongku membuat aku sedikit salah tingkah, wangi tubuh ka bara semakin jelas tercium olehku.
aku kembali memejamkan mataku dan berpura pura tetap tertidur, sampai di anak tangga terakhir nafas ka bara mulai tersengal, sekarang dia mulai bernafas dengan mulut terbuka, itu membuatku semakin salah tingkah.
ka bara terus menggendongku dan menurunkan ku di atas tempat tidur dengan sangat perlahan, dia juga mengusap rambutku yang menutupi wajahku, memakaikan selimut sambil terus menatapku.
perlakuan ka bara malam ini jujur membuat aku merinding, aku baru mengenal nya tapi dia sudah memperlakukan aku seperti orang yang begitu harus dia jaga.
" selamat malam Yuri, aku yakin kamu pasti bisa melewati nya ...... "
ucapan selamat malam dari ka bara berhasil membuat air mataku menetes begitu saja, beruntung ka bara segera mematikan lampu dan keluar meninggalkan aku.
aku engga pernah kenal sebelum nya dengan ka bara, tapi malam ini dia benar benar berhasil membuatku meluapkan emosi lewat tangisan yang sudah sering aku tahan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
mba ayu segera menelpon bunda setelah dia masuk ke dalam kamar nya.
" Bu, neng Yuri udah di rumah di anter Yugi "
" syukur lah, ya udah mba saya titip Yuri, kaya nya saya juga bakal lama engga pulang ke rumah itu "
" iyah Bu "
mba ayu akhir nya bisa menyimpan ponsel nya dan membaringkan tubuh nya yang sudah mulai terasa pegal.
" mudah mudah neng Yuri baik baik ajah "
bisik mba ayu sambil merapihkan selimut yang dia gunakan untuk menutup tubuh nya saat tidur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
malam semakin larut, suasana semakin hening, dan satu satu nya suara yang aku dengar hanya isakan yang tertahan dari aku sendiri.
aku mengambil bantal dan mencoba menutup kepalaku, berharap engga ada orang yang tau kecuali aku.
tapi semakin aku tahan ternyata semakin ingin aku berteriak kencang, menangis sejadi jadi nya.
kali ini aku benar benar merasa percuma terus hidup, percuma terus menjadi anak baik yang hanya menuruti mau ayah atau pun bunda.
akhir nya setelah beberapa menit, aku terbangun dan menyenderkan tubuhku, aku peluk bantal yang tadi menutupi kepalaku, lalu aku ambil ponsel di dalam tas sekolah milik ku.
tidak ada pesan lain selain pesan masuk dari Revan.
* semangat ujian *
* udah belajar ? *
dua pesan singkat dari Revan membuatku kembali meneteskan air mata, anak ini ! bisa bisa nya cuma anak ini yang mengirimi aku pesan.
berulang ulang kali aku cek kotak masuk dan panggilan masuk tetap engga ada pesan lain yang aku dapat, jujur sebenar nya aku berharap Alfin lah yang mengirimi ku pesan itu, sayang nya Alfin memang engga akan melakukan hal itu selama ujian berlangsung, apa lagi ini ujian akhir yang menentukan bagaimana nasib kita berikut nya.
aku menekan no yang tertulis Alfin di ponselku, berharap bisa sedikit berbagi cerita tentang keluarga ku sampai aku merasa sesak di dadaku hilang atau mungkin hanya sekedar berkurang.
tapi sayang harapan ku terlalu tinggi pada Alfin, jelas jelas Alfin engga bakal mengangkat telpon nya, apa lagi sudah selarut ini.
aku kembali meletak kan ponsel ku dan mulai menarik selimut menutupi tubuhku.
keesokan pagi nya ka Yugi mengetuk pintu kamarku untuk membangunkan aku tepat di jam 5 pagi.
dengan mata yang terasa berat, perih dan sedikit sembab aku membuka pintu kamar menemui ka Yugi di balik pintu.