H.U.R.T

H.U.R.T
Cinta



"Jadi kau dan Lexi memutuskan untuk mengasingkan diri dengan menjadi nelayan?"


Steve mendengus kesal, mungkin sampai kapan pun ia dan Pax tidak akan pernah akur dalam hal apa pun. Apapun yang keluar dari mulut mertuanya itu terdengar sangat menjengkelkan dan saat pria tua menawan itu sedang diam, tetap saja sama menyebalkannya seperti saat dia sedang berbicara. Steve juga tidak menyukai cara Pax menatapnya yang seolah sedang mengawasinya seakan Steve adalah aligator berbahaya yang akan melahap abis putri kesayangannya. Ya, walau pun pemikiran tersebut tidak salah sepenuhnya apalagi setelah terpampang bukti nyata saat makan siang tadi.


"Hanya karena kami memutuskan untuk tinggal di pantai bukan berarti kami akan menjadi pemburu makhluk hidup laut, Ayah mertua."


Hais, lidahnya mendadak kebas hanya karena bersikap sopan kepada Pax yang tidak berasal dari lubuk hatinya. Lidahnya terbiasa menyebut Pax dan sialnya ia akan merasa lebih dekat dengan pria itu jika menyebut nama tanpa embel-embel.


Pax mengidikkan bahu, "Tidak ada yang salah dengan nelayan, mungkin saja kau bisa bertemu dan bertegur sapa dengan rekanmu di sana."


"Apakah kau sungguh menganggapku spesies aligator?"


"Memang aku tidak salah menilaimu. Kau cukup peka dan mengerti semuanya tanpa harus dijelaskan secara detail."


Steve kembali mendengus, "Kau lihat bagaimana Ayah mertua menilaiku, Lexi?"


"Ciih! Mengadu, heh?" Pax menimpali sebelum Lexi bersuara.


"Berhentilah bersikap kekanakan. Begitulah cara Daddy mengagumi. Maklumi saja." Lexi mengusap-usap lengan suaminya.


"Fitnah lebih kejam daripada fitnes. Untuk pertama kalinya putri kesayanganku melayangkan fitnah kepadaku. Kagum, heh?"


"Suamiku juga sangat mengidolakanmu, Dad. Dia terkagum-kagum kepadamu. Jika bukan demikian, ia tidak mungkin akan bertekad mengejarku sampai akhirnya berhasil bersanding denganku. Ini triknya agar selalu bisa dekat denganmu."


"Kali ini aku setuju denganmu, Ayah mertua. Tidak ada yang lebih kejam dari sebuah fitnah yang dilayangkan oleh orang kesayangan."


"Sering-sering lah berkunjung, kami pasti merindukanmu, Sayang." Alena mengakhiri perdebatan itu dengan membawa Lexi ke dalam pelukannya.


"Oh, Mom, aku juga pasti merindukanmu. Kita masih berada di negara yang sama. Hanya di kota yang berbeda. Jika kau sedang kesal kepada Daddy, kau tahu kemana harus minggat. Kita akan membicarakan keburukan Daddy sepanjang malam."


"Pada akhirnya kita tidak akan menemukan keburukan Daddy-mu," Ah, Alena istri yang baik dan pengertian. Tidak pernah dari mulutnya keluar aib atau pun kesalahan sang suami. Ya, Pax memang sangat memujanya dan Alena lebih memujanya. Orang yang saling memuja tidak akan melihat kekurangan masing-masing, bukan?


"Sepertinya aku mulai melihatnya, Mom," Lexi berbisik di telinga ibunya. Alena mengurai pelukan mereka, dahi wanita itu sedikit mengernyit, antara penasaran dengan keburukan apa yang dimiliki suaminya dan antara tidak terima bahwa Lexi menyebut jika suaminya memiliki kekurangan.


"Daddy cemburu dengan ketampanan suamiku, Daddy iri dengan kegagahan dan kemaskulinan suamiku dan Daddy merasa tersaingi mulai sekarang karena harus berebut perhatianku dengan Steven!" Pada akhirnya Lexi mewarisi kegilaan Alena dalam menyanjung suaminya.


"Daddy juga pernah menawan pada zamannya," astaga, Pax! celetukan yang sangat menggelikan.


"Sekarang kau masih mengagumkan, Dad. Percayalah!" Lexi menghambur ke dalam pelukannya. "Kau masih berada di dalam urutan pertama pria mengagumkan dalam hidupku." Lexi berjinjit untuk memberikan kecupan di pipi ayahnya. "Aku mencintaimu!"


"Jika ayahmu adalah pria pertama, bagaimana denganku?" Steve menarik Lexi agar menjauh dari ayahnya, khawatir jika Pax akan menahan Lexi lebih lama untuk tinggal di bersama mereka. Ya ampun, Steve! Otakmu perlu dicuci agar tidak selalu berburuk sangka pada ayah mertuamu!


"Kau jawara! sang pemenang di hatiku!"


🌻


Akhirnya, Steve dan Lexi benar-benar meninggalkan New York, meninggalkan hiruk pikuk kota, juga kenangan buruk yang pernah terjadi. Keduanya memutuskan untuk tidak pernah membahas apa yang sudah terjadi. Yang akan mereka kenang selanjutnya adalah tentang perjalanan manis mereka setelah menikah.


Karena mereka sudah memutuskan untuk tidak membahas masa lalu, pun Steve mengurungkan niatnya untuk membawa Lexi bertemu dengan Lily Oswald. Steve juga tidak mengatakan tentang Olivia yang masih hidup dan sedang mendapat perawatan. Biarlah semuanya menjalani hidup masing-masing.


Saat ini, Steve harus fokus pada kebahagiaan mereka, kenyamanan Lexi dan juga masa depan mereka. Dalam menentukan masa depan, mereka sepakat untuk memproduksi anak di tahun pertama, lalu memproduksi lagi di tahun ketiga, lalu memproduksi lagi di tahun kelima lalu mereka akan fokus merawat anak-anak mereka dengan kedua tangan mereka juga kasih sayang yang berlimpah. Hanya ada mereka, keluarga kecil yang bahagia dan penuh cinta.


Steve menoleh sekilas sembari melengkungkan bibirnya dibarengi dengan tatapannya yang selalu penuh cinta.


"Sebelum anak-anak memakan masakan ibunya, aku akan mencicipinya terlebih dahulu untuk memastikan apakah anak-anak akan tetap sehat setelah menikmati masakan hasil racikan tanganmu yang ajaib," Steve berkelakar. Lexi merengut, mengerucutkan bibirnya.


"Tidakkah kau mendengar bahwa aku mengatakan bahwa aku akan belajar, Mr. Percy."


"Oouh, Mrs. Percy, jangan memasang wajah menggemaskan seperti itu. Terlalu berbahaya. Bisa-bisa aku melucutimu di sini dan kita berakhir di kantor polisi atas pelanggaran lalu lintas dan perbuatan mesum di tengah jalan kota."


"Itu akan menjadi salah satu kenangan manis yang konyol. Bagaimana jika kita melakukannya. Aku ingin melihat seperti apa suamiku yang hebat bisa menghadapi polisi daerah dengan tenang atau justru mati kutu seperti saat keluargaku melihat bukti betapa rakusnya kau saat menjadikanku sebagai tawanan."


"Jangan ingatkan aku akan momen tadi siang. Berhenti merayuku saat aku sedang mati-matian menahan diri." Steve meminggirkan mobil secara mendadak. Ia menatap lapar pada leher yang penuh dengan hasil karyanya.


"Kau tidak perlu menahan diri," Bisik Lexi dengan suara menggoda. "Apakah kita akan melakukan kegilaan di sini, Mr. Percy? Kau menghentikan mobil."


Steve menggeleng, "Aku akan menahan diri untuk itu. Bercinta di tempat sempit membatasi pergerakanku. Aku berhenti karena aku butuh imun," Steve melirik bibir sensual istrinya yang beraroma manis. Di detik selanjutnya ia menarik leher Lexi dan menahan tengkuk wanita itu. Pun mereka berpesta dengan saling bertukar saliva.


"Vitamin yang luar biasa," Ucap Steve di atas bibir Lexi yang sudah basah akibat ulahnya.


Tok. Tok.


Ketukan di jendela membuat keduanya kompak menoleh. Seorang pria berseragam terlihat di sana.


"Katakan, bagaimana kau akan mengatasi situasi ini, Suamiku. Kita tertangkap." Lexi tertawa geli karena ucapannya beberapa saat lalu seolah menjadi nyata.


"Bercinta dan menghabiskan malam kedua di balik jeruji tidak ada di dalam daftar fantasiku, Istriku sayang. Jalan ninjaku adalah kabur!" Steve menginjak pedal gas dan melesat dengan kecepatan tinggi.


"STEVEN PERCY, AKU MENCINTAI KEGILAAN INI!!!"


Keduanya tertawa, mengabaikan laungan sirene yang mengejar mereka di belakang. Ini lah cinta, selalu gila tapi penuh dengan warna.


Jatuh cinta adalah perasaan yang membuat kinerja tubuh menjadi tidak beraturan, jatuh cinta, maka keadaan hati akan merasa senang dan menggebu-gebu hanya dalam jeda beberapa detik. Segala tingkah laku sang pujaan hati akan terlihat keren dan memalukan secara bersamaan, hingga terkadang memicu detak jantung yang lebih cepat.


Efek dari sebuah cinta memang begitu besar. Dinginnya sifat seseorang dapat luluh hanya dengan perasaan dan pernyataan cinta. Kesedihan yang berlarut pun dapat diredakan dengan sebuah cinta. Bahkan ketika kau sedang dalam masalah yang besar sekalipun, jika kasih sayang diberikan oleh orang terdekat secara cuma-cuma akan menjadi dukungan yang berguna. Maka dari itu, hargai dan jagalah orang tersayang dengan sungguh-sungguh, maka dia akan memberikan segalanya kepadamu. Dicintai memang lebih baik daripada mencintai, tetapi lebih indah lagi jika saling mencintai.


Steve dan Lexi membuktikan hal itu. Dendam yang membakar setiap aliran darah Steve, sirna hanya karena kata cinta. Cinta Lexi yang luar biasa mampu menjadi penyejuk, pengobat dan penyemangat bagi seorang Steven Percy.


Cinta adalah ketulusan, itulah yang ditunjukkan keduanya. Dari ketulusan kita belajar makna dari sebuah keikhlasan dalam kehidupan.


Jatuh cinta tidak hanya membuat seseorang bahagia, namun juga berjuang untuk orang yang disayang. Steve berjuang mati-matian dan tidak ada perjuangan yang sia-sia. Berbahagialah ketika kau sedang jatuh cinta. Karena di situlah kau akan memberikan yang terbaik dalam hidupmu.


____


Jika cinta hanya diperuntukkan untuk mereka yang berpenampilan menarik. Lantas kemana aku si wanita kuno yang fakir akan cinta melabuhkan hati? Bolehkah aku berharap jika kelak akan datang si dermawan cinta yang rela berbagi denganku untuk meneguk betapa manis rasa dari cinta tersebut. Dan aku berharap orang itu adalah kau.


_Isabell Geonandes_


Note: Jangan salah memaknai cinta. Cinta adalah anugerah Tuhan untuk membuat perasaan hamba-Nya menjadi bahagia. Bentuk nyata betapa Sang Yang Kuasa mencintai hamba-Nya. Tidaklah adil jika kegilaan kita terhadap pasangan tidak segila kecintaan kita kepada Sang Pemberi Cinta. Tidak ada cinta yang lebih besar dari cinta sang Pencipta kepada kita.


Cinta terindah adalah cinta sang Maha Kuasa. _Author_