
Satu hari sejak Lexi memutuskan untuk kembali, yang dilakukan Steve hanya berkurung diri di kamar, mengabaikan Beth yang mendadak begitu sangat perhatian.
Hari sudah siang, Steve mendengus malas melihat pintu kamar kembali dibuka. Beth dengan nampan di tangan masuk melintasi ruangan.
Sarapan tadi pagi, hasil racikan temannya itu belum ia sentuh sama sekali dan sekarang makan siang pun tiba dan ia belum berniat untuk mengisi perutnya sama sekali.
"Kau ingin membunuh dirimu?"
Ck! Pertanyaan yang berlebihan menurut Steve. Belum ada ceritanya seseorang mati hanya karena melewatkan sarapan satu kali.
"Apa kau pernah mengalami patah hati?"
"Aku mengalami hampir selama hidupku," Beth menyahut enteng.
Steve tersedak, ia melupakan jika Beth memang kurang beruntung dalam hal wanita. Ralat, bukan kurang beruntung, terlalu beruntung tepatnya. Setiap wanita wanita yang menyatakan perasaan kepada pria itu selalu diterima oleh Beth. Entah itu satu, dua atau bahkan lima dan ia akan mengatur jadwal atas wanita-wanitanya. Kekurangannya hanya satu, Beth kurang ahli menyembunyikan kedoknya. Karena begitu karakter aslinya terbongkar sebagai pengoleksi wanita, para wanita itu serempak memutuskan hubungan.
"Makanlah. Ada beberapa email yang harus kau jawab. Fokus pada pekerjaanmu sejenak, lupakan masalah hati."
"Hatiku sudah tidak bisa diselamatkan," Steve menarik napas panjang, kemudian merebahkan tubuhnya kembali seraya menarik selimut, menutupi seluruh tubuh.
"Kau menyedihkan. Benar-benar pengemis rasa."
Steve menyingkap selimut, menatap Beth dengan tatapan membunuh, teman laknatnya itu balas menatap dengan tatapan tenang.
"Kau memang terlihat seperti pria pengemis rasa."
Kembali Steve menarik napas panjang, "Kau benar," ujarnya dengan lesu. "Berikan aku makanannya dan bacakan jadwalku dari yang terpenting."
"Kau tidak memiliki jadwal apa-apa. Kau bisa mewakilkannya kepada Leon atau pun Zenia."
"Kalau begitu, sebutkan siapa saja yang mengirim email dan menghubungiku. Omong-omong, aku sudah berani melihat diriku di cermin. Rupaku memang tidak mengecewakan. Dan satu lagi, Beth, tolong kau cari arti dari ucapan Nobita ke Doraemon tentang semuanya harus kembali ke asal. Bila perlu, kau harus menonton semua episodenya untuk bisa mendapat kesimpulan terbaik."
Beth menggaruk kepalanya, otaknya sedikit sulit mencerna perintah Steve yang disampaikan secara campur aduk. Nobita Doraemon, astaga, ia menyukai Shinchan!
"Bagaimana jika kau kembali tidur, Steve. Kurasa memang istirahatlah yang sedang kau butuhkan."
Steve mengabaikan protes yang dilayangkan Beth dalam bentuk perhatian karena deringan ponsel menarik perhatiannya.
Beth mengambil ponsel yang berada di atas nakas, memberikannya kepada Steve. Ia mengerutkan kening membaca nama yang tertera di layar.
"Ada apa gerangan wahai Vasquez? Aku tidak sedang ingin berbasa basi, jadi katakan keperluanmu dengan cepat dan jelas."
Terdengar decakan kesal dari rekan juga rival bisnisnya tersebut.
"Aku hanya ingin menawarkan model profesional yang bisa menambah pundi-pundi kekayaanmu, Ivarez..."
"Percy," Steve meralat dengan segera.
"Percy?" Gavin Vasquez bertanya bingung.
"Ck! Kau tidak mengikuti berita luar negeri. Dan soal pundi-pundi kekayaanku, terima kasih atas perhatianmu, Vasquez, tapi aku tidak kekurangan model yang bisa memberi keuntungan dalam bisnisku."
"Aku memaksa. Kau harus menerima model ini."
"Ciih!"
"Kapan kita bertemu."
"Aku tidak tertarik."
"Oke, tiga hari lagi. Aku menunggumu di London." Dia yang berkepentingan, dia pula yang meminta ditemui.
"Aku sedang tidak ingin berurusan dengan para wanita yang nantinya lebih tertarik padaku daripada pekerjaannya." Tipikal pria angkuh yang memang menyadari kelebihannya. Beth yang mendengar hal itu menggerutu dengan nada pelan.
"Sombong sekali Anda. Tapi, kujamin model yang satu ini tidak akan menoleh kepadamu," terdengar sahutan dari seberang telepon.
"Sampai jumpa," Steve memutuskan panggilan. "Mari kita berlibur, Beth." Ia segera turun dari ranjang. "Pengemis rasa juga butuh hiburan. Mari kita lihat, seperti apa model profesional yang ia tawarkan."
"Ck! Pria tetaplah pria. Akan bersemangat jika topik yang dibahas adalah wanita."
"Itu tandanya normal. Bersiaplah, kurangi bacotmu. Telingaku berdenging dan satu lagi, kirim 1000 sampanye kepada Pax Willson."
"Untuk apa lagi wahai sahabatku?"
"Untuk mengatakan aku baik-baik saja."
"Dia tidak akan peduli padamu."
"Aku tahu. Aku mengatakan demikian karena kesal dengan pertanyaanmu. Kirimkan saja agar dia bertanya-tanya dengan maksud dan tujuanku."
"Aku menyesal datang menemuimu kemari."
"Percayalah, Beth, aku tidak mengharapkan kedatanganmu kemari, tapi berhubung kau di sini, aku tidak akan membiarkan tenaga seseorang menganggur begitu saja. Astaga, sepertinya Pax Willson akan hidup 1000 tahun lagi, lihatlah, dia menghubungiku." Pax menunjukkan layar ponsel yang menunjuk nama Thanos di sana.
"Ada apa?" Steve sengaja mengatur nada suaranya agar terdengar acuh tidak acuh.
Beth harus menahan diri agar tidak mencekik lehernya karena menyaksikan langsung drama yang dimainkan Steve. Dulu hingga satu jam yang lalu, Beth sangat mengagumi Steve, tapi sekarang, detik ini, rasa kagum itu berangsur hilang. Sebelum Beth benar-benar melaksanakan niatnya untuk mencekik leher Steve, pria itu segera keluar untuk mempersiapkan keberangkatan mereka.
"Lexi sudah kembali dalam keadaan sehat tidak kurang apa pun."
"Oh ya?"
"Oh ya?" Pax membeo. Jelas bukan reaksi santai seperti itu yang ingin ia dengarkan dari mulut Steve.
"Kau pasti sangat senang sekali. Kunjungi panti jompo atau pun panti sosialnya lainnya. Bersedekahlah sebagai rasa syukurmu."
"Mulia sekali nasehatmu, anak muda. Akan kulakukan. Bagaimana keadaanmu?"
"Ouh, kau sangat perhatian. Sepertinya aku juga harus melakukan hal yang sama. Bersedekah untuk rasa syukur atas perhatian yang kau berikan."
"Ya, bersedekahlah. Omong-omong, kau dimana?"
"Mau menyusulku?"
"Mungkin."
"Kalau begitu aku tidak akan mengatakannya. Liburanku bisa hancur hanya karena melihat wajahmu yang tidak sedap dipandang."
"Jadi kau sedang berlibur?" Pax memilih mengabaikan ucapan Steve yang sengaja memancing gula darahnya naik.
"Memangnya apa yang kau harapkan?" Steve benar-benar tidak merasa canggung apalagi sungkan kepada mantan ayah mertua tidak jadinya itu. Ia seakan sedang berbicara dengan bestienya.
"Aku hanya berharap kau hidup dengan baik, Son." Pax dalam mode bijak. Dari lubuk hati terdalamnya, itulah yang ia harapkan. Baik itu untuk kehidupan Steve ataupun Lexi.
"Aku akan hidup dengan baik. Tidak usah kau khawatirkan aku. Dan jika di hatimu masih terselip rasa bersalah atas diriku, singkirkan rasa itu demi kebaikanmu agar bisa menikmati masa tuamu dengan tenang. Aku tidak akan mengulangi apa yang akan kukatakan ini, jadi dengarkan baik-baik. Terima kasih telah membentuk diriku seperti ini. Dan terima kasih juga atas kepercayaanmu kepadaku menyangkut putrimu. Aku memaafkanmu, tapi sesungguhnya kata terima kasih lah yang lebih layak kau dapatkan, Pax Willson."
"Apakah ini kata-kata perpisahan?" suara Pax berubah haru.
"Itukah yang kau harapkan? Kutarik kembali ucapanku dan percayalah, lidahku mendadak gatal!"
"Dan telingaku ikut mengeluarkan lendir, menangis terharu, Dude!"
"Kurasa ini akhir dari perbincangan kita. Bye." Steve memutuskan sambungan telepon.