
Satu bab lagi untuk hari ini.
Happy reading. Sampai bertemu bulan depan. Sehat selalu semua💙🥂
.
.
"Apa yang dikatakan dokter?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Dad. Putramu baik-baik saja." Austin lah yang menjawab pertanyaan ayahnya.
"Kau baik-baik saja?" Pax merangkul Isabell yang berdiri di samping pria setengah baya itu. "Kudengar kau juga tenggelam."
"Aku baik-baik saja, Uncle. Austin memijat kakiku dengan baik. Aku tidak tahu jika Austin memiliki keahlian sebegai tukang pijat."
"Oh ya?" Pax menukik alisnya, menatap putra bungsunya dengan tatapan meremehkan. "Saat aku membutuhkan pijatan, dia selalu mencari sejuta alasan."
"Kau seorang pria dan tubuhmu mulai keriput, Dad. Keahlianku berfungsi untuk manusia-manusia tertentu." Astaga! Anak tidak ada akhlak!
"Manusia tertentu? Apakah maksudmu gadis muda yang manis seperti Isabell?"
"You know me so well," Austin melayangkan tinju ke lengan ayahnya lalu dengan secara paksa melepaskan tangan ayahnya dari bahu Isabell.
Pintu ruangan kembali terbuka, Alena bersama Lexi memasuki ruangan. Steve langsung berdiri untuk menyambut istrinya. Menuntun istri kesayangannya untuk duduk di sofa.
"Kau sudah bertemu dengan bayi kita?" Steve mengusap perut istrinya yang masih rata. Ya, mumpung mereka berada di rumah sakit, Steve meminta Lexi untuk memeriksakan kandungannya.
"Ya, masih berupa titik hitam. Terlihat menggemaskan."
Steve tergelak, bagaimana bisa sebuah titik bisa terlihat menggemaskan.
"Lihatlah," Lexi memberikan foto hasil USG yang diberikan dokter padanya.
"Di mana bayi kita?"
"Di perutku."
"Jadi, ini foto apa?"
"Foto bayi kita?"
"Aku tidak melihat ada bayi."
"Titik hitam ini bayi kita. Lucu, tidak?"
"Di mana letak lucunya?" Steve bertanya dengan polos yang langsung mendapat delikan kesal dari sang istri.
"Dan tulisan apa ini?" Steve yang belum menyadari reaksi istrinya kembali mempertanyakan tulisan kode yang ada di foto hasil USG tersebut.
"Itu informasi tentang bayi kita. Kau menyebalkan sekali! Sudahlah, kau pulang sendiri ke Savannah. Aku akan di sini bersama keluargaku!"
Nah, benar kan. Lexi berulah lagi. Steve berdehem, ia mengangkat kepala dan menemukan beberapa pasang mata sedang menatap ke arah mereka.
"Aku hanya tidak bisa melihat kelucuan pada hasil foto bayi kami," eranngnya dengan nada frustasi.
Pax meringis, paham betul apa yang dirasakan Steve, tapi ia bersumpah tidak akan membela menantunya itu. Lebih baik ia diam dan menonton drama ini.
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia tidak menyayangi bayi kami," Lexi tidak mau kalah. Ia pun mengadukan keluhannya.
"Kau lah yang tidak mencintaiku, Lexi."
"Kau menuduhku?!"
"Kau meragukanku. Aku tidak menuduhmu."
"Kau membantahku?"
"Tidak, aku mana berani." Steve menarik tangan Lexi untuk ia genggam. "Aku tahu bahwa bayi kita pasti sangat lucu, sama sepertimu. Hanya saja, aku tidak bisa melihat kelucuannya di foto ini, Sayang. Fantasiku tidak sampai. Tapi demi Tuhan, aku yakin bahwa bayi terlahir dari rahimmu adalah bayi paling lucu dan menggemaskan sedunia. Percaya padaku."
"Oh, Steven." Lexi pun luluh seketika. Ia membawa tangan suaminya ke mulutnya. Ia mengecupnya berulang kali. Sebanyak-banyaknya. "Tapi aku ingin bayi kita terlihat sepertimu."
"Bayi kita akan terlihat sepertiku dan lucunya sepertimu."
"Astagaa! Aku tidak sabar melihatnya. Kapan bayi kita akan lahir?"
"Delapan bulan lagi. Kita akan bertemu dengan bayi kita. Kau akan ikut pulang denganku, Sayang?"
"Aku tidak bisa melihatmu menderita. Kau harus bahagia denganku. Kita akan menginap di rumah Daddy sampai aku melahirkan. Bagaimana?"
"Itu bukan menginap, Lexi sayang. Itu namanya pindah."
"Bagaimana jika sebaiknya kita mengabaikan mereka. Mendadak aku ingin menendang mereka berdua ke antartika," sarkas Austin yang benar-benar dibuat geli melihat sepasang suami istri tersebut. Ia kira ayah dan ibunya lah yang paling menggelikan. Ternyata Steve dan Lexi lah yang paling konyol. Tiap menit berdebat dan di menit selanjutnya bermesraan seolah yang kasmaran hanya mereka berdua.
"Ada apa dengan kepalamu? Apakah sakitnya sampai ke sana? Apa kepalamu terluka? Dokter sudah memeriksanya? Mungkin saja kepalamu terbentur saat terjatuh tadi dan mungkin dokter lupa memeriksanya. Aku akan memanggilkan dokter."
Semua mengerjap bingung melihat reaksi Isabell yang menanggapi celetukan Darren dengan serius.
"Tadi aku hanya bergurau. Tapi sekarang, kepalaku sungguh sakit mencerna ucapanmu."
"Jadi kepalamu sakit atau tidak?"
"Kepalaku akan sembuh jika kau berhenti mengoceh dan Lexi beserta suaminya berhenti bermesraan di hadapanku."
"Sepertinya kita diusir, Steven," Lexi memeluk suaminya, mengendus daada suaminya seperti Chihuahua.
"Hentikan, Lexi. Jika kau seperti ini, bukan hanya Darren yang mengusir kita. Ayahmu sudah bersiap untuk menendangku, Lexi. Sebelum itu terjadi, sebaiknya kita pergi. Selamatkan suamimu."
"Baiklah, aku juga sudah bosan di sini. Aku butuh kamar yang empuk."
"Adegan itu bukan untuk ditiru, Isabell," Alena akhirnya bersuara dengan menahan rasa geram. Entah siapa yang harus ia salahkan. Stevenkah atau putrinya Lexi yang berubah 360 derajat.
"Jika ingin seperti mereka, harus segera menikah," Austin menyenggol pundak Isabell. Wajah gadis itu seketika bersemu merah.
___
"Selamat pagi,"
Darren memendarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka berdua.
"Selamat pagi," ia menyahut sapaan Isabell.
"Mom dan Dad sudah pulang tadi malam saat kau tertidur. Austin baru saja keluar. Mungkin untuk membeli makanan. Bagaimana kondisimu?"
"Baik."
"Tidak ada keluhan?"
"Tidak."
"Pusing?"
"Tidak."
"Berkunang-kunang?"
"Tidak."
"Perut melilit?"
"Tidak."
"Mual?"
"Tidak. Aku tidak sedang masuk angin, Isabell. Apakah sekarang kau sedang beralih profesi menjadi perawat?"
"Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja. Duduklah, ada yang ingin kutanyakan padamu."
Isabell dengan patuh menuruti perintah Darren.
"Kau sudah sarapan?"
"Belum. Austin mungkin akan membeli sarapan untukku. Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kenapa kau bergeming saat mendengar suara tembakan? Jelas kau menyadari ada bahaya. Kau menutup kedua telingamu, apa yang terjadi?"
Kemarin Isabell sibuk menenangkan dirinya sendiri. Mengira tidak ada yang menyadari goncangan yang ia alami. Bagaimana bisa Darren menyadari hal itu disaat pria itu sibuk melindungi semuanya.
"Aku..." Isabell bingung harus menjawab apa. Karena ia sendiri pun tidak yakin dengan alasannya. Jika karena hukuman yang ia alami semasa kecil di kamar gelap itu, sungguh ia tidak akan menceritakannya kepada siapa pun. Itu terlalu menyedihkan. Ia saja tidak sudi untuk mengingatnya.
"Apakah sebelumnya kau pernah mengalami bahaya seperti ini?"
Isabell menggeleng kuat, ia yakin dengan hal itu. Ia belum pernah mengalami kejadian seperti ini.
"Aku tidak pernah dalam bahaya."
"Kau yakin?"
Isabell menganggukkan kepala. "Aku selalu di istana, tidak pernah kemana-mana."
"Jangan pernah terluka," pinta Darren dengan dalam dan penuh makna.