
SELAMAT MENUA, DASRLA CALISTA. PANJANG UMUR, SEHAT SELALU. SEMOGA MENJADI PRIBADI YANG LEBIH BAIK LAGI, LAGI, DAN LAGI🍳🍡
..
..
"Harus kuakui, masakanmu luar biasa enak. Bagaimana bisa seperti itu," Lexi berceloteh sepanjang mereka kembali ke dalam kamar.
"Ya, masakanku tidak akan membuatmu mengalami nikmatnya mencirit karena aku jelas tahu penggunaan garam, gula, bahkan bumbu lainnya," sarkasme pria itu langsung mendapat pelototan kesal dari Lexi.
"Aku hanya terlalu bersemangat."
"Kenapa tidak mencobanya terlebih dahulu sebelum menyuguhkannya kepada orang lain."
"Astaga, kau seperti menyalahkanku atas derita yang kau alami. Aku tidak menyuguhkannya kepadamu juga tidak menawarkannya dan kenapa kita kembali ke kamar?"
"Ini sudah malam, tentu saja kita harus tidur." Steve mendorong pintu, mempersilakan Lexi masuk ke dalam kamar.
"Kurasa aku harus pulang."
"Aku akan mengantarmu besok," Steve menarik tangan Lexi agar masuk ke dalam kamar. Ia sudah kabur dari rumah sakit demi gadis itu dan sekarang ia tidak akan membiarkan Lexi pergi, setidaknya untuk malam ini. "Tidurlah," Ia mendudukkan Lexi di atas ranjang. "Pakaianmu mungkin akan membuatmu tidak nyaman..."
"Oh, ini sangat nyaman sekali. Tidak usah khawatir." Lexi segera berbaring, menarik selimut hingga menutupi dagunya. "Selamat malam." Lexi memejamkan mata tanpa menunggu balasan dari Steve. Menurutnya, lebih baik menghindari perbincangan dengan Steve. Ia kira pria itu sangat irit bicara, ternyata penilaiannya sangat salah. Ya, memangnya sejak kapan ia pintar menilai pria?! Tapi sesunggugnya, bukan itu masalah utamanya. Lexi hanya khawatir jika semakin sering berbincang dengan pria itu, ia semakin terpengaruh dan jatuh hati.
"Mimpi indah," Steve mengusap kepala Lexi dengan lembut.
Aku tidak boleh membuka mata. Selamat malam adalah akhir perbincangan malam ini. Hais, kenapa dia suka sekali menyentuh kepalaku!
Hampir saja Lexi menghembuskan napas lega saat merasakan tangan Steve terangkat dari kepalanya. Lexi juga mendengar langkah kaki pria itu, menjauh dari ranjang. Membuka mata, mengintip kemana Steve kira-kira pergi. Pria itu berdiri di depan jendela. Menatap ke kejauhan. Apa yang menarik di sana?
____
"Bagaimana? Apakah aku perlu menarik pelatuknya sekarang?" seorang sniper menyorot targetnya melalui teropong di assault rifle-nya. "Wanita itu berbaring di atas ranjang. Katakan bagian tubuhnya yang mana yang harus kubidik?"
Sniper tersebut mengalihkan tatapannya ketika tidak mendapatkan jawaban dari sang tuan yang membayar jasanya. Sosok itu juga sedang melakukan hal yang sama dengan si sniper. Mengawasi kamar Steve dengan teropong.
"Apa sebenarnya yang kita lakukan di sini? Menonton mereka bercinta?"
"Steve tidak akan menyentuh wanita itu, tidak sekarang."
"Lantas, apa yang kita lakukan di sini? Membidik wanita itu? Bukankah itu yang menjadi masalahmu?"
"Percuma. Jendela itu anti peluru."
"Sebaiknya kita pergi. Tidak akan terjadi apa-apa malam ini. Aku memiliki rencana lain rencana yang akan menghancurkannya, menghancurkan semuanya," senyuman iblis tergelincir dari mulutnya. Matanya menyorot penuh dendam juga kemarahan.
Sniper tersebut tergelak, "Aku tidak sabar untuk menyaksikannya."
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, terlihat keluarga Willson sedang menikmati makan malam bersama keluarga Percy. Ya, saat Lexi menghubungi ibunya, meminta izin untuk menginap di rumah orang tua Steven, detik itu juga ayahnya, Pax Willson menghubungi Giovani Percy, mengundang mereka secara pribadi untuk makan malam. Lexi ketahuan berbohong.
"Jadi Lexi tidak ada di rumah?" Daphne Percy bertanya setelah mereka selesai makan malam dan sekarang sedang berada di ruang utama. "Aku sangat merindukannya. Apakah dia baik-baik saja?"
Alena tersenyum sembari menganggukkan kepala. Senyuman yang sebenarnya palsu karena sesungguhnya ia sangat cemas dengan keadaan putrinya. Untuk pertama kalinya Lexi berbohong kepada mereka.
"Lexi baik-baik saja. Ia hanya sedang menginap di rumah salah satu sahabatnya."
"Lexi bukan gadis yang bisa tidur di sembarang tempat. Pasti temannya itu sangat dekat dengannya," Giovani menimbrung. Sama seperti istrinya, ia juga sangat merindukan Lexi. Sudah hampir satu minggu mereka tidak bertemu, juga tidak bertegur sapa melalui telepon seluler.
Pax mengambil kopi yang disuguhkan Alena, menyesapnya perlahan. Dari balik bulu matanya yang gelap dan panjang, ia menatap Giovani. Pria setengah baya yang sepantaran dengannya. Pria yang memiliki kasih sayang yang tulus kepada Lexi seperti kasih sayangnya. Pria itu juga mengenal kebiasan Lexi seperti mereka mengenal Lexi dengan baik. Ya, apa yang dikatakan Giovani Percy benar, Lexi tidak bisa tidur di sembarang tempat.
"Ya, kau benar Mr. Percy, Lexi sangat pemilih. Bagaimana kebun anggurmu, kudengar penjualannya naik empat kali lipat."
Giovani mengangguk, "Ya, ini berkat bantuanmu, Mr. Willson. Hm, sebenarnya, ada hal yang ingin kami tanyakan."
"Ya, silakan."
Giovani menatap istrinya, pun Daphne segera merogoh tasnya, mengelurkan sesuatu dari sana. Ponselnya.
"Begini, Mr. Willson, sebenarnya ini sudah lama menganggu pikiran kami. Hanya saja, kami merasa sungkan untuk bertanya. Tapi, berhubung Lexi tidak ada di sini, apakah kiriman yang masuk ke rekening kami berasal dari Lexi?" Giovani menyerahkan ponsel, menunjukkan bukti transferan yang masuk ke dalam rekening mereka. "Saat kami melakukan konfirmasi ke bank tersebut, tidak ada nama pengirim dan mereka tidak bersedia memberi tahu kiriman itu berasal dari mana. Tapi mereka juga menegaskan bahwa benar uang itu dikirim ke rekening kami. Ini sangat membingungkan. Jika benar, Lexi adalah pengirimnya, kami merasa tidak layak menerimanya. Gadis itu sudah terlalu banyak membantu kami. Tolong ambil kembali, Mr. Willson."
Pax melirik sekilas, kemudian mendorong kembali ponsel tersebut. "Bukan Lexi yang melakukannya."
"Lalu, siapa yang melakukannya? Jumlahnya begitu besar." Daphne menunjukkan rekeningnya yang memang mendadak gendut. "Satu-satunya orang yang memungkinkan adalah Lexi kita."
Pax tersenyum samar, ada kebanggaan tersendiri karena ternyata tidak ada yang lebih mengenal Lexi sebaik dirinya. Lexi tidak akan sanggup menyembunyikan apa pun. Lexi juga tidak sepintar itu, dalam arti tidak akan terpikir bagi gadis itu untuk memberi bantuan tanpa meninggalkan jejak. Lexi selalu transparan. Pax juga bisa menjamin jika esok hari, putri cantiknya itu akan bertingkah layaknya kucing anggora yang sangat manis karena merasa bersalah atas kebohongan yang dilakukan.
"Menyembunyikan sesuatu, Lexi anggap sebagai suatu kejahatan. Apa pun itu. Lexi tidak akan membuat seseorang tidak nyaman. Dia akan meminta izin terlebih dahulu kepadamu atau pun suamimu jika ia ingin memberikan sesuatu. Jika kau menolak, ia akan memaksa, bukan mengirimnya secara diam-diam."
"Ya, aku juga memikirkan hal yang sama. Lalu, siapa kira-kira yang melakukannya? Ini uang yang sangat banyak." Giovani bergumam.
"Siapa pun itu, tidakkah sebaiknya kalian menikmatinya. Bersenang-senanglah. Pergilah berlibur. Kebun anggurmu juga sudah ada yang menangani, bukan? Kau memiliki karyawan yang lumayan banyak. Kudengar ada pengusaha yang mengajukan kerja sama denganmu, Mr. Percy."
"Ya, penjualan meningkat pesat setelah kerja sama itu terjalin dan tidak ada kiriman uang yang masuk lagi setelah itu. Ini semakin membingungkan."
Pax terkekeh, "Jangan terlalu banyak berpikir. Sudah waktunya kau dan Mrs. Percy bersenang-senang. Ajaklah Lexi pergi berlibur."