
"Hai," Jossie menyapa dengan canggung.
Darren mengarahkan matanya ke arah kursi yang ditempati Isabell beberapa saat lalu. Jossie pun langsung menarik kursi tersebut dan segera duduk.
"Terima kasih," Akhirnya Jossie bisa mengucapkan kata tersebut di tengah emosi yang masih bersemayam di hatinya karena ulah Austin.
"Tidak masalah."
"Kau terluka."
"Ya."
"Terima kasih," Jossie kembali melayangkan ucapan terima kasih untuk kesekian kalinya. Jika di luar tadi ia emosi karena Austin, tidak dengan di sini saat ia bersama Darren, pria yang mendadak menjadi pahlawan di matanya karena sudah menyelamatkan anak-anaknya. Ia tidak bisa menyampaikan rangkaian kata-kata untuk menunjukkan ketulusan atas pertolongan Darren tanpa menjadi terlalu emosional saat berbicara. Jadi, ia harap Darren bisa memahami bahwa hanya kata terima kasih yang bisa ia ucapkan.
"Aku mengatakan tidak masalah, Jossie."
"Jely dan Jorell adalah hidupku."
"Ya, aku bisa mengerti. Bagi ibuku, aku adalah kekuatannya." Darren bukan penghibur yang baik. Kata-katanya justru terdengar seperti lelucon garing yang tidak bisa menciptakan tawa.
"Maaf," Ucap Darren dengan kikuk. Ia kira Jossie akan merespon ucapannya. Wanita itu hanya menatapnya dengan sorot mata menyesal.
"Aku bukan teman bicara yang baik.''
"Tapi kau pria yang gesit dan jeli." Puji Jossie tanpa berniat untuk merayu.
"Aku anggap itu sebagai pujian."
"Itu memang pujian."
"Aku bisa tersipu."
"Aku yang tidak melihat kau tersipu sama sekali."
Darren tersenyum tipis.
"Pasti kau pria yang selalu mendapat pujian dari para wanita."
"Aku tidak akan menyangkal." Meski di darahnya tidak mengalir darah Willson, tapi keangkuhan Willson yang penuh percaya diri tertanam di jiwanya. "Kadang-kadang mereka menyebutku tampan dan menawan. Aku tidak butuh pujian itu karena aku tahu dengan jelas kelebihanku. Kami memiliki banyak cermin di rumah untuk bisa menyadari anugerah rupawan yang ada padaku."
Jossie merasa ketegangannya lenyap seketika. Ia tidak bisa menahan tawanya. "Kau pria yang penuh percaya diri."
"Aku memiliki modal yang cukup untuk itu."
Jossie kembali tertawa dan kali ini, ia mengangguk membenarkan ucapan Darren.
"Kukira kau pria yang kaku."
"Ah, ternyata begini rasanya?" Darren bergumam muram. Ia ingat saat mengatakan hal yang sama pada Isabell yang direspon gadis itu dengan emosi.
"Rasanya?" Jossie bertanya bingung.
Darren menggeleng, "Jely dan Jorell pasti sangat terkejut."
"Ya, tapi aku berhasil menenangkan mereka."
"Kau ibu yang baik."
Jossie tersenyum simpul, "Mereka anak-anakku. Anak-anak yang hebat. Mereka percaya padaku saat aku mengatakan semuanya baik-baik saja. Jely sangat khawatir padamu."
"Katakan padanya, kekhawatirannya sia-sia. Aku baik-baik saja dan aku tersanjung atas perhatiannya. Manis sekali."
"Terima kasih."
"Yang kumaksud adalah putrimu."
"Ya, aku tahu. Aku mewakili Jely." Dan mereka berdua pun tertawa.
Hening. Keduanya mendadak diam dan hanya saling menatap.
Jossie berdehem. Mereka kehabisan topik basa basi. "Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"
Tidak ada gunanya membuang-buang waktu. Ia dan anak-anaknya juga harus pulang. Ucapan terima kasih sudah ia sampaikan. Setelah ini, mereka tidak akan bertemu lagi. Ia dan anak-anaknya akan kembali ke rumah mereka. Urusannya di kota ini sudah selesai.
Kedatangannya ke Brooklyn adalah untuk mengurus warisan yang ditinggalkan ayahnya, termasuk rumah yang dulu sempat mereka tempati. Jossie memberikan rumah itu kepada negara agar dijadikan museum. Ia tidak berniat untuk tinggal di sana. Ia dan anak-anaknya sudah memiliki kehidupan yang cukup nyaman. Tinggal di rumah orang tuanya hanya akan membuatnya mengingat kematian ayahnya. Jossie tidak sanggup setiap mengingat hal itu.
"Kau pasti sudah mendengar perbincangan antara Austin dan Mr. Scoot."
"Ya. Aku tidak mengenal Bartoli," Jossie sudah bisa menebak bahwa Darren akan mempertanyakan hal itu. "Aku tidak berbohong, sungguh. Aku menghabiskan waktu di luar memikirkan nama itu. Tidak ada nama Bartoli dalam daftar kenalanku."
Darren tidak melihat kebohongan di mata Jossie. Darren percaya pada wanita itu. Tapi bukan itu yang ingin Darren ketahui. Ia dan Austin sendiri tidak tahu siapa itu Bartoli. Mereka belum ada di dunia saat pria itu sudah menjadi buronan. Saat itu, Darren mungkin sedang berada di dalam kandungan ibunya.
Tebakannya, mungkin Bartoli adalah sniper yang dibayar untuk mengincar salah satu dari mereka. Tapi kemungkinan itu sangat kecil. Jika tiga puluh tahun lalu Bartoli sudah menjadi buron, artinya pria sudah cukup berumur sekarang. Mungkin seusia ayahnya.
"Ini mungkin sangat pribadi, tapi bisakah kau mengatakan padaku siapa yang mengawasimu dan anak-anakmu?"
Jossie tersentak mendengar pertanyaan itu. Ia juga memikirkan kemungkinan bahwa Bartoli bukan hanya seorang penembak bayaran, tapi nuraninya menolak jika mantan suaminya berniat mengambil anak-anaknya dengan cara kejam seperti itu.
Jossie enggan untuk menjawab pertanyaan Darren, tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengelak. Lebih mudah menghadapi pria frontal seperti Austin, dia bisa menyerang balik dengan memutar arah cerita. Tapi Darren berbeda, pria itu tidak mengintimidasinya seperti yang dilakukan Austin, pria itu justru meminta dengan sangat penuh hati-hati.
"Seseorang."
"Ya, tentu saja seseorang. Tidak mungkin alien atau makhluk luar angkasa lainnya."
Wajah Jossie bersemu merah karena malu.
"Lebih spesifik."
"Dia mungkin mengawasi kami, itulah yang kuyakini walau aku tidak pernah melihatnya. Tapi aku yakin bahwa dia tidak akan mencelakai anak-anakku."
Darren bergeming, ia menatap Jossie dengan intens. Mencoba mencerna kata-kata wanita itu dan mempelajari gestur yang ditunjukkan Jossie.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Ya, silakan."
"Ini akan terdengar tidak sopan."
Jossie terdiam, mempersiapkan diri mendengar pertanyaan yang akan dilayangkan Darren kepadanya. Ia mendadak gugup dan tidak nyaman. Sungguh, topik yang selalu ia hindari adalah menyangkut suaminya. Ia tidak ingin mengingat pria itu lagi. Suaminya sudah cukup memberi kenangan yang begitu buruk padanya, ia tidak akan sanggup menanggung beban jika suaminya kembali menambah daftar buruk yang mungkin berhubungan dengan kasus ini.
Suaminya adalah seorang penembak yang sangat jitu. Ia dijadikan pemimpin perang bukan tanpa alasan. Kenyataan itulah yang membuatnya sangat gugup. Mendengar nama Bartoli disebut, ia bisa sedikit lebih rileks. Itu bukan suaminya.
"Suamimu masih hidup?"
Benar dugaannya. Keberadaan suaminya kembali dipertanyakan. Dan kembali, ia tidak bisa menjawab dengan sinis karena Darren sudah terlebih dahulu meminta izin kepadanya dan ia mengizinkan.
"Ya."
"Apa Austin menanyakan hal yang sama padamu?"
"Ya."
"Sepertinya dia cukup membuatmu tertekan,"
"Dia pria yang sangat berterus terang," aku Jossie. Tipikal pria yang tidak suka berpura-pura. "Apa masih ada yang ingin kau tanyakan?"
"Sejauh ini tidak. Aku akan meminta Austin mengantarmu. Hm, omong-omong kau tinggal di sini?"
"Tidak. Aku hanya mengurus rumah peninggalan ayahku yang akan dijadikan museum."
"Lalu di mana kau tinggal bersama anak-anakmu?"
"Apakah kau keberatan jika aku menolak untuk menjawab."
"Aku tidak memiliki hak untuk itu, tapi aku akan merasa senang jika kau bersedia menjawabnya."
"Aku dan anak-anakku akan kembali besok. Urusan kami di sini sudah selesai."
Darren tidak memaksa Jossie untuk menjawab pertanyaannya. Dan Jossie bersyukur dalam hati.
"Aku menyesal untuk luka yang kau dapatkan dan aku berharap kau cepat sembuh."
"Terima kasih. Jika kau tidak keberatan, mampirlah besok. Aku ingin mengucapkan salam perpisahan pada anak-anakmu. Kuharap kau tidak menolaknya."
"Aku akan menyempatkan diri. Tapi aku tidak bisa berjanji."
"Austin akan mengantarmu."
"Kurasa itu tidak perlu. Aku membawa mobil dan aku bisa menyetir sendiri."
"Aku sangat mengantuk,"
"Aku akan pergi agar kau bisa tidur. Senang berkenalan denganmu, Darren Willson."
"Katakan itu lain kali, di waktu kita dipertemukan kembali."
Jossie tersenyum, "Ya, lain kali. Tidur lah."
Jossie pun segera berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Ia langsung disambut kedua anaknya.
"Mom, dia baik-baik saja?" Jely bertanya sambil memeluk kakinya.
"Ya, Darren baik-baik saja. Saat ini sedang tertidur dan dia menyampaikan salam padamu. Dia menyebutmu anak yang sangat manis."
Jely tersipu malu layaknya para gadis pada umumnya yang mendapat pujian dari pria tampan yang mengagumkan. "Boleh aku bertemu dengannya."
"Dia sedang istirahat, Sayang. Sebaiknya kita pulang. Ayo, katakan selamat tinggal pada Isabell,"
Austin mendengus saat namanya tidak disebut. Dan Jossie pura-pura tidak melihat.
"Terima kasih sudah menjaga anak-anakku selama aku di dalam."
"Mereka anak-anak yang manis," puji Isabell. "Kita belum berkenalan," Isabell mengulurkan tangan sambil menyebut namanya. Jossie menyambutnya dengan ramah.
"Jossie Moore."
"Kau akan pulang?"
"Ya. Jely dan Jorell pasti sudah sangat lelah."
Jossie dan Isabell menatap kedua bocah itu dan kedua bocah itu dengan kompak menguap lebar.
"Ranjang dan bantal adalah yang mereka butuhkan saat ini," Ucap Isabell seraya mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Jely. Jely menyunggingkan senyum lebar di wajahnya yang polos.
"Jely sangat menyukaimu," ujar Jossie.
"Aku juga menyukainya," Sahut Isabell.
"Kau hanya menyukainya?" Jorell melayangkan protes dengan wajah manyun.
"Tidak ada yang bisa menolakmu. Kau laki-laki tampan yang sangat pemberani." Isabell merayu Jorell agar tidak merajuk. Jorell akhirnya tersenyum. Bukan hanya wanita yang suka pujian, tetapi juga pria.
"Aku juga menyukaimu, Isabell."
"Sampai jumpa," Jossie mengakhiri perbincangan dengan salam perpisahan. Keduanya saling berpelukan. Begitu juga dengan Jely dan Jorell.
"Aku akan mengantar mereka ke parkiran," Austin berpamitan kepada Isabell, mengabaikan sorot mata Jossie yang secara terang-terangan menolak tawarannya itu.
Radar Jossie langsung aktif bahwa sikap ramah tamah yang ditunjukkan Austin memiliki niat terselubung.
"Aku dan anak-anakku tidak akan tersesat. Aku tahu di mana letak parkiran rumah sakit ini."
"Aku tidak mengatakan kau buta arah. Ayo, Jorell, Jely." Austin mengangkat Jely ke dalam gendongannya dan menggandeng tangan Jorell.
Mau tidak mau, Jossie pun melangkah dengan enggan mengikuti Austin di belakang.
"Apa yang kau bicarakan dengan saudaraku?" Austin bertanya begitu mereka sudah sampai di parkiran.
"Kenapa kau tidak langsung bertanya saja kepada saudaramu."
"Aku ingin mendengar jawabannya dari mulutmu."
"Kalau begitu kau tidak akan menemukan jawabannya." Jossie membuka pintu mobil, mempersilakan anak-anaknya masuk ke dalam. Jossie memastikan anak-anaknya sudah memasang sabuk pengaman dengan benar.
"Jadi, siapa nama suamimu yang sudah memberikanmu anak-anak yang begitu menggemaskan." Austin menahan pintu mobil saat Jossie hendak menutupnya. Ya, Jossie sudah duduk di belakang setir kemudi
"Kau juga tidak akan menemukan jawabannya. Bisa kau singkirkan tanganmu, Mr. Willson."
"Jely, Jorell, sampai bertemu lagi." Austin menunduk untuk melambai kepada kedua bocah itu.
"Apakah kita akan menaik wahana jika kita bertemu lagi?" Jorell lah yang menanyakan hal ini.
"Ya, tentu saja. Kita akan naik komedi putar sebanyak yang kau inginkan, Jagoan."
"Tidak usah memberi harapan palsu," tandas Jossie setengah berbisik.
"Aku sudah mengatakan akan mengawasimu. Dan kupastikan anak-anakmu akan menaik komedi putar bersamaku."
Jossie tidak menanggapi, pun ia menarik pintu mobil dengan kuat. Melajukan mobil tanpa menoleh ke spion. Fokusnya hanya ke depan. Ia meyakini, tidak akan ada ada lagi pertemuan di antara mereka.