H.U.R.T

H.U.R.T
dua puluh satu



sayang nya berapa kali tari menelponku, aku tetap engga mengangkat telpon tari, sampai akhir nya tari tertidur dengan ponsel di samping nya.


tepat pukul 1 dini hari aku keluar kamar untuk mengambil minum, saat aku turun terdengar suara yang aku engga ngerti suara apa itu.


tadi nya aku engga mau peduli sama sekali karna suara tersebut berasal dari kamar bunda.


aku terus berjalan menuju dapur dan segera mengambil minum, entah kenapa aku duduk dan menghadap kamar bunda yang pintu nya sedikit terbuka, rasa penasaran dengan suara itu yang terdengar lagi aku segera menyimpan gelas yang aku pegang dan berjalan perlahan mendekati kamar bunda.


suara itu semakin jelas terdengar, suara itu ternyata berasal dari Tante Riska yang merintih, entah merasa kesakitan atau.


entah lah, aku hanya melihat Tante Riska tanpa sehelai kain menutupi tubuh nya duduk tepat di atas ayah yang tidur terlentang sambil memejamkan mata nya, tapi aku tau ayah bukan sedang tertidur.


kaki ku mulai gemetar, wajahku terasa panas dan dadaku berdegup tak karuan, aku marah, sedih dan kesal. kenapa aku harus melihat nya seperti itu batin ku.


mataku sekarang mulai basah, satu satu nya ingatan yang aku lihat dengan jelas adalah wajah bunda.


betapa sakit nya bunda jika saja bunda melihat ini, di ruangan yang biasanya bunda dan ayah saling meluapkan segala emosi kali ini ayah menggunakan nya dengan perempuan lain selain bunda.


air mata itu sekarang sudah sampai di setiap pipi ku, tanpa sadar akhir nya aku berlari keluar dan engga tau ingin pergi kemana.


aku keluar tanpa menutup kembali pintu atau pun gerbang, aku terus berlari dengan air mata yang terus menetes.


setelah lama berjalan aku terduduk di sebuah kursi taman di tengah kota, di sini masih sangat ramai meski sudah lewat tengah malam.


aku merogok saku celana ku dan mulai menghitung uang yang tak sengaja aku bawa ini, tanpa pikir panjang aku kembali berjalan menuju halte dan mulai menaiki angkot yang baru saja berhenti tepat di hadapan ku.


kali ini aku berjalan memasuki gank yang cukup kecil sendirian, gang ini gang menuju rumah Alfin, meski di setiap kanan dan kiri terdapat rumah tapi nyatanya malam ini gang terasa sepi.


langkah ku berhenti tepat di depan rumah Alfin, rumah sederhana yang terlihat lebih nyaman dari rumah ku.


meski sedikit ragu, aku melanjutkan langkah ku untuk bertemu dengan Alfin, satu satu nya orang yang memang ingin aku temui di saat aku seperti saat ini.


tapi meski sudah berada di depan pintu rumah Alfin, aku mengurungkan niatku untuk mengetuk pintu rumah Alfin, pikiran ku mulai menjadi engga karuan.


tiba tiba seorang laki laki berdiri tepat di belakangku dan menepuk bahu ku, itu membuatku terkejut dan langsung berbalik menghadap laki laki tersebut.


" ngapain kamu di sini ???? "


Alfin berbisik sambil memberi isyarat agar aku engga terlalu keras bersuara, Alfin juga terlihat kaget dan canggung dengan keberadaan ku saat ini di depan rumah nya, itu karna dia engga biasa bersama wanita di tengah malam seperti ini.


" Fin ....... "


aku terisak pada Alfin berharap mendapatkan ketenangan dari Alfin saat ini.


" Ri, kamu tau ini jam berapa?? engga enak kalau nanti di liat tetangga "


aku mengusap air mataku dengan kasar dan menatap wajah Alfin, entah kenapa bukan nya ketenangan tapi kali ini aku merasa kecewa dengan jawaban Alfin.


" jadi kamu mau aku pergi ??? "


" besok pagi kita bisa ketemu lagi "


" aku engga mau pulang "


" kenapa???? aku engga mungkin bawa kamu ke rumah tengah malam kaya gini RI "


aku terdiam sesaat, rasa nya aneh, dadaku terasa sesak mendengar jawaban Alfin saat ini.


Alfin meraih tangan ku dan menuntunku menjauh dari rumah nya, aku engga bisa menolak Alfin dan mengikuti nya berjalan tepat di belakang Alfin yang masih memegang tangan ku.


selama berjalan aku dan Alfin saling terdiam, bahkan alfin beberapa kali menundukan kepala nya sambil terus menutupi nya dengan topi yang dia pakai.


akhir nya aku dan Alfin sampai di depan gang dan ramai orang berlalu lalang, Alfin mengajak ku ke salah satu mini market yang memang selalu buka 24jam setiap hari.


" nih kamu minum dulu "


Alfin menyodorkan botol minum yang sudah terbuka tutup nya pada ku, tapi kali ini aku engga melihat Alfin yang hangat dan perhatian, ini seperti bukan Alfin yang aku kenal pikir ku sambil meneguk air minum pemberian Alfin.


" kamu engga suka aku di sini ya Fin??? "


" aku engga suka kamu keluyuran tengah malam "


" aku engga ada niatan buat keluyuran kaya gini Fin, tapi....... "


" apapun alasan nya aku tetap engga suka "


aku terdiam sesaat dan kembali menangis, Alfin menggenggam tangan ku dan menatap ku saat ini.


" aku antar kamu pulang ya "


" aku mau di sini ajah sendirian, kamu kalau mau pulang, pulang aja sana "


kali ini aku benar benar ngerasa hancur, kecewa bahkan aku merasa salah sudah menjadikan Alfin tujuan aku pergi dari rumah.


" aku engga tanggung jawab kalau ada apa apa sama kamu kalau aku pulang ya "


aku engga mempedulikan apa yang Alfin katakan saat ini, rasa nya aku benci dengan Alfin malam ini.


" ya udah aku pulang, tapi kamu engga usah antar aku "


" kenapa ??? "


" karna aku mau sendiri "


aku bangun dari duduk ku dan mulai berjalan menuju halte yang engga terlalu jauh dengan mini market tempat aku dan Alfin duduk.


" ri, "


Alfin menahan tangan ku saat aku mulai melangkah meninggalkan Alfin.


" aku engga ada maksud untuk.......... "


" aku paham ko Fin, udah ya aku pulang "


aku mulai berjalan menuju halte dan di ikuti Alfin dari belakang, mungkin Alfin juga merasa engga enak hati dengan sikaf nya pada ku.


beberapa menit menunggu di halte tanpa bicara apapun, bahkan aku engga lagi menoleh ke arah Alfin semenjak aku pergi dari mini market itu.


sebuah taxi berhenti di halte, seseorang turun dari taxi tersebut, tanpa pikir panjang dan tanpa mengatakan apapun pada Alfin dengan cepat aku menaiki taxi tersebut.


" kemana neng ?? "


" jalan ajah dulu pak, nanti saya kasih tau "


" loh ya jalan kemana ini neng ??? "


" lurus ajah pak "


dengan wajah bingung supir taxi itu akhir nya menjalan kan mobil nya dan pergi meninggalkan halte.


Alfin hanya menarik nafas panjang saat taxi itu pergi meninggalkan halte.


tiba tiba ponsel nya berbunyi sebelum dia sempat meninggalkan halte tersebut.