H.U.R.T

H.U.R.T
Delapan



siang ini tiba tiba awan putih perlahan berganti menjadi sedikit kelabu, angin yang meniup dedaunan kering di taman sekolah menimbulkan suara suara yang terdengar seperti sebuah nada.


aku berjalan menuju lapangan setelah berganti pakaian dengan pakaian olah raga, tari di samping ku dan juga di ikuti teman teman sekelas ku yang lain, begitu kita sampai di ujung koridor sekolah dan hendak menuruni tangga angin menerbangkan debu yang ada di lapangan, sebuah tangan dengan sigap menutupi wajahku yang juga sebenar nya sudah sedikit menunduk.


terlihat Revan berdiri tepat di belakang ku, saat tangan Revan menutupi wajah ku membuat tari sedikit terkejut.


" sejak kapan kamu di situ ???? "


ucap tari sambil melihat ke arah Revan yang menutup ke dua mata nya dan tangan yang masih menutupi wajah ku.


" dari tadi "


begitu angin berlalu Revan pun berjalan melewati ku dan tari setelah menurunkan tangan nya dari wajahku, dia hanya menoleh ke arahku sesaat dan kemudian bergabung bersama anak laki laki lain nya.


" aku jadi ngeri sama dia "


tari bergidik melihat reflek Revan saat melindungi ku agar tidak kelilipan.


" seperti nya dia memang anak seperti itu "


aku sedikit tersenyum sambil menarik tangan tari agar melanjutkan berjalan.


pak Andi guru olahraga mulai meniupkan peluit nya sebagai tanda mulai pelajaran olah raga hari ini.


" baik anak anak sekarang kita akan melakukan pemanasan sebelum nanti kita praktek lompat jauh, semua siswa harus ikut kecuali yang sedang sakit "


ucap pak Andi sebelum di mulai nya pemanasan, anak anak yang lain hanya menjawab iyaah begitu pak Andi selsai bicara. dalam waktu kurang lebih lima menit kita akhir nya menyelesaikan pemanasan dan bersiap untuk praktek lompat jauh.


satu persatu anak laki laki melakukan lompat jauh, dan kali ini giliran aku dan anak anak perempuan lain nya.


aku mendalat giliran terakhir karna absenku memang di urutan terakhir, setelah tari dan yang lain selsai akhir nya giliran aku yang melompat, aku mendapat 3kali kesempatan seperti teman teman yang lain, dan tentu saja karna urutan ku terakhir orang orang sudah mulai sibuk dengan kegiatan mereka masing masing.


hanya ada tari di samping tempat lompat jauh duduk menunggu giliran ku selsai.


lompatan pertama berjalan lancar tanpa ada kendala apapun, begitupun lompatan yang ke dua, kaki ku mendarat sempurna di pasir, tapi saat aku melompat untuk yang ketiga kali nya tiba tiba bola mendarat tepat di wajahku, membuatku tidak seimbang dan mendaratkan kaki yang salah sampai aku terjatuh.


" awaaaaaaas !!!! "


teriak anak anak yang sedang bermain bola, tapi sayang nya bola itu sudah mengenai jidat ku terlebih dulu tanpa permisi.


" aaaaw "


aku terjatuh dengan kaki yang terkilir, sontak pak Andi langsung menghampiri ku dan membantuku untuk berdiri, begitupun tari yang langsung berlari ke arahku.


" bangun Ri "


" ngg bisa tar, kaki ku sakit "


pak Andi segera memeriksa kaki ku dan memang keadaan nya lumayan parah karna pergelangan yang terkilir, belum sempat pak Andi memanggil bantuan Revan berlari ke arah ku dan dengan cepat menggendong ku untuk di bawa ke UKS.


" kamu kuat gendong sendiri ??? "


pak Andi meyakin kan Revan yang sudah mengangkat badan ku dengan kedua tangan nya.


" kuat pak "


" ya udah bawa ke UKS dulu "


Revan hanya mengangguk dan langsung membawaku ke UKS di ikuti tari dari belakang.


beberapa pasang mata mulai melihatku saat tanganku melingkar di atas bahu Revan, entah mereka yang melihatku itu merasa jijik atau penasaran dengan apa yang terjadi atau memang.............entah lah, apapun yang mereka pikirkan yang jelas aku merasa tersentuh dengan perlakuan Revan hari ini.


" lurisin dulu kaki nya "


ucap Revan setelah menurunkan ku di tempat tidur ruang UKS.


" makasih "


" aku ambilkan dulu minum ya "


saat Revan berbalik tari yang ada di belakang Revan menyodorkan botol minum ke arah Revan.


" nih......sebenar nya aku juga bisa ngasih ini ke Yuri, tapi kaya nya kamu lebih bersemangat buat ngerawat Yuri "


" kaki ku yang sakit Van, jadi aku bisa minum sendiri "


aku mengambil botol minum yang di pegang Revan dan meminum nya sendiri tanpa bantuan Revan, itu membuat tari cengengesan di belakang Revan.


pak Andi datang membawa beberapa es batu untuk mengompres kaki ku yang terkilir agar sedikit meredakan sakit nya.


" kalian bisa kembali ke kelas untuk berganti baju, seperti nya sebentar lagi jam pelajaran juga sudah berganti "


tari mengangguk dan melambaikan tangan nya ke arah ku, setelah itu tari berbalik meninggalkan ruangan UKS, tapi tidak dengan Revan.


" boleh aku di sini dulu pak "


" hmmmm, ya udah kalau gitu kamu yang kompresin kaki nya, bapak harus memeriksa bola bola biar ngg berceceran "


Revan mengangguk dengan cepat, pak Andi pun berjalan keluar meninggalkan aku dan Revan hanya berdua saja di ruang UKS.


Revan menggantikan pak Andi mengompres kaki ku seperti yang pak Andi titipkan, rasa nya menjadi sangat canggung sekarang, jantungku berdegup tak karuan, rasa sakit di kaki seolah tidak lagi terasa karna sekarang hanya ada perasaan aneh setiap kali Revan menyentuh kaki ku.


" Van, kamu mending ke kelas ajah deh "


" kenapa ??? "


" aku ngg enak ajah, kita cuma berdua di sini "


" bagus donk "


" ko bagus sih ???? "


" ngomong ngomong, kamu udah inget sekarang sama aku ???? "


pertanyaan dari Revan membuatku tersedak, aneh tapi pertanyaan itu benar benar membuat ku tidak bisa mengontrol air Saliva yang ku telan.


Revan hanya melirik ku sambil tersenyum dan terus mengompres kaki ku, aku sedikit mengangguk berharap Revan tidak menyadari nya, tapi harapan ku gagal Revan tau aku menjawab pertanyaan nya dengan anggukan, itu membuat Revan semakin tidak bisa menahan senyum nya.


" kenapa ketawa??? "


" gpp, aku senang kamu udah ingat "


Revan menatapku, tatapan yang sama seperti saat dulu, dan tatapan itu juga masih sama masih membuat ku merasa salah tingkah, jujur saja Revan yang memiliki mata indah udah cukup membuat aku selalu terpesona dengan tatapan dari nya.


pintu UKS terbuka, terlihat Alfin dari balik pintu berjalan ngaos ngosan karna berlari dari kelas menuju UKS.


" ko bisa sih kamu kekilir kaya gini ??? "


Alfin langsung menghampiri ku dan mengusap rambutku.


" bisa ngg kamu ngusap nya kaki aku ajah, kaki ku loh yang sakit "


Alfin memanyunkan bibir nya menggodaku seperti biasa nya.


" ngg mau, aku lebih suka megang rambut kamu "


" ya suka suka kamu deh "


" gimana sekarang masih sakit banget???? eh btw mksih ya Van udh tolongin Yuri, sini biar aku yang lanjutin kompres kaki dia "


Alfin mengambil es batu yang di pegang Revan dan mulai mengompres kan nya di kaki ku.


" bukan nya kamu masih ada pelajaran ya Fin "


" lah kan kamu juga harus nya gitu Van "


" Iyah tapi aku udah ijin buat nemenin Yuri, aku kan teman sekelas nya "


" aku ngg perlu ijin siapapun buat nemenin Yuri, karna aku pacar nya "


wajah Alfin sedikit ngg enak di liat saat bicara dengan Revan, entah dia merasa ngg senang melihat aku berduaan dengan Revan atau karena hal lain nya.


" ya udah klo gitu aku ke kelas ya ri, Fin "


Revan menepuk pundak Alfin dan berlalu meninggalkan aku dan Alfin di ruang UKS.