H.U.R.T

H.U.R.T
Pria Gila



"Apa sangat menyenangkan membuatku cemburu?'' Steve berbisik lirih di atas tangannya yang menutup mulut Lexi.


Manik mereka saling beradu. Dari pupil Lexi yang melebar, Steve tahu jika gadis itu sangat terkejut dengan kehadirannya.


Lexi meronta meminta agar Steve melepaskannya.


"Jangan berteriak maka aku akan melepaskannya."


Alih-alih menjawab, Lexi justru memukul tangan Steve. Pun ia segera melepaskan tangannya. Namun, Lexi justru berteriak.


"APA..."


Terang saja Steve kembali menutup mulutnya.


"Jangan teriak," Ucapnya dengan nada ditarik-tarik. Terdengar malas dan ogah-ogahan. Tapi berbeda dengan kilatan matanya yang menggoda nakal.


"Apa kau sangat senang dengan posisi kita seperti ini. Menempel satu sama lain, hmm?"


Lexi menggeleng melayangkan protes.


"Meski aku tidak menyukai gelengan kepalamu, tapi harus kuakui posisi ini memang sedikit membuat tidak nyaman. Terlalu berbahaya sebenarnya. Kau membangunkannya." Bisiknya dengan nada yang sengaja dibuat sensual. Dasar, pria perayu!


Apakah Lexi mengerti dengan apa yang dikatakannya? Sayang, Lexi tidak menangkap arti kemesuman di balik kalimatnya. Lexi terlalu terkejut dengan kehadiran Steve di dalam kamarnya.


"Aku akan melepaskannya. Jangan teriak. Anggukan kepalamu jika kau mengerti dengan apa yang kukatakan."


Lexi mengangguk dengan patuh.


"Jika kau teriak, aku tidak akan menggunakan tanganku lagi untuk membungkammu, tetapi dengan sesuatu yang menguntungkan bagiku. Mengerti."


Lexi kembali mengangguk.


"Bagus. Aku suka gadis penurut. Jangan teriak." Steve melepaskan tangannya, dan ternyata, Lexi bukan gadis yang penurut!


"KENAPA KAU ADA DI KAMAR..."


"Hais," Steve bukan pria yang melayangkan ancaman seperti angin lalu. Terlebih ancaman yang ia layangkan adalah sesuatu yang menyenangkan. Dalam sekejap, bibirnya sudah membungkam mulut Lexi. Gadis itu meronta, memukul punggungnya dan menjambak rambutnya. Hal itu tidak lantas membuatnya melepaskan bibirnya dari bibir Lexi. Dengan mudah ia justru menarik kedua tangan Lexi dan menahannya di atas kepala gadis itu.


"Aku sudah memberimu peringatan. Jangan pernah mengabaikanku." Satu gigitan kecil di bibir bawah Lexi, ia berikan sebagai hukuman penutup. Lexi meringis pedih sampai memejamkan mata.


"Pelankan suaramu."


Untuk sekedar menganggukkan kepala, Lexi sudah tidak mampu. Jantung gadis itu menderu-deru seperti pesawat yang lepas landas. Sekujur tubuhnya panas dingin. Reaksi mengeringkan yang selalu ia rasakan setiap Steve menyentuhnya.


"Jadi?" Steve menarik tangan Lexi, menuntunnya duduk ke tempat tidur. Pria itu tersenyum melihat mimik wajahnya. Lexi seperti sedang kehilangan jiwanya.


"Jadi?" Untuk kedua kalinya Steve bertanya. Sementara Lexi duduk di tepi ranjang, Steve justru berlutut di lantai sambil menggenggam kedua tangan Lexi.


"Jadi apa?" Akhirnya Lexi mengeluarkan suara. "Kau mencuri ciumanku lagi. Kurasa itu bukan tindakan yang baik. Kau juga menggigit bibirku. Ini perih sekali. Kau bersikap tidak sopan. Dan bagaimana kau bisa masuk ke kamarku? Kenapa kau tahu aku ada di sini? Kau mengikutiku?"


Steve tergelak. "Pertanyaannya banyak sekali. Yang mana yang harus kujawab terlebih dahulu?"


"Yang mana saja! Kau harus menjawab semuanya."


Pria itu mengangguk tanpa melepaskan tatapannya dari manik gadis itu. Tangan mereka juga masih saling bertaut.


"Kau mengabaikan ucapanku. Kurasa itu tidak termasuk dalam kategori mencuri ciuman. Aku sudah memperingatkanmu."


"Kau..."


"Dan kenapa aku ada di sini," Steve menyela ucapan Lexi yang hendak melayangkan protes. "Dan kenapa aku tahu kau ada di sini, karena kemana pun kau pergi aku akan selalu tahu dan kebetulan saat ini aku sedang tidak menguntitmu. Aku ada pekerjaan. Dan soal bibirmu..." Steve mengusap bibir Lexi yang meninggalkan luka kecil di sana. "Maafkan aku. Aku lepas kendali." Kepalanya menunduk, memberikan satu kecupan hangat di punggung tangan Lexi. Gadis itu merasakan sengatan kecil yang mampu membuatnya tersentak. Sentuhan-sentuhan Steve terlalu berbahaya bagi sistem sarafnya.


"Sekarang, jawab pertanyaanku? Bagaimana kencanmu?"


Ia berdiri, melepaskan handuk yang menutupi tubuh gadisnya itu. "Ini handuk pria itu?"


Lexi menganggukkan kepala. "Aku lupa membawa handuk."


"Kurasa ini bukan urusanmu."


"Jelas ini urusanku. Kau kekasihku." Ia menarik Lexi agar berdiri. Lexi tidak mengerti dengan dirinya. Apapun yang dilakukan Steve, sadar atau tidak, ia selalu mengikutinya meski mulutnya melayangkan protes.


"Kurasa kita sudah mengakhirinya."


"Aku menolak. Berakhir akan terjadi jika kedua belah pihak sepakat untuk hal itu. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Menaburkan banyak aroma terapi di bak mandi. Bersihkan tubuhmu dari jejak sentuhan tangan pangeran itu. Lain kali, jika aku melihatmu bermain air dengannya atau kau membiarkan dia menyentuhmu, aku akan memberikan hukuman yang lebih sedap dari sekedar ciuman. Dan tentu saja bukan hanya kau yang akan mendapatkan hukuman, tapi pria itu juga." Steve berhenti di depan pintu toilet. Pria itu menggeser pintu kaca dan mendorong tubuh Lexi dengan pelan. "Aku akan menunggu di sini. Jika kau kesulitan menggosok punggungmu, tidak usah sungkan untuk memanggilku. Aku tidak akan keberatan untuk melakukan apa pun untukmu. Termasuk bergabung denganmu si toilet."


Tok. Tok.


Ketukan di pintu membuat Lexi dan Steve menatap satu sama lain.


"Lexi..."


"Itu ibuku. Kau harus pergi." Lexi mendadak panik. Ia tidak bisa membayangkan jika orang tuanya menemukannya bersama pria asing di dalam kamar.


"Ibu? Setahuku Mrs. Willson tidak ikut kemari."


"Ibu mertuaku. Untuk itu, berhentilah menyebutku sebagai kekasihmu. Kau sudah terlalu banyak bicara. Pergilah dari sini!" Lexi keluar dari toilet. Ia menyeret tangan Steven ke arah balkon. "Dari mana kau masuk saat datang kemari?"


"Dari pintu."


"Astaga. Kau bisa kulaporkan. Sekarang bagaimana kau akan keluar?" Lexi menoleh ke bawah. Tingginya sangat lumayan. Ia hanya tidak tahu jika hanya beberapa meter, tidak ada apa-apanya bagi pria yang sedang pasrah ia seret ke sana kemari melintasi ruangan kamar yang tidak terlalu besar.


"Aku tinggal melompat."


"Tidak. Tidak. Kakimu bisa patah."


Steven menguluum senyumnya melihat perhatian tidak terduga dari gadis itu. Itulah Lexi, selalu berhati lembut. Pesona yang sangat luar biasa.


"Lexi... Kau di dalam? Ibu mendengarmu berteriak? Kau baik-baik saja?"


"Ya, Bu. Aku baik-baik saja. Astaga, kau harus pergi, Ivarez! Pikirkan caranya."


"Kau bersama seseorang di dalam kamar?"


"Aku sendiri. Aku sedang berbicara bersama Austin di telepon. Kau membutuhkan sesuatu, Bu?" Lexi menyeret Steve kembali ke dalam toilet.


"Tetaplah di sini. Jangan keluar. Karenamu aku harus berbohong berulang kali."


"Baiklah."


Lexi mengernyit, tidak yakin dengan jawaban yang diberikan oleh pria yang masih menatapnya dengan tatapan berbinar-binar cerah seperti anak kucing yang baru mendapatkan daging segar dengan kualitas terbaik.


"Jangan bertingkah! Tetap di sini. Jangan mengeluarkan suara apa pun yang menimbulkan kecurigaan."


"Baiklah."


"Kau hanya boleh keluar, setelah aku menyuruhnya."


"Baiklah."


"Astaga. Katakan sesuatu selain kata 'baiklah'." Lexi menyorotnya dengan curiga. Baginya Steve tidak bisa dipercaya. "Kau selalu membuatku dalam masalah." Lexi menggerutu. Ia segera berbalik, meninggalkan pria itu di dalam toilet.


"Lexi..."


Steve menghentikan langkah Lexi yang sudah ada di ambang pintu toilet. Gadis itu menoleh dengan tangan yang sudah siap menggeser pintu toilet.


"Aku mencintaimu."


Lexi mengerjap berulang kali, lalu kemudian ia tersedak begitu berhasil mencerna dua kata yang diucapkan pria itu.


"Romantis sekali Anda," ia mencibir seraya menggeser pintu dengan kasar.


Astaga! Pernyataan cinta di dalam toilet?! Dasar pria gila!