H.U.R.T

H.U.R.T
Bunuh Diri



"Jadi maksudmu, wanita itu membunuh dirinya sendiri. Mengukir tujuh huruf tersebut di dahinya?" Darren menatap penyidik yang menangani kasus kematian Isla Ginevra. Putri salah satu pengusaha ternama yang juga merupakan teman baik dari Lexi.


Lexi memekik tidak percaya mendengar pertanyaan Darren setelah saudaranya itu keluar dari ruang penyelidikan bersama sang ayah. Lexi sendiri menunggu di ruang tunggu bersama ibunya dan Austin. Acara dibubarkan karena kejadian tidak terduga tersebut. Dan sekarang Lexi semakin tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Isla Ginevra bunuh diri? Sulit bagi Lexi untuk mempercayai hal tersebut mengingat Isla bukan tipe orang yang mudah putus asa. Isla bukan orang lemah yang memilih mengakhiri hidup jika sedang tersandung masalah.


"Darren, apa yang kau katakan?"


"Isla bunuh diri." Ucap pria itu ringkas.


Lexi menggeleng, "Itu tidak mungkin! Untuk apa dia membunuh dirinya dengan cara mengerikan seperti itu?" Tangisan Lexi kembali pecah. "Dad," ia menghampiri ayahnya. Menarik tangan ayahnya dengan tatapan penuh harap. "Bangunan itu penuh dengan CCTV, Isla tidak mungkin bunuh diri."


"CCTV rusak." Jawaban ayahnya membuat tubuhnya gemetar. Kenapa bisa? Ia jelas-jelas memastikan semuanya berfungsi dan berjalan dengan baik saat ia dan Darren sedang dalam perjalanan tadi. Lalu bagaimana bisa rusak?


"Satu-satunya CCTV yang berfungsi adalah di luar toilet. Terlihat jelas jika Isla mengukir huruf tersebut di dahinya sebelum berlari dan melompat, terjun ke bawah." Ayahnya menarik dirinya ke dalam pelukan. Pun Lexi memeluk erat tubuh pria setengah baya itu. Meluapkan ketakutannya.


"Katakan ini tidak benar, Dad."


"Andai Daddy bisa mengatakan demikian." Pax menarik napasnya panjang. Diliriknya Darren yang memperhatikan mereka dengan ekspresi tidak terbaca. "Satu-satunya sidik jari yang ditemukan juga sidik jari Ms. Ginevra."


"Kenapa Isla melakukannya, Dad?"


Ayahnya untuk kesekian kalinya menarik napas panjang. Jika Lexi saja tidak percaya dengan apa yang terjadi, Pax pun demikian dan pria itu yakin jika Darren juga tidak mempercayai apa yang mereka lihat meski Isla memang benar terlihat melakukan hal mengerikan itu. Pasti ada sebab di balik Isla melakukan hal tersebut. Pertanyaannya, siapa yang mendorong Isla melakukan hal gila ini? Logikanya, jika Isla memang ingin mengakhiri hidupnya, sangat tidak mungkin wanita itu melakukannya dengan sengaja menyiksa dirinya hingga terlihat sangat menderita.


"Sebaiknya kita pulang," Pax menuntun Lexi keluar. Gadis itu masih tersedu-sedu di dalam pelukan sang ayah, sementara ibunya mengusap punggungnya, berusaha menenangkannya.


"Lexiii..." Seruan seseorang menghentikan langkah mereka yang hendak naik ke dalam mobil. Seorang gadis cilik bersurai cokelat terang dikepang dua berlari dengan membawa seikat balon di tangannya.


"Amor," Lexi mengenal gadis manis itu. Gadis berusia 10 tahun yang memang bekerja sebagai pedagang keliling bersama ayah dan ibunya. Dagangannya bukan hanya balon, terkadang Amor dan orang tuanya menjual bunga, lukisan, dan bahkan aksesoris yang merupakan buatan tangan.


Ia dan Amor tidak bertemu setiap hari. Bahkan terkadang dalam satu bulan belum tentu keduanya bersua karena Amor dan orang tuanya selalu berpindah-pindah saat berdagang. Setidaknya begitulah penjelasan Amor.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Amor memiringkan kepala, menatap kantor polisi dengan dahi mengernyit bingung.


"Ada sesuatu hal yang terjadi. Kau berdagang di sini? Di mana ayah dan ibumu?" Lexi memendarkan pandangannya, mencari sosok orang tua dari gadis cilik tersebut.


"Mereka sedang berkeliling. Hari ini ulang tahunmu, bukan?"


Lexi hanya menganggukkan kepala. Amor selalu mengingat ulang tahunnya dan selalu memberikan kado yang sama setiap tahunnya, hal yang membuatnya juga mengingat gadis tersebut.


"Daganganku belum laku, tapi kau boleh mengambil satu balon dan juga satu pesan romantis," Amor memberikan satu balon berbentuk hati juga menyodorkan stoples kaca yang diisi dengan potongan kertas yang digulung kecil.


"Ambillah." Amor tersenyum, memamerkan dua lesung pipit di wajah yang membuat gadis itu terlihat semakin menggemaskan.


'Jangan membiarkan rasa takut mengusik kebebasanmu. Cintai hidupmu. Kau selalu dikelilingi keluarga yang di dalamnya terdapat banyak cahaya. Jangan pernah takut, karena kau selalu memiliki lilin di sekitarmu saat kegelapan menghampirimu.'


Lexi menyunggingkan senyum lebar. Seketika rasa cemasnya memudar. Seperti biasa, kata-kata penyemangat dalam stoples romantis milik Amor selalu mampu mengangkat kegundahan hatinya, seperti mantra sakti yang sengaja dibuat untuk menawarkan kegundahan dan juga kecemasannya. Ya, apa yang ia takutkan saat ayah, ibu dan kedua saudaranya yang menawan senantiasa berdiri di sisinya.


Lexi mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Dua buah permen dan beberapa lembar uang. Lexi berjongkok, menyejajarkan tinggi mereka.


"Hadiahmu," gadis itu memberikan permen tersebut. "Dan ini untuk tabunganmu." Pun Lexi memasukkan uang ke dalam tas selempang lusuh milik Amor.


"Terima kasih," Amor memberikan satu kecupan di pipi kiri Lexi. "Hadiah tambahan." Amor mengambil stoples lain dari keranjang dagangannya. Gadis cilik itu membuka stoples tersebut dan mengaduk-aduk isinya. Mengambil secara acak gulungan kertas kemudian memberikannya kepada Lexi.


Lexi menerimanya dengan suka cita. "I love you," Lexi membaca tulisan yang tertera di sana. Lexi terkikik geli. Selain dari keluarganya, Amor adalah orang asing yang selalu menyatakan cinta kepadanya. Para buaya di luar sana tentu saja tidak ia hitung.


"I love you too, gadis manis!" Dicubitnya kedua pipi Amor. Gemas dengan tingkah manis gadis cilik itu. "Terima kasih. Kapan kau akan datang lagi? Aku ingin mengundangmu dan juga orang tuamu makan siang bersama dan kita akan bermain sepuasnya di taman hiburan."


Manik Amor berbinar-binar cerah. Anak kecil mana yang tidak senang jika mendengar taman hiburan. "Pasti sangat menyenangkan. Aku akan bertanya kepada ayah dan ibuku terlebih dahulu. Aku akan menemuimu dengan segera untuk memberikan jawaban. Aku harus pergi, daganganku masih banyak. Sampai jumpa Lexi." Gadis cilik itu beranjak seraya melambaikan tangan.


"Kenapa kau tidak membeli semua barang dagangannya, Sayang?" Ibunya membantunya berdiri, menuntunnya masuk ke dalam mobil.


"Amor tidak akan memberikannya, Mom. Gadis kecil itu sangat keras kepala. Sebelumnya aku pernah menawarkan hal itu. Amor menjawab kebaikanku hanya akan membuatnya malas dan kemungkinan terburuknya, dia akan terbiasa dengan bantuan yang kuberikan. Amor tidak ingin hal itu terjadi."


"Astaga, anak yang sangat pintar. Kau sudah lama mengenalnya?"


"Ya, cukup lama."


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Sudah lebih baik. Maafkan aku, Mom. Aku selalu membuatmu khawatir."


"Itu karena kami sangat mencintaimu. Bagaimana jika kita pergi berlibur?"


"Oh, Mom, aku sangat ingin sekali. Tapi ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan bulan ini."


"Fokus lah pada pekerjaanmu kalau begitu. Jangan memikirkan hal yang lain."


Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada yang mengawasi pergerakan mereka dari jauh. Pria dengan penutup wajah berkaca mata hitam. Mengintai mereka bagai elang yang mengawasi sekumpulan ayam. Begitu mobil Lexi dan keluarganya menjauh, pria itu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi tuannya.


"Mereka sudah meninggalkan kantor polisi. Ya, Lexi Willson terlihat sangat tertekan seperti yang sudah diperkirakan, Steve. Wanita itu juga sempat histeris."


"Kerja bagus, Leon." Steve memutuskan sambungan telepon begitu mendapat laporan dari salah satu anak buahnya yang juga merupakan orang kepercayaannya. Leon Nolan.