H.U.R.T

H.U.R.T
Mrs. Da Costa



Seperti biasanya, Jossie memulai pagi dengan menyiapkan sarapan untuknya juga anak-anaknya, Jorell dan Jely.


Hari sudah menunjukkan angka jam delapan saat Jossie sudah selesai melakukan tugasnya. Tinggal membangunkan anak-anak dan mereka akan sarapan bersama. Saat melewati kamarnya menuju kamar anak-anaknya, ponselnya berbunyi dari dalam kamar miliknya. Jossie menghentikan langkah dan berbalik masuk ke dalam kamarnya.


"Mrs. da Costa?"


Jantung Jossie serasa berhenti berdetak. Da Costa, nama itu sudah lama ia tanggalkan dari namanya. Tepatnya sejak ia bercerai. Ada apa? Meski sudah dua tahun lamanya ia dan mantan suaminya tidak pernah bertemu, tetap saja Jossie tidak pernah merasa tenang. Ia selalu merasa diawasi. Sehingga saat mendengar nama Da Costa kembali, ia kehilangan tenaga di kakinya. Lututnya lemas seketika, tangannya secara praktis mencengkram erat ponselnya. Entah bagaimana ceritanya ia sudah duduk lemas di tepi ranjang.


Mendengar nama yang tidak asing tapi sudah terasa asing dan sialnya masih memberi efek luar biasa. Takut. Ya, Jossie sangat ketakutan. Yang ada di dalam pikirannya, mantan suaminya akan mengambil Jorell dan Jely darinya. Tidak, ia tidak bisa melepaskan anak-anaknya. Jorell dan Jely adalah hidupnya. Sudah terlalu banyak yang dirampas pria itu darinya. Ia tidak ingin harta satu-satunya yang tertinggal diambil oleh pria itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemana lagi ia harus berlari dan bersembunyi?


Nalurinya benar, ia tidak pernah aman. Mereka selalu diawasi. Jossie yakin itu.


"Jossie Da Costa." Kembali terdengar suara yang berhasil membuatnya tersentak sadar dari kenangan mengerikan yang ia lalui bersama mantan suaminya.


"Salah alamat..." Jossie baru saja hendak memutuskan sambungan, namun ucapan dari seberang telepon menghentikannya.


"Ini dari kepolisian."


Rentetan kata demi kata pun meluncur dari mulut sang sherif yang mengatakan bahwa mantan suaminya, Santos Da Costa dinyatakan meninggal. Kehadiran Jossie diharapkan untuk datang segera. Di tempat kejadian ditemukan beberapa barang pribadi dan keterangan Jossie diperlukan dalam hal itu.


Meski Jossie tidak berharap bertemu lagi dengan mantan suaminya, tapi ia juga tidak pernah berharap bahwa pertemuannya dengan mantan suaminya dalam keadaan tidak terduga seperti ini di mana pria itu dinyatakan meninggal. Sekujur tubuhnya menggigil, ini kabar berita yang tidak pernah ada di dalam bayangannya sama sekali. Kematian Santos tidak pernah ada dalam daftar doanya. Ia hanya tidak ingin bertemu dengan pria itu. Tidak mengharapkan kematiannya.


"Kami menantikan kehadiran Anda, Mrs. Da Costa." Sambungan terputus tanpa ia sadari.


"Mom..."


"Mom..."


Jorell dan Jely berlari masuk ke dalam kamar. Jossie baru tersadar saat kedua anak-anaknya memeluknya. Jossie tidak tahu sudah berapa lama ia tercenung dan membatu. Kehadiran Jorrel dan Jely membuatnya terkejut bingung. Sejak kapan anak-anaknya masuk?


Sudah berapa lama ia melamun? Saat ia memeriksa ponselnya, ternyata sudah tidak terhubung.


Melihat wajah anak-anaknya, Jossie merasakan hatinya mencolos pedih. Bagaimana ia harus mengatakan kepada Jorell dan Jely bahwa ayah mereka sudah tiada.


Air matanya meluruh seketika. Mendekap kedua anaknya ke dalam pelukannya.


"Mom, kenapa kau menangis?" Jely bertanya, tangan mungilnya melingkar di leher ibunya.


"Apakah kami berbuat salah, Mom?" Jorell mengurai pelukannya, tangannya mengusap air mata sang ibu. "Apa yang terjadi? Apakah aku dan Jely melakukan sesuatu yang salah?"


____


"Jossie."


Austin dan Beth saling menoleh. Kedua pria itu kompak memanggil wanita yang baru melintasi ruang utama.


"Kau mengenalnya?" Austin menukik alisnya, menatap Beth dan Jossie saling bergantian.


"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Beth pun melayangkan pertanyaan serupa kepada Austin.


"Aku tidak mengenalnya." Jawaban Austin terang saja membuat Beth bingung. "Aku hanya mengenal namanya." Austin menambahkan.


"Apakah tidak ada penjelasan yang lebih konyol dari penjelasan yang kau berikan?" Steve menyeletuk.


"Dia wanita yang ada di tempat kejadian saat penyerangan yang terjadi di pantai."


Dahi Steve berkerut. Apakah ini kebetulan atau bagaimana? Mengapa ada wanita itu di dua kejadian yang menimpa mereka? Pikir Steve.


"Jossie, aku tidak menyentuh Santos, aku tidak mungkin membunuhnya. Kau percaya padaku." Beth mendekati Jossie. Wanita itu masih terlihat bingung dengan kehadiran dua orang yang ia kenal. Beth dan Austin.


"A-apa? Kau membunuh Santos?"


Beth menggeleng frustasi. "Itulah yang dituduhkan padaku. Dan aku tidak tahu bagaimana tuduhan konyol itu dilayangkan padaku. Pagi ini, aku pergi ke kandang Juliet untuk memberikannya makan. Dan aku menemukan potongan tangan...."


Jossie memekik ngeri sampai-sampai menutup mulutnya. "A-apakah Juliet seekor binatang?"


Austin mengakui kejelian fokus wanita itu di tengah ketegangan situasi ini. Langsung bisa menebak jika Juliet adalah seekor peliharaan dari penjelasan singkat yabg diberikan Beth.


"Harimau." Steve menjawab..


"Oh Tuhan," maniknya membola seketika. "Apakah potongan tangan..."


"Bukan... Potongan tangan itu bukan milik Santos."


"Tapi potongan dagingnya juga ditemukan di sana, Mrs. Da Costa." Polisi yang sejak tadi diam akhirnya buka suara. "Kami juga menemukan ini," Polisi itu memberikan sebuah kalung yang berbandul sebuah cincin yang dikenal Jossie sebagai cincin pernikahan mereka. Jossie tidak akan pernah melupakan cincin itu. Ia dan Santos membuatnya secara khusus. Ada inisial nama mereka terukir di sana.


"Ini memang milik Santos dan saya bukan Mrs. Da Costa lagi sejak dua tahun yang lalu."