H.U.R.T

H.U.R.T
Kau Hanya Milikku



"Apa yang kau dapatkan?"


Steve meletakkan dua minuman soda di atas meja. Tatapannya tertuju pada Austin yang sedang menarik dalam cerutunya.


"Tidak ada yang mencurigakan di rumahnya. Sepertinya wanita itu juga tidak tertarik dengan pernikahan Lexi."


Steve mengangguk, ia juga sudah menduga jika Olivia tidak akan merusak pernikahan ini.


"Ya, Arthur lah yang peduli. Pria itu ternyata menginginkan saudarimu sejak dulu."


Austin membuang puntung rokoknya. Wajahnya berubah serius. Arthur yang ia kenal adalah pria yang diperbudak dan selalu bersikap kalem. Terkadang Austin juga bertanya-tanya, bagaimana bisa Arthur ikut dalam perjudian para pria kaya. Dan pria itu lebih sering kalah dibandingkan memenangkan perjudian. Namun, pria itu akan tetap datang lagi dan lagi. Jika diingat-ingat, Arthur selalu ada di acara-acara penting yang selalu dihadiri Lexi.


"Pedofil?"


Steve berdecak, meski ia benci dengan kenyataan ada pria lain yang menginginkan Lexi sebesar yang ia inginkan dan yang menunggu Lexi selama yang ia lakukan, tapi istilah pedofil tidak bisa disematkan pada Arthur Cony. Pria itu hanya sedikit matang dibandingkan dengan mereka.


"Saudarimu bukan bocil yang bisa dikelabui dengan sebuah permen."


Austin tidak menanggapi pernyataan Steve yang terdengar konyol tapi benar adanya.


"Apa yang dilakukan Harry saat hura hara itu terjadi?" Austin bertanya setelah beberapa saat. Ia tidak tahu apa yang terjadi di mansion keluarganya karena selama 24 jam ia harus mengawasi pergerakan Olivia atas perintah Steve. Dan pengintaiannya itu tidak mendapatkan hasil apa-apa. Hanya Arthur yang terlihat datang menyambangi rumah Olivia.


"Aku masih tidak percaya kau sungguh merelakan Lexi memilih pria lain." Austin mengambil satu kaleng soda, meneguknya hingga tandas, kemudian meremukkan kemasannya dan melemparnya ke tong sampah yang berjarak beberapa meter.


Steve mengidikkan bahu, "Itu keinginannya."


"Dan kau menerimanya begitu saja."


"Kau dan Pax sama saja. Selalu ingin tahu dengan apa yang sedang kupikirkan. Inikah yang dikatakan cinta dalam benci?"


"Sopanlah sedikit kepada ayahku."


Steve terkekeh, "Begitulah caraku menghormatinya. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Menyelamatkan saudaraku. Apa yang dilakukan suaminya?"


"Suaminya," Steve menarik napas panjang seolah di pundaknya ada beban dunia yang begitu berat. "Suami... Ya, Harry adalah suaminya. Mungkin pria itu sudah meminta bantuan negaranya."


"Sakit?"


Steve mengumpat, melontarkan kalimat jorok yang membuat Austin tertawa. "Cinta sangat menggelikan. Yang waras bisa menjadi gila. Yang gila bisa menjadi waras."


"Bisa kau sebut seseorang yang menggambarkan opsi kedua?"


"Lexi. Dia seperti orang gila saat berbicara di atas undukan tanah yang ia yakini bahwa kau di bawah tanah sana, kau akan mendengarkan semua keluhannya. Dan begitu dia tahu kau masih hidup. Ia menghentikan kegilaan itu dengan memilih seorang pangeran untuk dijadikan suami. Hanya orang gila yang memilih seorang kriminal, Dude. Lexi membuktikan jika dirinya tidak gila."


Steve menendang meja hingga membentur ke tulang kering mantan adik ipar tidak jadinya itu. Tawa Austin semakin meledak.


"Kau memang mantan kriminal, Dude."


____


Arthur memperhatikan wajah Lexi yang masih belum sadarkan diri. Senyum merekah senantiasa mengembang di wajahnya yang memang terlihat kalem. Kekaleman yang berhasil menipu semuanya. Jemarinya sesekali mengusap pipi Lexi yang mulus dan putih.


"Oh Tuhan, begini rasanya," Ucap pria itu dengan suara tercekat karena merasa gugup di tengah perasaannya yang membuncah.


"Buah kesabaran memang selalu manis. Puluhan tahun, puluhan tahun aku mengawasimu, My Dear. Keturunan Gerald Ivander. Pria tangguh yang mengagumkan. Aku mengagumimu sebesar aku mengaguminya. Ayahmu mengambilku dari jalanan dalam kedaan menggigil dan kelaparan. Saat itu usiaku masih belasan tahun, masih sangat kecil. Dia menggenggam tanganku, mengajakku masuk ke mobil mewahnya dan mengajakku tinggal bersama orang-orang yang juga dia selamatkan. Dia memberikan kami kehidupan yang layak. Jauh dari kelaparan dan kedinginan. Dia pria yang sangat hebat."


"Sekarang, aku sudah mendapatkanmu. Menjaga garis keturunan Deville adalah tugasku, bukti baktiku kepadanya. Di samping semua itu, kau memang membuatku tergila-gila. Wajahmu terlihat sangat lucu saat menahan kantuk dan memaksakan diri mendengar pelajaran yang menurutku memang sangat membosankan. Kita sama-sama tidak menyukai sejarah dan arkeologi. Ini pertanda jika kita berdua berjodoh, bukan?" Arthur menjeda ucapannya, tawa rendah keluar dari mulutnya. Ia membayangkan saat-saat ia masuk ke kelas Lexi. Saat yang sangat ia tunggu-tunggu karena dengan melihat pancaran mata dan senyuman gadis itu membuat imunnya bertambah.


"Sekarang, bangunlah. Aku ingin melihat manikmu yang indah itu, Sayang." Athur melihat jam yang melingkar di tangannya. Seharusnya Lexi sudah bangun dari tidurnya.


"Rambutmu sangat indah." Arthur memilin sejumput rambut panjang itu di jemarinya, membawanya ke hidungnya dan menghirup aromanya dengan rakus.


"Setiap Brian berbicara tentang dirimu, disaat itu juga aku harus menahan diri untuk tidak menarik lidah atau pun menghancurkan kepalanya."


"Ya, Tuhan, kau benar-benar sangat enak dan wangi." Arthur kembali menghirup aroma rambut Lexi, sampai-sampai pria itu memejamkan mata.


Arthur membuka matanya saat merasakan pergerakan di atas tempat tidur. Senyumnya mengembang karena akhirnya wanita pujaannya itu sudah sadar.


Dengan jantung berdebar, Arthur menunggu Lexi membuka matanya.


Perlahan, mata itu memang mulai bergerak terbuka. Lexi menyipitkan mata saat menyesuaikan sinar lampu yang benderang.


"Akhirnya kau bangun."


Lexi menoleh ke samping, dahinya mengernyit melihat sosok yang tidak asing itu. Nyawanya masih belum terkumpul sempurna hingga hanya kebingungan yang terlihat.


"Mr. Cony?"


"Ya, apa kabar?"


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Ini kamarku, rumahku, yang nantinya akan menjadi rumahmu juga. Rumah kita."


Di situlah Lexi mulai sadar. Memorinya bekerja. Ia ingat jika hari ini adalah hari pernikahannya dengan Harry, bahkan keduanya sudah sah menjadi sepasang suami istri hingga keributan itu terjadi. Seorang pria bertopeng masuk dan memukul ibunya.


Lexi spontan duduk, menjauh dari pria itu. Wajahnya pucat pasi, ia takut. Mereka hanya berdua di sana, di kamar yang bisa dikatakan cukup luas dan mewah.


"Kenapa kau menghancurkan pernikahanku dan kenapa kau memukul ibuku, Mr. Cony?"


"Hei, jangan panik, jangan gugup. Aku tidak akan melukaimu, Lexi. Tenanglah."


"Bagaimana aku bisa tenang! Kau menculikku!"


"Aku tidak menculikmu, merekalah yang menculikmu. Aku mengambilmu kembali untuk membawamu pulang ke tempat di mana kau seharusnya berada."


"Apa maksudmu?!"


"Maksudku, kau adalah milikku. Hanya milikku. Dan maafkan aku atas keterlambatanku untuk datang menjemputmu."


Lexi melongo, menatap Mr. Cony dengan ekpresi ngeri. Apa yang dikatakan pria itu?


"A-apa yang terjadi dengan ibuku?"


"Aku tidak tahu. Mungkin sudah meledak, dan mungkin masih hidup jika mereka beruntung. Dan dia bukan ibumu, Sayang."


Lexi bergidik saat Athur menyebutnya dengan kata sayang yang mendadak terdengar sangat menjijikkan.


"Dia adalah pembunuh ayahmu. Pax dan Alena membunuh ayahmu, juga ibumu."