
Waktu berkunjung habis. Lexi keluar setelah Lily dibawa ke ruang tahanan. Tidak ada perbincangan lagi diantara mereka. Hanya tatapan sengit penuh kebencian yang diberikan Lily sebagai salam perpisahan. Pun Lexi keluar dengan langkah gontai. Kepala tertunduk, menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan. Kata-kata Lily cukup menohok. Menggali memorinya ke masa lalu. Rentetan musibah yang menimpa orang-orang sekitarnya. Benarkah ini ulahnya?
Kejadian saat mereka remaja kembali menyayat setiap sarafnya. Kematian Olivia. Sebelum Steve dinyatakan sebagai tersangka. Banyak yang yang menjadi terduga, termasuk dirinya. Kematian tragis Olivia benar ada hubungannya dengannya, meski bukan ia yang membunuh Olivia. Namun, saat pemakaman Olivia, ia dan keluarganya lah satu-satunya yang datang ke rumah Olivia untuk mengucapkan bela sungkawa. Tanpa sengaja Lexi melihat Ayahnya memberikan uang dalam jumlah yang cukup banyak. Ia tahu keluarganya sangat murah hati. Mungkin tidak akan terlihat janggal jika ayahnya memberikan uang duka tersebut di hadapannya dan tanpa melakukan negosiasi. Ya, ayahnya meminta ibu Olivia menulis sendiri jumlah yang Mrs. Phylida inginkan. Kenapa ada negosiasi? Bukankah artinya ada yang salah? Sampai sekarang teka-teki itu belum terjawab dan Lexi berusaha tidak mencari tahu. Ia percaya apa yang dilakukannya ayahnya adalah yang terbaik. Tapi, di samping hal itu, ia tidak siap mengetahui kenyataan bahwa ayahnya berbuat sesuatu yang salah. Ia tidak ingin membenci ayahnya karena memang ia tidak akan pernah sanggup. Jadi, yang ia lakukan adalah menjadi anak manis yang tidak mengetahui apa-apa.
Lalu, saat Steve menjadi tersangka. Mr. President menyambangi rumah mereka. Tidak hanya Mr. President, tetapi juga ayah Neal, Vincent, Dean dan Fred. Semuanya adalah orang yang cukup berkuasa. Ada apa dengan pertemuan tersebut? Mereka menghabiskan waktu hingga lima jam lamanya sebelum satu-satu persatu keluar dari ruang kerja ayahnya.
Steve tidak mungkin melakukan hal keji itu. Tapi apa yang bisa ia lakukan saat ayahnya sendiri memilih bungkam? Lexi tidak memiliki kekuatan apa pun. Apakah karena diamnya itu yang membuat kejadian demi kejadian mengerikan terus menimpanya. Terus membuatnya seolah menjadi penyebab atas semuanya.
Tubuhnya menggigil kedinginan. Rasa bersalah itu kembali menyerangnya. Dan yang membuatnya semakin takut, kenyataan bahwa hatinya membenarkan semua itu. Semua ada kaitannya dengannya. Itu pasti.
"Aku tidak melihat ada sesuatu yang menarik di lantai."
Lexi sontak menghentikan langkah. Kaki panjang dengan sepatu hitam mengkilap menghalangi jalannya. Lexi cukup familiar dengan si pemilik suara. Pun ia mengangkat kepala, memandangi objek di hadapannya dengan pandangan kosong.
"Kutahu aku cukup mengagumkan, tapi caramu melihatku membuatku tidak nyaman." Steve mendorong jidatnya, membuat gadis itu tersentak. Kesadarannya ternyata baru kembali.
"Oh...." Lexi memalingkan wajah, menyorot sekelilingnya. Memastikan jika ia masih berada di kantor polisi. Vincent berjalan ke arahnya, memberikan jawaban jika ia memang masih berada di kantor polisi.
"Lalu kenapa kau ada di sini?" pertanyaan itu meluncur dari mulutnya. Kenapa ia dan Steve selalu dipertmukan secara tidak terduga.
"Kau sudah selesai?" Vincent menarik perhatian Lexi sebelum Steve menjawab pertanyaannya.
Lexi menganggukkan kepala. "Dia sangat terpukul."
Vincent mengangguk, "Ya, Lily juga sempat histeris. Ini pasti sangat berat untukmu," Vincent mengusap lengan Lexi sebagai bentuk dukungan.
"Sama halnya denganmu yang juga kehilangan seorang teman." Lexi dan Vincent sama-sama menarik napas panjang. "Kau harus menyelidiki kasus kematian salah satu sahabatmu dan yang menjadi tersangkanya adalah temanmu sendiri. Ini pasti sangat berat. Tapi, Vincent, tolong perhatikan Lily. Dia juga sangat terguncang. Meski semua tuduhan terbukti kepadanya, tolong jangan bersikap keras."
"Sebagai teman, aku hanya bisa melakukan semampuku. Bukan hanya aku yang bertugas di sini."
Vincent benar. Pria itu tidak memiliki kekuasaan penuh meski jabatannya di sana cukup tinggi.
"Kau datang sendiri?"
Lexi mengangguk.
"Aku akan mengantarmu." Vincent baru saja hendak menuntut Lexi, ucapan Steven menghentikan langkah keduanya.
"Kurasa ini kasus yang cukup berat. Kau pasti sangat sibuk, Mr. Trey." Tidak ada yang berubah dari sosok Vincent selain tubuhnya yang semakin kekar. Pria itu pasti banyak menghabiskan waktu di pusat kebugaran. Steve tidak akan melupakan Vincent dan keluarganyan. Ayahnya bekerja di kebun anggur milik keluarga Trey dan memecatn ayahnya tanpa sebab setelah kejadian tragis tersebut. Apakah Vincent akan menjadi target selanjutnya?
Vincent menukik alisnya. Terlihat sangat bingung. Ia baru menyadari jika Steve berdiri di sana sejak ia dan Lexi berbincang.
"Aku yang akan mengantar Ms.Willson..."
"Aku membawa mobil." Lexi menyela dengan cepat. Berdekatan dengan Steve adalah hal yang harus ia hindari.
"Kau mengenalnya?" Vincent bertanya kepada Lexi, tapi sorot matanya menatap penuh selidik ke arah Steve. Beberapa menit yang lalu, Steve baru keluar dari ruang penyidik. Memberikan laporan sebagai saksi karena berdasarkan CCTV yang ada, sebelum pembunuhan terjadi, Steve adalah orang terakhir yang terekam berbincang dengan Lily dan Neal.
Lexi menganggukkan kepala. "Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu, Vincent. Aku akan menghubungi Darren."
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Lexi terus berjalan tanpa menoleh ke arah Steve.
"Pertanyaan?" Steve mendorong pintu, mempersilakan Lexi keluar terlebih dahulu.
"Kenapa kau ada di sini? Ah, kau memang penuh dengan masalah."
"Ya, kau benar. Dan masalahku kali ini, kebetulan sekali aku ada di King Axe. Aku dipanggil untuk memberikan keterangan."
Lexi menghentikan langkah. Gadis itu berbalik agar bisa menatap wajah pria itu.
"Kau bertemu dengan mereka?"
"Aku berbincang dengan sahabatmu. Kami menari bersama."
"Ouh, kau merayunya. Apakah Neal melihat hal itu?"
"Ya. Pria itu segera menghampiri kami."
"Mereka bertengkar?"
"Kurasa begitu."
"Apa maksudmu?"
"Aku pergi setelah kekasihnya bergabung. Kau tidak berharap aku menjadi penonton saat sepasang kekasih saling memaki, bukan? Kau datang mengunjungi temanmu?"
Lexi menganggukkan kepala seraya melanjutkan langkah.
"Bagaimana keadaannya?"
"Shock. Dia terlihat sangat frustasi." wajah Lexi terlihat murung. Kata-kata Lily kembali terngiang di telinganya.
"Kenapa dia membunuh kekasihnya. Apa dia mengatakan sesuatu?" Tanpa Lexi sadari, wajah Steve terlihat sangat serius. Bahkan ada desakan di nada pertanyaannya. Jangan sampai Lily mengingat pertemuan mereka dan menyampaikan apa yang dikatakannya kepada Lexi.
"Entahlah. Dia mengaku jika Neal sendiri yang memintanya."
"Meminta untuk dibunuh?" Steve terkekeh dan langsung bungkam saat Lexi melayangkan tatapan lasernya.
"Aku tidak menemukan lelucon di sini. Kenapa kau tertawa?"
"Ms.Oswald saat itu tengah mabuk berat. Apa yang dikatakannya kepadamu?"
Lexi menggeleng, meski ia butuh teman cerita. Steve bukanlah pilihan. Ayolah, pria itu asing baginya. Sangat asing.
"Kau tampak tertekan saat keluar dari ruang besuk." Sedikit lega, karena sepertinya Lily memang tidak mengingat pertemuannya dengan Steve.
"Aku hanya kasihan kepadanya. Itulah yang dirasakan teman saat temannya terserang musibah. Baiklah, Mr. Ivarez, aku harus pergi."