H.U.R.T

H.U.R.T
Olivia



Steve berjalan santai di sepanjang lorong menuju kamar hotel. Alisnya menukik begitu melihat sosok yang tidak asing menunggu di depan pintu kamar. Oleshia.


Menyadari kehadirannya, Oleshia menoleh dan langsung menerbitkan senyum menawan di wajahnya yang cantik.


"Kau sudah datang? Aku menunggu sejak satu jam yang lalu."


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Setidaknya ajak aku masuk. Kau tidak merindukanku? Aku sangat merindukanmu."


Steve tidak menggubris. Ia menekan kartu akses, Oleshia langsung masuk sebelum pria itu mempersilakan.


"Tidakkah kau sadar, selama kita kembali ke sini kau tidak pernah menyentuhku."


Wanita itu langsung melingkarkan kedua tangannya di balik leher Steve. Jemarinya yang halus mengusap bibir Steve, wanita itu mulai beraksi menyebarkan rayuan.


"Itu melukaiku, Steve. Apakah gadis itu lebih hebat dibandingkan dengan diriku?"


"Tentu saja kau lebih hebat," Steve menimpali dengan mimik datar. "Aku belum mencobanya." Imbuhnya masih dengan ekspresi tidak terbaca.


"Aku akan melupakan apa yang terjadi di rumah sakit meski aku sangat terluka. Aku tahu ini hanya caramu untuk menghancurkan keluarga mereka, benar bukan? Aku akan menekan rasa cemburuku."


Steve melepaskan tangan Oleshia dari lehernya. Ia berjalan menuju mini bar yang disediakan di ruangan tersebut. Ia menuangkan satu gelas wiski, menawarkannya pada Oleshia. Wanita itu tidak menolak lalu keduanya bersulang.


"Aku tidak tahu jika kau sangat pengertian."


Oleshia tertawa renyah, "Itu karena aku sangat mencintaimu."


"Benarkah?"


"Steve, kau meragukanku? Setelah sepuluh tahun lebih kita bersama. Kau masih meragukan perasaanku?"


Steve tidak menyahut, minuman di dalam gelasnya lebih membuatnya tertarik.


"Kau tahu apa persamaan alkohol dengan cinta?" Ia bertanya kemudian.


Oleshia mengerutkan kening. Tidak biasanya mereka membahas hal seperti ini. Mereka biasanya menghabiskan waktu di atas ranjang, bergulat hingga pagi. Lalu menikmati sarapan mewah dan sehat. Setelah dipikir-pikir, setelah sepuluh tahun, keduanya tidak terlalu banyak bicara.


"Sama-sama memabukkan mungkin," Oleshia asal menjawab.


Steve menganggukkan kepala, "Ya, sangat memabukkan. Kau akan kehilangan kontrol dirimu sehingga berbuat hal yang aneh-aneh."


"Kalau begitu mari kita mabuk dan melakukan hal gila, Steve!" Oleshia kembali menuang minuman ke dalam gelas mereka. Hingga gelas ke sepuluh, keduanya masih sama-sama kuat. Tidak ada tanda-tanda mabuk ataupun teler sama sekali. Atau keduanya sama-sama memaksakan diri untuk bertahan, siapa yang lebih kuat diantara keduanya.


"Katakan apa rencanamu, Steve? Apakah Willson membuatmu sangat marah?"


"Hmm," Steve hanya bergumam.


"Kukira kau benar-benar jatuh hati pada gadis itu."


"Apa yang kau lakukan dengan Austin?"


Oleshia tampak terkejut. Sepertinya wanita itu tidak menduga jika Steve mengawasinya.


"Aku tahu saat pria itu bermalam di rumahmu."


"Astaga! Itukah alasannya kau sengaja membuatku cemburu? Kau marah padaku, Steve?"


"Berhentilah mengganggunya, Shia."


"Aku tidak mengganggunya! Dia yang datang kepadaku. Dan harus kuakui dia cukup menarik juga sangat perhatian. Berhentilah membahas orang lain. Aku datang karena merindukanmu." Oleshia turun dari kursinya. Ia menghampiri Steve dan duduk di atas pangkuan pria itu. Tangannya mulai bermain. Pertama-tama, ia melepaskan jas pria itu, melemparnya begitu saja. Tangannya beralih pada kancing kemeja, membukanya satu persatu dengan gerakan yang cukup menggoda. Sesekali jemarinya masuk ke balik kemeja, mengusap dadaa Steven. Pria itu hanya bergeming bahkan saat Oleshia mengecup bibirnya.


Kemeja pun berhasil lolos, memamerkan tubuh kekar yang begitu mengagumkan. Oleshia mengusap setiap senti pahatan sempurna itu dengan tatapan nakal yang menggoda.


"Bisa saja Austin sedang mengelabuimu."


Suaranya mulai serak, terangsang oleh sentuhan wanita itu. Hei, dia pria normal!


Oleshi mengerling nakal begitu mulai menyadari perubahan suaranya.


"Masih berlagak kuat, Steve?"


"Kau menginginkanku sebesar aku menginginkanmu. Dan jika kau cemburu tentang Austin, kau hanya membuang-buang waktu, aku hanya bersenang-senang seperti saat kau bersenang-senang dengan Lexi. Bukan Austin yang akan mengelabuiku, tapi aku yang akan mengelabuinya."


Steve terdiam, entah ia sedang mencerna ucapan Oleshia atau ia sudah mulai mabuk. Yang jelas, wajah Oleshia terlihat mulai samar.


"Sepertinya aku mulai mabuk."


"Aku juga," Oleshia mengakui hal serupa. Tangannya mulai turun ke gesper pria itu. Tak! Ikat pinggang terlepas. Steve menunduk melihat betapa aktifnya tangan wanita itu.


"Hentikan." Steve menahan tangan Oleshia saat wanita itu sudah berhasil melepaskan ikat pinggang. "Pulanglah, Shia. Aku sedang tidak ingin bermain-main."


Mendengar penolakan Steve, Oleshia jelas kecewa. Wanita itu tahu jika sesungguhnya Steve sudah terbakar gairah. Lalu, kenapa Steve menahan diri?


"Kau menolakku?"


"Aku tidak bisa melakukannya," Steve melepaskan tangan Oleshia dari pinggangnya. Ia juga berdiri, membuat Oleshia mau tidak mau turun dari atas pangkuannya.


"Kenapa? Jangan katakan jika kau serius dengan wanita itu, Steve!"


"Namanya Lexi."


Oleshia tertawa sumbang. "Jadi benar ini karena wanita itu. Kau tidak berani menyentuhku hanya karena wanita sialan itu ada di sini?! Bernapas di negara ini, heh?! Kau merasa bahwa kau mengkhianatinya? Aku lah yang kau khianati, Steve!"


"Jangan menggonggong jika aku dan kau tidak ada bedanya," untuk pertama kalinya Steve berbicara dingin kepadanya. Untuk pertama kalinya juga Steve menunjukkan emosinya.


"Apa maksudmu? Kau menuduhku tidur dengan Austin?"


Steve menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Oleshia, sesungguhnya aku tidak peduli kau tidur dengan siapa. Yang kutahu, aku bukan satu-satunya pria yang menyentuhmu."


Ucapan Steve bagaikan cambukan dahsyat bagi Oleshia. Seketika manik wanita itu menyala marah. "Kau mempermainkanku?!"


"Kita saling mempermainkan, dan aku memutuskan untuk mengakhiri game ini."


"Sialan kau, Steve!"


"Pulanglah!"


"Kau pikir aku akan tinggal diam? Tidak semudah itu, Steve. Aku bisa menghancurkanmu jika aku ingin."


"Ancamanmu tidak memiliki arti apa-apa bagiku, Oleshia."


"Benarkah?" Oleshia tersenyum penuh arti. "Mari kita lihat apakah benar ancamanku tidak memiliki arti apa-apa bagimu." Oleshia mengikis jarak diantara mereka. Ia kembali memainkan jemarinya di tubuh Steve. Kemudian ia berjinjit, mencakup pipi Steven dengan kedua tangannya lalu menyerang bibir pria itu dengan sangat rakus. Steve bergeming, membiarkan Oleshia melakukan apa pun yang dia inginkan.


Oleshia berhenti, melepaskan tautan bibir mereka. Mata wanita itu masih menyala hebat. Perpaduan amarah juga hasrat.


"Jika kau sudah puas, keluarlah." Usir Steve dengan nada datar.


Oleshia menggelengkan kepala, senyum menggoda masih terpatri di wajahnya, "Aku belum puas sebelum kau menyentuhku." Mata keduanya saling bertaut, mengunci satu sama lain. "Sentuh aku dan bawa aku ke atas ranjang, Sayang."


____


"Selamat pagi, Steve."


Satu kecupan mendarat di pipi pria itu. Perlahan, Steve membuka mata. Sinar matahari yang menyilaukan langsung menyambutnya. Steve segera bangun, duduk dengan menyandarkan kepala di headboard. Pusing yang luar biasa menyerang kepalanya. Ya, ia minum terlalu banyak tadi malam.


"Kau terlambat bangun, permainan tadi malam, benar-benar hebat."


Steve menoleh ke arah Oleshia. Menatap wanita itu dengan sinis setelah memastikan kondisinya di balik selimut. Polos tanpa sehelai benang.


"Saat ini mungkin wanita pengacau itu sedang menonton pertunjukkan kita tadi malam."


Steve tidak menanggapi. Ia sibuk memijat pangkal hidungnya dengan mata yang masih terpejam.


"Kau tidak penasaran dengan reaksi wanita itu?" Senyum penuh kemenangan di wajah Oleshia mulai memudar. Ia ingin melihat Steve kalang kabut, tapi yang terjadi, pria itu masih enggan beranjak dari tempat tidur.


"Dia sudah dewasa. Menonton adegan dewasa bukan hal yang tabu baginya." Suara Steve serak dan berat. Tidak ada terselip emosi sama sekali membuat kernyitan di kening Oleshia semakin menjadi.


Steve membuka matanya, memiringkan kepala ke samping, menatap Oleshia yang juga sedang menatapnya.


"Mari menghentikan permainan ini, Olivia Phillyda."