H.U.R.T

H.U.R.T
Casino 2



Steve menang banyak. Brian dibuat semakin murka. Lalu apa peduli Steve? Ia justru tersenyum puas melihat raut wajah Brian yang merah padam.


Mencondongkan tubuh ke depan seraya menautkan kedua tangan dengan kedua siku yang bertumpu di atas meja, untuk kesekian kalinya Steve melayangkan senyum mencemooh.


"Kuharap kau tidak kehabisan uang untuk dana kampanyemu, Mr. Milles, dan tentunya aku juga tidak berharap bahwa uang yang kau hamburkan adalah harta yang kau rampas dari rakyat kecil."


"Bajiingan, Keparat..."


"Ck... Ck..." Steve geleng-geleng kepala. "Seorang calon walikota haruslah mampu mengendalikan emosinya. Maaf Pangeran, kau harus menonton pertunjukkan ini." Steve menoleh kepada Harry.


"Bukankah kau Steven Dixton Ivarez?" Pangeran ini memicingkan mata mencoba mengingat-ingat. "Ya, kau Steven Ivarez, bukan?"


"Suatu kehormatan kau mengenalku, Pangeran."


"Astaga! Aku bertanya-tanya kemana kau selama ini. Aku tidak pernah melihat ayahku mengundangmu lagi. Sejak kau tidak berkunjung ke istana, dia berhenti bermain catur. Isabel juga merindukanmu."


"Isabel?" Darren menimpali. "Isabel yang kau maksud adalah adik angkatmu yang dijodohkan kepada Austin?"


Harry tergelak. "Austin menolak perjodohan itu. Memangnya ada berapa Isabel yang kukenal? Berhenti mengatakan dia anak angkat. Isabel memang adikku, hasil skandal ayahku dengan pelayan istana. Ck!"


"Aku tidak tahu jika Isabel bisa bergaul dengan pria selain dirimu."


"Dia menyukai Steve!"


Darren menoleh kepada Steve, menyorot pria itu dengan penuh intimidasi. Apakah Steve merasa tersudut, tertekan, terpojok atau sejenisnya. Tidak sama sekali!


"Aku memang semengagumkan itu, Dude!" Tukas Steve dengan nada malas. "Aku akan menghubungi Yang Mulia, juga Isabel. Jika acara ini sudah selesai, aku ingin undur diri." Sebelum ia beranjak, kembali ia menyunggingkan senyum sinis kepada Brian. Ia sudah tidak sabar untuk menjelajah di gedung ini. Mari kita lihat apa yang bisa Steve dapatkan melalui kartu akses yang ia curi tersebut.


Beth melihat Steve keluar dari ruangan disusul oleh Brian. Tidak lama kemudian Darren dan Harry pun ikut menyusul.


🐈


Gedung itu memiliki dua puluh lima lantai. Steve memulai pencariannya dari lantai paling atas. Lantai dua puluh lima. Ternyata tidak ada apa-apa di sana selain ruangan kosong. Ia pun turun ke lantai 24, yang tidak ubahnya lantai dasar. Hanya saja, lantai ini sepertinya dihuni oleh para tamu-tamu yang memiliki kedudukan, ingin privasinya disembunyikan.


Steve memasuki ruangan tersebut, matanya bagai elang, mengawasi setiap pergerakan para manusia yang ada di sana. Ia melihat Dean Jacob bersama Fread Brown sedang memuaskan hasrat mereka dengan para jalaang. Steve hanya bisa tersenyum sinis. Tinggal menghitung hari para pecundang itu sudah tidak bisa menikmati hidup mereka lagi.


Menurutnya, tidak ada yang menarik di sana, pun ia memilih keluar. Tujuannya adalah lantai 23. Saat ia keluar dari lift, ia melihat seseorang yang tidak asing, masuk ke dalam lift. Steve melihat lantai tujuan pria tersebut. Dahinya mengernyit saat lift berhenti di lantai dua puluh lima. Bukankah lantai itu kosong?


"Mungkinkah ada tangga rahasia," ia bermonolog mengingat bahwa ia juga memiliki kamar rahasia di rumahnya. Steve memperhatikan dengan seksama dinding di sekitarnya juga lantai pijakannya.


Ah, ia menemukannya. Steve memperhatikan kartu di tangannya. Ukurannya sama dengan ukiran di dinding yang sekilas tidak akan terlihat karena di samarkan oleh cat dinding juga ukiran yang hampir sama. Steve menempelkan kartu tersebut ke dinding, dalam sekejap dinding terbelah menjadi dua. Tanpa ragu ia segera masuk. Ada tangga batu yang melengkung panjang. Ruangan itu sangat minim dengan pencahayaan. Samar-samar, ia mulai mendengar suara. Bukan hanya satu dua orang, tapi cukup banyak.


Steve mencari tempat strategis untuk bisa memantau aktifitas yang terjadi di sana. Kini ia bisa melihat dan menebak jika jumlah orang yang ada di sana berkisar 70 orang dan semuanya mengenakan jubah hitam dan penutup kepala hingga sedikit menyulitkannya untuk melihat ada siapa saja di sana.


"Kita bisa memulai ritualnya."


Ah, Steve mengenali suara ini. Sang Mr. President. Tapi ritual apa yang dimaksud? Ia kira President hanya terlibat dengan sindikat teroriis yang berniat untuk meratakan negara ini.


"Sebelum memulai ritual ada baiknya memberi hukuman pada mereka yang mulai ingkar dan berkhianat." Suara pria yang ia ikuti. Mr. Arthur Cony. "Posisi kita akan berbahaya jika mereka menyebarkan upacara ritual ini."


Semua mengangguk setuju. Arthur Cony menyingkir dari kerumunan yang membentuk sebuah lingkaran. Tidak berapa lama, dua orang diseret paksa keluar dari ruangan yang tidak Steve ketahui asalnya dengan keadaan tangan dan kaki yang dirantai. Dua orang tersebut adalah orang tua Isla Ginevra.


"Kalian tidak bisa menghukum kami, para bajiingan! Inikah balasan yang kalian lakukan setelah pengorbanan kami. Aku hanya ingin putriku dibebaskan. Apa begitu sulit bagimu, Mr. President?!" Raung Mr. Ginevra. "Aku membantumu menyembunyikan kasus pemerkosaan yang dilakukan putramu. Menghancurkan vidio yang direkam oleh putriku."


Steve sedikit terkejut mengetahui jika Isla menyaksikan pemerkosaan yang dialami Olivia.


"Masukkan." Mr. President memberi perintah. Kerumunan itu pun memberikan jalan. Terlihat sebuah patuh berbentuk macan dalam ukuran besar. Mr. Ginevra di dorong masuk ke dalam perut patung itu lalu api pun dinyalakan. Ya, pria malang itu dipanggang hidup-hidup. Lolongan kesakitan terdengar begitu menyayat bagi mereka yang masih memiliki nurani. Sayang, di ruangan tersebut tidak ada yang memiliki nurani.


Suara Mr. Ginevra tidak terdengar lagi, pertanda bahwa ia sudah tiada. Giliran Mrs. Ginevra yang akan didorong masuk. Namun, ketukan kaki seseorang menghentikan aktifitas mereka. Steve pun ikut menoleh ke sumber suara. Oleshia dan Austin.


"Wah, sepertinya aku melewatkan acara yang begitu sangat menarik."


"Kau datang?" Arthur menyambut mereka. Mengulurkan tangan, membantu Oleshia menuruni tangga.


"Tentu saja. Mr. President mengundangku, sulit untuk menolaknya. Apa kabar, Mr. Milles?"


"Seperti yang kau lihat, Ms. Phyllida. Aku senang kau memenuhi undanganku. Kuharap kau membawa kabar baik. Tapi, kenapa kau membawanya kemari?" Mr. President menatap tidak suka pada Austin.


"Tidak perlu khawatir seperti itu, Mr. President. Kami hanya sebentar dan seperti jawabanku sebelumya, aku masih tidak berniat untuk bergabung dengan sekte pemuja iblis ini. Freemason atau Illuminati atau apa pun namanya (Kembali ke bab awal yang artinya akan menuju konflik dan ending). Aku manusia yang taat, Mr. President." Oleshia tersenyum manis.


Menanggapi sarkastik Oleshia, Mr. President tertawa. "Ucapanmu membuatku tertawa dan hampir menangis, Nak. Leluhurmu secara turun temurun mengikuti aliran ini. Bahkan menjadi orang yang paling disegani dalam sekte ini. Kau mewarisi semua yang dimilikinya."


Oleshia tertawa renyah, "Aku tidak tahu apa yang kau ketahui tentang diriku, Mr. President. Tapi, terima kasih atas tawaranmu. Sungguh aku tidak berminat untuk bergabung. Permisi."