H.U.R.T

H.U.R.T
Ledakan



"Jangan sentuh Ayahku, Sialan!!"


Olivia berteriak, kemudian seseorang tiba-tiba mencengkram rahangnya dengan begitu kuat hingga mulutnya tidak bisa terbuka walau hanya sekedar untuk meringis menyuarakan kesakitannya.


"Kenapa? Kenapa kau sangat takut dan peduli, hah? Inilah ganjaran untukmu. Bukankah nyawa harus dibayar dengan nyawa?" Kali ini orang tua Neal William lah yang berbicara.


"Kau membunuh putraku dengan cara yang begitu mengerikan dan sekarang kau marah hanya karena kami menyentuh ayahmu, wanita iblis!"


Olivia meronta, berusaha melepaskan cengkraman di rahangnya. Ia bersumpah akan memberi sugesti pada para manusia-manusia keparat ini. Ia akan membantai semuanya.


"Lepaskan putriku, kumohon. Hukum aku atas apa yang sudah membuat kalian marah. Aku lah yang bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Ambil nyawaku jika itu membuat kalian puas." Mr. Phillyda memohon dengan suara terputus-putus karena kepalanya yang masih ditekuk dan ditahan di tanah.


Olivia menggeleng, tidak terima dengan permohonan yang dilakukan ayahnya. Bukan dia dan ayahnya yang harus memohon, tapi para bedebah itu.


"Kau lihat, ayahmu tidak keberatan sama sekali untuk mengorbankan nyawanya. Sayang, nyawanya saja tidak akan membuat kami puas. Kau sudah membantai anak-anak kami. Dan kau harus mendapatkan hukuman yang sama mengerikan."


Bugh!


Mereka sengaja menendang wajah Mr. Phillyda. Pria itu terbatuk, matanya perih karena kemasukan debu. Tendangan lain mendarat di punggung ayahnya, membuat batuknya semakin menjadi.


Olivia benar-benar marah. Semakin marah dengan perlakuan yang diterima ayahnya. Ia terus memberontak, berusaha membebaskan diri.


"Hajar lagi! Berikan pukulan yang lebih hebat!"


Tendangan secara bertubi-tubi diberikan kepada ayahnya. Para bedebah itu mengepung ayahnya. Bahu ayahnya diinjak dengan sepatu boot milik salah satu polisi. Ayahnya menjerit kesakitan dan tidak ada yang peduli.


Olivia semakin memberontak, membuat wanita yang mencengkramnya kesulitan untuk menahannya. Wanita itu meminta bantuan. Seorang pria sengaja mendorongnya hingga tertelungkup di tanah dengan kepala yang ditahan dengan lutut. Olivia tidak bisa bergerak.


"Jangan pukul Ayahku," Olivia mengulurkan tangan untuk menggapai ayahnya. Ayahnya melakukan hal yang sama dan saat tangan keduanya hendak bersentuhan, tiba-tiba sepasang sepatu boot menginjak tangan mereka.


Mereka diperlakukan seperti tikus mati yang tidak berharga. Di mana letak keadilan ini? Tidak ada yang peduli kepada mereka. Olivia hanya menghukum orang-orang yang menurutnya bersalah. Lalu, apa masalah orang-orang yang memukuli ayahnya dengan mereka? Olivia bahkan tidak mengenal mereka.


Sementara Arthur yang menyaksikan hal itu, tertawa dengan penuh kemenangan. Ia berhasil melakukan provokasi terhadap keluarga korban yang sudah dibantai oleh Olivia. Ini sebenarnya tidak ada dalam rencananya, tapi wanita itu sudah melewati batas kesabaran Arthur karena sudah berani menculik Lexi dari wilayahnya.


Tawa di bibir Arthur menghilang begitu matanya menangkap kehadiran Steve di sana. Pria itu berdecak dan segera berlalu. Ia harus mencari Lexi sebelum Steve lebih dulu menemukannya.


"Apa yang kalian lakukan?!"


Steve dan Austin bergabung di tengah kerumunan. Kedua pria itu melirik sekilas ke arah Olivia.


"Lepaskan Mr. Phillyda," Steve menarik tangan orang suruhan Mr. Jacob kemudian membantu Mr. Phillyda berdiri. Steve kembali melirik pada Olivia. Mata itu menyiratkan permohonan agar dilepaskan. Steve tidak melakukannya. Akan bahaya jika mulut dan mata Olivia beraksi.


"Kau akan membuat lehernya patah. Dirikan dia," pada akhirnya Steve tidak bisa mengabaikan Olivia yang terlihat menyedihkan.


"Apa urusanmu dengannya!" Hardik Mrs. William, menarik paksa Olivia dan kembali mencengkram rahang Olivia dengan kuat. "Wanita ini pembunuh!"


"Dia punya alasan kuat," ucap Steve seraya menatap penuh arti wanita menyedihkan itu.


"Dan apa yang kalian lakukan wahai para para polisi yang budiman? Kenapa hanya menonton seperti orang dungu! Bubarkan para pendemo ini!" Austin meneriaki para polisi yang tidak berani bersikap tegas pada para petinggi negara.


Para polisi tetap bergeming, mereka memang kalah jumlah dan sialnya mereka dibawa ke sana atas perintah para keluarga elite.


"Kenapa kalian hanya diam?" Austin meraup kerah salah satu polisi. Rekan polisi itu dengan segera menodongkan senjata ke arahnya.


Terang saja aksi Austin tersebut semakin menyulut emosi para polisi tersebut. Bukan hanya emosi para polisi yang terpancing, para pedemo mulai rusuh.


Keributan pun tidak terhindar. Steve dan Austin terjebak di sana.


Laungan sirene terdengar dari kejauhan. Bukan lagi polisi, melainkan Doukins beserta rekannya. Doukins menerima laporan dari Donny atas perintah Arthur.


"Ck! Kita dalam masalah."


Austin membenarkan ucapan Steve, "Sebaiknya kita mencari Lexi."


Terlambat, Doukins terlanjur melihat mereka. Steve dan Austin kembali terjebak dengan sekumpulan para agen bodoh yang menjengkelkan.


"Aku senang kau tidak mendapatkan luka parah, Doukins." Steve berujar santai.


"Kau sedang meledek, Steve?" Austin menimpali dengan kekehan mengejek.


Pria gemuk itu mendengus sinis, "Aku tidak sabar apakah setelah ini kalian berdua masih bisa tertawa. Tangkap kedua pria pengacau ini," Doukins memberi perintah kepada anak buahnya.


Mr. Phillyda yang sudah bebas kembali mendorong wanita yang masih mencengkram Olivia.


Mr. Phillyda memeluk putrinya. "Sudah, Nak, sebaiknya kita pergi. Ini terlalu kacau. Kau tidak akan bisa mengendalikannya. Ayah mohon sekali ini dengarkan Ayah, jangan gunakan sugestimu, Olivia. Kau bukan wanita iblis seperti yang mereka tuduhkan. Kau putriku, kesayanganku. Sebaiknya kita jemput Alea dan pergi dari sini."


Olivia hanya pasrah saat ayahnya menuntunnya berjalan menuju ke rumah mereka.


Sementara wanita yang didorong oleh Mr. Phillyda tidak terima dan merebut pistol polisi yang kebetulan berniat untuk membantunya berdiri. Bidikan yang tidak berpengalaman itu salah sasaran yang justru menembak salah satu agen FBI yang langsung menimbulkan keributan baru.


Doukins dan rekannya berusaha menenangkan namun tidak ada yang mendengarkan. Suara tembakan terdengar saling bersahutan. Fokus mereka teralihkan dari Steve dan Austin.


Mrs. William berdiri dan belum menyerah, melangkah cepat menyusul Olivia.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, wanita iblis. Kau harus mati di tanganku!" ucap ibu Neal William dengan senjata yang ditodongkan ke arah mereka.


Mr. Phillyda merebut senjata tersebut. Tembakan-tembakan meletus secara sembarang dan membabi buta dari pistol yang menjadi rebutan tersebut.


Doukins dan rekannya benar-benar emosi dan lelah. Banyak warga yang tumbang akibat peluru yang entah berasal dari mana.


Door!! Door!!


Doukins menembakkan peluru ke atas. Disusul peluru lainnya dari rekannya dan Mr. Phillyda dan Mrs.William juga melakukan hal serupa, menembakkan peluru ke atas.


Duuuarr!!!


Ledakan yang memekakan telinga seketika menghentikan kerusuhan yang terjadi. Semua terkejut melihat kobaran api membumbung tinggi dengan asam hitam mengepul pekat.


Hanya Olivia satu-satunya yang tahu penyebab ledakan tersebut. Ia memiliki barel berisi bahan bakar minyak yang ia letakkan di belakang rumah. Minyak yang ia gunakan untuk merebus air yang kemudian ia siramkan ke wajah Dean waktu itu. Ia menduga jika salah satu peluru tersebut mungkin tanpa sengaja mengenai barel tersebut.


Maniknya membeliak saat melihat kobaran api mulai menyerbu bagian belakang rumah dan dalam sekejap menyebar ke lantai dua. Alea ada di sana. Adiknya ada di sana dan ia menghipnotis adiknya agar tetap diam di sana.


"ALEA!!!" Olivia berteriak sekencang-kencangnya meneriakkan nama adiknya.