H.U.R.T

H.U.R.T
dua puluh



" kenapa ka ?? ini masih pagi banget ka "


" Kaka harus pergi sekarang "


" Kaka mau pulang ??? "


" kaka ada kerjaan di luar kota, sebenar nya . . . . "


" hmmmm...... gak apa apa ka, aku baik baik ajah "


ka Yugi terus menatapku, seperti nya dia berat ninggalin aku, tapi aku juga engga mau egois, ini pekerjaan yang di impikan ka Yogi, menjadi produser musik yang menciptakan lagu untuk orang orang berbakat.


ka Yugi memeluk ku dengan lembur, ini jarang terjadi sebenar nya, hanya saja kali ini. entah karna ka Yugi juga membutuhkan sandaran atau memang aku yang benar benar memprihatin kan.


" bagaimana ujian mu ??? "


" aku bakal selsein ujian sekolah ku ka tenang ajah "


" abis itu mau kuliah di mana?? udah punya pilihan "


aku menggelengkan kepalaku, jujur memang engga ada kepikiran buat aku lanjutin kuliah setelah kejadian ini.


" kamu mau kuliah di luar negri ?? "


aku melepaskan pelukan ka Yugi segera, mencoba menatap ka Yugi dan mencari tau apa ka Yugi benar benar serius dengan ucapan nya.


" aku engga ada niatan sampe sejauh itu ka "


" pikirin ajah dulu, kalau kamu mau kita bakal tinggal bareng "


setelah mengatakan itu ka Yugi berbalik membelakangi ku dan melangkah pergi menuruni anak tangga satu persatu.


mata ku terus mengikuti langkah kaki ka Yugi yang mulai membawa koper nya.


ka Yugi hanya berjalan sendirian, seperti nya ka bara sudah pulang sejak semalam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


satu Minggu berlalu, aku menyelesaikan ujian ku dengan perasaan yang entah bagaimana.


tentang nilai akhir aku sudah engga lagi memikirkan nya, karna pada akhir nya semua nya engga akan ada arti nya buat aku.


aku berjalan sendirian hari ini, menuju gerbang sekolah. tari lebih cepat keluar kelas tadi, kata nya dia punya urusan.


Alfin, entah lah Alfin kemana hari ini, bahkan aku tak mendapat kabar nya dari seminggu yang lalu.


sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah tepat saat aku mulai keluar dari gerbang, setelah beberapa bulan engga bertemu akhir nya hari ini aku bertatap muka lagi dengan ayah.


semua mata tertuju pada ku dan ayah, bagaimana tidak, berita tentang ayah dan bunda semakin meluap ke semua media, itu membuat ayah lebih di kenal dari pada sebelum nya.


" Yuri "


ayah tersenyum menghampiri aku yang mulai terpaku saat melihat ayah dengan jas hitam nya menghampiri aku.


" ngapain ayah ke sekolah ??? "


" sengaja ayah mau jemput kamu "


mataku beralih pada kaca mobil ayah yang sedikit terbuka, terlihat seorang perempuan melambaikan tangan nya pada ku.


" siapa dia ??? "


" oh itu Tante Riska "


aku melangkah berniat untuk meninggalkan ayah, tapi tangan ayah dengan cepat meraih tangan ku.


" jangan begitu dong nak, ayah udah nyempetin waktu buat jemput kamu, masa kamu cuekin gitu ajah "


" aku benci ayah " batin ku.


tangan ku sudah bergetar, rasa nya ingin sekali aku mengatakan itu langsung pada ayah.


" aku engga mau pulang bareng Tante Riska "


" loh memang nya kenapa ??? "


aku menoleh ke kanan dan kiri, semua mata menatap ke arahku dan saling berbisik satu sama lain.


aku sadar saat ini aku sedang menjadi bulan bulanan orang orang yang berada di sini sekarang.


pada akhir nya aku menyerah dan menuruti ayah untuk pulang bersama nya, meskipun itu hanya agar aku bisa terhindar dari orang orang yang mulai penasaran dengan masalah pribadi ku.


aku, ayah dan Tante Riska sampai di rumah tanpa banyak obrolan selama di perjalanan, aku dan Tante Riska pun terasa canggung engga seperti sebelum aku tau kejadian antara ayah dan Tante Riska


entah karna aku yang merasa kesal dan marah atau mungkin Tante Riska yang mulai merasa bersalah pada ku.


mba ayu menyapa ku di depan pintu seperti biasa, tapi kali ini tatapan nya sedikit terlihat dalam padaku, mungkin karna mba ayu tau hidup ku begitu menyedihkan.


" Yuri !!!!! "


ayah memanggilku tepat sebelum aku melangkahkan kaki untuk menaiki anak tangga pertama, aku berhenti tanpa menoleh ke arah ayah berada.


" ayah mau bicara dulu "


" bicara soal apa??? "


" duduk lah, masa mau bicara sama ayah sendiri kamu kaya gitu ?? "


" jadi ayah masih mau pengakuan seorang ayah setelah ayah lupa pulang "


" Yuri !!!!! "


kali ini ayah membentak ku, tapi Tante Riska dengan segera memegang pundak ayah untuk mengingatkan ayah agar tidak marah.


kali ini wajah ku mulai memerah menahan kesal setelah melihat Tante Riska semakin berani memperlihatkan bahwa antara mereka memang ada hubungan yang lebih.


" duduk Yuri "


pada akhir nya aku berbalik ke arah sofa dan mulai duduk, aku mengangkat kaki ku ke atas sofa dan menyenderkan tubuhku.


" ayah tuh sengaja nemuin kamu karna mau ngajak kamu liburan "


aku menoleh ke arah ayah yang suara nya mulai terdengar lembut.


" aku engga mau ikut "


" kenapa ??? ujian mu sudah selsai bukan "


" aku punya acara bareng teman teman di sini "


" itu bukan alasan yang tepat buat nolak ajakan ayah "


aku hanya menoleh ke arah ayah tanpa mengatakan apapun, tiba tiba Tante Riska mendekatiku dan mengusap rambutku.


" Yuri, ayah kamu itu cuma mau menebus kesalahan nya kemarin, karna sibuk jadi engga bisa pulang ke sini "


" . . . . . "


" nah sekarang ayah kamu punya waktu buat kamu, jadi lebih bagus kan kalau kamu juga ngeluangin waktu buat ayah kamu "


aku menepis tangan Tante Riska yang masih mengelus rambutku dan segera pergi meninggalkan ayah dan Tante Riska.


terlihat ayah yang tidak bisa menahan rasa kesal nya melihat sikaf aku pada ayah, tapi lagi lagi Tante Riska berusaha menahan ayah.


aku masuk ke kamarku dan menutup pintu kamar sedikit kencang.


" ini pasti gara gara Kaka mu, dia pasti udah ngehasut Yuri dengan cerita cerita dia "


" udah lah mas, kita coba lagi besok, aku bakal bantu bujukin dia tenang ajah "


beberapa jam berlalu, dan aku masih saja berada di kamarku, suara musik favoritku berulang ulang kali aku putar dan masih terputar sampai sekarang tepat pukul 10 malam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


tari yang baru saja tiba di rumah langsung menghampiri mba ayu yang duduk di meja makan sambil terus menatap ke arah pintu kamarku.


" Bu, ibu lagi ngapain ?? "


" kamu udah pulang tar "


" ya ampun, ibu sampe engga denger aku buka pintu tadi ?? ibu ngelamunin apa sih Bu ?? "


" Yuri belum keluar kamar dari tadi pulang sekolah, ibu jadi khawatir "


tari melihat beberapa sisa makanan di atas meja makan yang sudah di rapihkan mba ayu.


" tapi dia makan kan Bu ?? "


" engga, itu bapak yang makan, sama ...... "


" sama siapa Bu ??? "


" sudah sudah, kamu bersih bersih sana terus istirahat "


mba ayu mendorong tari untuk segera mandi dan masuk kamar untuk beristirahat.


setelah selsai mandi dan berganti tari meraih ponsel nya dan berusaha menelponku, seperti nya tari juga mengkhawatirkan keadaan aku sama seperti mba ayu.